Riwayat Sendiri yang Terpinggirkan

Disampaikan pada peluncuran buku Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia, 23 Januari 2016 di Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang Selatan.

 

Hadirin yang saya hormati,
Selamat siang menjelang sore.

Izinkan saya bercerita sedikit mengenai sebuah perjalanan, dengan mengutip pernyataan dari sahabat seperjalanan saya, alm. Priyanto Sunarto (1947–2014) yang bunyinya demikian:

“Kalau tak dicatat, kita kehilangan jejak apa yang sudah dilakukan dan apa prospek ke depan; buta akan riwayat sendiri.”

Barangkali memang demikianlah keadaan kita dewasa ini, bahwa banyak di antara kita gelap akan asal usul sendiri. Meski memiliki fungsi penting dalam masyarakat, desain grafis di Indonesia belum memiliki pencatatan sejarah yang mapan. Sehingga, desainer grafis terlepas dari sejarahnya sendiri, terlepas dari keterhubungannya dengan masyarakatnya.

Kesadaran mengenai adanya kekosongan ini telah membekali saya untuk mengaktivasi sebuah milis pencatatan sejarah desain grafis di tanah air pada 2003. Selain saya sendiri, anggota awalnya adalah Priyanto Sunarto dan Henricus Kusbiantoro. Namun, adanya berbagai keterbatasan pada sebuah milis, mendorong saya untuk kemudian menginisiasi sebuah situs blog dengan nama Desain Grafis Indonesia (DGI) pada 2007. Melalui blog ini, secara bertahap saya mulai memublikasikan catatan, kliping, dan koleksi artefak mengenai desain grafis yang bisa saya kumpulkan sejak 1980. Sifat sebuah blog yang lebih terbuka, interaktif, dan fleksibel memungkinkan pengguna internet mengakses isinya kapan saja, dari mana saja, serta mengomentari atau melakukan koreksi atas catatan-catatan saya itu. Blog dengan lingkup nasional ini kemudian menjadi embrio dari situs DGI sebagaimana yang dikenal sekarang.

Upaya terus menerus dalam pengarsipan dan pengumpulan artefak secara daring ini lalu melahirkan gagasan untuk mengelaborasinya secara fisik pula. Maka timbullah kemudian cita-cita untuk membangun Museum Desain Grafis Indonesia. Pengumpulan artefaknya secara fisik antara lain dilakukan dengan menyelenggarakan Indonesian Graphic Design Award (IGDA), pertama kalinya pada 2009–2010, dan untuk yang kedua kalinya pada 2015–2016 ini.

Pertemuan saya dengan Ismiaji Cahyono dan Citra Lestari pada sekitar 2013 telah mengantar DGI ke percepatan dalam pengembangannya. Sehingga DGI bisa, antara lain, mulai menuangkan pencatatan dan pengarsipannya secara fisik ke dalam bentuk buku di bawah naungan DGI Press [logo DGI Press ini, sebagaimana halnya logo DGI dan Museum DGI, dirancang oleh Henricus Kusbiantoro]. Keuntungan yang diperoleh melalui penerbitan buku-buku DGI Press ini—juga dari pemasaran beragam produk desainer melalui DGI Store—disisihkan guna terus mengelola dan mengembangkan DGI, dan kelak juga Museum DGI.

 

Hadirin yang saya cintai,

Pada 2012, saya mulai menuliskan kembali catatan-catatan historikal yang sebagian besar telah terkumpul di situs DGI ke dalam format buku. Selama dua tahun, hampir setiap hari saya menyusun kembali data yang tercecer itu sesuai urutan kejadiannya, yang sebisanya saya sandingkan dengan tonggak-tonggak sejarah desain grafis dunia secara ringkas. Saya memberanikan diri duduk di kursi panas, bukan karena merasa paling kompeten atau superior, melainkan berdasarkan pada pemikiran: kalau tak ada yang memulainya maka sampai kapan kita bisa memiliki rekam jejak perjalanan kita sendiri, sebuah sejarah desain grafis pribumi? Dan terus saja menjadikan sejarah Barat sebagai kiblat kita? Sementara, para saksi sejarah awal desain grafis kita ini satu demi satu telah mendahului kita [yang dalam istilah Mas Pri: ibarat wayang, satu per satu masuk kotak].

Hasilnya adalah dua jilid buku Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia, yang jilid pertamanya diluncurkan pada hari ini. Publikasi buku ini sekaligus menandai hadirnya buku ke-4 DGI Press. Dan lebih banyak lagi yang akan diterbitkan yang merekam nilai-nilai sejarah dan kebijaksanaan para pendahulu kita itu.

Buku ini bisa terbit berkat peran serta begitu banyak orang yang telah berupaya dengan sungguh-sungguh mewujudkannya. Desain awal yang saya rancang sebagai panduan, mendapat sentuhan elok dari Vincent Wong, juga Charles Lee, berkembang hingga tiga kali perubahan desain, yang terakhir kalinya itu demi mengikuti perubahan ukuran buku. Kerja desain ini saling mengisi dengan aktivitas penyuntingan naskah yang dikerjakan dengan penuh dedikasi oleh Ellena Ekarahendy dan Johannes Tan, serta Sutjipto Tantra di sisi penyuntingan gambar.

Spirit kerja DGI yang telah membentuk ciri khasnya selama ini yaitu kolaboratif, tak luput mewarnai pula wajah buku ini. DGI bersyukur bisa berkolaborasi dengan sejumlah desainer muda berbakat yang telah dengan suka rela merancang separator buku, seperti Agra Satria, Albert Tejasukmana, Andi Rahmat, Bambang Widodo, Eka Sofyan Rizal, Januar Rianto, Listya Amelia, Nigel Sielegar, Sandy Karman, Tatiana Romanova Surya, Teddy Aang, dan Yan Mursid. Tak ketinggalan, John Kudos yang mengemas khusus esai hasil penelitian Antariksa dalam bentuk poster.

Kehadiran buku ini tak lepas pula dari kerjasama erat yang terjalin dengan para rekan dan sahabat di sejumlah institusi: Djarum Foundation (Bapak Rudijanto Gunawan, Ibu Lita Suryawijaya), dan khususnya dengan Paperina Dwijaya (Bapak Guntur Santosa, Bapak Peter Natadihardja), serta Harapan Prima Printing (Bapak Jhonny dan Howard Brawidjaya) yang telah berupaya keras agar buku ini bisa hadir dengan baik dan tepat waktu. Juga dengan Dia.Lo.Gue Artspace (Hermawan dan Engel Tanzil) yang telah meluangkan ruang dan waktu bagi peluncurannya hari ini.

Kami mengucap syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas semangat kebersamaan semua insan luar biasa ini. Salut bagi mereka semua!

Selanjutnya, kami merasa bangga bisa bergandeng tangan dengan seluruh Prodi DKV di Jakarta yang akan menjadi tempat bagi berlangsungnya tur buku ini, dan kelak pula dengan Prodi DKV di berbagai daerah di Indonesia.

Dengan tuntunan penuh kasih dari Yang Maha Esa, buku ini telah berada di tengah kita. Walau masih jauh dari sempurna, semoga bisa menjadi kado istimewa bagi desain grafis Indonesia.

Marilah kita sekarang memberi perhatian lebih kepada nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita—yang relevan dengan kekinian—dan menjadikannya sebagai rujukan dalam berkarya, agar dunia luar mulai menyadari daya identitas desain grafis Indonesia.

Terima kasih.

 

Hanny Kardinata

Bintaro, 23 Januari 2016

 

Quoted

Some nature is better polluted by design and art

Henricus Linggawidjaja