YCMF: Melawan Tradisi?

Sebagai salah satu komponis yang diundang oleh YCMF (Yogyakarta Contemporary Music Festival), tentu saja tulisan saya tentang YCMF tidak bisa lepas dari subyektivitas seseorang yang karyanya telah dipilih untuk dipagelarkan pada festival ini. Bagaimanapun juga, tidak semua acara atau Festival yang mengundang saya mempunyai kesan seperti YCMF dan yang lebih penting lagi, tidak semua mendorong saya untuk menulisnya. YCMF adalah salah satu dari sekian pagelaran yang membuat saya tidak saja ingin, tetapi wajib untuk memberitakan. Mengapa?

Musik Kontemporer yang ditampilkan YCMF seringkali menimbulkan tanya: “Apa itu kontemporer?”. Bahkan tidak saja khalayak umum, para wartawan seni sendiripun seringkali menanyakan hal ini. Sedangkan diantara kalangan musik, kontemporer terkadang diartikan sebagai sesuatu yang “aneh-aneh”. Bahkan, seorang musisi klasik yang cukup dikenal di Indonesia pernah nyeletuk: “Pemusik kontemporer itu tidak paham dan tidak becus musik klasik, karena itu mereka mengada-ada dengan menciptakan begituan”.

Biasanya, sebuah proyek tidak akan sudi berjuang mati-matian untuk sesuatu yang sudah jelas tidak laku di masyarakat. Mereka akan lebih suka bekerja untuk musik-musik yang pasti akan menarik masa (dan duit), seperti rok, pop atau dangdut. Tapi, tujuan YCMF ini memang tidak sekedar mencari keuntungan. Ini adalah proyek yang didasarkan pada keyakinan akan musik itu sendiri, tanpa mengindahkan kelarisan, tanpa memperhatikan apakah masyarakat akan mengamini yang dilakukan. Sebaliknya, merekalah yang mencoba menekankan keyakinan seperti ini pada masyarakat. Karena itu, beberapa panitia harus kerja rodi dan melibatkan puluhan sukarelawan.

Memang, hal yang baru seperti musik kontemporer selalu menerima penolakan terlebih dulu dalam masyarakat. Hal ini sudah biasa bagi saya. Seperti juga ketika saya melemparkan ide-ide yang dianggap terlalu feminis, sosialis atau sekuler dalam masyarakat kita – padahal seringkali saya sendiri lebih bertumpu pada ide yang ada di benak saya daripada menuruti ideologi atau -isme tertentu. Begitu juga ketika saya membuat komposisi musik. Saya tidak terlalu mau membuat kriteria pada musik saya, selain keinginan untuk menulis sesuatu yang belum pernah, atau paling tidak, jarang dipikirkan oleh orang lain sebelumnya.

Karena kebiasaan membebek hanya akan membuat seorang komponis (atau seniman pada umumnya) tunduk pada pendapat publik atau masyarakat, yang biasanya menjadi mayoritas dan yang dapat menjadi tekanan tersendiri bagi kelompok yang dianggap minoritas. Terkadang, suara publik ini lupa betapa pentingnya berpikir sendiri. Dan bila kemampuan untuk berpikir sendiri ini pudar, betapa mudahnya mereka disetir oleh para penguasa. Mereka-mereka inilah yang kemudian menolak ide-ide baru. Karena sudah terlalu “nyaman” patuh pada peraturan lama, sehingga mereka tidak lagi bisa mengubah pola berpikir mereka. Yang lebih parah, terkadang kemanusiaan itu sendiri yang dikorbankan. Dan karena itulah filsuf seperti Sokrates harus mati dan Yesus harus disalib. Juga, para perempuan penulis pada jaman Victoria seperti George Eliot menggunakan nama lelaki untuk bisa diterbitkan. Hanya karena publik tidak dapat menerima konsep bahwa perempuan juga bisa menjadi penulis andal. Karena itu, pakem harus selalu dipertanyakan, karena manusia itu bukanlah robot yang bisa dicetak menurut kaedah.

