Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka

Namanya Markoes Djajadiningrat. Dia disebut-sebut sebagai desainer grafis yang punya kelas di Indonesia. Logo sejumlah perusahaan, tercipta dari tangannya: Telkom, Indosat, INKA, Sahid Group, dll. Meski logo-logo itu bisa dijumpai di mana-mana, di pinggir jalan, di layar televisi, di hotel, di gedung-gedung mewah, tapi si pencipta relatif tak dikenal.

Suatu April pagi yang cerah, saya bertandang ke rumahnya di sebelah barat Bandung. Vespa tua menjajal lubang-lubang di jalan menuju ke rumahnya. Markoes pribadi yang hangat. Dia menyambut kedatangan saya di ujung pintu rumahnya.

Rumahnya, asri dengan ornamen kayu dan ukiran. Ini juga sebuah galeri bernama Cipta Lima, yang uniknya, didirikan dan dijalankan bersama isteri dan ketiga putra mereka, yang uniknya lagi, sama-sama disainer grafis: Markoes, Dewi Tamarawati (istri) serta Musa Maulana Yusuf, Lutfi Sahid Nurhakim, Rafi Adrian Zulkarnain. Galeri ditata layaknya sebuah rumah, jauh dari kesan kantor.

Saya diterima di ruang kerja Markoes. Ada tempat tidur di ruang sebelah kiri. Meja kerja tertata rapi tanpa komputer. Di atas meja tergeletak buku tebal berjudul 30 Tahun Indonesia Merdeka, Istana Presiden Indonesia, Keris Jawa antara Mistik dan Nalar, Sejarah Pos dan Telekomunikasi di Indonesia, Menuju Bintang: Strategi Wijaya Karya Memperluas Pasar Tanpa Meninggalkan Bisnis Inti, dan lain-lain. Buku-buku itu menyedot perhatian mata. Ukurannya besar dan tebal. Semuanya, buku-buku karya Markoes dan Cipta Lima.

bk01-033

Sumber: Cipta Lima

Potret Bung Karno, membuka lembar menuju catatan 30 Tahun Indonesia Merdeka. Ada tiga jilid, masing-masing untuk periode 1945-1955, 1955-1965 dan 1965-1975. Sudharmono, menteri sekretaris negara era Orde Baru, adalah orang yang bertanggungjawab atas penerbitan buku tiga jilid ini. Dalam kata sambutannya ia mengatakan, penyusunan peristiwa-peristiwa dalam buku ini sengaja dibuat kronologis, agar pembaca bisa menilai hasil pembangunan yang selama ini telah dijalankan.

Buku 30 Tahun Indonesia Merdeka, dikerjakan selama setahun. Waktu yang relatif pendek untuk buku semacam itu. Dokumentasi naskah dan foto diambil dari Arsip Nasional RI, Ipphos, Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan perorangan. Mereka yang terlibat dalam penyusunan teks antara lain Ginandjar Kartasasmita, Nugroho Notosusanto, Bambang Kesowo dan sebagainya.

Markoes punya cerita menarik. Saat diminta terlibat dalam pembuatan buku itu, ia baru saja menyelesaikan tugas akhir di Institut Teknologi Bandung, jurusan desain grafis pada 1974. Tugas akhirnya poster-poster besar aneka warna promosi pariwisata Indonesia 1974. Para dosen antusias melihatnya. Usai sidang karya-karya Markoes dikoleksi oleh beberapa rekan dan dosennya.

Sukses Markoes, rupanya hinggap ke telinga orang-orang Istana Merdeka. Seorang pemuda berusia 28 tahun dengan hasil karya memukau. Krisnamurti Samil, kepala biro umum Sekretariat Negara, minta Markoes terlibat dalam pembuatan desain buku itu. Koordinatornya Ginandjar Kartasasmita.

Markoes muda sangat senang menerima tawaran langsung dari Sekretariat Negara. Apalagi, saat itu disiplin ilmu tersebut belum populer di Indonesia. Masyarakat belum mengerti sepenuhnya apa pekerjaan seorang desainer grafis, walau mereka bisa melihat produk-produk desain grafis di mana saja di sekeliling mereka. Orang juga tidak peduli atau tidak merasa perlu tahu siapa sosok di balik penciptaan berbagai barang yang mereka lihat atau pegang, apalagi menghargainya sebagai karya seni

Markoes, kerja keras. Sebab, tak mudah mengerjakan proyek buku ini dengan sistem manual. Perlu ketelitian, kesabaran dan perhitungan. Ia membuat sistem dalam ingatan saja. Jangan membayangkan sistem komputerisasi, yang serba canggih. Hanya tinggal klik atau memindahkan kursor. Tak perlu memotong kertas-kertas halaman demi halaman untuk melihat contoh hasil lay out.

