Home > Read > News >
Liputan: Tahap Presentasi dan Penjurian Rerancang Identitas AQUA Lestari

AL3-01

“Yang dicari adalah kesesuaian, bukan yang terbaik. Sebab, yang terbaik bukan serta merta yang menjadi pemenang.”—Eka Sofyan Rizal

Sabtu, 31 Januari 2015 sekiranya menjadi hari yang panjang bagi para peserta Rerancang Identitas AQUA Lestari. Sejak pukul 10.00 WIB, tujuh belas* peserta telah mengisi selasar lantai 2 Kantor AQUA di Jalan Pulo Lentut, Kawasan Industri Pulo Gadung. Di sanalah, di hadapan dewan juri dan perwakilan dari AQUA, para peserta memaparkan gagasan dan rancangannya. Sejalan dengan landasan yang melatari pelaksanaan kegiatan, metode yang diusung dalam program Rerancang Identitas AQUA Lestari menawarkan dimensi baru dari sebuah kompetisi desain: hadirnya kembali proses dialog dan diskusi pada tiap gagasan yang muncul di dalamnya, termasuk pada hasil rancang yang dikompetisikan itu sendiri.

Ruang penjurian menjelma menjadi sebuah ruang studi. Hasil rancang yang dikompetisikan tak berhenti hanya sampai pada penyampaian satu arah dari desainer ke klien. Selepas 10 menit yang diberikan pada masing-masing peserta, dewan juri yang terdiri dari Cecil Mariani, Danton Sihombing, dan Eka Sofyan Rizal membuka ruang diskursus lewat proses tanya-jawab—yang tak jarang menegangkan—yang menjadi elemen penting pada hari itu. Proses ini sekiranya mengafirmasi kembali apa yang Eka Sofyan paparkan pada Lokakarya tahap II: bahwa desain salah satunya dapat memperoleh kematangan setelah melalui proses uji argumentasi. Pimpinan AQUA Grup, Parmaningsih Hadinegoro, dan Sustainable Development Director AQUA, Sonny Sukeda, juga turut memperkaya dialog yang terbangun di sana.

 

AL3-02

AL3-03

AL3-04

 

Perdebatan dan diskusi yang panjang mengisi sisa-sisa sore Sabtu itu. Proses penjurian dilalui dengan cukup alot. Dari lima karya short-listed dengan akumulasi skor tertinggi, pertimbangan juri dikerucutkan menjadi tiga karya pilihan, hingga akhirnya dua di antaranya dinyatakan sebagai (1) Karya terpilih dan (2) Karya dengan pencapaian khusus. Skor penjurian sendiri dipandu dengan kriteria sebagai berikut:

1. Relevansi / Identik / Komunikatif sebesar 40%
Kriteria ini menilai keberhasilan peserta dalam menafsirkan kandungan makna, pesan, dan filosofi AQUA Lestari ke dalam bahasa visual. Keberhasilan logo juga dinilai dari solusi dalam menyederhanakan tafsiran visual menjadi bentuk yang dapat dipahami secara mudah oleh umum atau khalayak yang dituju.

2. Estetika sebesar 20%
Menilai keberhasilan peserta dalam menciptakan sebuah logo yang mampu menghadirkan kenyamanan, keindahan, serta sentuhan emosi bagi penglihat (kualitas ekspresi, eksekusi, dan kriya). Tingkat keunggulan estetika juga dinilai dari kemampuan menciptakan sub-logo (brand graphic) sebagai perangkat ekspresi dari logo.

3. Kreativitas Aplikasi sebesar 20%
Menilai keberhasilan dalam menciptakan sebuah logo yang mampu diterapkan dalam berbagai media serta ragam ukuran. Kreativitas ini dilihat dari gagasan, kepekaan terhadap media, fleksibilitas, dan kedinamisan yang dihadirkan dalam rancangan masing-masing peserta.

4. Keunikan sebesar 20%
Menilai keberhasilan dalam menciptakan tampilan visual logo yang berkarakter kuat, unggul dalam mengolah bentuk dan warna, serta membawa nuansa kebaruan. Keunikan merujuk pada berbedanya logo tersebut dengan entitas lain yang memiliki makna, pesan, dan filosofi sejenis. Keunikan juga dinilai dari tingkat visibilitas logo sebagai bentuk visual yang mudah dikenal dan diingat. Di samping itu, kriteria ini juga dapat merujuk pada aspek “kejutan” atau inovasi yang dapat ditambahkan ke 3 kriteria lainnya.

 

Secara keseluruhan, menurut Parmaningsih Hadinegoro, para peserta dinilai telah memiliki pemahaman yang mendalam mengenai AQUA Lestari. Seluruhnya mengemukakan idenya dengan begitu baik. Meski demikian, bagi Eka Sofyan Rizal dan dewan juri lain, masih banyak peserta yang tersandung pada tahap eksekusi visual: hasil rancang visualnya gagal beresonansi dengan konsep yang disampaikan. Ketegangan antara konsep dan eksekusi visual itulah yang kemudian menjadi faktor utama kompleksnya diskusi dalam ruang penjurian.

 

AL3-05

AL3-06

Setelah melalui proses pertimbangan dan perdebatan, pada kisaran pukul 17.00 WIB, Dewan Juri dan pihak AQUA akhirnya memutuskan:
1. Arly Mursalin terpilih sebagai peserta yang karyanya terpilih sebagai logo baru AQUA Lestari, dan
2. Astari Wisesa terpilih sebagai peserta dengan karya berpencapaian khusus.

 

Karya Arly Mursalin** dianggap dapat mewakili prioritas kebutuhan AQUA Lestari akan identitas barunya. Menurut Danton Sihombing, rancangan Arly dinilai memiliki “liquid factor” yang tinggi; di mana kelestarian (sustainability) sebagai salah satu kata kunci AQUA Lestari hadir dalam karya tersebut ketika rancangan lainnya cenderung memberikan framing pada perjalanan kelestarian yang mereka konsepkan. Dalam konteks ini, karya Arly dinilai memiliki potensi untuk suatu proses perjalanan (journey) yang lebih tinggi; ia tak mengungkung konsep-konsep dasar AQUA Lestari dalam logo yang deskriptif dan harafiah. Hal ini juga sejalan dengan Sonny Sukeda yang mengungkapkan bahwa rancangan Arly dapat memposisikan identitas AQUA Lestari dalam suatu proses transisi dari nilai-nilai yang lebih dulu dimiliki oleh AQUA. Rancangan Arly dianggap dapat menempatkan nilai-nilai AQUA Lestari sebagai added values tanpa serta-merta melepaskan diri dari AQUA atau bahkan menjadi superior atasnya.

Sementara itu, pertimbangan terpilihnya karya Astari Wisesa sebagai karya dengan pencapaian khusus didasari pada gagasan besar yang mendasari perancangan logonya yang dapat bercerita dengan sudut pandang yang unik dan identik. Namun, eksekusi visual Astari tersebut dinilai kurang dapat memberikan transisi nilai-nilai. Kecenderungannya untuk menarik atensi publik dipertimbangkan memiliki “resiko” berupa lompatan kebaruan yang terlampau jauh dari AQUA. Di sisi lain, dinilai juga belum adanya kesiapan audiens terhadap visual yang dieksekusi oleh Astari tersebut.

AL3-07

AL3-08

AL3-09

AL3-10

AL3-11

AL3-12

AL3-13

AL3-14

AL3-15

AL3-16

Quoted

“Imajinasi yang liar lebih kuat dari lirik yang sok mau jelas.”

Slamet A. Sjukur