Home > Read > News >
Menyambut Warisan 5 Desainer

Liputan Peluncuran Buku “Warisan 5 Desainer”

Desain grafis di Indonesia muncul bukan dengan simsalabim. Ada upaya dan semangat yang dibangun oleh para pelopornya hingga ia bisa bertumbuh. Lebih dari itu, praktik desain grafis itu juga bukan serta-merta muncul tanpa peranan pribadi yang inspiratif di dalamnya. Namun, tanpa catatan, perjalanan itu hanya akan lenyap dimakan waktu yang memburu dan ingatan yang tak sabaran; hingga alpalah inspirasi dan pelajaran yang tersisa untuk dijadikan panutan.

Penghujung 2014 hingga jelang tengah tahun 2015 menjadi periode dirundungnya desain grafis Indonesia dengan duka yang berturut. Ketika desain grafis di Indonesia memasuki dekadenya yang kian semarak, tiga maestro desain grafis Indonesia harus berpulang: Priyanto Sunarto (September 2014), Yongky Safanayong (Maret 2015), dan Irvan Noe’man (April 2015); menyusul kepergian dua maestro yang telah pamit lebih dulu, Tjahjono Abdi (Februari 2005) dan Syahrinur Prinka (Desember 2004). Yang ditinggalkan bukan cuma keluarga dan rekanan. Duka itu membaluti pula kenyataan: generasi desain grafis muda sebagai pemegang estafet perjalanan desain grafis Indonesia tak memiliki kesempatan untuk berjumpa dan berguru dengan kelima orang itu.

Jumat, 27 November 2015, khasanah literasi dan pencatatan desain grafis Indonesia pun diperkaya dengan diluncurkannya “Warisan 5 Desainer”. Disusun oleh Danton Sihombing bersama Red and White Publishing, buku ini memuat catatan—baik dalam variasi format tulisan hingga goresan—mengenai 5 orang desainer yang memegang peranan penting dalam perjalan desain grafis Indonesia dan telah berpulang: Tjahjono Abdi, S. Prinka, Priyanto Sunarto, Yongky Safanayong, dan Irvan Noe’man. Dalam porsinya masing-masing, kelima tokoh itu memegang peranan penting dalam perjalanan desain grafis Indonesia. Kelimanya turut berperan dalam pembentukan pondasi-pondasi awal profesi dan pendidikan desain grafis Indonesia.

Hadir sebagai sebuah memoar-kolektif yang diisi oleh 29 kontributor, buku ini mengambil upaya yang cukup unik untuk merawat sejarah desain grafis: dengan meletakkan para subyek pelaku sebagai pivotnya. Alih-alih berisikan portfolio, buku ini mendekatkan pembaca untuk mengenali para desainer dari cara berpikir, etos kerja, hingga tingkah laku kebiasaannya yang personal lewat catatan dari orang-orang terdekat almarhum: keluarga, rekan, sahabat, hingga muridnya. Tanpa format kontribusi yang ketat, buku ini pun begitu bernyawa dengan dinamika yang organik di masing-masing tulisan.

Sejumlah kontributor turut hadir sebagai narasumber dalam sesi dialog yang diselenggarakan dalam peluncuran di Gedung Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta, Cikini, sore itu. Begitu lekat setiap cerita kedekatan dan inspirasi yang dihadirkan oleh para desainer yang tak sempat ditemui oleh para desainer muda Indonesia. “Saya enggak boleh manggil dia ‘Pak’, harus ‘Mas’. Lain waktu, saya pernah dikirimi sebutir pasir, lengkap dengan cerita dan sejarah pasir itu!” kisah Tatang Ramadhan Bouqie tentang alm. Priyanto Sunarto yang dikenal supel dan jahil.

 

warisan5desainerbuku-04

warisan5desainerbuku-03

 

Tulisan-tulisan di dalamnya yang begitu personal itulah yang diakui oleh Danton Sihombing membuat penyusunan buku ini tak terbilang mudah. “Karena kedekatan saya dengan kelima orang ini, ada emosi yang terus menaungi saya setiap menyusun dan mendesain hingga prosesnya menjadi lamban,” paparnya. Bahkan ketika Zinnia Nizar-Sompie yang hanya mengenal sebentar sosok Irvan Noe’man, mengaku turut dibawa pula dalam kedekatan nan personal itu. Hal ini pula yang menjadi pertimbangan eksekusi desain buku yang sederhana namun elegan. Solusi desain yang sederhana, diakui Zinnia, dimaksudkan agar kehadiran desain tidak melampaui kekuatan tulisan di dalamnya.

“Warisan 5 Desainer” menjadi buku yang menarik untuk menengok kembali perjalanan desain grafis yang kini konteksnya hanya menyempit pada wilayah ekonomis dan pragmatis. Pendekatan penulisan memoar-kolektif buku “Warisan 5 Desainer” telah menempatkan kembali desain grafis sebagai kerja yang humanis: yang berorientasi pada manusia, oleh manusia dengan segenap akal dan budinya yang penuh, dan untuk manusia itu sendiri.

