Selamat Natal

Merayakan yang lahir juga mengingat yang wafat, dari biji hingga limpah-berbuah melalui yang musnah. Tulisan kali ini, yaitu “Ziarah Kata”, ditulis oleh Cak Udin (Kanjeng Tok). Beliau teman saya di dunia perbukuan (salah satunya peristiwa “Bundakata Buku Gotong Royong”, selain aktif di pameran buku dengan pasukan book ranger). Kali ini saya buat ilustrasi bergerak “Ziarah Kata”[i] dan rupanya Cak Udin menulis untuk ilustrasi-ilustrasi tersebut. Semoga kiriman ini bermanfaat bagi keluarga besar DGI-Indonesia dan dunia literasi di dalamnya. Hari esok lebih baik. Salam untuk DKV Indonesia.

ZIARAH KATA

ziarah-kata_dgi-560x435

Ilustrasi dengan caption ‘Ziarah Kata’ mengingatkan saya pada dua kata sifat, membaca dan menulis. Tuhan mensiratkan atas pentingnya membaca dan menulis. Bukankah kehadiran surat Al-Alaq, Al -Qalam adalah simbol akan pentingnya ilmu pengetahuan (membaca dan menulis), Al-Alaq simbol pentingnya membaca dan menulis sedangkan al-Qalam adalah pentingnya transformasi ilmu melalui proses wasilah (jembatan) menulis. Hal ini dapat kita lihat dari peristiwa turunya Al Quran pertama kali di goa hiro, ayat yang pertama turun: bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu lah yang Maha Pemurah. Yang maha Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (lihat QS: AL-Alaq 96-1). Kita diajarkan untuk membaca, baik yang tersurat maupun tersirat, dan dapat mentransformasikan kedalam sebuah bentuk tulisan. Selaras dengan ayat tersebut, seorang filsuf Syaikh Imam -Al Ghozali berkata, “Kalau engkau bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis“.

Membaca dan menulis bagai dua sisi mata uang. Secara etimologi ‘Ziarah Kata’ terdiri dari dua kata yaitu ziarah yang berarti pergi/berkunjung, dan kata artinya ungkapan. ‘Ziarah Kata’ mensiratkan banyak hal. Apa yang hendak disampaikan oleh ilustrasi bertuliskan ‘Ziarah Kata’? Berapa banyak kata tersusun menjadi kalimat berisi refrensi keilmuan, melahirkan agamawan, ilmuwan, budayawan? Pernakah kita memperhatikan hal tersebut? Berapa banyak pembacanya?. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu pantaskah terlontar?

Seiring dengan pentingnya ilmu pengetahuan (menulis), pada sebuah buku yang ditulis oleh Gus Zainal Arifin Thoha pendiri Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asya’ri, Yogjakarta. Ada kutipan Puisi yang inspiratif.[ii]

Dengan menulis aku ada
Dengan menulis aku hidup
Dengan menulis aku membaca
Dengan menulis aku dibaca
Dengan menulis aku mengetahui
Dengan menulis aku diketahui
Dengan menulis aku mengerti
Dengan menulis aku dimengerti
Dengan menulis aku menghargai
Dengan menulis aku dihargai
Dengan menulis aku berubah
Dengan menulis aku merubah
Dengan menulis aku beribadah
Dengan menulis aku berdakwah
Dengan menulis aku bersaudara
Dengan menulis aku mengabdi
Dengan menulis aku mengabdi

‘Ziarah Kata’ seolah-olah mengajak kita semua untuk menengok kembali pentingnya arti ilmu pengetahuan (membaca dan menulis) yang terangkum dalam bentuk buku, bukan hanya dari sudut pandang penulis, sebagai garda terdepan perawat keberlangsungan dunia literasi namun kacamata pembaca menjadi faktor penting. Dengan kata lain ketika ada penulis, di situ akan tersedia pembaca. Iustrasi bayang (kursi/ dipan) dengan kolong berwarna hitam (gelap) dan buku berdiri seolah menegaskan hubungan sebuah tulisan dengan pembaca. Tidak perlu memikirkan siapa yang akan membaca karya tulis, menulislah maka dengan sendirinya akan menghadirkan pembaca. “Kita tidak perlu bersusah payah membuat kolong (pembaca) buatlah bayang/dipan (menulis), maka secara otomatis kolong (ruang di bawah dipan) akan tersedia“, atau bisa jadi berlaku sebaliknya, tergantung dari mana kita melihatnya. “Sejalan dengan analogi bayang (dipan) dan kolongnya, kita melihat ada buku yang berdiri dengan bayangan hitam di bawanya pula. Merupakan simbol yang memberikan penjelasan akan pentingnya makna membaca. Ketika kita membaca sebuah buku maka seiring dengan aktivitas membaca itu, ilmu pengetahuan akan didapat dengan sendirinya.” Gambaran inilah yang terbayang oleh saya, setidaknya mencoba untuk menafsirkan apa yang terlihat dari sudut pandang saya.

