Nada dalam Tautan Bidang-Bidang (1)

[Bagian pertama dari dua bagian]

Oleh: Hanny Kardinata

Everything in the universe has a rhythm, everything dances.” —Maya Angelou (1928–2014)

Punah budaya asli
Di Indonesia, musik rock mulai menggeliat pada era 1970-an. Kejayaannya tak lepas dari kehadiran kelompok-kelompok musik seperti God Bless, Gipsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA (Surabaya), Bentoel (Malang), dsb. Kelompok Gipsy memiliki arti khusus bagi saya karena grup musik ini melantunkan warna rock progresif yang berkiblat pada genre Rock Klasik seperti repertoar dari Genesis, Yes, Emerson, Lake & Palmer, dll. Genre ini mendominasi koleksi musik saya pada masa itu.

Formasi Gipsy pada 1969 adalah Keenan dan Gauri Nasution, Onan, Chrisye, serta Tammy [yang sudah terbentuk pada 1966 dengan nama Sabda Nada]. Kolaborasinya dengan Guruh Soekarnoputra (l. 1953) pada 1975 melahirkan maha karya Guruh Gipsy (1976), sebuah album eksperimental yang kelak memiliki arti penting dalam dunia musik Indonesia karena pencapaiannya yang terbilang luar biasa (Gb. 1). Dalam karya ini, Guruh mencoba menyatukan harmonisasi yang berasal dari dua budaya yang berbeda: musik etnik Bali yang berdasarkan pada skala pentatonik, dengan musik Barat yang didasarkan pada skala diatonik.[i] Bila album Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band dari The Beatles (1967) disebut sebagai tonggak revolusi musik pop dunia maka album Guruh Gipsy ini bisa dianggap sebagai ‘pilar industri musik pop Indonesia’.[1] Bahkan pengamat musik Denny Sakrie mengklaim bahwa “revolusi musik pop di Indonesia bermula pada album Guruh Gipsy”.[2] Dalam album ini, formasi grup Gipsy telah berubah menjadi: Keenan Nasution (drum, vokal), Oding Nasution (gitar), Abadi Soesman (keyboard), Roni Harahap (piano/organ), dan Chrisye (vokal).

1. Kaset Guruh Gipsy, 1976. Desainer grafis Didit Chris Purnomo (l. 1950).
Sampul album ini menampilkan kaligrafi Dasabayu, yang berupa rangkaian sepuluh aksara Bali: I-A berarti kejadian dan keadaan, A-Ka-Sa berarti kesendirian dan kekosongan, Ma-Ra berarti baru, La-Wa berarti kebenaran, serta Ya-Ung berarti sejati.
Pada sisi bawah tercantum slogan ‘Kesepakatan dalam kepekatan’.

Di kemudian hari, dalam memoarnya, Chrisye menganggap keterlibatannya dalam proyek Guruh Gipsy ini sebagai sebuah pengalaman emas:

“Dugaan bahwa album itu akan menjadi sorotan memang kejadian. Meski tidak diproduksi secara massal, album ini sontak menggegerkan kancah musik dalam negeri. Proyek sensasional ini langsung mengedepankan Guruh sebagai musikus unggul dan brilian. Sejumlah lagu, seperti Smaradhana menjadi hit. Album ini dianggap sebagai gebrakan di kancah musik Indonesia saat itu. Saya, bukan main bangganya bisa terlibat dalam proyek rekaman yang sensasinya tidak lagi pernah saya temukan, bahkan sampai hari ini.”[3]

Bersama Gipsy, Guruh tak hanya melakukan eksplorasi bunyi belaka melainkan juga pada tema penulisan lirik, yang menyentuh wilayah kritik sosial. Lirik lagu Chopin Larung yang berbalut bahasa Bali, menggambarkan derasnya intervensi budaya Barat di Indonesia, sebuah isu yang tetap relevan hingga dewasa ini:

Sang jukung kelapu-lapu
santukan Baruna kroda.
Nanging Chopin nenten ngugu
kadang ipun ngarusak seni budaya

(Perahu terombang ambing
karena dewa laut murka.
Namun Chopin tiada memahami
bangsanya merusak seni budaya.)[1]

Atau pada Janger 1897 Saka:

Dulu memahat buat menghias pura
Dulu menari dengan sepenuh hati
Sekarang memahat untuk pelancong mancanagari
Sekarang menari turut cita turis luar negeri

[…]

Art shop megah berleret memagar sawah
Cottage mewah berjajar di pantai indah
Karya cipta nan elok indah
Ditantang alam modernisasi
Permai alam mulai punah karena gersang rasa mandiri

Boleh saja bersikap selalu ramah
Bukanlah berarti bangsa kita murah
Kalau kawan tak hati-hati bisa punah budaya asli
Kalau punah budaya asli harga diri tak ada lagi

