Design Against Style: Melawan Penindasan Gaya dalam Desain Grafis

Komunikasi visual dalam jabaran terluasnya mempunyai perjalanan sejarah yang panjang, yaitu kalau saja boleh dikatakan semenjak adanya kehidupan manusia yang telah berupaya mengkomunikasikan ide-ide atau gagasan-gagasannya melalui sejumlah tanda-tanda dalam bentuk gambar yang sederhana, seperti lukisan goa di masa pra-sejarah. Semiotika, ilmu tentang tanda yang muncul sekian ribu tahun kemudian, niscaya menjadi bidang yang teramat penting bagi desain grafis untuk dipelajari sehingga memperluas cakrawala dan juga cara agar dapat menyampaikan komunikasi dengan bahasa visual, bahasa yang tentunya dipenuhi oleh beragam tanda-tanda pemaknaan.

Mengambil pengertian terluas namun sederhana, setiap orang dapat memainkan peran sebagai seorang desainer, setidaknya desainer bagi kebutuhan dirinya sendiri. Profesi desain grafis sendiri barulah menjadi demikian populer setelah melewati masa paruh abad keduapuluh yang salah satunya faktornya adalah berangkat dari adanya ‘artis komersial’ terutama dalam kegiatan promosi dan periklanan suatu produk atau jasa, yang kemudian karena kebutuhan-kebutuhan yang lalu berkembang lagi ke bidang-bidang lain.

Setelah berlangsungnya revolusi industri di abad kedelapanbelas, dimulai dari adanya gerakan Seni dan Kerajinan (Arts & Crafts Movement) kemudian disusul masa Art Nouveau hingga tiba di masa modern Art Deco di awal abad keduapuluh, dikala itu media desain grafis yang paling besar peranannya dalam menampilkan gaya-gaya desain adalah poster, baik yang bersifat komersial maupun propaganda sosial-politik-kebudayaan. Kemajuan teknik dan perkembangan gaya-gaya desain banyak mencuat lewat media yang satu ini dan telah mendorong penjelajahan yang luas ke media-media baru lainnya seiring perkembangan zaman.

Dalam bahasan semiotisnya, pada mulanya desain grafis mengeksplorasi bentuk-bentuk bahasa visual yang lugas dan cepat dikenali dan dipahami maksud atau pesan yang hendak dikomunikasikan kepada audiens yang dituju, sebuah bahasa yang mempunyai pemaknaan tunggal. Dimana meta-narasi yang berkembang kemudian adalah bahwa diklaim adanya sebuah cara pengolahan desain grafis yang bisa memenuhi kebutuhan komunikasi dalam bahasa visual yang sifatnya universal serta mudah dikenali.

Hal ini bisa kita lacak kembali melalui perkembangan desain grafis sejak Art Nouveau di Prancis yang kemudian secara bersamaan menyebar luas ke seluruh daratan Eropa. Penamaan gaya yang berbeda-beda seperti Jugendstil (Jerman/Skandinavia), Secession (Swiss/Austria), Glasgow (Inggris), dan Stile Liberty (Italia), namun tetap dalam satu nafas yang sama yaitu identik visual berupa bentuk organis, garis tumbuhan, dan garis liuk yang feminin. Pelbagai aliran senirupa turut pula memperkaya gaya art nouveau-an ini seperti impresionisme, nabisme, dan simbolisme serta gaya lukis ukiyo-e Jepang yang dominan. Desain grafis Eropa masa ini mampu membawa gerakan atau gaya baru yang merupakan adaptasinya terhadap persinggungan dengan budaya timur. Mereka mampu menerjemahkan warna lokal dari kultur di luar dunianya untuk dipahami dalam warna lokal kulturnya sendiri, sehingga Art Nouveau menjadi seni komersial pertama yang secara konsisten dipakai untuk mempertinggi keindahan.

Perang Dunia I menjadi salah satu ajang pembuktian pentingnya desain grafis, seperti yang bisa kita saksikan dalam poster-poster propaganda, tanda dan simbol dalam identitas militer. Kemajuan dari revolusi industri yang kemudian tenggelam ke dalam hiruk-pikuk kekacauan suasana perang dunia pertama, telah pula mengilhami gerakan manifesto kaum futuris dan dadais.

Bersamaan dengan berbagai permasalahan sosial yang tumbuh pada masa-masa kisruh itu, muncullah aliran Kubisme, Konstruktivisme, De Stijl, fauvis dan ekspresionis yang mempengaruhi perkembangan desain grafis selanjutnya, yang dikenal sebagai gaya desain Art Deco. Bahkan seni Ziggurat Mesir dan Indian Aztec turut meramaikan gaya desain ini pula. Dan Amerika yang belakangan mulai menampilkan ke-adikuasa-annya dengan memberi label tersendiri pada gaya yang berkembang luas ini di dalam masyarakatnya yang pluralis yaitu desain Steramline.