YCMF membuka kesempatan bagi para komponis yang berani mempertanyakan tradisi yang ada. Kata “kontemporer” di sini, bagi saya mengandung arti “Berpikir yang lain dari kebanyakan”. Namun, bila musik saya lalu digolongkan musik kontemporer, itu memang hal yang menurut saya, sifatnya lebih kebetulan daripada disengaja – karena ada hal yang rasanya sepadan. Pertemuan ini bagi saya, adalah pertemuan kekasih yang saling jatuh cinta. Seakan, ada unsur kebetulan di sana. Ia dan saya seperti pasangan yang tertarik karena kita saling terpikat, ia tidak seperti hubungan yang diatur dalam perjodohan atau kawin paksa. Kita dipersatukan oleh tidak lain dan tidak bukan karena rasa. Inilah yang mendorong saya menulis tentang YCMF: sebuah proyek yang tidak menghiraukan popularitas. Sebuah proyek yang sebenarnya menyadari dan dapat membaca pakem masyarakat, namun inilah beda YCMF dengan proyek lain yang berbau bisnis. Proyek lain akan menuruti pakem tersebut dan bahkan mengeksploitasinya. Di Surabaya dan Jakarta misalnya, yang sedang (atau masih saja) demam bergaya Barat, sehingga maraklah sekolah-sekolah berbahasa Inggris karena para orang tua lebih suka anak-anak mereka mengoceh bahasa Inggris yang tidak baik dan tidak benar, daripada berbahasa Indonesia yang “baik dan benar”.

Dan keranjingan ini juga berkembang pada perumahan baru. Karena itu, ada daerah di kota kelahiran saya yang dinamakan “Singapore of Surabaya”. Tentu saja Singapora ada di Asia, namun kota ini yang paling diidentikkan dengan dunia Barat. Dan karena unsur itu pula, rumah-rumah di sana menjadi amit-amit mahalnya (Singapore kok!). Yang mengeduk keuntungan dari “keyakinan sok Barat” masyarakat tentu saja para pentolan bisnis. Mereka yang pintar membaca ego seperti ini malah menyebulnya, lalu menggunakannya sedemikian rupa demi bisnis mereka.

Keduk-mengeduk keuntungan seperti ini bahkan bisa dijumpai dalam dunia seni. Beberapa pemimpin konser klasik meminta para soloisnya untuk membayar puluhan juta, karena tahu keingin narsis manusia ini untuk dapat tampil dan ditonjolkan. Artinya, para pemain (yang punya duit tentunya) bisa menyogok dengan cara halus. Dan kalau anda merasa amat matang kemampuan musiknya, jangan kecewa kalau anda tidak bisa jadi solois, hanya karena kocek anda tidak tebal!

Tentu saja pengurus YCMF (dengan direktur Michael Asmara) bukan orang goblok yang tidak bisa membaca kegandrungan masyarakat. Tapi mereka tidak lalu menggunakan “pengetahuan” ini untuk mengibuli rakyat. Melainkan, YCMF justru mencoba mempertanyakan kemapanan ide dengan menggelar musik yang dianggap tidak laku atau populer.

YCMF diadakan satu tahun sekali dari tahun 2004, setiap bulan Oktober. Setiap karya yang masuk dari berbagai penjuru dunia diseleksi oleh panitia, dan yang lolos seleksi akan dipentaskan pada Festival ini. Tentunya tidak ada komponis yang diminta membayar. Malah, mereka disambut kedatangannya, disediakan hotel yang cukup nyaman, dan biayanya ditanggung. Festival ini seakan menampung para seniman yang terasing, mempertemukan mereka dan memberi para muzafir ini tempat berteduh sejenak.

Karena itu juga, ia membutuhkan persiapan yang luar biasa. Sayangnya, para panitia sendiri, yang seringkali sudah bekerja demikian keras, terkadang harus menghadapi pemain yang tidak bertanggung jawab. Beberapa pemain yang sudah berjanji akan berlatih dan memainkan komposisi yang diberikan, tiba-tiba menghilang begitu saja karena ada pesanan yang lebih menggiurkan secara komersial, sehingga panitia harus mencari pemain lainnya. Namun, banyak juga para pemain muda yang luar biasa seperti pianis Yuti Lauda dan soprano Ika Sri Wahyuningsih (Indonesia), juga violinis Rieko Suzuki (Jepang).

