Indarsjah Tirtawidjaja: Pengawal Pendidikan DKV di Indonesia

 

Indarsjah_Tirtawidjaja

In Memoriam: Indarsjah Tirtawidjaja (1952-2016)


 

Pak Ii, akrabnya panggilan Almarhum khas dengan perawakannya yang bersahaja; rambutnya yang ikal, tidak pernah klimis, tetapi juga bukan gondrong urak-urakan, tatapan beliau tajam namun bersahabat. Pada saat beliau mengajar kami selalu terpana menyimak bagaimana dengan lugasnya beliau bercerita tentang pengelolaan Desain Komunikasi Visual (DKV) lewat diagram yang ia gores dengan tangan pada papan gambar. Mata kuliah beliau selalu terstruktur, rapih, lugas disampaikan.

Kemarin malam beliau meninggalkan dunia, lingkaran kehidupannya lengkap, kaya dengan pengalaman dan warisan yang amat berharga bagi kita semua—generasi pelanjutnya. Menelusuri Curriculum Vitae beliau pagi ini, kami mencatat prestasi yang sangat mengagumkan yang pantas menjadi panutan bagi kita semua.

Pak Ii adalah mahasiswa angkatan pertama Studio Desain Grafis (kini Program Studi DKV) di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1972. Setelah lulus pada tahun 1981 beliau mengajar pada almamaternya, meneruskan bekal ilmu yang telah diestafetkan dari Bapak AD Pirous dan Almarhum Priyanto Sunarto. Namun pengalaman pelatihan beliau dari Belanda di Studio Dumbar dan Staatsdrukkerij pada 1987 yang mungkin membawa pengkayaan baru dari segi ilmu manajemen studio dan bahasa periklanan pada pendidikan DKV di ITB, dan itulah yang menjadi keahlian beliau selama mengabdi di pendidikan DKV di Indonesia.

Yang mengagumkan dari rekam jejak karir Pak Ii adalah bagaimana beliau secara lihai dapat menyeimbangkan kegiatannya sebagai pelaku industri dan pendidikan. Setelah lulus di 1981, Almarhum memimpin CV Phicom Design di Bandung, dan beberapa kali pindah studio hingga terakhir berlabuh sebagai Creative Director Studio Dedato Netherland (Studio 181). Ragam identitas korporat bertingkat internasional dan nasional yang beliau terlibat dalam perancangannya, diantaranya TELCOM Netherlands, Asuransi Bumiputera, Jasindo, Hotel Indonesia, Krakatau Steel, dan banyak lagi.

Namun, dedikasi beliau sebagai penggiat pendidikan DKV-lah yang akan membekas hingga generasi-generasi selanjutnya. Beliau tercatat sebagai pengelola pendidikan DKV yang handal di Indonesia dan turut serta merancang banyak cetak biru konsep pendidikan serta kurikulum di beragam sekolah tinggi dan universitas yang memiliki program DKV di seluruh Indonesia, seperti STDKV Wydiatama, ITENAS, UNPAS, STISI, STIDI, serta terkini Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), dan termasuk DKV ITB sendiri yang beliau kawal memasuki era globalisasi sebagai Ketua Jurusan FSRD-ITB dari 1989 hingga 1995.

Tidak dipungkiri dedikasi beliau pada dunia pendidikan DKV turut mengantar bidang ini pada puncak popularitasnya sebagai komponen industri kreatif yang berharga. Kita yang ditinggalkan tentu akan kehilangan sosok dan semangat beliau yang begitu menular, namun kita juga diwarisi bekal yang tak bernilai untuk digali dan dimanfaatkan kembali. Semoga kita dapat menjemput tongkat estafet yang beliau tinggalkan dan mengawalnya demi terwujudnya aktualisasi dan pemberdayaan bidang DKV di masa-masa yang akan datang.

Selamat jalan Pak Ii. Beristirahatlah dengan tenang.

Quoted

Designers need to think about others for the sake of improving the human existence. What we have received is a gracious blessing. Without it, we are nothing. Which is why we need to give it back.

Yongky Safanayong