Perjalanan Desainer Grafis Yogyakarta Merenda Kehidupan

KATA PENGANTAR BUKU ‘KOLASE KISAH DUA BELAS DESAINER GRAFIS DI YOGYAKARTA’

 

“Tiap orang didesain untuk melakukan pekerjaan tertentu, gairah atas kerjanya itu ada di hatinya.” —Jalaluddin Rumi (1207–1273)     

Selalu saja ada keingintahuan terhadap pekerjaan seseorang, tentang bagaimana profesi itu dijalankan dan apa keunikannya, mengenai suka dukanya, atau bagaimana perjalanannya dalam menggapai sukses. Yang semuanya itu bila tak ada yang mencatatnya, hanya akan tersimpan di dalam memori pelakunya masing-masing, sebelum akhirnya sirna ditelan Sang Kala. Maka di tengah kemaraunya pencatatan dan pendokumentasian di Bumi Pertiwi, beruntung ada sosok seperti Andika Indrayana yang mau bersusahpayah mengikhtiarkannya, dengan demikian penggalan-penggalan jejak perjalanan salah satu profesi yang banyak diminati ini tidak sampai tenggelam dalam kegaduhan duniawi. Dan jadi terbuka guna diapresiasi oleh masyarakat.

Inilah kisah kehidupan (sebagian) desainer grafis yang bercokol di Yogyakarta. Mengungkapkan perjalanan aktualisasi diri[i], yang tidak saja dinarasikan melalui proses penguasaan teknik berkaryanya masing-masing, tapi hingga ke teknik produksinya. Dengan demikian memberikan gambaran yang sangat kaya tentang gaya serta spesialisasi tiap desainer, yang tentunya akan bermanfaat dalam menambah wawasan bagi calon desainer, atau untuk mereka yang berminat mengenal lebih dalam sepak terjang seorang desainer grafis.

Sampul buku ‘Kolase Kisah Dua Belas Desainer Grafis di Yogyakarta’. Ditulis oleh Andika Indrayana, diterbitkan pada awal Oktober 2017 dan didistribusikan gratis oleh Taman Budaya Yogyakarta.

Yang menarik di dalam catatan-catatan Andika ini adalah kandungan nilai-nilai kehidupan yang menyertainya. Jadi tak sekadar perihal ide, gaya, atau estetika masing-masing desainer, melainkan juga pergulatan hidup mereka dalam mengasah talenta kreatifnya. Dan juga bukan semata-mata mengenai kiprah seseorang dalam menunaikan tugas profesinya, tapi terutama tentang bagaimana mereka “memanusiakan” dirinya sendiri, bagaimana mereka mengalami jatuh bangun dalam menguak potensi diri, dengan karya desainnya sebagai medianya. Yang kekhasannya bisa menjadi pembelajaran betapa jalan yang sulit untuk dilalui, bisa jadi sebenarnya adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan.

Seperti ujaran penyair Hermann Hesse (1877–1962) mengenai bahwa “…tiap orang itu lebih dari sekadar dirinya sendiri; ia juga merepresentasikan keunikan, sangat spesial dan selalu signifikan serta pelik di saat berbagai peristiwa berinterseksi, hanya sekali saja terjadi seperti itu dan tak pernah berulang. Itulah mengapa kisah setiap orang itu penting, abadi, suci; itulah sebabnya setiap manusia—selama dia hidup dan memenuhi kehendak alam—menakjubkan, serta sepatutnya memperoleh perhatian.”

Cermati misalnya kisah perjalanan Hadi Purwanto, perancang spanduk warung makan yang pada awalnya mesti mengalami penolakan, bahkan pernah dimarahi atau diusir sebelum kemudian perkasa melangkah dengan gaya khasnya yang tak mudah terseret oleh arus zaman. Dengan teknik manual ia terus berkarya mengikuti irama jiwa, tanpa khawatir terhempas oleh arus digitalisasi, dan menjadikannya satu-satunya desainer yang tersisa yang masih merancang spanduk secara manual, sejak dari menentukan besaran huruf, spasi antar huruf, ukuran gambar, hingga proporsi tiap elemen visualnya. Tak pernah sekali pun ia surut langkah dan beralih ke komputer.

Ikuti pula perjalanan Iman Santoso, desainer kartu yang melakukan eksplorasi visualnya dengan pendekatan ketukangan, dan memadukannya dengan hasil penjelajahannya atas berbagai kemungkinan dalam teknologi grafika. Ia yang senantiasa menyisipkan sentuhan tangan (di balik kerja mesin) dalam proses produksi desain kartunya, dan menempatkan karyanya itu sebagai karya seni.

