Global Nomaden (Bag. 3/4)

BULAN PERTAMA (DITULIS DARI LONDON)

Saran membaca:
Tulisan dibawah ini akan lebih nyaman dibaca sambil mendengarkan musik dari link ini.

Masih kuingat pertama kali mengayuh sepeda roda dua. Belum genap 7 tahun umurku! Sehari sebelumnya, kuminta bengkel depan rumah untuk melucuti dua roda kecil di samping yang membantu menjaga keseimbanganku selama ini. Bermodalkan sepeda besi dan setangkup nyali! Kupilih waktu sepi untuk meluncurkannya.

Jam 5 pagi kudorong sepeda besi itu menuju jalanan paling menanjak di kotaku. Aspal kampung yang berlubang diselingi pasir licin sedikit menciutkan nyali. Tapi aku merasa inilah saatnya mengeluarkan seluruh kemampuan dan intuisi. Dengan gamang kugenggam erat kedua stang tanpa rem itu. Mataku yang terhalang rambut poni memandang lurus titik terjauh ke arah matahari yang mulai terbit. Satu, dua, tiga! Roda itu meluncur perlahan, tanganku coba mengendalikan laju roda depan menghindari lubang, kakiku terus mengayuh mencari titik keseimbangan, poni yang menutup kening tersibak sudah, bajuku melambai-lambai seperti jubah jagoan. Sepeda melaju semakin kencang membuat adrenalinku mengalir diluar kendali. Tiba-tiba kegamangan berbalik menjadi keberanian untuk melewati apa saja dihadapanku, menuju perempatan, menyebrangi jalan besar, menerobos ilalang, melalui jembatan, menerjang keraguan. Sudah melampaui benua kayuhanku kini. Aku berada di Eropa, duduk mengendarai sepeda tua. Perasaanku sama seperti dulu ketika pertama kali belajar bersepeda, semakin dikayuh semakin banyak pengetahuan yang kurengkuh.

gps-goes-foto3

Sepeda adalah kendaraan favoritku di kota Den Haag, dipandu sinyal GPS lengkaplah sudah perpaduan teknologi dan ‘Old Skool Glitter Bike’. Pengalaman ini menjadi perjalanan penuh kejutan, ikuti terus kisah pertemuan dengan teman dan lingkungan baru di tulisan selanjutnya.

foto-1

Setiap kayuhan adalah cerita bagiku, putaran roda kali ini berkisah bahwa manusia adalah zat yang sama, terdiri dari rangkaian daging dan tulang serta nyawa darimanapun dia berasal dan dilahirkan. Kadang kita terlalu berlebihan melihat bangsa barat atau tatapan mata mereka yang terasa menyepelekan kita. Padahal kebudayaan dan perilaku hanyalah kemasan, hirarki dibalik itu kita adalah makhluk yang memiliki hati nurani yang sama.

 

BULAN KEDUA

Di sini baru aku mengerti kenapa selama sepuluh tahun terakhir aku terlalu banyak mengejar mimpi semu dan dikejar perasaan takut kehilangan dengan apa yang sudah kuraih. Materi memang perlu untuk menyokong hidup, tapi menyerahkan waktu siang juga malam untuk pekerjaan sungguh membuatku malu. Aku percaya apa yang berada dalam kalbuku lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan memforsir habis seluruh tenagaku untuk mengejar fatamorgana.

Memang diperlukan passion untuk menghasilkan sebuah masterpiece. Sayangnya kata ini sudah terlalu sering diangkat jadi tema utama majalah gaya hidup demi meningkatkan pemasukan iklannya, sehingga kata tersebut kehilangan makna. Tapi, di sini kusaksikan para ‘passionate sejati’ menjalani hidup juga menikmati mimpinya. Restoran kecil dengan semangat komunitas independen milik seorang lelaki berambut gimbal juga merangkap sebagai juru masak dengan bahan baku yang ditanam di pekarangan rumah, kerap dipenuhi pelanggannya. Di sudut kota lain, seorang gadis pirang tinggi menjulang menjaga toko mungil dengan keunikan produk-produknya mampu menyenangkan siapa saja yang memasukinya. Mereka menyampaikan berita baik kepada dunia apa adanya. Kenyataan ini memberiku pencerahan melebihi bacaan buku best seller motivasi populer yang selalu dipajang di rak terdepan toko buku ternama di Indonesia.

foto-2

Aku sadari selama ini dihantui rasa takut! Takut kehilangan apa yang sebelumnya tidak kumiliki.

 

BULAN KETIGA

Aku berjumpa dengan orang-orang ramah di Bielsko-Biala, Polandia, ketulusan mereka melebihi warga Jakarta yang penuh curiga. Di Brussel, Belgia kulihat pemandangan mengharukan, sepasang kakek dan nenek bungkuk berjalan bergandengan mesra menyusuri Grand Palace de Bruxelles mampu meredam keterkejutan berita perceraian seorang kawan di Indonesia yang juga mengabarkan aktifitas kantor KUA Jakarta saat ini lebih banyak menangani perceraian daripada pernikahan. Beberapa minggu kemudian mataku terpesona oleh modisnya wanita di sepanjang trotoar komersial Paris, mereka selalu tersenyum dalam ketergesaan. Setiap kali berpapasan, hembusan angin dari gerak tubuhnya menebar aroma membius, bagaikan busa cappucino yang sungguh menggoda. Namun bagi sebagian orang, godaan datang dari barisan butik mewah terkenal yang sore itu dipenuhi antrian para pemburu brand kelas dunia, hebatnya mayoritas berasal dari Asia. Mereka tampak berjalan kepayahan karena terlalu banyak membawa barang belanjaan.

Paris adalah kota yang bisa membuat orang kembali jatuh cinta. Lengkap dengan setting bangunan aristokrat bersejarah, menara Eiffel dan sungai Siene mengalir anggun bagaikan efek ‘Healing Brush’ di Photoshop, sangat cantik sungguh terlalu cantik. Situasi yang kontras dengan tempat tinggalku di sudut selatan Kota Paris. Disana yang terlihat adalah pemukiman kaum imigran, gerombolan anak muda mabuk, polisi yang berpatroli, rongsokan sampah, pengemis, coretan kegalauan. Ternyata yang kulihat tadi di jantung kota hanyalah sebuah ‘setting film Hollywood’ yang mampu menyihir wisatawan dari seluruh dunia.

Begitulah rasanya menyaksikan dua hal yang kontradiktif secara bersamaan. Seperti suatu pagi aku menerima berita gembira bahwa proposal perpanjangan project-ku di Den Haag untuk 3 bulan berikutnya disetujui. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, hanya selang sehari aku mendatangi kantor imigrasi, mereka menolak untuk memperpanjang visaku, bahkan dengan bantuan dampingan dari staf kedutaan Indonesia tetap tidak membuahkan hasil. Artinya, aku harus meninggalkan Uni Eropa sebentar lagi! Sepulang dari kantor imigrasi berat rasanya sepeda ini kukayuh, kembali kedua tanganku merasa gamang seperti dulu. Rantai besi renta itu berderak karena kukayuh hingga otot pahaku terasa membengkak, melesat mendahului semua yang ada di jalan, menerobos lampu merah, mendahului barisan trem, menyongsong matahari terbenam di Scheveningen. Kuputuskan untuk tidak mengeremnya, biarlah sepeda ini meluncur seperti hidupku yang kini melaju bermodal mimpi dan setangkup nyali menuju negara berikutnya: Inggris!

Quoted

Some nature is better polluted by design and art

Henricus Linggawidjaja