Perjalanan Kembali (2)

[Sambungan dari: Perjalanan Kembali (1)]

Sadari selalu pikiran yang jernih seperti ruang hampa besar di dalam hidupmu, dan berfungsilah menolong orang lain dengan ketajaman sebuah jarum.” —Seung Sahn (1927–2004), The Compass of Zen

Rindu kebersamaan
Ingatan pun melayang ke kisah lain—kali ini bukan fiksi—ke sebuah perbincangan bersama seorang teman, Iwan Esjepe (l. 1967), yang terjadi di tengah kemacetan parah lalu lintas Jakarta seusai menghadiri acara Sewindu DGI, 18 Maret 2015 di Dia.Lo.Gue Artspace. Iwan bercerita bahwa ia baru saja meninggalkan perusahaan yang ia sendiri ikut mendirikannya, Biro Iklan Ideasphere (2003) di Jakarta, dan melepas seluruh sahamnya, demi kehidupan yang lebih baik bersama keluarganya. Ia mengutarakan hasratnya tinggal di sebuah kota kecil, karena rindu akan kidung kebersamaan yang semakin sayup terdengar di Jakarta. Dan berharap dengan tidak lagi bekerja di kantor, ia bisa lebih mengoptimalkan penggunaan waktunya yang selama ini dinilainya tidak produktif karena terbuang sia-sia di jalan.

Pada tahun 2004, Iwan bersama isterinya Indah menginisiasi gerakan Indonesia Bertindak (Action for the Nation). Gerakan ini mewadahi sejumlah program kampanye Cinta Indonesia. Indah adalah seorang pekerja desain, sementara Iwan penulis naskah iklan yang pernah berkarya sebagai direktur kreatif di beberapa agensi periklanan multinasional. Sebagai sebuah gerakan nyata, Indonesia Bertindak bertujuan menciptakan perbaikan, kekompakan, dan kebersamaan di antara sesama warga Indonesia—yang kala itu sedang berjuang lepas dari masa-masa sulitnya—dengan mengangkat isu-isu yang terkait langsung dengan kebutuhan masyarakat dan kebanggaan terhadap negerinya. Dalam mengaktualisasi seluruh programnya, mereka bersikap independen: tidak mewakili suara pemerintah, dan tidak berdiri di atas kepentingan agama, suku, partai, golongan, atau ras tertentu.

Mereka spontan terpanggil untuk berbuat sesuatu ketika Aceh ditimpa bencana gempa tektonik 8,5 SR yang disusul dengan gelombang pasang tsunami, pada 26 Desember 2004. Dalam kebingungan karena tak tahu mesti berbuat apa, timbul ide untuk melakukan penggalangan dana. Gagasan itu direalisasikan dengan cara memproduksi kaos yang dirancang khusus dengan mencantumkan kata-kata I Love (dengan gambar hati) NAD, dan menjualnya di kalangan dekat di sekitarnya. Keuntungannya kemudian didonasikan sepenuhnya ke Aceh untuk membantu membangun sekolah-sekolah yang rusak akibat bencana. Langkah mereka ini dipermudah karena Iwan dan Indah memiliki alat sablon kaos di tempat kediaman mereka di kawasan Perumahan Bintaro Jaya, Tangerang Selatan.

Kesempatan untuk membantu sesama timbul kembali ketika gempa bumi melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah, 27 Mei 2006. Iwan dan Indah menggerakkan masyarakat untuk peduli dengan menjual kaos oblong sederhana bertuliskan Eling Sedulur (Ingat Sesama) yang seluruh keuntungannya juga mereka sumbangkan. Lagi-lagi alat sablon milik mereka berjasa besar. Menurut Iwan: “Kalau di zaman revolusi mesin cetak adalah alat terpenting, di masa seperti sekarang ini mesin sablonlah yang terpenting. Itu karena hanya dalam waktu beberapa jam, kita sudah dapat menyampaikan pesan di selembar kaos, memakainya, dan hanya dengan berjalan-jalan, pesan dapat tersampaikan.”

Musibah yang berulangkali menimpa negerinya ini menumbuhkan keprihatinan mendalam, dan semakin meneguhkan tekad mereka untuk terus melakukan sesuatu bagi negerinya. Ketika Indonesia divonis dengan travel warning oleh sejumlah negara—Amerika, Uni Eropa, Australia memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang berbahaya untuk dikunjungi (red zone)—Iwan dan Indah melakukan kampanye terbalik (reversed campaign). Mereka “ikut menyampaikan peringatan”, bahwa keindahan Indonesia sungguh luar biasa dan mampu membius siapa pun yang mengunjunginya—yang dianalogikan sebagai dangerously beautiful—dengan slogan Travel Warning: Indonesia, Dangerously Beautiful. Slogan ini kemudian dituangkan ke media poster, stiker, kaos, tas, dan pin yang mulai disebarkan pada medio Maret 2007. (Gb. 5).

5. Kampanye Travel Warning: Indonesia, Dangerously Beautiful di Malakastraat, Den Haag, 2007.

Kampanye dinyatakan secara bergerilya dan berkesinambungan, melalui sejumlah relasi: orang-orang asing di berbagai negara, dan warga Indonesia sendiri yang hendak bepergian, baik di dalam maupun ke luar negeri, yang bersedia membantu menyebarkan stiker dan mengenakan kaosnya. Atau terjun sendiri secara langsung, dibantu teman dan mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di dalam atau di luar negeri, seperti yang mereka lakukan di Bandung dan di Den Haag (Gb. 5). Berkat militansi para mahasiswa Indonesia di luar negeri, kampanye ini menyebar hampir ke seluruh negara di muka bumi. Pada 2008, bekerjasama dengan Creative Circle Indonesia (CCI) dan Imago School of Modern Advertising, Indonesia Bertindak mengadakan lomba pembuatan iklan propaganda Travel Warning: Indonesia, Dangerously Beautiful. Program ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi berkualitas untuk memperbaiki citra Indonesia.

