Online Exhibition

#

037

CURATOR'S STATEMENT

20 Mei 2017

Type :Participatory Exhibition

Year :2017

Designer :Various



Pameran Partisipatori Menyambut Hari Kebangkitan Nasional

 

Tak bisa dipungkiri suasana bangsa kini sedang panas. Gelora yang membising bukan lagi pekik merdeka, bukan reformasi, melainkan perpecahan! Apa benar demikian?

Terlepas dari politisasi beragam kejadian akhir-akhir ini, gema kebangkitan dan persatuan makin diperlukan, bukan sebagai justifikasi suatu ideologi, kepercayaan, atau hasrat kekuasaan, tetapi sebagai pendorong semangat untuk mau bercermin terhadap apa arti kebangsaan dan berkebangsaan itu sendiri.

Di sejarah bangsa Indonesia kita mengenal momentum Kebangkitan Nasional ditandai dengan berdirinya organisasi pemuda Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, yang awalnya bersifat sosial dan ekonomi, bukan politik. Namun, menjadi awal dari gerakan kemerdekaan Republik Indonesia.

Desain grafis sebagai kegiatan persuasif yang apabila efektif dapat merubah pola pikir dan mendorong tindakan–lebih sering untuk melayani produsen dan konsumerisme–kini berpeluang untuk mengisi maksud peran (purpose) sebagai pemberdaya sikap kebangsaan yang positif: untuk manfaat kita semua, rakyat bangsa Indonesia, terlepas dari suku, agama, ras, dan golongan. Karenanya DGI, sebagai lembaga pengarsip mengundang peran serta masyarakat desain grafis/pelaku kreatif untuk merespons wacana kebangkitan nasional dengan ekspresi dan komunikasi secara visual atau dengan format tulisan, gambar atau grafis statis maupun gerak. 

Dihadapkan pada waktu dan kesempatan panggilan karya yang sempit submisi yang diterima sangat positif. Karya yang diterima masih didominasi karya grafis statis, meskipun hanya ada satu karya gerak, dan satu karya tulisan (dipadu dengan grafis). Namun, yang melegakan adalah, meskipun waktu pekerjaan sangat ketat, bahwa sebagian besar karya yang kami terima terancang dengan pemikiran yang dalam. Umumnya karya-karya cukup konseptual, terolah dengan matang. Ada beberapa karya yang mengkritik situasi kini yang perlu penyikapan cerdas, ada yang mengkritik bahwa perjalanan 109 tahun ini belum membawa perubahan yang signifikan. Sebagian membawa perhatian audiens ke gagasan nasionalis, keseragaman dalam keragaman yang sesungguhnya di depan mata, dan sebagian menyerukan semangat yang bertindak.

Kuratorial ini tidak akan membahas satu-persatu karya yang masuk karena kami tidak ingin mendikte pengamatan dan narasi yang harusnya terwakili sendiri dengan menyimak dan membaca karyanya. Kami mempersilakan audiens untuk menafsir dan menerjemahkan apa yang tersaji dengan harapan bahwa ada dorongan untuk mendiskusikannya, membahasnya dalam wacana yang membangun sebagai persembahan untuk membangkitkan semangat kebangsaan. Asa harus didorong oleh semangat, agar potensi yang terkandung di dalamnya menjadi tindakan nyata. Partisipasi desain grafis, sebuah bidang yang dinamis namun sebagian besar berdaya pasif untuk lingkungan sosialnya perlu lebih aktif dan lebih berani untuk berperan. Bidang desain grafis yang juga selama ini melayani kaum elit untuk agenda atau manfaat mereka kini perlu berpikir dampak kegiatannya terhadap ‘end user’, yaitu masyarakat. Bicara dampak maka ada ‘tanggung jawab’ dan ‘akuntabilitas’ dua komponen yang masih relatif semu di kalangan grafis, mungkin karena belum mapannya profesi dan industrinya. Tetapi itu bukan alasan untuk diam dan diam.

Saatnya bertindak seharusnya dari kemarin, dari beberapa tahun silam, dari dekade dahulu. Maka kalau tidak sekarang dan esok, kapan lagi desain grafis dengan lantang bersuara?