Tak lama berselang, berdirilah sekolah Bauhaus yang dengan upayanya memadukan seni dan teknologi, menambah kemajuan pertumbuhan berbagai gaya-gaya desain grafis, yang merupakan sintesis dari seni, desain dan teknologi. Pemahaman modernitas yang berupaya mengejar hal-hal baru dan gaya desain modern yang universal makin merebak.

Masyarakat industri modern yang membawa meta-narasi tentang kemajuan dan bahasa yang universal mencapai titik kulminasinya dengan hadirnya gaya desain dan tipografi Swiss International Style, yang memainkan peran terbesarnya pada industri desain grafis korporasi. Di mana desain sebagai seni terapan mendapatkan penjabaran rasional dan yang sedemikian ilmiahnya hingga bisa dirasakan bagai estetika yang terukur.

Bagi bangsa-bangsa dan negara-negara yang baru kemudian menikmati arus modernitas, maka gaya-gaya desain yang merebak dari masa ke masa di Eropa-Amerika, adalah merupakan kiblat dalam mempelajari desain grafis. Kecuali Jepang dan beberapa negara Asia kecil lainnya seperti Taiwan dan Hongkong, yang cukup tangguh dan mampu menerjemahkan kembali bahasa global yang dianggap universal itu ke dalam warna kultur mereka masing-masing.

Untuk dapat bersaing dalam kancah mitos globalitas, tulis Faruk dalam bukunya Beyond Imagination, maka masyarakat suatu lokalitas harus dapat mengartikulasikan tradisinya dengan ‘bahasa’ yang dapat dimengerti oleh masyarakat-masyarakat dari berbagai lokalitas yang lain, atau oleh masyarakat desa global (Marshall McLuhan). Atau sebaliknya, masyarakat suatu lokalitas harus mampu pula memasuki berbagai lokalitas lain dan mengartikulasikannya ke dalam dengan ‘bahasa’-nya sendiri. Dan menurutnya kemampuan seperti di atas tidak dapat diperoleh dengan mudah dalam waktu singkat, tetapi perlu penjelajahan dan penguasaan atas berbagai lokalitas-lokalitas tradisi di seluruh dunia. Jadi, sembari menggali ke akar budaya sendiri, sebagaimana tersirat dalam hal yang diungkapkan oleh Tjahjono Abdi, desainer grafis senior Indonesia, dalam Concept V01/01’04: Keindonesiaannya tak pernah berhenti memberikan warna pada karya-karyanya, desainer juga dituntut untuk melatih kepekaannya dengan menyerap beragam informasi global untuk dipelajari dan dimanfaatkan kembali.

Melalui rentang waktu sejarahnya yang panjang, teori dan pemikiran dalam disiplin desain grafis tampak tidak terlepas dalam menyerap pelbagai pendekatan disiplin-disiplin keilmuan lainnya. Selain seni sebagai dasar pemikiran utamanya, desain grafis juga banyak berutang pada perkembangan ilmu-ilmu seperti linguistik, komunikasi, pemasaran, sosiologi, psikologi, antropologi, sejarah, filsafat, sains dan teknologi serta keilmuan lainnya dimana secara sengaja tidak sengaja disentuhkan dengan desain grafis. Pertanyaannya adalah dengan melihat kenyataan-kenyataan yang ada didalam masyarakat, akan bagaimanakah desain grafis Indonesia kelak?

Tak dapat dipungkiri, desain grafis masih dianggap sebagai kebutuhan bagi kalangan ‘atas’, padahal kalangan ‘bawah’ pun banyak membutuhkan kecakapan sentuhan desain grafis. Sayangnya, pada kenyataannya masyarakat kebanyakan sendiri memang belum cukup apresiatif dan merasakan kebutuhan akan ‘desain grafis’ itu sendiri. Dengan demikian artinya, desainer grafis harus lebih banyak lagi menunjukkan peran aktifnya dalam memenuhi ‘kebutuhan’ masyarakat yang mana mereka belum begitu menyadarinya. Pendekatan-pendekatan ke kemasyarakatan menjadi penting bagi pembentukan identitas majemuk desain grafis Indonesia, karena dengan adanya pendekatan itu maka berbagai gaya dan teori desain yang masuk membanjir dalam dunia praktis maupun pendidikan dapat teruji di lapangan. Penyisiran dan penyaringan berbagai pengaruh gaya-gaya desain grafis, justru baru hanya akan berjalan bila para desainer grafis telah mampu melakukan perlawanan terhadap penindasan gaya-gaya desain itu dalam karya-karyanya.

