Tugas Akhir dan Yang Personal

“Berakhir sudah senang-senang di kampus”
(Ega Pramudita Fansuri, 2015)

 

… Amplop-amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur hal-hal yang tak teratur menjadi teratur, hal-hal yang teratur menjadi tak teratur, memutuskan putusan yang tak putus, membatalkan putusan yang sudah putus / Amplop-amplop menguasai penguasa dan mengendalikan orang-orang biasa.
—Gus Mus, Di Negeri Amplop, dalam tayangan “Penyair Tiga Kota” di kanal Youtube

 

TULISAN INI bertujuan untuk mengapresiasi tugas akhir di lembaga tempat saya sehari-hari macul, yakni Program Studi Disain Komunikasi Visual (DKV) ISI Yogyakarta. Sehari-hari bagi saya pun berbatas waktu, yaitu manakala berjumpa dengan mahasiswa—sebuah batas waktu masa studi. Dalam batas waktu tersebut saya menyimak satu-dua tugas akhir mahasiswa yang topiknya merupakan pilihan masing-masing mahasiswa. Dengan demikian, tugas akhir memberikan lembar-lembar gambaran mengenai pribadi mahasiswa bersangkutan. Batas waktu di situ juga dengan menyadari tantangan pendidikan saat ini, “terutama pendidikan tinggi yang semakin bersifat massal dan ekspansif. Jumlah anak didik yang terlalu banyak dalam satu kelas tidak memungkinkan kelangsungan proses yang personal. Pengajar cenderung bersifat birokratis, intruktif, dan informatif. Tidak cukup kesempatan untuk analisis dan pengolahan.” (Sudiarja, 2014: 131)

Membaca bendel tugas akhir mahasiswa selain menimba pengetahuan dari mereka, juga sekaligus mengenal lebih jauh pemikiran, kegelisahan, dan mungkin pula gambaran pilihan hidup mereka setelah lulus dari kampus meski mereka sendirilah yang tahu dan memutuskan pilihan nantinya. Dalam pernyataan Sudiarja di atas, saya memahami tugas akhir mahasiswa sebagai yang personal; dan yang personal ini memperluas horison praksis pendidikan (garis miring oleh saya).

 

Simbol Budaya Korupsi

Tugas Akhir Lejar Daniarta Hukubun, kerap dipanggil Lejar—ialah perancangan ilustrasi novel Republik Rimba. Novel ini ditulis oleh Ryan Sugiarto dan pernah diterbitkan oleh Indie Book Corner (cetakan pertama Maret 2011, cetakan kedua Februari 2012). Novel tersebut merupakan pemenang sayembara buku indie tahun 2011 dengan Pengantar oleh Binhad Nurrohmat dan berkisah tentang realitas politik yang disampaikan lewat fabel satir—yang mengingatkan pada Animal Farm karya George Orwell.

Singkat kata, dalam novel Republik Rimba dikisahkan realitas politik yang juga dekat dengan pengalaman di Indonesia seperti pemilu, korupsi pejabat negara, hingga peran pers (telik sandi) dalam sengkarut perpolitikan tersebut.

“Untuk membentuk suatu pola, peristiwa terjadi berulang-ulang dan terus menerus dalam waktu yang lama.”
(Indriati, 2014: 9)

“Degradasi moral dimulai dari sejumlah korupsi kecil.” (Indriati, 2014: 89)

Yang berbeda dari buku Republik Rimba terbitan Indie Book Corner dengan redesain buku Republik Rimba gubahan Lejar adalah hadirnya ilustrasi sebagai simbol realitas politik tersebut. Simbol ini kian dekat, kuat bukan saja pada cara menggambar (warna yang cerah, kontras, obyek yang tegas), namun juga teknik yang dipilih, yaitu batik.

Simbol politik, seperti korupsi misalkan, kerap direpresentasikan dengan tikus. Namun, ia akan berbeda manakala digambar lewat teknik batik. Dalam pandangan saya di sini, batik tidak sebatas menunjuk pada teknik, namun merupakan simbol atau bahkan salah satu, katakanlah, identitas budaya Indonesia. Dari sini dapat disampaikan bahwa melalui tugas akhirnya, Lejar menyumbangkan kritik atas realitas politik (korupsi) sebagai kritik budaya, sebagai satu cara membangun budaya anti-korupsi yang harus terus dipupuk.

 

 Sumber: Bendel tugas akhir Lejar Daniartana Hukubun, DKV ISI Yogyakarta, 2015.