Saat itu, Bandung belum mengenal komputer. Hal pertama yang dilakukan Markoes adalah membuat design dummy/draft layout dari buku yang akan dibuat. Kemudian, diajukan kepada koordinatornya.

Dalam waktu bersamaan, desain buku Istana Presiden Indonesia juga dalam proses pengerjaan, yang book dummy-nya dibuat di Hongkong dan Singapura, ketika ia melawat untuk mempelajari sistem kerja desainer grafis di kedua negara itu.

“Dari mulai menyeleksi foto-foto, hingga mempertahankan kualitas foto agar tidak pucat, semuanya manual,” ujar Markoes.

Markoes membuat garis dan angka-angka untuk halaman, langsung di atas kertas. Lembar demi lembar ia selesaikan, hitung saja berapa lama ia harus merampungkan secara manual sekitar 1000 halaman buku sejarah itu.

Ia mulai bekerja sejak fajar memulas ufuk timur hingga berganti tanggal. Demikian setiap harinya.

“Tapi saat itu gak ada masalah, kok!” timpalnya.

Kenapa fotonya hitam putih? Ini pertanyaan tak penting, tapi pada saat itu dunia fotografi sudah mengenal warna.

“Iya, aneh juga, padahal waktu itu sudah ada foto berwarna. Mungkin kalau tidak hitam putih tidak identik dengan sejarah,” kata Markoes menerka-nerka, sambil tersenyum mengganggukkan kepala.

“Seorang desainer harus memahami konteks buku yang sedang digarapnya, agar timbul emosi/karakter dalam karyanya,” kata Markoes. Ia bahkan sampai hafal foto-foto dan teks materi buku itu. Tapi ia baru sadar bahwa foto-foto yang dimuat tidak mencantumkan nama fotografer atau agency asal foto itu. Kesadaran itu pun menyembul ketika saya mempertanyakannya.

“Saya lupa,” kelakarnya. Tapi ternyata semua nama fotografer atau agency asal foto ada/dicantumkan pada halaman index foto.

Markoes tidak terpengaruh dengan suasana politik saat itu. Surat perintah Sebelas Maret, Gerakan 30 September, pembersihan Partai Komunis Indonesia, isu kudeta merambat dari Soeharto kepada Presiden Soekarno, semua di luar pikirannya.

“Boro-boro mengingat luka lama, saat itu yang timbul adalah semangat membangun,” ujar Markoes.

“Saya mengalami suasana yang menekan. Orde Lama bubar dan Soeharto naik, atmosfer masyarakatnya berganti dengan semangat membangun” lanjut Markoes.

“Tidak akan ada buku sejarah yang memuaskan semua pihak, apalagi golongan. Tak usah mengungkit masa lalu, tapi kalau mau diluruskan silahkan saja. Yang paling penting sebetulnya kesadaran untuk terus maju,” ungkap Markoes. Nada bicaranya turun beberapa oktaf.

“Kita harus melihat hasil akhirnya. Kalau bagus, kenapa mengungkit masa lalu?” ujar Markoes.

Karir Markoes terus gemilang. Dia dinilai berhasil membuat desain buku 30 Tahun Indonesia Merdeka. Dia pun diminta membuat promosi Indonesia ke mancanegara dalam bentuk visualisasi dua dimensi. Intinya, pemerintah Indonesia mengundang para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Itu adalah pertama kalinya Indonesia mempromosikan diri sebagai negara yang siap bergulat dengan modal asing.

Hasil kerjanya dinilai baik. Markoes kemudian mendapat order untuk mendisain piala penghargaan lingkungan hidup Kalpataru dan kebersihan kota Adipura.

Dari awal sampai sekarang, Markoes memilih jalur freelance. Pilihan itu justru mengantarnya pada tingkat kepuasan dan memiliki kelas dengan sendirinya.

Musa Maulana Yusuf, si anak sulung, mengagumi Markoes. Sebagai disainer grafis, Musa menganggap ayahnya itu sebagai contoh terbaiknya. Di alamat blog Musa, Markoes disejajarkan dengan maestro-maestro desainer grafis yang menginspirasinya.

Markoes berkomentar, ”Saya ingin anak-anak muncul sendiri, tidak dibayang-bayangi oleh saya.”

Sumber: Buku profil perusahaan (company profile) Percetakan “Jayakarta Agung Offset”, 2007, halaman 18-21.

Quoted

The fate of a designer is not determined by the public system, but by the way he sees his own life

Surianto Rustan