Edugrafis untuk Indonesia Cerdas

1506908_607657089327579_164281092_n

Sebagai salah satu bentuk pendidikan formal yang paling berpengaruh, seringkali sekolah menjadi momok tersendiri bagi para siswanya. Banyak faktor yang menjadi latar belakang. Sistem pembelajaran salah satunya. Pemahaman mengenai ‘belajar’ yang tersempitkan menjadi kegiatan untuk menghapal telah menjadikan kegiatan belajar—apalagi di sekolah—sebagai sebuah aktivitas yang tak menarik. Bisa jadi, ini pula yang turut mempengaruhi rendahnya tingkat pendidikan Indonesia dibandingkan dunia.

Memiliki kekhawatiran yang sama dalam memandang permasalahan pendidikan yang demikian telah mendorong empat orang yang berkecimpung dalam dunia komunikasi visual untuk menginisiasi sebuah medium belajar alternatif. Dengan mengusung kolaborasi antara profesi pendidik dengan pekerja kreatif, Inda Ariesta, Nathania Tifara Sjarief, Hario Sasongko, dan Deddy Syamsudin—dengan diskusi bersama Anam Fathony—mendirikan Visual Cerdas Indonesia. Melalui gerakan ini, beragam materi pelajaran tersaji dalam olahan visual yang disebut sebagai edugrafis oleh semua kalangan.

 

001

02

 

Adalah perbedaan tiap siswa dalam menangkap pembelajaran yang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pembelajaran di ruang kelas. Sebagai media yang paling efektif ditangkap otak, materi visual seharusnya hadir untuk mengoptimalisasi kegiatan belajar mengajar. Pada kesempatan uji coba, Visual Cerdas Indonesia memisah anak berdasarkan perbedaan kecepatan pemahamannya. Hasilnya, dengan menunjukkan materi belajar lewat visual, siswa mampu memahami dan mengulang materi sama baiknya dan bahkan lebih baik dari anak yang belajar hanya dengan membaca.

Nathania Tifara Sjarief sendiri menggunakan visual sebagai satu-satunya alat komunikasi sejak mengalami meningitis pada usia 2 tahun yang membuatnya kehilangan pendengaran.

“Melalui visual saya mengerti dan bisa mengikuti pelajaran sekolah,” ujarnya, “Kata demi kata, rangkaian kalimat, hingga cerita saya pahami melalui media visual yang selalu dibuat oleh ibu saya, Karen Tambayong. Keberhasilan ini membuat saya berpikir bahwa visual sangat bermanfaat untuk pendidikan anak-anak, karena anak-anak adalah calon penerus bangsa yang merupakan bibit awal bagi generasi baru yang lebih baik. Hal ini mendorong saya mendesain media visual edukasi untuk kebutuhan kegiatan belajar mengajar bagi guru dan siswa, juga orang tua dan anak.”

 

Al-Chasanah

 

Meski demikian, akses terhadap materi visual yang efektif untuk digunakan masih terbatas oleh karena faktor lokasi dan biaya. Karenanya, Visual Cerdas Indonesia yang didirikan pada September 2013 ini memilih visualisasi pengetahuan melalui kolaborasi yang dapat dikerjakan bersama dua profesi, yaitu guru/pendidik dan desainer komunikasi visual.

Melalui situs visualcerdasindonesia.com, edugrafis pun dapat diakses dan digunakan oleh siswa, guru, sekolah, bahkan orangtua dalam kegiatan belajar mengajar dari berbagai kalangan tanpa kewajiban untuk bertemu, waktu yang mengikat, maupun biaya distribusi. Saat ini, Visual Cerdas Indonesia dijalankan oleh Inda Ariesta dan Nathania Tifara Sjarief bersama dua orang desainer, Lucky Rizky dan Kiki Anindra, Reagan bersama tim sebagai pengelola situs.

 

Screen shot 2015-04-13 at 2.24.49 PM

Screen shot 2015-04-13 at 2.24.06 PM

 

“Pada satu titik saya gelisah,” tutur Inda Ariesta, “Karya-karya desain komunikasi visual baik pada masa akademis maupun sesudahnya selalu memilih target audiens yang memiliki latar ekonomi menengah ke atas. Apakah profesi saya hanya melayani, bekerja, dan bermanfaaat untuk kepentingan golongan tertentu atau mengejar kaidah keindahan visual untuk proyek tertentu saja?