Sumber: Bendel tugas akhir Lejar Daniartana Hukubun, DKV ISI Yogyakarta, 2015.

 

Dalam abstrak tugas akhir tersebut disampaikan secara ringkas tentang novel Republik Rimba:

“Republik Rimba adalah novel yang menceritakan tentang kisah politik yang ada di Indonesia. Namun, latar, setting, dan tempat dibuat menyerupai rimba atau hutan. Begitu pula dengan tokoh-tokoh yang ada di sana. Cerita ini memuat hal-hal yang buruk yang dilakukan oleh para pejabat rimba yang dipimpin oleh Singa Raja dan para pembantunya seperti Anfox, Kadal, Tikus, dan Beruang. Dengan cara melakukan korupsi, pencurian, membohongi rakyat, tidak bertanggung jawab menjalankan tugas dan lain-lainnya.”

Di bagian akhir abstrak tersebut dituliskan:

“Ilustrasi yang diciptakan memuat tentang politik, imajinasi moral, makna, dan gaya motif batik yang terus dikembangkan. Perancangan ini bertujuan untuk memberikan pendidikan anti korupsi, pendidikan politik, dan menumbuhkan minat baca.”
(halaman x)

Dalam lanskap global, korupsi juga bisa dilihat dari perannya kini di sini. Globalisasi bukan hanya soal penyebarluasan informasi, namun juga merupakan penyebarluasan kemiskinan (dan kekayaan hanya pada segelintir kelompok). Jika ada pemilihan umum tanpa partai dalam hal buku apa yang dapat atau perlu disertakan di Frankfurt Book Fair tahun ini—ketika Indonesia menempati panggung utama—kiranya karya Tugas Akhir Lejar dapat disertakan di situ. Globalisasi, kemiskinan, dan korupsi merupakan persoalan bersama masyarakat di dunia, dan Lejar mencoba memberi warna dalam mencipta (ulang) simbol/wajah dalam mengkritik persoalan tersebut. Bukan sebatas cita rasa yang lokal, namun pada soal bagaimana simbol budaya diperankan; dari (inter)lokal, nasional, hingga global.

“Namun, dalam jangka panjang, kebohongan dan penipuan itu sendiri akan terbongkar, sebab kebohongan tidak bisa konsisten dengan keseluruhan yang utuh dari kenyataan.”
(Sudiarja, 2014: 48)

Demikian pula dengan membatik yang dimulai dari setitik demi setitik, korupsi pun dimulai dari sejumlah yang kecil, dan karena berulang dalam waktu yang lama ia membentuk pola tertentu: batik koruptor. Kita harus malu mengingat Indonesia tergolong di deretan atas sebagai negara korup, namun rasa malu tersebut pun perlu dilihat secara luas bahwa kemiskinan—sebagai salah satu akibat adanya korupsi—merupakan persoalan yang juga diakibatkan oleh globalisasi. Dengan demikian, usaha-usaha lokal yang menyertakan simbol budaya perlu diajukan sebagai bentuk perlawanan korupsi bersama, gerakan global, bukan sentimen Barat-Timur, utara-selatan, maju-berkembang, dan segala praktik dikotomi lainnya. Singkat kata, seperti yang telah dituliskan di bagian abstrak tersebut, bahwa apa yang dilakukan Ryan Sugiarto, dan pula Lejar, pendidikan anti-korupsi harus terus dikerjakan dan diaktualisasi seturut warna jaman, bukannya justru diogahi atau disudahi.

 

Nelayan yang Bertanam

Tugas akhir Rony Setiyawan berupa perancangan kemasan produk perangkat tanam yang dirancang dengan pendekatan reduce, reuse, dan recycle (3R), dan meminang Komunitas ketjilbergerak sebagai rekan ber-urban farming. Salah satu kekuatan dalam tugas akhir Rony adalah perjumpaan beberapa bidang keilmuan: desain komunikasi visual, desain produk, bertanam, dan komunitas/gerakan sosial. Rony, sejauh yang saya kenal, memiliki keluwesan dalam mendesain. Ibarat buah atau sayur mayur, desain rancangannya pun mencapai kematangan.

 

Sumber: Bendel tugas akhir Rony Setiyawan, DKV ISI Yogyakarta, 2015.

Sumber: Bendel tugas akhir Rony Setiyawan, DKV ISI Yogyakarta, 2015.

