Sikap Budaya – Identitas Desain Grafis Indonesia: Apa Kabarnya?

 

IGDA—Indonesian Graphic Design Award, penghargaan untuk desainer grafis pertama di Indonesia diselenggarakan pada tahun 2010. Perhelatan bersejarah ini mencatat ragam prestasi bagi pelaku bidang desain grafis, namun yang teristimewa dari IGDA adalah dibacakannya Sikap Budaya Desain Grafis Indonesia oleh Bapak AD Pirous (silakan baca di sini). Sikap budaya tersebut mengajak kita untuk mempertanyakan kembali perlu dan pentingnya identitas di dalam bidang ini. Setelah 6 tahun, kami menghadirkan buah pemikiran dari Eka Sofyan Rizal yang bercermin terhadap Sikap Budaya tersebut dan menyikapi relevansinya di era informasi, digitasi produksi serta diseminasi citra. — editor

Selepas memperhatikan karya-karya IGDA 2010, ada kata-kata lembut namun tegas dari pak AD Pirous yang kala itu menjadi salah satu jurinya: “apakah identitas desain grafis Indonesia itu perlu ada atau tidak?”  Jelas ini maksudnya pernyataan, bukan pertanyaan. Makin jelas lagi ketika tak lama setelah itu, meluncur deras rentetan kalimat-kalimat penjelasan berikutnya. Dari situlah kemudian naskah “Sikap Budaya: Identitas Desain Grafis Indonesia” dirumuskan.

Sikap Budaya itu berisi ajakan untuk kita para profesional desain grafis agar memperhatikan sejarah kegelisahan profesi yang mendambakan kegiatan yang penuh makna dan manfaat, terutama kegiatan yang beridentitas nyata Indonesia. Sikap Budaya juga memberi rekomendasi cara kita mewujudkan identitas desain grafis Indonesia. Sejalan dengan semangat Sikap Budaya itu, ada beberapa usikan pemahaman menyangkut istilah ‘identitas desain grafis Indonesia’ yang mungkin perlu dibahas lebih lanjut.

Malam-Anugerah-2

Pidato kebudayaan Bapak AD Pirous, sekaligus membaca Sikap Budaya Desain Grafis Indonesia

 

Identitas itu kesamaan yang membedakan

Identitas berasal dari kata latin idem yang artinya sama persis dengan dirinya sendiri. Kalau sesuatu memiliki nilai-nilai yang sama persis dengan dirinya sendiri, maka kemungkinan besar ia akan berbeda dengan diri yang lain. Jadi, jika ada orang yang tidak ingin jadi dirinya, tapi ingin jadi seperti orang lain, maka orang itu disebut tidak punya identitas. Jika ada ide yang dibuat seperti ide lain–biasanya karena terbukti ide lain itu sudah berhasil–maka artinya ide itu tidak memiliki identitas.

 

Identitas Desain di antara Seni dan Kriya

Pada saat menyebut desain, ada kegiatan yang hampir mirip dengannya, yaitu seni dan kriya. Mungkin untuk memahami identitasnya masing-masing, kita perlu membedakan –bukan memisahkan– antara desain, seni dan kriya.

Jika kita mengartikan seni sebagai kegiatan memaksimalkan imajinasi manusia, maka kebebasan nilai-nilai subyektif menjadi faktor utamanya. Ini berbeda dengan kegiatan desain yang lebih mengutamakan nilai-nilai obyektif agar obyeknya dapat berfungsi mengatasi permasalahan manusia dalam lingkungannya (budaya, sosial, ekonomi, politik). Dalam desain, peran imajinasi (terutama subyektivitas dari desainernya) juga sangat penting untuk menghadirkan kemungkinan ide-ide baru yang fungsional. Agar berfungsi, biasanya idenya harus menarik perhatian dan bersifat kebaruan. Untuk menarik perhatian, seringkali faktor keindahan yang berperan; maka dalam hal ini, keindahan bisa bersifat fungsional. Selanjutnya, untuk dapat memahami cara supaya publiknya tertarik, maka desainer harus memosisikan dirinya (subyeknya) sebagai publiknya.

Jika kita memahami kriya sebagai kegiatan memaksimalkan keterampilan penciptaan, sehingga hasil ciptaan dapat memesona, maka desain lebih ingin memaksimalkan keterampilan pengelolaan ide konsepnya, dan melihat kualitas hasil sebagai konsekuensi dari proses. Dalam desain, faktor kriya sangat berperan penting agar hasil ciptaan mendukung dan sesuai dengan konsepnya. Seringkali ide-ide pada saat penciptaan (design making) juga mempengaruhi penajaman ide konsep pemecahan masalahnya (design thinking). Tanpa kriya, manfaat ide desain tidak akan tercermin pada hasilnya.