Atau Yudi Irawan, desainer grafis dengan sentuhan ilustrasi (yang juga) manual itu. Yang tak jeranya berulang kali ditolak masuk ke sebuah sekolah seni, di mana baru pada kali yang ketiga ia akhirnya diterima. Ia yang kelak di kemudian hari melakoni profesinya itu sebagai jalan kehidupannya. “Hidup” dari dan dengan desain grafis, yang menghidupinya tidak saja secara finansial melainkan juga psikologis; yang memberinya kesenangan dalam bekerja, dengan begitu ia pun bisa menikmati kesehariannya.

Seperti halnya Puput Novitasari, desainer buku yang juga meyakini profesinya itu sebagai aktivitas yang menyenangkan. Melalui pekerjaannya, ia merasa bisa “bermain” dengan berbagai elemen visual. Sejak sebagai bahan mentah sampai kemudian menjadi sesuatu yang bernilai dan menjadi solusi bagi permasalahan pihak lain. Ia menghayati buku sebagai sesuatu yang “hidup”, bukan sekadar deretan teks dan gambar, yang dapat menyampaikan pengetahuan mengenai sesuatu hal dan dengan demikian berperan dalam mengembangkan pemikiran manusia, apa pun isi bukunya.

Ada pula Anggit Yuniar Pradipta, desainer grafis antarmuka, yang begitu fokus pada kenyamanan pengguna aplikasi rancangannya. Keterbatasannya pada teknik manual diimbanginya dengan kepiawaiannya di wilayah seni digital, yang akhirnya dibawanya terus dan menjadi spesialisasinya saat sudah memiliki studio grafis sendiri. Perhatiannya yang sepenuh hati pada kenyamanan penggunanya itu akhirnya membuahkan slogan kerja user happiness studio.

Simak pula Dhanang Pambayun, ilustrator kolase digital bergaya surealis yang tangguh mengabarkan kekhasannya itu, dan senantiasa menari seirama dengan genderang yang ditabuhnya. Tak gentarnya ia menggunakan warna-warna ‘berat’, monokrom, dan cenderung tak cerah, bahkan ketika harus membuat desain bagi sebuah produk bir yang bernuansa musim panas! Sosok yang tak ingin terikat dengan sistem absensi kantoran ini pun lebih memilih bekerja lepas (free lance) dalam menjalankan misinya. Sebagai pelepas kejenuhannya dalam berolahkarya visual, terkadang ia membuat furnitur dari kayu; tidak untuk dijual, melainkan diberikan kepada teman-temannya yang membutuhkan.

Lalu ada juga kisah Rakhmat Tri Basuki, desainer grafis dan ilustrator kaos berbasis budaya Jawa yang tumbuh besar di lingkungan keluarga pembatik. Melalui merek kaosnya, Njawani, ia mengeksplorasi karakter-karakter ikonik yang ‘mirip-mirip’ budaya Jawa, yang dibalutnya dengan nuansa warna pop dan lokal, serta meneguhkannya sebagai ciri khasnya.

Walau setiap pelaku desain—disadari atau pun tidak—cenderung berkarya berlandaskan nilai-nilai keyakinan yang dianutnya masing-masing, ternyata ada seorang desainer yang secara terang benderang menyatakan perusahaan desainnya sebagai berasaskan nilai-nilai keislaman. Ia, Andika Dwijatmiko, menjalankan bisnis berbasis syariah, dan berhasil menyatukan aktivitas kerjanya dengan kegiatan beribadah. Sistem kerja sedemikian ini mungkin memang masih satu-satunya di Indonesia. Prinsipnya, bila kehidupan diyakini sebagai berpedoman pada nilai-nilai keislaman, maka profesi apa pun, sebagai bagian dari peri kehidupan, sebaiknya demikian pula. Dalam pandangannya, konsep syariah bisa diterjemahkan sebagai konsep yang universal sifatnya. Nilai kebaikan misalnya, ada di setiap agama dan bersifat umum, serta dapat ‘disuntikkan’ pada sebuah merek agar memberikan keluaran berupa nilai-nilai positif.

Lalu ada Danang Rusmandoko, sarjana hukum yang mengawali profesinya sebagai desainer dengan jalan menukang. Ia selanjutnya berkarier di dunia desain kontes daring, dan mengikuti berbagai kontes tanpa pernah peduli pada besar hadiah yang akan didapatnya.