 

Hal lain yang patut disimak dalam perancangan tugas akhir ini adalah tabel korelasi perkembangan material kemasan dengan peradaban manusia yang disusun oleh Rony seturut kajiannya terhadap pustaka tentang desain kemasan yang ia baca. Tabel dibagi dalam empat kolom, yaitu Material, Masa, Interval, dan Konteks. Pada bagian baris diajukan tujuh jenis kemasan yaitu: kulit hewan, labu, dsb; tanah liat, kayu, dsb; kertas; kaca, kaleng; plastik; kemasan daur ulang; dan terakhir biogradable.

Tabel tersebut disusun guna menempatkan kerja perancangan yang dikerjakan Rony, yaitu kemasan daur ulang (3R). Maka itu, konteks menjadi penting. Sebagai contoh, material plastik hadir di masa industri (interval waktu 1850 M) dalam konteks berkuasanya kapital yang disambut budaya konsumtivisme. Berikutnya, material kemasan daur ulang hadir di masa informasi (interval waktu 1990 M) dalam konteks pelestarian lingkungan dengan memanfaatkan limbah era industri (baca: era sebelumnya). Berikutnya, material biogradable berada di masa informasi (interval tahun 2000 M) dengan konteks penekanan pertumbuhan limbah era industri dan kerusakan bumi. Dari beberapa uraian tabel tersebut dapat dikatakan bahwa desain bersifat paradoksal: di satu sisi menjadi bagian dari persoalan industri, namun di lain sisi ia bisa memberi kontribusi dalam mengatasi persoalan tersebut. Singkat kata, menjadi desainer terkait dengan melihat kemungkinan, yang dalam bahasa Rony (di bagian Penutup/Saran) dituliskan bahwa, “ […] Menerapkan nilai-nilai lingkungan pada karyanya dapat menjadikan ritualnya untuk ikut serta menjaga buminya meskipun tidak secara langsung. Paling tidak, sikap tersebut telah menunjukkan bahwa desainer tak hanya sebagai pemecah masalah desain yang hebat, tetapi juga bermartabat.” (halaman 190)

Apa yang telah dikerjakan oleh Lejar, pula Rony, keduanya menyampaikan pesan bahwa desainer dinanti peran-perannya, terutama peran-peran yang tidak sebatas berada di wilayah kekaryaan, pengetahuan, gelimang penghargaan, namun juga martabat selaku desainer, selaku—meminjam istilah Rony—nelayan yang “di tangan dan matanyalah terpampang jelas akan diarahkan ke mana perahu dan jaringnya”, karena “Laut bisa saja memberikan hasil tangkapan yang hebat, tetapi bisa juga badai yang begitu lebat.” (halaman 190)

Baik Lejar maupun Rony, keduanya senantiasa menjaga dan menitipkan pesan pada saya untuk selalu optimis pada keilmuan desain. Optimisme inilah yang menyebabkan saya membuka lembar demi lembar bendel tugas akhir mahasiswa: bahwa ada sesuatu yang berharga di situ, dan itu memperkuat martabat selaku desainer. Jika martabat lenyap, apa lagi yang dapat dibanggakan? Budaya jalan pintaskah? Budaya korupsikah? Budaya esuk dele sore tempe-kah?

 

Seni Agawe Krasan (Seni yang Membuat Nyaman)

Tugas akhir Benediktus Dimas Budiarto, kerap disapa Dimas, berjudul “Perancangan Buku Cerita Bergambar tentang Kehidupan Lima Musisi Jalanan di Kota Yogyakarta”. Salah satu pandangan Dimas yang penting dalam perancangan ini yaitu bagaimana Dimas melihat jalanan. Jalanan kerap dimaknai sebagai tempat pelarian, ruang hidup yang keras, dan sebagainya. Dimas, melalui beberapa musisi jalanan, melihat bahwa jalanan merupakan ruang di mana alat musik tradisional terlestarikan, yaitu melalui lima musisi jalanan yang bermusik menggunakan alat musik tradisional (siter, angklung, rebana, dsb) Jadi, di sini persoalan “melestarikan” itulah yang penting, dan tak kalah pentingnya adalah si pelestari, yaitu para musisi jalanan tersebut. Para musisi itu pun tidak selamanya berada di jalanan, mereka juga hadir di ruang lain: panggung. Namun, tidak dipungkiri bahwa jalanan menyimpan kehidupan yang sulit dan keras, dan itu juga dilalui oleh para musisi jalanan tersebut.

