Book Review: “How Do They Think”

how-do-they-think11


Judul: How Do They Think
112 halaman
Mosher, 2008


MEMBEDAH IDENTITAS

Sejak sosoknya dikenali, orang-orang pun mulai sadar bahwa selain kualitas produk (output), maka faktor lain yang perlu dibangun oleh sebuah unit usaha adalah ‘jiwa’ dari unit usaha tersebut ataupun produknya. Fenomena kejiwaan sebuah produk inilah yang disebut dengan brand. Beragam teori dan pengertian telah diluncurkan untuk menjelaskan fenomena brand. Ada yang membedahnya menggunakan pisau analisis ilmu ekonomi, sosiologi atau ilmu komunikasi. Namun pada prinsipnya, semua sepakat bahwa brand dibangun melalui identitas yang jernih dan upaya konsisten meyakinkan konsumen. Akhirnya mau tidak mau, para pelaku dunia usaha pun harus menerima keberadaan sebuah brand sebagai sebuah aset tak berwujud dari sebuah unit usaha.

Pembahasan mengenai brand akan dengan mudah menggiring kita membicarakan corporate identity. Pada dasarnya, semua pelaku dunia usaha meyakini bahwa corporate identity tidak secara langsung memberi nilai tambah pada sebuah produk dan menjadi komponen penentuan harga, namun merupakan alat marketing signifikan, yang pada gilirannya akan menggiring konsumen memilih sebuah produk, ketimbang produk lainnya.

Dalam komunikasi visual, sebuah corporate identity biasanya lahir dari sebuah proses panjang merajut beragam aspek. Mulai dari aspek fisik, psikis, material, mental dan berbagai aspek-aspek pertimbangan lain. Seluruh bahan pertimbangan itu, kemudian diformulasikan dengan tepat oleh tim komunikasi visual, sehingga lahirlah sebuah corporate identity. Proses yang cukup rumit ini, umumnya tidak dipahami secara utuh oleh masyarakat awam.

Namun bagi praktisi komunikasi visual, proses ini akan sangat menarik disimak. Bagaimana sebuah identitas dirumuskan, dikomunikasikan ke publik dan kemudian reaksi yang muncul dari komunikasi tersebut akan menjadi tolak ukur menilai kesuksesan sebuah identitas. Buku How Do They Think yang disunting trio desainer grafis muda, Herdi Sularko, Victor Prawata dan Michael Widranata berusaha menyingkap proses itu.

Dalam buku ini, kita akan mendapatkan pembahasan mendalam, meluas dan menyeluruh tentang bagaimana 9 identitas dirumuskan dan kemudian disampaikan kepada konsumen. Proses ini sendiri memberi pembelajaran yang sangat menarik. Simaklah bagaimana brand Centro Department Store dibangun dengan bermodalkan passion terhadap industri retail. Cermatilah pula bagaimana PT. Broadband Indonesia, Tbk. mengevaluasi merk dagang “Kabelvision” yang terlihat semakin serius dan tidak lagi tampil molek sebagai penyedia jasa hiburan multimedia, sehingga mereka merasa perlu meluncurkan identitas baru “First Media” yang lebih segar dan lifestyle driven. Atau bagaimana GarudaFood merasa perlu melakukan diferensiasi identitas dari salah satu produk unggulannya, “Kacang Garuda” dan bagaimana Panorama Leisure berusaha mengakomodasi seluruh anak perusahaannya dalam sebuah identitas tunggal yang mapan. Beragam desain corporate identity yang dibedah di buku ini adalah solusi komunikasi sebuah brand untuk mendekatkan diri dengan target konsumennya. Lebih dari itu, desain-desain ini mewakili sinergi dari optimisme dan keterampilan, serta upaya tanpa henti memperbaiki aspek-aspek penting dari proses marketing.

Kehadiran buku ini menjadi semacam angin segar dalam kajian komunikasi visual di Indonesia. Buku ini sendiri pada benang merahnya mengajak kita menilai bagaimana sebuah brand dirumuskan, dikembangkan dan yang terpenting dikomunikasikan. Tentunya diharapkan, akan semakin banyak corporate identity yang bisa dibedah dan diukur kedigdayaannya, sehingga pada gilirannya brand asal negeri kita tak hanya mampu menaklukkan pasar lokal, melainkan juga pasar global.

Quoted

Some nature is better polluted by design and art

Henricus Linggawidjaja