Home > Read > News >
Dalam Kenangan:
Slamet Abdul Sjukur
(30 Juni 1935–24 Maret 2015)
SAS, sketsa oleh Wiwik HIdayat

SAS, sketsa oleh Wiwik HIdayat

beta
ada di malam
ada di siang

mari
menari
mari

—Bagian dari olahan Slamet Abdul Sjukur atas sajak Chairil Anwar, Tjerita Buat Dien Tamaela (1943) untuk Parentheses 5 (1981)

 

Indonesia mengalami kehilangan besar. Slamet Abdul Sjukur, maestro dan legenda musik kontemporer Indonesia itu, telah dipanggil kembali oleh Penciptanya pada Selasa, 24 Maret 2015 sekitar pukul 06.00 WIB, setelah melalui dua minggu perawatan di sebuah rumah sakit di Surabaya.

Pribadi yang lurus dan setia pada kebenaran itu hingga detik-detik terakhir perjalanan hidupnya masih setia mendarmabaktikan segenap jiwa raganya: untuk musik, musik, dan musik.

 

Pertengahan 1981

Sajak Chairil Anwar ’Tjerita Buat Dien Tamaela’ itu telah mempertemukan saya dengan Slamet Abdul Sjukur. Ketika itu, bersama Adjie Damais, saya membantunya mempersiapkan buku acara pergelaran perdana karya ciptanya, ’Parentheses 5’ di Hotel Hilton (sekarang: The Sultan Hotel) dan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Saat-saat diskusi yang kami lalui bersama di kantor biro grafis Citra Indonesia—baik semasa persiapan dan sesudahnya—perlahan-lahan telah mendekatkan hati kami berdua.

Apresiasinya terhadap desain grafis sungguh mengagumkan. Sejak saat itu, kami sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama: untuk sekadar berjalan-jalan atau berdiskusi. Hampir setiap hari, Mas Slamet menjemput saya dengan Honda Civic-nya untuk menyusuri berbagai tempat kesenian atau pusat-pusat kebudayaan asing di Jakarta, lalu mengantar saya pulang kembali ke indekos di Jalan Yusuf Adiwinata 30.

Siang atau malam, kami melewati masa-masa indah, ”menari” dan ”beria” bagai ”ganggang” dalam sajak Chairil Anwar itu. Sesekali, kami hanya berjalan dan berjalan—tak tentu arah. Hotel Hilton acap kali menjadi pilihan favorit untuk beristirahat sekadar mendengarkan alunan gamelan Jawa hingga jelang malam hari. Dalam keheningan, kami sering dipersatukan.

Jiwa yang halus itu tak ayal diwarisi pula oleh anak-anaknya. Suatu sore, Mas Slamet bersama isterinya, Françoise, Svara anaknya, dan saya berjalan-jalan di TIM. Di tengah obrolan yang menghanyutkan, kami baru menyadari bahwa Svara tidak lagi berada di antara kami. Kami berbalik, dan menjumpainya sedang menempelkan telinganya di pohon beringin yang tumbuh besar di halaman tengah kompleks TIM. Entah sudah berapa lama ia di situ. Ketika ditegur, Svara hanya menjawab, “Aku sedang mendengarkan suaranya.”

 

Akhir 1980-an

Kami tidak lagi bisa menari bersama setelah saya menikah pada 1985. Tapi, terkadang masih menyempatkan diri bertemu untuk sekadar kangenan. Biasanya kami lakukan di toko buku ’QB’ di Pondok Indah. Tempat ini layaknya oase bagi kami. Di tengah lautan buku di kedua lantainya, kami biasa menghabiskan waktu dari pagi hingga sore hari. Lain waktu, Mas Slamet main ke rumah saya di Bintaro sambil menikmati es campur kesukaannya,  dan karya-karya desain John Maeda yang serba musikal itu.

Suatu hari, seingat saya pada kisaran akhir 1980-an, dalam salah satu obrolan kami dikejutkan oleh kenyataan bahwa kedua ayah kami juga saling mengenal dan bersahabat. Sungguh sebuah kebetulan yang membuat kami takjub. Sesudahnya, Mas Slamet pun mengatur pertemuan kembali di antara kedua keluarga yang kemudian berlangsung pada sebuah hari baik di rumah saya di Jalan Trunojoyo 101, Surabaya.

 

2000-an

Persahabatan kami tidak sampai terputus setelah itu. Berkat internet, kami yang semakin terpisah oleh jarak, didekatkan kembali melalui surat elektronik. Sesekali, kami bertemu pada acara-acara seni, terutama saat Mas Slamet melangsungkan pergelaran-pergelaran karya musiknya yang selalu menggoda itu.

Masih tersisa penyesalan pada diri saya karena batal menghadiri pergelaran terakhirnya, Konser 79 Tahun ’Sluman Slumun Slamet’ pada 27 September 2014. Waktu itu, kondisi kesehatan saya tiba-tiba menurun. Meski demikian, masih ada rasa syukur saya karena masih memperoleh kesempatan mendengarkan karya-karya terakhirnya itu melalui piringan cakram rekamannya yang dikirimkan oleh sahabatnya, Ariani Ririn beberapa saat sesudahnya.

Selamat jalan sahabat tersayang. Terima kasih atas masa-masa bahagia yang telah kita lalui bersama. Terima kasih atas sumbangsih luar biasa bagi seni Indonesia. Tuhan beserta segenap malaikatnya akan menyambut kedatanganmu dengan paduan suara suka cita. Selamat beristirahat dalam damai di sisi-Nya.

 

Gaung pukulan tifa yang bertalu-talu, gema dari sajak ’Tjerita Buat Dien Tamaela’ itu kini terdengar khusyuk mengiringi perjalanan abadinya ke dunia yang tenteram; tanpa tirani kebisingan, dambaannya sepanjang hayatnya.

Hanny Kardinata
Bintaro, 24 Maret 2015

Quoted

Make your interactions with people transformational, not just transactional.

Eve Vogelein