Menghadirkan Komik Sebagai Dunia Komik Itu Sendiri

Setelah tahun 80-an, kurun yang dianggap sebagai masa surutnya perkembangan komik Indonesia, komik Jogja ditengarai justru mengalami geliatnya kembali. Namun geraknya dapat dilihat sebagai sebuah patahan perkembangan terhadap praktek dan persoalan dunia komik itu sendiri.

Komik-komik tersebut hadir lebih menitik-beratkan pada penemuan strategi estetik guna melakukan praktek oposisi terhadap kecenderungan estetika dominan dan dianggap telah mengalami stagnasi dalam wacana seni rupanya. Kecenderungan ini semakin menguat seiring momentum provokatif dari isu seni rupa internasional yang telah sekian lama mengarah pada dorongan semangat perombakan narasi-narasi besar seni rupa modern.

Seperti diketahui, deretan narasi besar modernisme berpondasi pada semangat avant-garde, di mana kebaruan yang dimutlakkan harus muncul sebagai ‘shock of the new’, sehingga menghasilkan keunikan pada capaian estetiknya. Capaian yang menjadikan seorang perupa sebagai jenius dan didampuk ketingkatan maestro. Serangkaian proses yang menjadi prasyarat wacana progress modernis ini, dalam catatan Charles Jenck mengalami kerontokan total sejak tahun 60-an, di mana ungkapan Seni Pop menguat. Seni Pop yang kemunculannya tidak bisa dilepaskan dari berkembangnya media massa dan komoditi massa melahirkan budaya populer di mana komik sebagai salah satu instrumen produknya.

Dalam budaya ini, kebaruan telah disekulerisasi sehingga memudarkan norma-norma seni rupa modern. Sebuah potensi wacana media rupa yang dimanfaatkan banyak perupa yang bertujuan hendak menyempal dari arus sejarah linear seni rupa.

Maka, kemunculan komik Jogja di awal tahun 90-an pun diidentikkan dengan lebel estetik alternatif dalam dunia seni rupa pada setiap usaha identifikasinya. Bahkan teknis proses produksinya, yang dalam kejamakan wacana seni rupa dapat dijadikan sebagai pondasi penyebutan eksistensialnya pun bermunculan. Mulai dari istilah “xerox art” sampai “copy art”.

Kecenderungan ini, misalnya kental dilakukan kelompok Apotik Komik. Kelompok hasil evolusi Core Comic yang muncul di tahun 1995 tersebut kerap memanfaatkan media ucap komik sebagai gagasan praktek seni rupa di ruang publik. Gagasan ini menyasar praktek seni rupa yang petanya dianggap masih menggambarkan proses kreatif yang eksklusif, baik secara isu maupun bentuk proses apresiasinya. Begitu pula dengan komik Daging Tumbuh yang volume pertamanya terbit di bulan Juni 2000, kembali memposisikan komik sebagai alat ekspresi individu untuk kepentingan segmentasi wacana seni rupa. Para perupa distimulus untuk berkarya di wilayah media populer dengan tidak meninggalkan semangat estetik yang selama ini dikerjakannya.

Jadi, dapat dilihat, jika geliat perkomikan yang terjadi bisa diistilahkan sebagai jauh api dari panggang persoalan komik. Komik hadir bukan sebagai komik itu sendiri. Komik ada sebagai media cangkokan bagi tumbuhnya kecenderungan seni rupa yang diharapkan menghasilkan kemungkinan gegar tafsir seni rupa yang sesuai dengan perkembangan paradigma estetika yang sedang terjadi.
Condongnya praktek kerja komik yang justru berorientasi terhadap bukan dunia komik itu sendiri, seperti paparan dua contoh di atas, menempatkan komik sebagai bagian budaya populer yang tidak populer lagi. Bentuk komunikasinya menjadi sangat individual, susah dimengerti publik, bahkan berakhir dengan pengosongan sifat dasar komunikatif pada dunia komik. Pendeknya, praktek tersebut membekukan komik menjadi sekedar tawaran wacana dalam kepentingan penonjolan jenis medianya semata. Dampak situasi penciptaan komik ini berlanjut pada sifat produksinya yang berumur pendek. Terutama ketika target pendobrakan wacana seni rupanya dianggap sudah berhasil.

Tidaklah mengherankan jika dalam situasi seperti ini sulit untuk mengharapkan terobosan bagi persoalan yang dialami dunia komik itu sendiri. Jikapun diskusi-diskusi dimunculkan, perbincangan biasanya akan berakhir pada dua topik persoalan yang semakin nostalgik; bahwa tahun 70-an komik Indonesia pernah mengalami masa keemasan, bahwa komik Indonesia disesaki oleh komik terjemahan terutama yang berasal dari Jepang.

Berputar-putarnya isu perbincangan dalam dunia komik tersebut, mengiringnya pada situasi yang tidak produktif, klise, dan dapat ditengarai sebagai penanda telah terjadinya situasi buntu.
Oleh karenanya, penting kiranya membuka kembali kemungkinan perkembangan komik dengan mengembalikan komik sebagai media komik itu sendiri. Memberi peluang kepada perbincangan komik Jogja untuk berkembang sebagai budaya populer seutuhnya, bukan lagi sekedar alat pertarungan wacana dalam dunia seni rupa semata.

Sebagai bahasa, komik mempunyai tata bahasa sendiri, tempat gagasan-gagasan diterjemahkan secara verbal dan visual sekaligus, sebagai suatu permainan antara gambar dan kata-kata yang kemudian menjadi bahasa visual. Bahasa visualnya dikontruksi dalam tata ruang dan waktu yang hanya dapat dicapai dalam media komik. Pencapaian khusus ini dengan cara penggunaan persfektif, sudut pandang, panel, balon kata, dan narasi yang mampu mengungkapkan dunia manusia, dalam realitas maupun imajinasi yang dikenal dalam pengalaman pembaca. Lewat pengenalan itulah pembaca komik dapat berpartisipasi secara emosional dan intelektual untuk memasuki pengalaman yang halus sampai yang rumit. Guna mengoptimalkan semua perangkat tata bahasa komik tersebut, penting kiranya kebutuhan akan distribusi pengetahuan terhadap teori-teori yang membangun dunia komik itu sendiri hingga menjadi adanya seperti sekarang. Mungkin pemikiran dunia komik Will Eisner sebagai seni bertutur secara berurutan dalam buku Comics & Cequential Art-nya atau usaha menggali jawaban atas pertanyaan: apakah komik itu sebenarnya dari Scot McCloud dalam buku Understanding Comics-nya dapat dijadikan bahan awal yang menarik.

Pada capaian pembacaan situasional komik Jogja di atas, kiranya dapat dirasakan nilai pentingnya menghadirkan presentasi Komik Kampung yang dikerjakan mahasiswa DKV FSR ISI Jogjakarta ini. Di luar capaian mutunya yang terbuka untuk kita perdebatan kembali, ada proses kerja komik yang menghadirkan kembali dunia komik sebagai komik itu sendiri. Sebuah awal sederhana tapi signifikan bagi upaya membongkar potensi perkembangan dunia komik ke depannya.

 


Muhammad Yusuf Siregar
Anggota Koordinator Program Ruang Kelas SD
Fakultas Seni Rupa
Institus Seni Indonesia Yogyakarta

Quoted

Ketika dari mata tak turun ke hati, desain pun gagal total

Bambang Widodo