United We Stand: Memorialisasi Para Pendiri dan Aktivis IPGI

Pada kisaran 1980-an, sejumlah desainer grafis berkumpul di jalan Padalarang 1A, Jakarta (kantor Majalah ’Maskulin’, ’Visi’, dan ’Sport Otak’) guna mempersiapkan berdirinya sebuah wadah untuk berjuang bersama-sama bagi kemajuan desain grafis Indonesia. 24 September 1980, Ikatan Perancang Grafis Indonesia (IPGI) diresmikan berdirinya serentak bersama pameran besarnya, Grafis’80 di Wisma Seni Mitra Budaya, jalan Tanjung 34, Jakarta. Pameran yang pertama ini diikuti oleh 43 desainer.

Perjalanan IPGI yang senantiasa diwarnai dengan semangat kebersamaan, keguyuban, dan kekeluargaan itu berlangsung hingga 1994. Pada kongres pertama (dan terakhirnya), 7 Mei 1994 nama IPGI berganti menjadi Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI), yang berlangsung hingga sekarang. Selama perjalanan 14 tahunnya itu, IPGI berkali-kali berpameran guna menumbuhkan apresiasi masyarakat, di antaranya dua pameran besar: Grafis’80 dan Grafis’83, dua kali pameran bersama Japan Graphic Designers Association (JAGDA): Grafis’88 dan Grafis’89, beberapa kali pameran kecil bersama Departemen Penerangan dan Departemen Perdagangan, serta menyelenggarakan sejumlah lokakarya dan acara bincang-bincang di berbagai kota

 

Kini, beberapa eksponen pendiri dan aktivis IPGI, satu per satu telah tiada, mewariskan nilai-nilai, yang menginspirasi kita semua. Di antaranya:

Karnadi Mardio
Karnadi adalah Wakil Ketua IPGI, yang ketika Ketua IPGI, Wagiono Sunarto melanjutkan studinya ke Amerika (1981–1983), menjabat sebagai Pejabat Ketua. Karnadi yang memiliki biro grafis Vision yang berfokus pada desain kemasan itu, acap kali menempatkan dirinya sebagai seorang kakak yang baik hatinya, penuh perhatian, dan selalu siap membantu rekan-rekannya.

Sadjiroen (lahir 1931)
Sadjiroen adalah desainer uang Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri). Hasil karyanya antara lain uang Seri Sudirman mulai dari pecahan Rp. 5 hingga Rp. 10.000. Bersama seniornya di Peruri, ia juga merancang uang Rp. 10, Rp. 50, dan Rp. 500 (1958); Rp. 10 (1963), serta Rp. 50 dan Rp. 100 (1964). Sebagai pendiri tertua IPGI, dalam salah satu pertemuan, Sadjiroen yang berjiwa kebapakan ini didaulat menggoreskan coretan tangannya untuk dipakai sebagai logo IPGI (Catatan: bisa dilihat pada presentasi Arsip DGI di Dia.Lo.Gue Artspace).

Gendut Riyanto (1955–2003)
Perupa yang menekuni ide-ide seni yang pluralistis dan kontekstual ini adalah juga salah seorang eksponen Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) dan Kepribadian Apa (Pipa). Gendut, yang juga merupakan mitra kerja F.X. Harsono pada biro grafis Gugus Grafis, membantu IPGI dengan menyiarkan aktivitas IPGI melalui tulisannya di media-media.
Kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sosialnya membuat Gendut sempat meneteskan air mata saat menjumpai sejumlah anak yang cacat atau tak mampu berbicara, yang diduga merupakan mata rantai dari pola konsumsi makanan yang selama bertahun-tahun sudah tercemar oleh metilmerkuri dan logam berat lainnya di Teluk Jakarta.

Syahrinur Prinka (1947–2004)
Desainer dan ilustrator Majalah ’Tempo’ yang juga adalah pengajar di DKV IKJ ini dianggap sebagai pelopor infografis di tanah air. Prinka juga membawa arah baru dalam desain editorial majalah, mengawinkan jurnalisme dengan seni rupa. Di kepengurusan IPGI, Prinka merupakan Koordinator Bidang Pameran. Hari-hari bersama keluarga IPGI tidak pernah lepas dari canda tawanya yang membawa suasana segar dan ceria.

Tjahjono Abdi (1952–2005)
Tjahjono adalah desainer grafis dan iklan yang sangat berbakat. Rancangan-rancangannya yang berkarakter kuat berkontribusi besar dan meninggalkan jejak dalam di tempatnya berkarya, baik di biro iklan Matari, di biro grafis Citra Indonesia, maupun Mindglow. Salah satu rancangan posternya membawa penghargaan Clio Awards yang pertama bagi Indonesia. Tjahjono aktif di IPGI sebagai Koordinator Bidang Publikasi. Rancangan posternya untuk pameran-pameran IPGI akan dikenang lama karena kekhasannya. Di balik sifatnya yang agak pendiam dan terkesan individualistis, tersembunyi pribadi yang altruistik, yang selalu ingin menolong bahkan sebelum diminta.