Dalam perspektif lain, jika dilihat dari nilai-nilai ajaran agama (Islam, Katolik, Hindu, Budha, dll) dan tradisi budaya masyarakat “jawa” ziarah merupakan sebuah ajaran untuk ngalap berkah (mencari nilai kemanfaatan) dengan mengunjungi tempat-tempat yang dianggap keramat, atau mempunyai nilai sejarah tinggi atas kejadian sebuah peristiwa penting yang bisa merubah sebuah peradaban jaman. Dalam keyakinan ajaran agama dan tradisi budaya masyarakat Jawa ziarah bukan hanya sekedar kata, namun sudah menjadi nafas bagi setiap manusia yang meyakini ajaran tersebut. Tradisi ziarah adalah media bagi setiap manusia untuk olah rasa spiritual, ngalap berkah dalam rangka mengambil hikmah/pelajaran, berdoa, atau sekedar bernostalgia guna lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Mengunjungi tempat-tempat yang “dianggap” keramat, atau mempunyai nilai sejarah tinggi atas terjadinya sebuah peristiwa penting. Bagaimana jika ada yang menafsirkan ziarah kata “matinya sebuah tulisan“? Boleh jadi jika kita tafsirkan bebas secara harfiah maka, tidak akan salah juga ketika muncul asumsi matinya kata (buku) yang perlu untuk dikunjung, didoakan, bahkan diperbaiki tempat peristirahatannya. Bagi saya kata tak pernah mati, mungkin saat ini ia sedang lelah dan mengistirahatkan dirinya, atau bertapa untuk menunggu kesempatan keluar dengan sesuatu yang dahsyat! Apapun penafsiranya yang terpenting bisa memberikan dampak positif bagi keberlangsungan dunia literasi (buku).

Kata tersusun apik dalam balutan kalimat menjadi lembaran naskah dan terkodifikasi menjadi sesuatu yang “keramatpun mempunyai nilai-nilai keberkahan, spiritual, pengetahuan, pencerahan dll. Menurut keyakinan saya, kata, serupa mata air, menjadi sumber yang darinya menghidupkan pemikiran, penciptaan, serta cahaya bagi manusia. bukanlah sesuatu yang mudah dalam menciptakan karya tulis yang bermanfaat. Menulis itu berpikir. Berpikir artinya bernalar, bernalar artinya berbahasa secara cermat. Buah pemikiran yang dituangkan melalui kata-kata bukanlah sesuatu yang serta merta muncul adanya, banyak hal yang menginspirasi: potret kehidupan sosial, politik, seni budaya, agama, ekonomi, alam misal, hingga melahirkan karya tulis yang dapat menumbuhkan ulang rasa humanitas yang semakin terkikis. Bukankah karya punya tugas sosial kemasyarakatan itu? Atau memang tidak sama sekali?

Kata Budi Darma penulis itu seorang rhapsodist! Rhapsodist ialah seorang (sastrawan) yang memiliki pemikiran cemerlang dan mampu mengungkapkanya secara cemerlang pula. Konon sastrawan (penyair) dianalogikan dengan “nabi“, mereka adalah simbol peradaban. Seorang Rhapsodist, para pembaca simbol Tuhan. (lihat Prof. Sutejo Inspiring Writer “Rahasia sukses para penulis, Inspirasi untuk calon penulis”: prolog bergulat denganpara nabimemetik inspirasi) mereka dapat memberikan pencerahan melalui karya tulisnya, tak terbatas ruang dan waktu, tak akan lekang termakan jaman, penerus Risalah keTuhanan, dan turut merawat peradaban.

Maka sangatlah wajar jika kata juga perlu di Ziarahi, sebuah syair arab berbunyi “Al qaoulu duatun” (kata adalah doa) sebuah pengharapan seorang hamba kepada Sang pencipta, atas segala permasalahan yang dihadapi, bentuk penghambaan (spiritual). Kata pun dapat menentukan selamat dan tidaknya manusia dalam menjalani interaksi sosial, tergambar dalam sebuah pepatah yang berbunyi “mulutmu harimaumu“. Jika kata terucap melalui lisan dapat memberikan efek negatif dan positif yang sangat besar dalam melakoni interaksi sosial, lalu bagaimana dengan kata yang terangkum dalam sebuah buku? Tercatat dalam sejarah perjalanan dunia, kitab (buku) suci, dapat merubah berbagai akhlak (perilaku) manusia, pemikiran, adat istiadat, budaya yang kurang memanusiakan manusia. Entah hanya sebuah kebetulan atau memang sudah menjadi skenario besar Tuhan untuk memberikan/menyampaikan pembelajaran kepada manusia melalui kitab suci-Nya?

Ketika ajaran agama, tradisi budaya mempercayai ziarah ke tempat-tempat keramat dapat membantu mereka untuk menjernihkan pikiran, hati, serta lebih mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta. ‘Ziarah Kata’ pun mengingatkan kita kembali akan pentingnya arti menulis dan membaca sebagai perawat , penjaga, serta pencerah peradaban.

Dengan membaca aku ada
Dengan membaca aku hidup
Dengan membaca aku menulis
Dengan membaca aku dibaca
Dengan membaca aku mengetahui
Dengan membaca aku diketahui
Dengan membaca aku mengerti
Dengan membaca aku dimengerti
Dengan membaca aku menghargai
Dengan membaca aku dihargai
Dengan membaca aku berubah
Dengan membaca aku merubah
Dengan membaca aku beribadah
Dengan membaca aku berdakwah
Dengan membaca aku bersaudara
Dengan membaca aku mengabdi
Dengan membaca aku menjadi diri sendiri

Yogyakarta, 5 Desember 2013


[i] Versi ilustrasi bergerak dapat dilihat di: http://koskowbuku.wordpress.com/ziarah-kata/
[ii] Lihat buku yang berjudul “Aku Menulis Maka Aku Ada” terbitan kutub 2005

Quoted

“Imajinasi yang liar lebih kuat dari lirik yang sok mau jelas.”

Slamet A. Sjukur