Permainan anak kecil
Dalam lingkup globalisasi, sistem tangga-nada pentatonik dan diatonik itu saling berinter-relasi. Budaya dengan sistem skala pentatonik mengadopsi elemen-elemen diatonik, dan sebaliknya. Upaya mengawinkan keduanya sesungguhnya sudah berlangsung lama, dan bisa ditelusuri misalnya pada sejumlah karya komponis Perancis mazhab Romantik/Modern, Claude Debussy (1862–1918). Dimulai pada 1889, ketika Perancis memperingati 100 tahun Revolusi Perancis, yang ditandai dengan peresmian Menara Eiffel dan penyelenggaraan hajatan besar Pameran Semesta (L’Exposition Universelle) pada 6 Mei–31 Oktober 1889 di Paris. Negeri Belanda, yang pada saat itu merupakan negara koloni terbesar di Eropa dan punya jajahan negeri kita, ikut membuka paviliun di sana yang dinamainya Le Kampong Javanais; tujuannya untuk menjual teh hasil perkebunan Parakan Salak (terletak di dekat Sukabumi). Kehadirannya dimeriahkan oleh para buruh perkebunan itu sendiri yang memainkan seperangkat gamelan Sunda, Sari Oneng mengiringi empat penari remaja asal Surakarta [perpaduan yang ganjil]. Salah satu tokoh yang bertandang ke paviliun itu adalah Debussy.

Debussy yang waktu itu berusia 27 tahun—sudah mendapat Prix de Rome lima tahun sebelumnya dan mulai naik daun—untuk pertama kalinya mendengarkan gamelan. Ia sangat terperanjat, dan merasakan adanya sesuatu yang betul-betul berbeda dengan musik-musik Eropa. Dalam resensinya mengenai Sari Oneng, ia menulis:

“Berguru pada irama abadi ombak lautan, desir daun terhembus angin, dan banyak bunyi-bunyian lain. Gamelan memiliki kontrapung yang menyebabkan kontrapung Palestrina [penulis: yang merupakan puncak musik polifoni abad 16] tidak lebih dari permainan anak kecil. Harus diakui, instrumen perkusi orkestra Barat hanya memperdengarkan bunyi-bunyian primitif seperti yang terdengar di pasar malam.”[4]

Hubungan gelap
Sebelum perjumpaannya dengan gamelan itu, Debussy sudah sering mencoba-coba dengan berbagai unsur interval yang memungkinkannya bisa menghindari keharusan fungsional harmoni, yaitu dengan meniadakan sebisa mungkin interval semiton. Jadilah kawasan tangga-nada-penuh atau pentatonik yang dia buat sendiri. Tapi semua ini baru coba-coba. Baru sejak 1889, gamelan menjadi sumber utama inspirasi estetik Debussy. Sebagai sumber utama bagi seorang jenius seperti Debussy, gamelan tentu bukan sekadar untuk ditiru, melainkan diserap intinya dan diolahnya sampai ‘menjadi bagian dari dirinya’.

Dalam sebuah tulisan yang dikirimkannya ke saya pada 22 Oktober 2012 di bawah judul Hubungan Gelap antara Debussy dan Gamelan, komponis Slamet Abdul Sjukur (1935–2015) menganalisis pengaruh gamelan pada karya-karya Debussy demikian:

“Karya Debussy yang berjudul Pagoda, untuk piano, oleh para musikolog Barat dianggap sebagai yang paling nyata adanya pengaruh gamelan. Sayangnya bagi ‘telinga Jawa’ karya tersebut terasa seperti musik Cina.”

“Musik Debussy akan terlalu dangkal seandainya di situ gamelan bisa dilacak dengan mudah pada setiap nada. Justru kita ini yang sebenarnya dituntut untuk cermat menangkapnya di dalam yang samar.”

Nocturnes (1899), yang terdiri dari tiga bagian untuk orkes, yang sama sekali tidak berbunyi seperti gamelan, malah di situlah terjadi persenyawaan Debussy dan gamelan. Slendro tersirat di dalam bagian pertama dan ketiga. Nuages (Arak-Arakan Awan) dan Sirénes (paduan-suara Putri-Putri Duyung) bergerak lamban bagaikan tari bedaya yang bebas dari desakan waktu, keselarasan harmoninya mengambang tak bergerak seperti butiran-butiran debu di udara rumah yang suwung. Itu sikap Debussy yang sangat revolusioner, menentang pakem harmoni fungsional dan orkestrasi yang berat jaman romantik abad 19. Di dalam Fêtes (Pesta Alam Semesta), yang berada di antara kedua bagian tersebut, satu-satunya bagian yang cepat, dengan ostinato ritme yang berulang-ulang, demikian juga melodinya, menyelinap ketujuh nada pelog.”[ii]