Jika kita mengartikan desain sebagai kegiatan memecahkan masalah, dengan cara mengubah masalah menjadi solusi, maka penekanan desain adalah pada kemampuan desainernya dalam mengidentifikasi masalah yang akan memunculkan potensi ide-ide solusi. Ide akan berhasil apabila ada dukungan imajinasi yang maksimal. Makin imajinatif, biasanya idenya jadi tidak biasa, bahkan aneh atau non-familiar. Ide yang menyimpang (divergent) dari yang biasa, akan lebih mampu menarik perhatian dan memotivasi terjadinya perubahan nilai-nilai dibandingkan ide yang biasa. Nilai-nilai yang memotivasi perubahan inilah yang pada akhirnya mampu mengubah masalah menjadi solusi. Siklus berikutnya, solusi itu–seiring perubahan waktu, jaman dan dinamika publiknya– akan kembali berubah menjadi masalah. Jadi, masalah dan solusi adalah siklus berulang.

Desain oleh Albert Tedjasukmana, Illustrasi oleh Triyadi Guntur

Desain oleh Albert Tedjasukmana, Illustrasi oleh Triyadi Guntur

 

Identitas Desain Grafis yang Terbuka dan Mengembangkan Diri.

Kegiatan Desain Grafis (kini populernya Desain Komunikasi Visual) pada awalnya terkait dengan output barang cetakan, periklanan dan seni komersial. Saat ini, ranah desain grafis berkembang ke media video dan audio, serta digital. Dari dulu sampai sekarang, yang identik dengan desain grafis adalah hubungannya dengan makna komunikasi, yaitu terjadinya kesamaan pemahaman (jalinan rasa dan pikiran) antar pihak sumber dan penerima. Adanya penerimaan identitas masing-masing pihak, saling bujuk dan respon; adalah ciri-ciri pertukaran yang saling “menuliskan/menggambarkan” (grafis). Dengan media pertukarannya yang makin dinamis, makin lintas batas, desain grafis bisa mengambil wujud dalam bentuk produk sehari-hari, barang yang dipakai/pakaian, barang gaya hidup, program, layanan, bagian dari bangunan, lingkungan, bahkan dalam bentuk suatu kota atau negara. Dalam kondisi seperti itu, pemahaman identitas desain grafis yang terlalu spesifik akan mengerdilkan makna dan manfaat kegiatannya.

 

Pada Akhirnya: Identitas Desain Grafis Indonesia

Indonesia memiliki potensi identitas dari nilai-nilai yang telah dicetuskan oleh para tokoh pendiri bangsa ini berupa Pancasila yang isinya tentang nilai Berketuhanan, Berkemanusiaan, Bersatu, Berkerakyatan dan Berkeadilan Sosial, yang disemboyankan menjadi Bhinneka Tunggal Ika, dan jika harus dijadi satu nilai maka nilai Gotong Royong adalah esensinya. Setelah masa kemerdekaan hingga masa kini, penerjemahan nilai-nilai tersebut sering mendapat tantangan dari pergolakan kehidupan dalam negeri, dari nilai-nilai tradisi dan religi, maupun dari masuknya pengaruh globalisasi, beserta prinsip universalnya, modernitas, bahkan pengaruh gerakan anti identitas.

Tantangan-tantangan tersebut biasanya bertujuan untuk membuat kita menganut suatu sistem yang dianggap terbaik, sehingga jadi umum dianut, yang membuat kita seragam. Keseragaman sangat bertentangan dengan harkat manusia yang hidup, tumbuh, berkembang, berubah, berbeda. Ke-alamiah-an hidup akan membuat kita jadi beragam. Untuk sesuatu yang hidup, identitas seharusnya menjadi tujuan.

Sikap Budaya yang dicetuskan pada pagelaran IGDA 2010 melihat tantangan-tantangan itu sebagai hal yang perlu disikapi agar memotivasi kita untuk makin ingin mewujudkan identitas Indonesia. Nilai “Berbeda-beda tetapi tetap satu,” sebenarnya adalah filosofi yang melampaui globalisasi. Keseragaman yang terjadi sebagai ekses dari globalisasi, justru akan membuat kita rapuh, karena tidak ada pilihan jika satu ragam itu ternyata kurang berfungsi atau rusak sama sekali. Tidak ada cadangan dan alternatif. Globalisasi hanya akan bertahan ketika di dalamnya memberi ruang gerak untuk lokalitas.

Sikap Budaya merekomendasikan etos kerja kebersamaan gotong royong para pelaku desain grafis Indonesia yang kaya riset mengenai kekayaan nilai dan materi alam serta budaya Indonesia masa lalu dan kini; kaya akan eksplorasi, sehingga prosesnya bukan hanya menduplikasi kekayaan masa lalu tetapi justru terinspirasi darinya untuk menghasilkan kreasi baru. Jika kita mencoba memahami rentetan kata identitas, desain grafis dan Indonesia, serta menyikapi tantangan-tantangan nilai-nilainya masa kini, maka sebenarnya Sikap Budaya juga mengajak para pelaku desain grafis Indonesia untuk menghasilkan kreasi-kreasi yang bukan hanya untuk mengungkapkan identitas desain grafis Indonesia, tetapi untuk hal yang lebih luas lagi, yaitu mewujudkan identitas Indonesia.

Quoted

“Keberhasilan merancang logo banyak dikaitkan sebagai misteri, intuisi, bakat alami, “hoki” bahkan wangsit hingga fengshui. Tetapi saya pribadi percaya campur tangan Tuhan dalam pekerjaan tangan kita sebagai desainer adalah misteri yang layak menjadi renungan.”

Henricus Kusbiantoro