Era Digital dan Masalahnya

Sambutan pada Seminar Grafis Digital di FDKV-Widyatama
4 November 2002

Selamat Pagi, Bapak, Ibu dan teman-teman semua. Bahagia kita bisa bertemu di tempat ini. Apalagi bahasan hari ini adalah sesuatu yang jadi perhatian kita bersama, desain grafis dan grafika, yang pada pertemuan kali ini difokuskan pada menyikapi teknologi digital.

Dunia grafika memang berkembang pesat sekali terutama sejak tahun 1990an, komputerisasi terpadu. Sebagai gambaran, pengalaman pertama berkenalan dengan dunia grafika saya dapat di Gita Karya (d/h G.Kolf) tahun1962 dengan mesin cetak letterpress. Acuan huruf dan gambar semua masih menggunakan timah. Sampai tahun 1972 pun mesin offset belum populer di Indonesia. Pilihan huruf dalam tugas akhir saya menggunakan proof huruf timah dari mesin Linotype.

Masa itu menentukan warna merupakan hal yang paling muskil yaitu secara manual, atau menurut istilah Pak Herman Pratomo: manajemen mata. Adalah hal biasa melihat puluhan rim (plano) cetak (packaging) gagal. Saya masih ingat cetakan bungkus rokok Comodore dirajang untuk jadi pengganjal karena warnanya tak sesuai.

Proses kerja karya desain grafis memang panjang dan melewati tangan banyak orang dan kelompok: dari perancang, tukang gambar, ke huruf dan klise timah, pemisahan warna, opmaker pada acuan cetak, pencampur warna hingga proses mencetak. Situasi era letterpress sulit dibayangkan bagi masyarakat grafis masa kini. Sejak tahun 1990 semua kerumitan kerja sudah dikompres dalam satu kotak: komputerisasi terpadu. Dan ini revolusi besar dalam desain grafis dan grafika. Wilayah kerja desain, artwork, prepress dan printing dirampingkan melalui bahasa digital.

Kita menganggap dengan demikian semua masalah teratasi, ternyata belum. Proses dan prosedur kerja mungkin jadi lebih sederhana. Di bagian hulu, kemungkinan perancang mengembangkan desain jadi nyaris tak terbatas. Di bagian hilir kemungkinan cetak pun makin luas, baik kemampuan teknologi, kemungkinan warna dan pilihan kertas / surface. Tapi tetap saja ada area yang kritis: antara gambar ataupun file kerja dengan hasil cetak konon selalu jadi biang pertengkaran. Pada grey area inilah dibutuhkan pengertian dan kesepakatan dari para pendukung dunia grafika. Menurut hemat saya, itulah dasar dari terbentuknya Forum Grafis Digital.

Forum Grafis Digital dicanangkan via mailist April yang lalu meski pendukungnya sudah bergaul sejak lama sebagai sesama profesional. Beberapa tokoh yang hadir disini sudah berbagi ilmu dengan mahasiswa desain grafis sejak lama sekali. Bulan Juli lalu forum ini sukses menyelenggarakan Seminar tentang digital proof pada kertas koran, topik yang selalu jadi masalah di masyarakat desain, pers dan grafika. Dari sukses itulah saya beranikan diri jadi salah satu provokator ke FGD untuk berbagi pengetahuan dengan dunia pendidikan. Terjadilah acara besar yang diadakan dua hari ini: Digital on Graphic.

Kepentingan hubungan mahasiswa dengan profesionals tentu saja sangat jelas. Dalam waktu 3 – 5 tahun mahasiswa pun akan jadi profesional muda di lapangan pekerjaan. Bekal pengetahuan aktual mengenai perkembangan bahan dan teknologi grafika memudahkan mereka menyesuaikan diri dengan perkembangan mutakhir. Dan kembali ke misi FGD, melalui seminar ini peserta diingatkan selalu tentang masalah hulu – hilir dalam desain, agar lingkaran saling menyalahkan dalam pelaksanaan kerja grafika bisa dikurangi.

Hal ini tentu tak bisa dilakukan hanya dengan sekali pukul. Secara berkelanjutan seminar, diskusi dan tukar pengetahuan perlu selalu diikhtiarkan, agar terjadi sinergi dalam industri desain grafis dan grafika di Indonesia. Dalam peta demikianlah acara kali ini diselenggarakan, menjalin hubungan kerjasama yang baik antara pendidikan, profesional dan industri. Harapan saya seminar ini bermanfaat bagi kita semua, dan bagi perkembangan dunia desain grafis dan industri grafika, amin…


Dari kumpulan tulisan Dr. Priyanto Sunarto (Head of Doctoral Programs Visual Arts and Design-Faculty of Art and Design “Institut Teknologi Bandung”). Ditulis tahun 2002.

Quoted

“Keberhasilan merancang logo banyak dikaitkan sebagai misteri, intuisi, bakat alami, “hoki” bahkan wangsit hingga fengshui. Tetapi saya pribadi percaya campur tangan Tuhan dalam pekerjaan tangan kita sebagai desainer adalah misteri yang layak menjadi renungan.”

Henricus Kusbiantoro