Transformasi dalam pendidikan dan pengajaran dalam lembaga-lembaga pendidikan desain grafis sudah seharusnya menciptakan pola sistem adaptasi yang bukan sekedar bersifat kompromistis tapi sebuah perlawanan yang juga bukan berarti sekedar penolakan mentah-mentah yang sentimentil. Sulit rasanya untuk melakukan transformasi agar masyarakat sadar akan kebutuhan desain grafis, bila di dalam wilayah dunia praktisi dan lembaga pendidikan desain grafis itu sendiri, elemen-elemen di dalamnya juga belum mengalami transformasi seutuhnya. Elemen-elemen yang dapat dikatakan sebagai simulasi masyarakat kecil itu termasuk didalamnya ialah para praktisi dan kliennya, dosen dan mahasiswanya serta lingkungan para pekerja kreatif sendiri.

Perjuangan melawan penindasan gaya dalam desain grafis merupakan upaya titik balik untuk melihat kembali kondisi kultur masyarakat. Melalui pembelajaran kembali segala sesuatu tentang desain yang notabene masuknya dari luar, adalah berarti mengupayakan pengkajian dan penelitian terhadap apa yang berlangsung di dalam masyarakat sekeliling. Menempatkan kembali posisi desain grafis yang telah terbawa ke awang-awang kembali ke bumi di mana ia berpijak seharusnya. Kontaminasi dan mimikri yang terjadi dalam desain grafis tidak sepenuhnya dapat dihindari, tapi anggaplah bahwa perjuangan melawan penindasan gaya-gaya desain ini adalah suatu utopia komunitas kecil studi desain grafis untuk menggali dan mentranformasikan bentuk ideal desain grafis Indonesia sebagai bagian dari budaya dan manusianya.

 

Desain jalanan: Street Typographic

Lalu apakah kita hendak mencari bentuk identitas visual grafis atau katakanlah desain grafis ideal yang memenuhi kebutuhan masyarakat? Identitas yang menjawab apa itu keindonesiaan? Apakah pencarian itu tujuannya?

Tidak! Sekali lagi bukan itu, identitas telah diidentikkan dengan homogenitas atau kehanyasatuan bentuk. Gambaran mental budaya bangsa-bangsa di Indonesia sangat-sangat beragam. Semua orang juga tahu itu!

Tapi pertanyaannya adalah keberagaman macam apakah yang dibentuk oleh kekayaan budaya itu. Sub-sub kultur seperti apakah yang membentuk keberagaman itu, dari yang dikatakan “kampungan” sekali hingga yang menamakan dirinya “modern sekali” atau “kontemporer” atau trendi” atau apalah kata setiap re-generasi di tiap zamannya. Si udik dan si kota bertemu dan saling sapa di lintasan komunikasi massa. Masyarakat adat yang tak berdaya yang dianggap tolol berhadapan dengan buldozer-buldozer masyarakat modern yang rakus. Frustasi dan ekstasi masyarakat perkotaan yang disibukkan mengejar masa depan yang hampa. Keterputusan keputusasaan sebuah masyarakat lokalitas satu dan lainnya membaur dalam komunikasi yang sudah tak jelas lagi rambu-rambunya.

Mari kita lihat jalanan di kota-kota kita, lihat pula hutan-hutan gundul yang tersisa. Ada guratan-guratan yang ditinggalkan oleh para pelancong yang bertamasya, entah yang sehari dua hari, sebulan dua bulan, setahun dua tahun, atau bertahun-tahun sampai mati atau digusur oleh yang lainnya. Vandalisme yang dianggap kultur rendahan, merambah dimana-mana, di jalanan ibukota, dinding rumah, pagar, hingga pepohonan di cagar alam hutan. Apakah yang hendak mereka sampaikan? Keisengan belakakah? Atau sebuah bukti eksistensi diri di antara himpitan tanda-tanda lain?

Tata kota di indonesia yang lain dari pada yang lain, sebagai kata ganti dari ‘amburadul’, menciptakan pola pergerakan seni jalanan yang berbeda, yang sebetulnya biasa ditemukan di negara-negara berkembang yang siap jatuh miskin. Desain grafis, sepasang kata yang membuat miris karena lekat konotasinya dengan seni komersial, sebetulnya tanpa sadar telah bergeser menjadi seni praktis yang nyata diantara masyarakat kita. Desain grafis jalanan tidak mengenal apa itu lay out, apa itu tipografi, apa itu nirmana datar, apa itu teori warna, apa itu lettering, apa itu nirmana ruang, apa itu apa ini, tambahkan saja daftar perkuliahan Anda di sini.

