Resensi Buku: “Rumah Iklan”

buku-bondan-21

RUMAH IKLAN – Upaya Matari Menjadikan Periklanan Indonesia Tuan Rumah di Negeri Sendiri
Bondan Winarno
Jakarta: Penerbit Buku Kompas 2008
268 halaman


Buku yang sangat menarik, dilengkapi dengan data-data tentang pers dan sejarah periklanan di Indonesia secara komprehensif. Secara keseluruhan buku ini penting untuk para ahli komunikasi, marketer, insan periklanan, mahasiswa DKV, dan lain sebagainya.

Buku ini memang bukan buku pertama yang membahas tentang sejarah iklan Indonesia. Sebelumnya, setidaknya terdapat dua buku yang membahas secara khusus tentang sejarah iklan di Indonesia: buku pertama berjudul Iklan Surat Kabar dan Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial (1870-1915)”, karangan Bedjo Riyanto (Yogyakarta, Tarawang Press, 2000). Buku kedua berjudul “Reka Reklame, Sejarah Periklanan Indonesia 1744–1984” karangan Baty Subakti dan kawan-kawan, (edisi kedua, Yogyakarta: Galang Press, 2005). Buku ini juga bukan buku khusus tentang sejarah iklan di Inonesia. Didalamnya selain sejarah iklan di Indonesia, juga dibahas tentang jatuh-bangun Ken Sudarto dalam membesarkan biro iklan Matari.

Kelebihan Bondan “Mak Nyus” Winarno adalah kemampuannya merangkai sejarah iklan dan sejarah Matari advertising, bersama cerita tentang idealisme Ken Sudarto, menjadi sebuah kesatuan. Bondan Winarno memiliki pengalaman yang cukup untuk menulis buku demikian karena dahulu dia pernah berkecimpung di dunia pengiklan (advertiser), pembuat iklan (advertising agency), jurnalistik dan public relations. Dunia periklanan moderen Indonesia memang tidak dapat dilepaskan dari peran para pedagang multinasional, khususnya penjajah Belanda. Mulai dari Jan Pieter Zoon Coen hingga tercatat biro iklan Anetta, yang juga sebuah kantor berita milik Belanda. Kini pun biro-biro iklan ternama adalah biro iklan multinasional.

Dalam suasana perdagangan yang bernuansa pasar bebas dunia inilah Matari, sebagai biro periklanan nasional mampu bertahan, bahkan terus berkembang. Semangat nasionalisme sekaligus kepandaiannya mencari positioning dari Ken Sudarto tercermin dalam ucapannya: “We believe that no one can understand and communicate with Indonesians like other Indonesians”. Walaupun Ken pernah perwakilan perusahaan periklanan, Marklin Singapore sebelum mendirikan Matari tahun 1971(berhenti bekerjasama tahun 1973), pernah bekerjasama dengan biro iklan Grant, Kenyon & Eckhardt dari Kanada, selebihnya Matari adalah perusahaan nasional.

Idealisme Ken Sudarto pun tercermin pada kinerja Matari yang banyak mengerjakan berbagai projek edukasi publik melalui iklan layanan masyarakat hingga program program edukasi yang lebih luas, seperti Pekan Imunisasi Nasional. Bahkan beberapa projek dapat dikategorikan merugi, sehingga mempengaruhi keuangan Matari. Selain itu Ken Sudarto dan Matari juga terkenal sebagai biro iklan yang melakukan investasi SDM sangat baik, sehingga terkenal dengan “universitas periklanan”.

Secara keseluruhan buku ini cukup memberikan inspirasi mengenai bagaimana seorang businessman membesarkan bnisnis advertising secara idealis. Beberapa kekurangan adalah, Bondan Winarno tidak memasukkan pembahasan iklan dari sisi kreatif, bagaimana aplikasi prinsip “berkomunikasi secara Indonesia” dalam konsep kreatif. Dengan kata lain, buku ini banyak membahas sisi bisnis periklanan, namun sangat sedikit membahas bagaimana perjuangan studio kreatif menghasilkan masterpiece yang memenangkan piala-piala Citra Pariwara. Selain itu, pada bagian ilustrasi tiba tiba tampil iklan “Think Small” dari VW Beetle yang sangat terkenal, tanpa memiliki kaitan berarti dengan karya karya Matari disekelilingnya. Kelemahan lain, cover buku rancangan Matari tampaknya terlalu naratif. Sehingga menjadi terlalu banyak muatan yang harus dibawa oleh sebuah cover buku.

Namun bagaimanapun penerbitan buku ini tetap sangat berharga, mendokumentasi perjalanan dan jatuh bangun seorang Ken Sudarto beserta Matari sebagai bagian tak terpisah dari sejarah panjang dunia periklanan Indonesia. Semoga para penerus Ken Sudarto akan semakin mengembangkan Matari sesuai visi dan idealisme sang pendiri – menghangatkan bumi Indonesia dengan iklan-iklan yang mencerdaskan. Selamat Ulang Tahun ke-37 untuk Matari!

Quoted

Limitations and distractions are hidden blessings

Nigel Sielegar