“Mereka ini adalah pribadi yang unggul. Mereka melahirkan norma-norma. Kalau hanya sebatas karya, tidak akan unggul. Kita harus melihat, muncul dari pribadi macam apa karya ini? Mereka ini melahirkan dampak sosial yang besar, itu yang paling penting. Mereka juga melahirkan desainer-desainer yang kemudian jadi guru dari desainer berikutnya. Itu hebatnya. Norma-norma inilah yang harus menjadi teladan. [Nilai-nilai] ini yang abadi,” papar Danton Sihombing.

Ayip Budiman, misalnya, mengatakan bahwa dalam penulisan memoarnya untuk Alm. Irvan Noe’man, yang menjadi tantangan adalah bagaimana menghadirkan pemikiran Irvan Noe’man agar relevan dengan kehidupan desainer. Menurutnya, banyak hal yang secara mendalam di dalam perjalanan kelima tokoh ini harus diketahui oleh desainer muda terutama hal-hal yang bersifat filsafat yang memperkaya desain. “Hal inilah yang menjadi penting, sehingga buku ini bukan sekadar memoar, namun ia hadir lebih jauh sebagai sebuah legacy. Pencapaian yang dilakukan pada masa desain itu hadir dan diperbandingkan dengan tuntutan zaman [sekarang] ini tentu beda, tapi semangatnya bisa jadi pijakan.”

 

warisan5desainerbuku-02

warisan5desainerbuku-01

 

Lebih dari itu, Guntur Santoso (Paperina, Red&White, dan FGDForum, sekaligus kawan dari kelima desainer tersebut) melihat bahwa buku ini menjadi menyodorkan semangat yang kian luntur di saat sekarang ini: semangat kebersamaan antardesainer. Menurutnya, dewasa ini semangat itu telah luntur di antara desainer grafis seiring himpitan ekonomi dan dikedepankannya sisi pragmatis desain grafis. “Saya kira, ini yang saya lihat dari buku ini: keinginan dan spirit 5 desainer almarhum yang luar biasa berjasa, tapi toh bisa hidup rukun. Mungkin saya agak sedikit bias karena sejak Paperina berdiri sudah berkolaborasi dengan beliau-beliau ini. Beliau-beliau ini sangat peduli pada desain grafis. Dalam kapasitasnya sendiri selalu berusaha memberikan yang lebih pada desain grafis. Warisan mereka adalah: dengan kesederhanaan, kepatutan, dan profesional tetap berkolaborasi dengan siapa pun, tidak ngotot-ngototan soal proyek dibanding zaman sekarang. Dalam sejarah desain grafis, mereka punya jejak yang signifikan,” ujarnya.

Arief Adityawan, pengajar Desain Komunikasi Visual dan penggagas Grafisosial memandang bahwa buku ini menjadi pengingat bahwa, “Membuat dokumentasi sejarah desain grafis itu kerjaan besar yang harus gotong royong dan tidak mungkin dilakukan perorangan atau per lembaga. [Buku ini] mungkin berisi persepsi personal yang nantinya dapat diulas lebih obyektif dan kritis lagi: bahwa setiap desainer punya kelebihan dan kekurangan. Tapi, sebagai langkah awal sesubyektif apapun, penting untuk mencatat kenangan-kenangan positif daripada hilang lenyap. Misalnya saja, Pak Raden yang tak sempat kita catat sama sekali. Ini kerja yang berat.”

Buku yang memperkaya koleksi buku desain grafis ini akan turut melengkapi upaya pencatatan sejarah desain grafis Indonesia. “Warisan 5 Desainer” menyodorkan wawasan lebih luas mengenai desain grafis yang tak cukup hanya skill, namun juga sikap diri dan cara pandang serta wawasan. Guntur Santoso mengharapkan para desainer dapat memiliki lebih banyak percaya diri untuk menerbitkan buku dan memperkaya khasanah literasi desain grafis Indonesia yang terbilang langka. “Setelah ini, akan ada buku DGI [Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia]. Selanjutnya, kita mendorong lebih banyak teman-teman desainer grafis untuk ambil bagian.”

(***)

 


 

Warisan5Desainer_03

Warisan5Desainer_01

Warisan5Desainer_04

Warisan5Desainer_02

Warisan5Desainer_05

Warisan5Desainer_22

Warisan5Desainer_21

Warisan5Desainer_20

Warisan5Desainer_19

Warisan5Desainer_18

Warisan5Desainer_17

Warisan5Desainer_16

Warisan5Desainer_15

Warisan5Desainer_14

Warisan5Desainer_13

Warisan5Desainer_12

Warisan5Desainer_11

Warisan5Desainer_10

Warisan5Desainer_09

Warisan5Desainer_08

Warisan5Desainer_07

Warisan5Desainer_06

Warisan5Desainer_22

Warisan5Desainer_25

 


 

Liputan: Desain Grafis Indonesia/Ellena Ekarahendy
Dokumentasi: Desain Grafis Indonesia/Rizal B. Ramadhan

Quoted

Sekolah membuat desainer menjadi pintar, bekerja membuat desainer menjadi paham, pengalaman panjang membuat desainer menjadi arif

Danton Sihombing