Mengapa profesi saya tidak terlihat menjawab masalah yang jauh lebih besar dalam arti lintas kemampuan ekonomi dan lintas zona? Ketika saya menemukan masalah visual yang tidak termanfaatkan secara maksimal dalam dunia pendidikan, saya melihat bahwa ternyata peran desainer komunikasi visual tidak ada atau bahkan kurang di pendidikan. Di titik inilah saya menyatakan bahwa sebenarnya profesi desainer komunikasi visual dapat memberi manfaat yang sangat besar dalam skala yang sangat luas, bukan hanya pada golongan tertentu saja.

Melalui hal ini teryata saya juga bisa mengedukasi masyarakat akan profesi desainer komunikasi visual. Ketika profesi sudah bisa memberi manfaat melintasi batas ekonomi maka masyarakat akan memahami apa peran profesi kita.”

 

Visual Cerdas Indonesia bersiaran langsung di RRI Pro 3, 5 April 2015

Visual Cerdas Indonesia bersiaran langsung di RRI Pro 3, 5 April 2015

 

Saat ini, Visual Cerdas Indonesia berperan sebagai mediator. Di dalamnya, para pelaku di dunia pendidikan sekolah dengan desainer komunikasi visual dipertemukan. Visual Cerdas Indonesia juga memiliki program agar kedua profesi ini bisa dan ingin berkolaborasi untuk pendidikan.

Oleh karena sistem kerjanya yang bersifat terbuka, para guru/pendidik dapat mengunggah rangkuman pelajaran di situs. Rangkuman ini hanya dapat dilihat dan diunduh oleh desainer di dalamnya. Visual Cerdas Indonesia sendiri awalnya difokuskan pada pelajaran Sekolah Dasar (SD) pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Desainer yang terdaftar dapat memilih rangkuman mana yang ingin dikembangkan menjadi edugrafis. Hasil cipta edugrafis kemudian diunggah ke situs.

 

Screen shot 2015-04-13 at 2.27.45 PM

 

Edugrafis yang masuk akan melalui persetujuan admin untuk diterbitkan hingga kemudian dapat diunduh sebagai materi pembelajaran. Rutinnya, dari internal Visual Cerdas Indonesia mempublikasi minimal 1 edugrafis setap dua hari sekali. Hingga 9 April 2015, telah ada 107 edugrafis yang dapat diakses. Para guru pun dapat mengunduh, mencetak, kemudian memfotokopi edugrafis dalam kegiatan belajar mengajar.

 

Bagan Sistem Kolaborasi Visual Cerdas Indonesia

Bagan Sistem Kolaborasi Visual Cerdas Indonesia

 

Dengan memanfaatkan metode visual sebagai media belajar mengajar, Visual Cerdas Indonesia berharap agar edugrafis yang ada dapat turut serta dalam menumbuhkan anak-anak Indonesia yang cerdas dan paham pengetahuan. Sebagai cikal bakal bangsa yang berkelanjutan, melalui Visual Cerdas Indonesia ini, masyarakat diajak untuk turut terlibat dan peduli pada pendidikan di Indonesia.

Edugrafis dari Visual Cerdas Indonesia diaplikasikan di berbagai sekolah, seperti: SD Islam Teladan Al Chasanah, SD Internasional Lazcor, SD Swasta Charitas, SDIT Darul Athfal, serta Sanggar di Masjid, Citayam. Selain itu, Visual Cerdas Indonesia juga mengadakan kegiatan sosialisasi kolaborasi bertajuk “Temu Pahlawan Pendidikan” di SD Internasional Lazcor Jakarta Barat, Sekolah Alam Cikeas, serta BINUS University, maupun “Desainer Kembali Ke Sekolah” yang mengajak desainer untuk kembali ke sekolah dasar untuk membagikan ilmu DKV kepada guru terkait media ajar di sekolah agar pengetahuan/pelajaran yang disampaikan lebih mudah terserap.

Tertarik mengolah materi pembelajaran menjadi grafis yang bermanfaat di sekolah?

***

 


Foto dokumentasi oleh Visual Cerdas Indonesia
Visual Cerdas Indonesia | Facebook | Twitter

 

 

Quoted

Make your interactions with people transformational, not just transactional.

Eve Vogelein