“Dalam Préludes, dua bukunya yang masing-masing memuat duabelas karya, judul-judulnya tidak tercantum di awal karya sebagaimana lazimnya, tapi malah di akhirnya. Ini sebagai oleh-oleh dari pengalamannya mendengarkan gamelan. Ketika itu dia sering bingung, apakah gendingnya masih yang namanya tercantum dalam buku acara ataukah sudah lewat. Persis seperti orang yang tidak tahu bahwa sebuah sonata itu terdiri dari beberapa bagian. Debussy akhirnya menyadari bahwa yang penting musiknya, judul hanya sebagai sugesti atau saran saja.”[4]

Komponis, pianis, dan penulis berkebangsaan Kanada, Collin McPhee (1900–1964) sejak 1930-an juga telah membuat komposisi yang bertumpu pada seperangkat gamelan bertajuk Tabuh-tabuhan (1934). Gubahan McPhee ini menggunakan piano, celesta, xylophone, marimba, glockenspiel, serta gong dan simbal khas Bali. Demikian pula dengan komponis Lou Harisson (1917–2003) yang pernah belajar langsung pada K.P.H. Notoprojo (1909–2007), salah seorang pemain gamelan yang paling dihormati. Jim Morrison/The Doors (1943–1971) pun pernah melakukan hal serupa pada album LA Woman (1971). Termasuk pula Ray Manzarek (1939–2013) dengan album solonya The Golden Scarab, dan Eberhard Schoener (l. 1938) dengan Bali Agung [yang dirilis pada 1976, di tahun yang sama dengan diluncurkannya album Guruh Gipsy]. 

———
[i] Tiap bangsa di dunia dengan kultur musikalnya masing-masing memiliki sistem skalanya sendiri-sendiri. Beberapa di antaranya: tetratonik (skala empat nada), pentatonik (skala lima nada), heksatonik (skala enam nada), heptatonik (skala tujuh nada), dan diatonik (skala yang menggunakan dua interval: tangga-nada setengah dan tangga-nada penuh). Yang paling populer adalah pentatonik dan diatonik. Skala pentatonik lazim dijumpai pada kultur musik Cina, India, Asia Timur, Asia Barat, Afrika, dan sebagian kecil Eropa Timur. Skala diatonik kebanyakan dipraktikkan di budaya-budaya Barat, seperti di Eropa, Amerika, dan Amerika Latin. Di kawasan Jawa, Bali, dan Sunda terdapat dua genre skala pentatonik, disebut titi laras slendro dan pelog. Kawasan lain yang memiliki sistem skala pentatonik adalah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

[ii] Judul Nocturnes di sini harus ditafsirkan—dalam pengertian umum dan secara khusus—sebagai sesuatu yang sifatnya dekoratif. Karenanya, tidak dimaksudkan untuk menggambarkan bentuk Nocturne yang lazim, melainkan sebagai beragam impresi dan efek khusus hal-hal yang disugestikan oleh kata tersebut. 

Nuages’ melukiskan wajah abadi langit, serta awan yang berjalan beriringan dengan angkuh dan khidmat, memudar dalam nada kelabu keputihan. ‘Fêtes’ menggambarkan irama tarian atmosfer yang menggetarkan, dibubuhi kilatan cahaya yang sekonyong-konyong muncul. Di sini juga ada kisah arak-arakan (imaji fantastis penuh pesona) yang bergerak melewati sebuah kemeriahan, dan bersatu di dalamnya. Namun latar belakangnya tetap demikian: sebuah festival dengan penyerasian antara musik dan debu berpendar, yang berpartisipasi dalam suatu tarian kosmik. ‘Sirènes’ menggambarkan laut beserta iramanya yang tak terbilang, dan tak lama lagi, di antara ombak yang keperakan karena terpaan cahaya bulan itu, terdengar lagu misterius yang dinyanyikan oleh Sirens (Putri-putri Duyung, makhluk-makhluk laut dalam mitologi Yunani) saat mereka tertawa dan berlalu.

—Claude Debussy, dari catatan pengantarnya untuk Nocturnes (1899)

———
[1] Ginting, Asriat et al. 2009. Musisiku. Jakarta: Republika.

[2] Ibrahim, Raka. 2016, Perjumpaan Chrisye, Guruh, dan Bali di Pegangsaan. https://ruang.gramedia.com/read/1481103431-perjumpaan-chrisye-guruh-dan-bali-di-pegangsaan.

[3] Endah, Alberthiene. 2007. Chrisye: Sebuah Memoar Musikal. Jakarta: Gramedia.

[4] Sjukur, Slamet Abdul. 2012. Hubungan Gelap antara Debussy dan Gamelan.

***

[Bersambung »]

Quoted

“Keberhasilan merancang logo banyak dikaitkan sebagai misteri, intuisi, bakat alami, “hoki” bahkan wangsit hingga fengshui. Tetapi saya pribadi percaya campur tangan Tuhan dalam pekerjaan tangan kita sebagai desainer adalah misteri yang layak menjadi renungan.”

Henricus Kusbiantoro