Lima musisi jalanan yang dihadirkan oleh Dimas adalah Waluyo, Suharsono, Mahdi, Madiono, dan Suharno. Dimas memberi nama bagus untuk buku yang berkisah tentang lima musisi jalanan tersebut, yaitu Jalanan Memberikan Jalan dengan subjudul Urip Sejatine Gawe Urup (hidup seharusnya memberi kehidupan yang baik bagi sekitarnya).

Hal lain yang memikat saya manakala menatap karya Dimas adalah pilihan tone warna yang cerah, yang saya tafsirkan sebagai gambaran gawe urup tadi. Tafsiran lain terkait jalan-jalanan-tradisional, yaitu tidak hadirnya—secara verbal—yang tradisional dalam judul buku Dimas tersebut. Kehadiran yang tradisional hadir melalui instrumen musik dan di beberapa bagian pakaian para musisi jalanan tersebut. Singkatnya, sisi tradisional dalam karya Dimas ini tidak begitu nyinyir dihadirkan, namun bisa jadi secara elegan diimajinasikan senafas semangat kontur zaman. Saya memaknainya sebagai jalan(an) yang lebih memberi jalan hidup bagi tradisional, namun keduanya sama-sama saling menyalahkan agar jalanan maupun yang tadisional tidak (me)redup—senantiasa urup. Yang tradisional ini juga muncul lewat pernyataan tertulis, misalkan:

“Kegemaran yang melahirkan / Menjadikan Kesenian selayaknya sebuah bagian / Mengasahnya di jalanan / Tiga Puluh tahun lamanya / Mempertahankannya / Hingga berjuta-juta pasang mata dan telinga telah menjadi saksi / Kesenian tradisional belumlah mati”. (halaman 76) Pernyataan tersebut menjadi pembuka halaman Suharno, seorang musisi jalanan yang oleh orang-orang suaranya dipandang menyerupai Manthous, seorang musisi campursari.

 

Sumber: Bendel tugas akhir Benediktus Dimas Budiarto, DKV ISI Yogyakarta, 2015.

Sumber: Bendel tugas akhir Benediktus Dimas Budiarto, DKV ISI Yogyakarta, 2015.

 

Dalam bendel tugas akhir Dimas dituliskan olehnya bahwa “…para musisi jalanan bisa dikatakan memiliki kualitas hidup yang luar biasa. Dengan berkesenian mereka dapat membuat orang merasa nyaman dengan mendengarkan musik atau melihat gerakan tarian mereka.” (halaman 48) Tulisan tersebut juga hasil pembacaan Dimas tentang musik: “…bahwa musik memiliki kemampuan membuat orang merasa nyaman” (Merriam, 1964: 5) Frasa “membuat orang merasa nyaman” inilah yang saya rasa kian hari kian defisit: ruang publik yang bingar, kian hingar, yang selintasan, dan waktu rasa-merasa yang rasa-rasanya kian dipersingkat oleh entah hasrat kecepatan apa.

Lewat tugas akhir tersebut kita diajak melihat lebih luas bagaimana jalanan ditafsirkan, yaitu pada soal tradisi, namun tradisi yang tidak hingar bingar, tetapi tradisi yang membuat kita nyaman. Saya sependapat dengan Dimas bahwa jalanan memberikan jalan jika dan hanya jika jalan(an) kita huni dan maknai sebagai ruang nyaman bersama.

 

Selepas (Ber-)Toga

Proses mengerjakan tugas akhir, bagi saya, tidak lebih sulit dari membayangkan langkah setelah tugas akhir tersebut dinyatakan lulus. Lejar, yang merancang imajinasi moral perpolitikan dan korupsi, akan terus ditantang dalam berhadapan dengan realitas korup tersebut. Demikian pula dengan Rony, akan terus ditantang perannya dalam membangun masyarakat yang bertanam, yang memandang pentingnya lahan hijau dalam ruang huni bersama. Juga Dimas, akan terus dibayangi sosok para musisi jalanan dan kehidupan mereka. Tugas akhir memang harus dituntaskan, namun tidak dengan jalan hidup setelahnya. Bukan pada soal mendapat ganjaran nilai, namun pada soal prinsip sebagai sosok yang berpengetahuan dan hidup bersama keindahan, Saraswati, atau dalam bahasa Rony, “Desainer yang bermartabat”. Menjadi desainer yang bermartabat tak lain sebentuk undangan bagi kita, terutama di jaman yang dijejali praktik permisif lan wanine keroyokan.