Desain grafis jalanan lahir dari pemikiran bodoh dan absurd masyarakat kita yang buta tentang “pengetahuan seni”, tapi apakah kata-kata tadi dirasakan sebagai penghinaan? Kata-kata di atas tadi adalah pujian! Pujian yang tidak dibikin demi Tuhan. Mereka yang menjadi desainer grafis jalanan, telah melakukan pekerjaan terbaiknya. Mereka tak mengenal teori ini itu, mereka belajar dari, katakanlah alamnya, lalu apakah mereka siap dengan gempuran dari gaya-gaya desain dari anak-anak sekolahan desain grafis, yang merasa punya hak untuk mengklaim sesuatu desain yang baik dan mana yang tidak? Benarkah itu diri kita? Dapatkah kita benar-benar melupakan barang sejenak apapun yang telah kita pelajari di bangku sekolah, dan melihat dengan mata ketelanjangan pada desain-desain grafis jalanan di warteg, di rumah makan jalanan, agen-agen bus perjalanan antar kota antar propinsi, coretan-coretan di pagar dinding rumah-rumah?

Desain grafis jalanan, adalah potensi pembelajaran terbesar bagi kita untuk melihat ke dalam kultur visual masyarakat dimana kita berada. Desain grafis jalanan, seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa tidak mengenal lay out, teori warna, dan sebagainya dan sebagainya tapi telah menampilkan dengan ‘buruknya’ desain tipografi terbaik dari masyarakat awam kita. Apakah ini cercaan lagi? Tidak! Ini bukan cercaan, lupakan bahasa rendah yang pernah diajarkan di sekolah-sekolah. Pertukarkan kata ‘keindahan’ dengan ‘keburukan’, sehingga kita dengan mudah mengerti apa itu ‘keburukan’ yang terindah.

Masyarakat visual kita mempunyai standar keindahan sendiri-sendiri, yang sebetulnya mudah untuk dipahami, tapi sekolah-sekolah telah menjauhkan pengalaman kita dari keseharian yang dipahami oleh awam, dan kita pun dijejali oleh pengetahuan akan gaya-gaya desain terbaik dari negeri seberang sana dan negeri seberang situ. Apakah ada yang salah dari itu? Tidak, tak ada yang salah dari apa yang kita pelajari, demikian pula tak ada yang salah dari apa yang dipahami oleh masyarakat kita. Tapi adalah kesalahan kita bila tak mampu memahami kultur visual masyarakat di dekat kita sendiri, dan malah menuhankan kultur visual masyarakat yang kita pelajari lewat bangku sekolah dan buku-buku.

Lalu, kembali ke pertanyaan awal, apakah kita hendak mencari dan membentuk identitas diri? Sekali lagi, tidak! Melawan penindasan gaya-gaya dalam desain grafis, hanyalah sebuah keisengan belaka. Memperhatikan dan melihat-lihat desain grafis jalanan, dalam hal ini ajakan untuk meneliti tipografinya (street typographic) adalah sebuah upaya pemahaman tentang desain grafis itu sendiri. Lalu apakah pemahaman itu? Mungkin sederhana saja, sebuah pemahaman akan psikologis, sosiologis, kultural juga komersial yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural Indonesia. Tujuannya adalah proses memahami desain grafis itu kembali, bukan suatu hasil yang diharapkan. Jadi, lupakanlah tentang pencarian dan pembentukan identitas desain grafis nasional, mulailah dari akar, desain grafis adalah perkara melatih visual, maka lihat-lihatlah visual yang berada terdekat dengan kita karena sebenarnya disitulah letaknya proses individuasi aktif para desainer.

 

Pustaka

Barnard, M. (2005). Graphic Design as Communication. New York: Routledge.
Bierut, M., Drenttel, W., Heller, S. & Holland, DK. (1997). Looking Closer 2: Critical Writings on Graphic Design. New York: Allworth Press.
Bierut, M., Drenttel, W. & Heller, S. (2006). Looking Closer 5: Critical Writings on Graphic Design. New York: Allworth Press.
Poynor, R. (2006). Designing Pornotopia: Travels in Visual Culture. London: Laurence King Publishing.
Shaugnessy, A. & Sagmeister, S. (2005). How to be A Graphic Designer Without Losing Your Soul. London: Laurence King Publishing.

Quoted

Ketika dari mata tak turun ke hati, desain pun gagal total

Bambang Widodo