Iklan Hari Ini:
Kreativitas Nina Bobok

Pengaruh siaran iklan terlampau kuat dalam proses pembentukan kualitas kebudayaan. Sayangnya, yang terjadi justru iklan-iklan buruk mendominasi jam dan ruang tayang media massa. Mayoritas menyuguhkan nalar menuju aktivitas konsumsi. Sedikit iklan yang mampu membuka kesadaran pembaca dan pemirsanya mengenai permasalahan kehidupan yang pasti tidak akan ada habisnya sampai akhir jaman. Meski bukan sebagai penyebab tunggal, tayangan iklan-iklan buruk berkontribusi terhadap disharmoni sosial yang jamak terjadi. Puncaknya pada tabiat kekerasan dalam makna primitif sekalipun akibat dari tekanan stres yang menghampiri setiap orang yang dikejar deadline konsumsi.

 

GERAKAN TIDUR NASIONAL

Interaksi antar individu tidak lagi terjalin secara mendalam. Pembicaraan akrab tatap muka digantikan dengan kalimat-kalimat bahasa mesin pengirim pesan pendek. Masyarakat salah paham menjadi-jadi. Intoleransi menjalar ke mana-mana. Tempat tinggal manusia semakin tidak karuan. Hijaunya desa dijajah ekspansi pemukiman elit yang semakin hari terus meningkat permintaannya. Lumbung pangan terancam bubar jalan. Kota bertambah sesak oleh bangunan dan kendaraan. Kaum miskin tidak mampu menjangkau kenikmatan menawan di media-media iklan dan etalase pusat perbelanjaan.

Kerusakan tatanan sosial menggugah kesadaran orang-orang bernaluri. Gagasan tentang kesadaran lingkungan dan pertanggungjawaban sosial menjadi gaya hidup harapan. Merek-merek mendadak menjadi moralis, juga dermawan. Aktivitas konsumsi direkayasa sedemikian rupa sehingga nampak memiliki nilai tambah bagi perbaikan kehidupan. Namun permasalahan-permasalahan yang diangkat tidak terlalu sensitif dihadapan kepentingan publik. Kebajikan budi hanya menjadi perilaku rubuh-rubuh gedhang, bukan karena dorongan kesadaran sepenuhnya.

Iklan menjalankan fungsinya secara ambivalen. Informasi yang tersaji didominasi kepentingan pemodal. Padahal, perancang iklan sebagai komunikator berkewajiban melayani kebutuhan informasi untuk seluruh golongan masyarakat. Tugas tersebut hanya dapat dijalankan apabila para kreator iklan dan pengiklan menempatkan pesan-pesan moral. Tegaknya nilai-nilai moral merupakan keinginan naluriah setiap individu di dalam iklan-iklan institusional. Sementara pada penyelenggaraan iklan-iklan taktis, penyampaian informasi tentang manfaat produk dan jasa dilakukan tanpa dramatisasi berlebihan sehingga otentisitas performa produk dan jasa terjaga.

 

PENGERDILAN AKAL

Iklan terus mempertajam taring. Orang-orang di balik layar semakin handal merancang pesan hingga calon konsumen tidak sadar bahwa mereka sedang digiring untuk meyakini bermacam-macam rayuan penjualan yang belum tentu baik dan benar. Media yang digunakan oleh pengiklan menjangkau setiap celah kehidupan. Iklan tidak menyisakan ruang bagi orang-orang untuk berfikir mendalam melampaui batas materi menuju sisi moralitas bahkan spiritual.

Amartya Sen menggambarkan carut-marut peradaban yang terjadi di dunia ini akibat dari illusi identitas. Para komunikator misalnya dalam menjalankan tugas profesional sering kali melupakan jati diri mereka sebagai bagian dari keluarga besar bumi yang berinteraksi dalam banyak urusan di mana melekat pula kewajiban-kewajiban lain yang bukan hanya urusan sensasi, headline, bentuk, dan warna. Mereka juga bagian dari banyak afiliasi di lingkup lingkungan sosial yang lebih luas. Illusi identitas akan lenyap ketika seluruh tindakan manusia, termasuk para komunikator dijiwai nilai-nilai moral, bukan berisi tentang pengejaran kesejahteraan dalam makna sempit.

Hilangnya sikap tanggung jawab pada diri para kreator iklan dan para pemodal merembet pada kekacauan tata nilai. Kreativitas di bawah illusi identitas hanya menciptakan kebudayaan seragam, masyarakat miskin permenungan, para pengejar dan pemuja kefanaan.

 

MENAKAR KREATIVITAS IDEAL

Oliviero Toscani mengungkapkan bahwa kreativitas di dalam karya komunikasi visual tidak dilahirkan dari dalam perwujudannya sebagai bentuk, dan warna. Kreativitas lahir dari kemampuan kreator mewujudkan karyanya sebagai hasil penghayatan terhadap permasalahan-permasalahan mendasar di sekitarnya. Permasalahan mendasar adalah segala sesuatu yang menyebabkan matinya nilai-nilai moral.

Festival iklan dan desain hanya akan menjadi kompetisi kreativitas yang tidak serius tanpa adanya upaya menakar potensi kekuatan moral pada setiap gagasan di dalam karya-karya yang dikompetisikan.

Kreativitas hanya mucul ketika kepentingan penjualan tidak lagi dibebankan kepada perancang iklan oleh pemodal yang membayar mereka. Perancang iklan dapat insyaf melalui usaha mengabarkan pesan-pesan yang mampu mengantarkan setiap orang menuju kesadaran atas eksistensinya ditengah rumitnya permasalahan kehidupan. Hah! Melahirkan kreativitas itu rumit. “There is no commercial or non-commercial design. Only good or bad design“, kata Oliviero Toscani. Kemudian dia menambahkan, “Everything that is easy is stupid.“***

Quoted

“Seorang desainer harus memiliki keberpihakan pada konteks membangun manusia Indonesia. Peka, tanggap, berwawasan, komunikatif adalah modal menjadikan desainnya sebagai alat perubahan”

Arif 'Ayib' Budiman