Untuk tahun 2009 ini, selain dari Indonesia, hadir para komponis dari 11 Negara lain di antaranya Yunani, Amerika Serikat, Australia, Iran, Singapura, Malaysia, Tiongkok dan Jepang. Kebanyakan para komponis ini beranjak dari unsur klasik atau tradisi. Dengan kata lain, mereka ini bukannya tidak paham atau tidak becus musik klasik. Bahkan, musik klasik itu sendiri seringkali asalnya dianggap kontemporer. JS Bach sempat tidak digubris karena musiknya dianggap oleh masyarakat Dan karena itu, Slamet Abdul Sjukur menekankan bahwa kontemporer itu sebenarnya mendahului tradisi. Seperti juga para Nabi biasanya tidak langsung diangkat menjadi Nabi, tapi dianggap sebagai pemberontak, penghujat agama dan Tuhan (baca: tradisi) terlebih dulu, sebelum idenya diterima. Seringkali, ia mempunyai pengikut jauh setelah wafatnya. Yesus harus disalib dulu, sebelum menjadi Nabi yang dipuja milyaran orang di seluruh dunia. Ajaran Yesus bahkan menjadi tradisi tersendiri sekarang (yang terkadang dibuat menjadi begitu kolot oleh beberapa pengikutnya). Mereka lupa, bahwa Yesus sendiri adalah pemberontak tradisi, dengan berteman dengan seorang pelacur bernama Maria Magdalena, dan mengritik keras ahli-ahli agama yang tunduk pada ritual dan penguasa. Ia disalib karena pemberontakannya pada tradisi yang begitu menekan kemanusiaan.

Sebaliknya, unsur tradisi sendiri bisa menjadi kontemporer. Unsur musik etnik di Nusantara, (yang sudah amat tersisih dengan dentuman lagu ala Michael Jackson), bisa menjadi hal yang “baru” dan bahkan aneh bagi masyarakat umum. Musik etnik yang telah tersudut ini, juga menjadi perhatian YCMF. Terkadang unsur etnik atau tradisi-lah, yang membuat musik dianggap kontemporer. Gamelan Bali yang mempengaruhi karya-karya komponis andal Hungaria, Bella Bartok (1881 – 1945), membuatnya dikenal sebagai komponis kontemporer (bahkan di Indonesia sendiri). Begitu juga dengan Dieter Mack (komponis Jerman, lahir tahun 1954) yang begitu gandrung dengan musik Bali. Memang, yang kontemporer itu mempertanyakan tradisi tanpa mau meniadakannya. Justru ia seringkali mempertahankan tradisi dengan mempelajarinya. Karena mempertanyakan tradisi hanya bisa dilakukan setelah mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Einstein bisa mempertanyakan teori Newton (dan sempat disisihkan juga karenanya), sebab ia telah begitu paham tentang teori tersebut. Bahkan ialah yang jauh lebih tahu tentang teori Newton daripada kebanyakan ahli lainnya saat itu, sehingga mempunyai kemampuan untuk mendeteksi “kekurangan” yang ada pada teori tersebut.

Jadinya, istilah kontemporer sendiri sebenarnya bisa rancu. Ia memang dapat mempunyai beberapa interpretasi dan hubungannya dengan “tradisi” seringkali lekat dan tak terpisahkan. Dan memang, seharusnya tidak ada yang baku di dunia ini. Hal yang baku hanya membuat tradisi menjadi peraturan yang harus ditaati. Karena yang baku itu, tidak lagi memanusiakan manusia sebagai mahluk yang bisa berpikir. Karena yang baku mengandung nafsu untuk membentuk manusia menjadi bahan konsumsi para penguasa.

Quoted

Designers need to think about others for the sake of improving the human existence. What we have received is a gracious blessing. Without it, we are nothing. Which is why we need to give it back.

Yongky Safanayong