Karena semangat untuk membangkitkan tidak perlu dikerangka dalam rangkaian waktu, maka kami masih menerima partisipasi susulan yang ingin tampil dalam pameran bersama ini.

Untuk sementara mari simak rangkaian karya respons terhadap semangat kebangkitan kebangsaan berikut.


 

 


 
“Live Together.”
Widodo Sugiman
@widodosugiman
Materi kopi, gula, kertas dan spidol.

 
#bangkitbersatumerdeka
Iqbal Adiyat

 

“Rangkul!”

Bernan Marratio
@bernanmarratio

 
“D”
Jevon Jeremy

 
“Merajut Kembali”
Andrew Lim 

 
“Terhubung”
Emy Immanuela S.
Indonesia yang memiliki ragam budaya, bahasa, dan lain-lain; bersyukur dan melestarikan warisan yang menjadi ciri khas Indonesia adalah tantangan semua generasi.

 
“BERsATu”
Febi Muhammad Ramdhan

 
“Merdeka”
Nikko Purnama Lukman

 
“Surga/Bumi ada di telapak kaki Ibu/Pertiwi”
Jimmy Ofisia

 
“Ucapkan Kata-katamu”- Wiji Thukul
Fadel Nur Arafat

 
“&”
Indah Esjepe
@esjepin
 

PENGANTAR

Bicara tentang Indonesia adalah bicara tentang keragaman. Beragam warna kulit, suku, adat, budaya, bahasa, dan agama tinggal di rumah-rumah yang berdiri di atas bumi Nusantara, membentang sepanjang laut dan garis pantainya, dari puncak gunung hingga dataran terendah, baik yang jauh di pelosok pedalaman maupun pulau terluar hingga kota-kota besarnya. Itu semua adalah kenyataan yang tak bisa kita tolak.
 
#DanKitaBersama adalah sebuah ajakan pada setiap individu di muka bumi, dan Indonesia khususnya, untuk menjadikan dirinya sebagai perekat, bukan penyekat, di antara perbedaan-perbedaan yang ada di sekitarnya.
 
Antara bumi dan langit membentang cakrawala
 
Antara lautan dan daratan teruntai bibir pantai
 
Aku adalah ‘&’ yang mendekatkan
 
Aku adalah ‘&’ yang merekatkan
 
Aku adalah ‘&’ yang mendamaikan
 
Aku adalah ‘&’…

 

“Sama Sama Beda”
“Beda Tetap Sama-Sama”

 

Ekserpsi korespondensi
==

Hi Mas Aji,

 
Maaf sudah lewat deadline, tp kemaren baru saja lihat kalender bulan Mei, kemudian saya amati, ternyata bulan ini sangat beragam, diawali dari hari buruh, Waisak, Kenaikan Yesus, Puasa/Ramadhan, ada hitungan hari Jawa dan Cina, dan jg byk peristiwa penting dari yg terjadi di masa lalu hingga yang baru2 ini.
 
Melihat melalui kalender bulan Mei ini, buat saya, sudah merupakan proses refleksi itu sendiri: refleksi akan contoh (krn tidak semua SARA terwakilkan) keragaman kita sebagai bangsa dan jg refleksi bangsa ini melalui konsep waktu (lampau, sekarang, yg akan datang). Dan semuanya jatuh pada bulan dimana Hari Kebangkitan Nasional juga ‘dirayakan’.
 
Terima kasih.
 

Januar Rianto
Creative Director
 

 

Sebuah refleksi dari puisi Sapardi Djoko Dharmono.

 
Tuan, Tuhan Bukan?
tunggu sebentar saya sedang ke luar.
 
Puisi tersebut pernah dibacakan di Frankfurt Book Fair 2015 
di dalam misi memperkenalkan Indonesia ke dunia.
 
Garyanes Yulius

 
“Ayo Bangkit! Lompat! Terbang!”
 
 
 
“Sepi ing Pamrih.. Rame ing Gawe.. Ayo Bangkit!”
 
Arif P Susilo

 
“Stagnasi”
Sandy Karman

 
Terinspirasi dari lagu “Manusia Kuat” oleh @temantulus #tulus (2016) #brushlettering #bertialia #watercolors
Berti Alia Bahaduri