Benar kata Elga Pramudita—mahasiswa DKV, vokalis band Tigerfish—bahwa tugas akhir merupakan “akhir senang-senang di kampus”. Namun, saya juga terharu menyimaknya, bahwa bagi saya kampus tidak berakhir selepas mahasiswa melulus diri dari sana. Kampus, sebagai bagian dari cara membangun bangsa, senantiasa memulai diri agar urup dan krasan bagi mahasiswa, karyawan, pengajar, alumni, dan terutama masyarakat.

“Pendidikan tinggi itu tidak hanya terbatas pada penyampaian informasi-informasi yang ilmiah kepada mahasiswa, tetapi lebih lanjut memuat tugas pengolahan dan pengembangan ilmu itu dalam kehidupan sosial.” (Sudiarja, 2014: 49)

Selamat ulang tahun yang ketujuhpuluh untuk Indonesia. Satu hal yang saya ingat manakala mengeja kata “Indonesia” dalam ruang desain grafis yaitu pada keragaman visual, keragaman wajah, bukan keseragaman atau penyeragaman. Tulisan ini tak lain usaha dalam menyampaikan keragaman tersebut hadir lewat berbagai pilihan dari yang personal: tugas akhir mahasiswa sebagai bagian dari cara mereka mengeja diri selaku desainer yang tidak sebatas hebat, namun juga bermartabat.

 

Koskow, Agustusan 2015.

 


 

Catatan:
•Dalam sebuah kesempatan saya berjumpa dengan seorang pembatik di Yogyakarta. Saat pembatik tersebut melihat batik rancangan Lejar, beliau mengatakan bahwa motif batik karya Lejar unik. Bagi saya, penyebutan “motif” dan bukannya “ilustrasi” menyampaikan bahwa ilustrasi batik rancangan Lejar tersebut memiliki ciri (ke)batik(an), meski yang ia rancang sebenarnya ilustrasi yang menerapkan teknik batik sekaligus motif batik. Motif batik ini muncul di beberapa bagian dalam ilustrasi batik rancangan Lejar tersebut, misalkan motif tertentu untuk corak pakaian sosok yang diilustrasikan. Pemilihan motif juga didasarkan pada pesan simbol dalam motif batik bersangkutan. Meski demikian, secara keseluruhan yang dirancang Lejar yaitu ilustrasi novel. Ini setidaknya dapat menjadi salah satu modal bagaimana mencipta warna desain grafis Indonesia. Berhasil atau tidak, dialog argumentatif perlu diajukan.

•Demikian pula dengan tugas akhir Rony Setiyawan yang memiliki perlintasan/ perpotongan dengan keilmuan lain di luar desain komunikasi visual, yaitu desain produk, bertanam, maupun gerakan sosial. Kehadiran desain komunikasi visual tetap nampak yaitu pada kesatuan media (unity) sebagai sebuah konsep komunikasi yang terpadu. Tugas akhir ini berupa perancangan desain, namun kehadiran tabel korelasi perkembangan material kemasan dengan peradaban manusia memberi penekanan bahwa perancangan pun juga meliputi kerja analisis/ kajian untuk kebutuhan menjawab sebuah persoalan (menjadikannya sebagai sebuah pengetahuan dalam metode perancangan desain), dan ini merupakan wawasan atau lingkup kerja Rony tersebut: kajian-perancangan-pengetahuan.

•Pada tugas akhir Dimas, kekuatan desain komunikasi visual hadir pada soal imajinasi yang tradisional dengan jalanan, yang mana keduanya memancarkan aura urup bagi kehidupan, selain apresiasi perlu diajukan untuk empati pada mereka yang merawat tradisi dan terutama yang berada-hidup di jalanan.

•Untuk kebutuhan tulisan ini gambar-gambar di atas saya tata ulang dengan pertimbangan ruang baca (internet). Tulisan ini pernah terbit di akun Facebook saya. Untuk DGI tulisan tersebut saya sunting dan tambahkan beberapa bagian di sana-sini guna mempertegas pesan-pesan dalam konteks pendidikan. Tulisan ini pun membatasi diri mengambil tiga tugas akhir di DKV ISI Yogyakarta untuk diulas dan tidak menutup kemungkinan ulasan sejenis bisa berasal dari/oleh tempat/ruang lain (kampus, komunitas, dsb).

 

Referensi:
Indriati, Etty. Pola dan Akar Korupsi: Menghancurkan Lingkaran Setan Dosa Publik. Gramedia, 2014.
Sudiarja, A. Pendidikan Dalam Tantangan Zaman. Kanisius, 2014.

Quoted

If your creativity is not your passion, there won’t be passion in your creativity.
Be passionate… and never sell yourself cheap

Lans Brahmantyo