Priyanto Sunarto (1947–2014)
Perupa multi-talenta ini, akan selalu dikenang sebagai seorang guru yang berdedikasi tinggi. Totalitasnya dalam membimbing anak-anak didiknya di DKV ITB dan IKJ membuahkan puluhan hingga ratusan akademisi dan desainer grafis berkualitas. Pada 2014, Priyanto menerima Anugerah Kebudayaan Kategori Anugerah Seni dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Semangat kebersamaan yang berlangsung semasa persiapan pendirian IPGI dan seterusnya (1980– 1994), tidak terlepas dari figur seorang Priyanto. Pribadinya yang jenaka, lurus, cepat akrab, dan tak berjarak, selalu mengundang rasa nyaman untuk berada di dekatnya. Priyanto selalu menunjukkan keprihatinannya atas memudarnya semangat kebersamaan dewasa ini. Selalu terbersit kerinduan di hatinya, pada timbulnya kembali ikatan senasib sepenanggungan di antara sesama desainer grafis. Ia akan selalu dikenang sebagai pengikat batin, atau pemersatu poros Jakarta-Bandung-Yogyakarta.

Yongky Safanayong (1950–2015)
Legenda pendidikan desain grafis ini mendedikasikan seluruh perjalanan hidupnya bagi kepentingan pendidikan dan keilmuan desain grafis Indonesia. Totalitasnya itu membuahkannya penghargaan tertinggi, sebagai guru besar Desain Komunikasi Visual, pada 1 September 2007, dan menjadikannya sebagai guru besar pertama di bidang desain grafis. Yongky mulai bergabung dan kemudian terlibat dalam kegiatan-kegiatan IPGI pada pertengahan 1980-an. Kontribusi terbesarnya adalah saat IPGI menyelenggarakan pameran bersamanya yang ke-2 dengan Japan Graphic Designers Association (JAGDA) bertajuk Grafis’89. Keterlibatannya yang intens dalam mempersiapkan segala kebutuhan pameran menjadi faktor yang sangat menentukan kesuksesan pameran tersebut. Tubuhnya yang kurus kecil itu ternyata memendam semangat juang yang luar biasa besar. Yongky, dengan wawasannya yang luas, dan kemurahan hatinya dalam berbagi ilmu melalui tulisan-tulisan dan bukunya, akan selalu dikenang oleh generasi muda desain grafis Indonesia.

 

 Ki-ka (belakang): Hanny Kardinata, S. Prinka, Wagiono Sunarto, Karnadi Mardio, F.X. Harsono, dan di depannya: Suyadi ‘Pak Raden’, Priyanto Sunarto, dan Tjahjono Abdi beserta mahasiswa-mahasiswa DKVStudio Desain Grafis, Jurusan Desain, Departemen Seni Rupa, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan, Institut Teknologi Bandung di depan pintu masuk Wisma Seni Mitra Budaya, Jalan Tanjung 34, Jakarta, di mana pameran pertama IPGI, Grafis ‘80 diadakan, 24–30 September 1980 (Dok.: Risman Zihary).


Ki-ka (belakang): Hanny Kardinata, S. Prinka, Wagiono Sunarto, Karnadi Mardio, F.X. Harsono, dan di depannya: Suyadi ‘Pak Raden’, Priyanto Sunarto, dan Tjahjono Abdi beserta mahasiswa-mahasiswa DKVStudio Desain Grafis, Jurusan Desain, Departemen Seni Rupa, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan, Institut Teknologi Bandung di depan pintu masuk Wisma Seni Mitra Budaya, Jalan Tanjung 34, Jakarta, di mana pameran pertama IPGI, Grafis ‘80 diadakan, 24–30 September 1980 (Dok.: Risman Zihary).

Terima kasih para pejuang, atas totalitas tiada tara, dan nilai-nilai kehidupan yang telah diwariskan kepada kami semua. Kami bangga menerima tongkat estafet untuk melanjutkan perjuangan. Kami menyadari bahwa bahtera ’Desain Grafis Indonesia’ harus terus didayung bersama untuk bisa tetap berlayar mengarungi hempasan-hempasan global di masa depan. United we stand.

Selamat beristirahat dalam damai bersamaNya di rumah abadi.

 

Hanny Kardinata
Ditulis dalam rangka Sewindu DGI
Bintaro, 18 Maret 2015

* United we stand juga merupakan judul karya instalasi Nigel Sielegar untuk Type Directors Club, 2015

 

Quoted

The fate of a designer is not determined by the public system, but by the way he sees his own life

Surianto Rustan