Indonesia Bertindak seperti tak pernah kehabisan ide untuk melakukan kampanye guna membantu sesama atau pun menanamkan rasa cinta tanah air. Di antaranya, kegiatan kampanye Ayo Bangun Indonesia untuk menyambut 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional pada tahun 2008, Kemah Merah Putih pada setiap Hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, dsb.

Melalui penyebaran stiker Kecerdasan Tanpa Etika Tidaklah Elok misalnya, Indonesia Bertindak berupaya mendidik masyarakat untuk menggunakan intelektualitasnya bagi hal-hal bermanfaat. Bukan disalahgunakan untuk mengumpulkan kekayaan melalui korupsi seperti yang dilakukan oleh sebagian pejabat negara. Pada 28–30 November 2008, Indonesia Bertindak menyelenggarakan acara Kemah Pelangi 2008 di Rancaupas, Ciwidey, Jawa Barat, dengan tujuan menikmati keindahan alam Indonesia. Memperbesar rasa cinta tanah air sambil menambah teman. Kegiatan berlanjut dengan Kemah Pelangi 2009 di Gunung Puntang, Bandung Selatan, 13–15 November 2009.

Ketika terjadi bencana banjir bandang di Wasior, Papua Barat pada 4 Oktober 2010, Indonesia Bertindak kembali menggerakkan masyarakat melalui desain yang provokatif bertajuk Pakaian Dalam dari yang Terdalam. Demikian pula ketika terjadi gempa bumi berkekuatan 7,2 SR di Sumatera Barat yang mengakibatkan tsunami di pulau Mentawai, 25 Oktober 2010, juga saat gunung Merapi meletus, 26 Oktober 2010.

Dan dengan sering terjadinya konflik berkepanjangan antara Indonesia dan Malaysia (masalah sengketa perbatasan, tenaga kerja, ikon-ikon budaya, dsb.), Iwan dan Indah berkampanye melalui kaos bertuliskan Kibarkan Merah Putih di Kuala Lumpur, atau Saya Kapok Melancong ke Malaysia. Melalui kampanye ini Indonesia Bertindak mencoba mengajak masyarakat untuk menghindari nasionalisme sempit, dan bertindak nyata tanpa harus terjerumus ke dalam tindakan anarkis.

Optimisasi umum
Pengamatan mereka atas semakin banyaknya warga masyarakat yang mengalami tekanan mental, stres hingga depresi, terutama di Jakarta, memunculkan gagasan untuk menyebar kata-kata yang mengandung motivasi:

“Efek dari tekanan emosional dan beban hidup ini sangatlah dahsyat, selain mudah memicu amarah dan konflik, stres dan depresi ini adalah faktor penting yang bisa mengakibatkan menurunnya produktivitas. Beberapa ahli malah ada yang berpendapat bahwa depresi dapat mengakibatkan makan berlebih dan malas beraktivitas. Jika terus-terusan, kondisi stres bisa menurunkan kondisi tubuh, keadaan yang menjadikan badan rentan terkena berbagai penyakit. Itu berarti menimbulkan ketegangan baru dan meningkatnya biaya kesehatan yang harus ditanggung keluarga. Namun demikian, kondisi ini bukan akhir dari segalanya, masih ada upaya yang bisa dicoba, selain usaha dan doa, motivasi adalah kunci penting bagi kita untuk keluar dari kondisi buruk yang sedang melanda.”[2]

Gerakan yang mereka namakan Optimisasi Umum ini (diinisiasi pada 2015) diharapkan berfungsi sebagai percikan air segar bagi siapa saja yang sedang dirundung duka, yang sedang berputus asa, hingga yang mungkin sudah sedemikian frustrasinya dan berencana untuk bunuh diri. Iwan dan Indah merajut kata-kata afirmasi yang dicetak di berbagai media, antara lain stiker, dan kemudian menyebarkannya ke tempat-tempat umum di Jakarta, atau melalui media sosial, seperti “Hei, jangan bersedih”, “Pasti ada jalan”. Atau “Tersenyumlah seperti saat dapat arisan”, “Rasa sakit itu muncul ketika kamu menengok ke belakang”, “Kalau rezeki tak lari kemana…”, “Tuhan tersenyum, jangan kau cemberut”, “Bajaj pasti berlalu”, dsb. (Gb. 6–7).

6–7. Stiker-stiker untuk memotivasi warga masyarakat yang sedang mengalami tekanan emosional, disebar di ruang-ruang publik agar mudah dilihat dan dibaca. Merupakan perwujudan empati kepada sesama dalam bentuk kata-kata afirmatif, sebagai upaya untuk membantu membuka jalan kembali ke keseimbangan diri.

“Setiap saat dalam hidup, dengan pikiran yang bersih dan jernih dari segala kepentingan diri dan beban masa lalu maupun masa depan, kita berusaha untuk memahami keadaan yang ada, memahami peran dan hubungan dengan diri kita serta kemudian bertindak untuk memperbaiki keadaan, sesuai dengan kemampuan kita.” —Seung Sahn (1927–2004), The Compass of Zen (interpretasi Reza A.A. Wattimena)

———
[2] Keluarga Esjepe. 2015. Optimisasi Umum. Copyvisual, http://keluargaesjepe.com/2015/05/24/optimisasi-umum/, diakses 16 Juli 2015.

***

[Bersambung »]

Quoted

Sekolah membuat desainer menjadi pintar, bekerja membuat desainer menjadi paham, pengalaman panjang membuat desainer menjadi arif

Danton Sihombing