Tengok pula perjalanan Perdana Adi Nugroho, desainer grafis yang kini berspesialisasi di infografis. Ia yang belajar apa saja sendiri, dan tak takut memasuki medan gelap. Semangat belajar yang tak pupus sebagai desainer otodidak, yang belajar dari pengalaman (learning by doing) dengan metode trial and error, termasuk terlebih dulu mengalami salah memilih jurusan sekolahnya, atau pun salah masuk perusahaan. Mengingatkan bahwa kadang-kadang jalan yang indah tak bisa ditemukan tanpa tersesat. Hambatan dan kesalahan adalah guru terbaiknya, tantangan menjadi sekutu setianya.

Atau pengalaman Ruly Prasetya, desainer grafis korporat, yang sampai tiga kali keluar masuk perusahaan desain yang sama. Mulai dari menjadi desainer grafis ‘dadakan’, kepala tim kreatif, hingga direktur kreatif. Posisi terakhirnya ini yang kemudian menempatkannya untuk selalu “berada di tengah”, sebagai pengayom yang menjaga keselarasan kerja di antara anggota timnya, antara tim kreatif dengan tim lain (dengan tim produksi misalnya), serta sebagai jembatan antara timnya dengan pemilik perusahaan.

Dan ikutilah misi menawan Bima Surya Pamila, desainer iklan yang berkeinginan menyebar makna (yang lebih baik) bagi kehidupan. Dengan bermain plesetan (olah kata) yang sudah sejak sekolah menengah pertama ia tekuni. Di suatu masa, ia pernah berada di persimpangan jalan, antara terus berprofesi sebagai desainer grafis atau kembali ke dunia periklanan sebagaimana yang dijalaninya di awal kariernya. ‘Ujian diri’ tersebut akhirnya mengantarnya kembali ke profesi awalnya sebagai desainer iklan. Selain guna menyalurkan talentanya, melalui pesan-pesan yang disampaikannya secara simbolis pada konten visualnya, ia merasa dapat menyumbang sesuatu yang mungkin lebih baik bagi masyarakatnya. Seperti yang pernah disisipkannya pada sebuah logo yang terinspirasi dari kisah pewayangan Semar Mbangun Kahyangan, bahwasanya membangun “surga” bukan berarti fisiknya melainkan jiwanya. Demikian juga misi yang diteruskannya saat menggunakan bahasa plesetan, yang diniatkannya demi membangun suasana yang lebih menyenangkan.

Demikianlah desainer grafis Yogyakarta saat bermain, menari, bernyanyi, tertawa atau menangis, berharap, berkeinginan, dan mencintai. Bagi setiap pejalan, sesungguhnya yang terpenting adalah menikmati setiap momen dalam perjalanannya, serta menghargai keberadaannya di saat ini, daripada selalu berfokus pada seberapa jauh ia harus berjalan.

Kawula mung saderma, mobah-mosik kersaning Hyang sukmo.” —Pepatah Jawa[ii]

 

Hanny Kardinata
Desain Grafis Indonesia (DGI)

 

———

[i] Psikolog Abraham Maslow (1908–1970), penegak mazhab Humanis dalam psikologi modern (Humanistic Psychology), menggunakan piramida sebagai peraga untuk memvisualisasikan gagasannya mengenai Teori Hierarki Kebutuhan. Menurut Maslow, manusia memiliki hierarki dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar) sampai ke yang paling tinggi. Maslow membagi kebutuhan manusia menjadi lima tingkat:

  • Kebutuhan fisiologis
  • Kebutuhan rasa aman
  • Kebutuhan dicintai dan disayangi
  • Kebutuhan dihargai
  • Kebutuhan aktualisasi diri

Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang melibatkan hasrat (instingtif) yang terus menerus untuk memenuhi potensi diri yang unik dan berusaha menjadi yang terbaik.

[ii] Artinya: Lakukan yang kita bisa, selanjutnya serahkan kepada Tuhan.

 

***

 

 

 

 

 

Quoted

“Keberhasilan merancang logo banyak dikaitkan sebagai misteri, intuisi, bakat alami, “hoki” bahkan wangsit hingga fengshui. Tetapi saya pribadi percaya campur tangan Tuhan dalam pekerjaan tangan kita sebagai desainer adalah misteri yang layak menjadi renungan.”

Henricus Kusbiantoro