Citra Indonesia di Masa Revolusi, Terbingkai dalam Perangko
Citra Indonesia di Masa Revolusi, Terbingkai dalam Perangko, Hanny Kardinata, Rubrik Designer Box, Majalah Concept 03, Edisi 14, 2006.

Citra suatu pemerintahan biasanya tercermin pada desain perangkonya saat itu. Ketika Indonesia berada di bawah pemerintahan Hindia-Belanda, kita pun akrab dengan perangko yang menampilkan para penguasa Belanda: Raja Willem III, Ratu Wilhelmina, atau Pangeran Willem I. Tetapi menarik mengamati bahwa sejak tahun 1930, pemerintah Hindia-Belanda mulai menampilkan citra Indonesia pada desain perangko-prangkonya, di sini bisa dilihat misalnya pada seri ‘Untuk Remaja’ (1930), seri ‘Palang Putih’ (1931). seri ‘Muhammadiyah’ (1941) atau seri ‘Tarian Daerah’ (1941).

Demikian pula di bawah pendudukan Jepang (1942–1945), citra Indonesia sangat mendominasi perangko di masa itu, misalnya pada seri ‘Satu Tahun Pendudukan’ (1943), seri ‘Pariwisata’ (1943) dan seri ‘Tabungan Pos’ (1943).

Jepang kemudian menyerah kepada Sekutu dan kemerdekaan Indonesia pun diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi pengambilalihan kekuasaan tidak berlangsung mulus karena tentara Jepang tidak mau menyerahkan kekuasaan dan persenjataan mereka kepada pihak Indonesia. Demikian pula dengan pelayananan pos ketika itu yang masih ditangani oleh dinas pos Jepang. Kekalutan bertambah ketika tentara Belanda yang membonceng tentara Sekutu yang bertugas untuk melucuti senjata tentara Jepang, berusaha kembali menduduki Indonesia. Terjadilah perang fisik paling berdarah dalam sejarah bangsa Indonesia yang menelan korban lebih dari 1 juta jiwa, berlangsung sejak Oktober 1945 sampai dengan akhir 1949. Dan selain oleh dinas pos Jepang, di kota-kota besar yang berhasil dikuasai kembali oleh Belanda berlangsung pelayanan pos menggunakan perangko Ned.-Indie, sementara di daerah-daerah yang masih dikuasai tentara RI pelayanan pos diselenggarakan oleh Djawatan PTT dengan menggunakan perangko Indonesia.

Perekonomian yang ikut hancur akibat perang ‘terekam’ pada perangko-perangko yang diterbitkan pemerintah Indonesia kala itu. Dan kesulitan hidup yang mendera seluruh rakyat Indonesia mengakibatkan hanya sebagian kecil saja perangko yang dicetak pada masa itu yang terselamatkan hingga saat ini. Kelangkaan ini membuat perangko-perangko dari masa 1945–1949 sangat menarik untuk dikoleksi walau pun dicetak melalui proses cetak yang sangat sederhana di atas kertas berkualitas rendah. [Lihat seri ‘Revolusi’ (1946/1947). Perhatikan bahwa kebanyakan perangko ini dicetak tanpa perforasi.]


Hanny Kardinata
Bintaro, 2006

Quoted

Makin banyak manfaat, makin sedikit dampak, makin baiklah desain itu

Arief Adityawan S.