Desain yang ‘Katro’ Sebagai Gestur Kemanusiaan

Refleksi atas bagaimana kemudahan AI menghilangkan proses non-linier dan keputusan tidak pasti yang merupakan marwah desainer sebagai manusia.

Saya melihat adanya obsesi terhadap kejelekan di saat harus mengerjakan sebuah beauty campaign di kantor saya belakangan ini, tidak ada yang salah dari brief dan penerjemahan preposisi strateginya karena proyek yang saya kerjakan ingin menggali relevansi kecantikan itu sendiri pada definisinya hari ini, dan yang saya maksud adalah mentransformasi sesuatu standard dengan aksi yang aktual dan gaya yang elusif. Di dekade lalu saya juga pernah bekerja menjadi desainer grafis untuk sebuah konglomerasi kecantikan di Indonesia, kala itu cantik masih pada pakem klasik, putih-mulus-bercahaya, namun hari ini adanya transformasi yang sudah lebih aktual. Tulisan ini bukan soal mempertanyakan jangkauan standard kecantikan, namun malah membawa saya ke pertanyaan yang lebih dalam, sejak saya mencoba memakai AI generative image untuk membuat tong sampah kotor namun takala hasilnya seperti hasil jepretan Annie Leibovitz, dan sampailah ke pertanyaan apakah memang AI tidak bisa mereplikasi suatu yang jelek? Yang banal? Karena semua kodenya dipastikan untuk seturut estetika manusia yang homogen pula.

Sebuah artikel Eric Sylvers dari BOF (The Business of Fashion) “Why Some AI Ads Flourish and Others Fail” menuliskan bahwa banyak major fashion design house memulai kembali arahan yang tidak bisa digenerate oleh Ai yaitu arahan kreatif yang lagi-lagi banal. Dimana peralihan rumah mode mewah (seperti Gucci dan Prada) menuju estetika yang “banal” merupakan respons langsung terhadap apa yang disebut BoF sebagai “alienation” (keterasingan) yang muncul ketika inovasi teknologi melampaui batas kemanusiaan. Ketika merek mewah membingkai AI sebagai sebuah “creative bonanza” untuk menciptakan dunia yang tidak bisa dijamah tangan manusia, mereka justru membentur paradoks nilai industri mereka sendiri yang bersandar pada “human artistry”, keahlian tangan, dan teknik atelier yang diasah selama puluhan tahun. Dalam konteks ini, estetika “jelek” atau banal menjadi strategi untuk mempertahankan “scarcity” (kelangkaan) sebuah nilai yang tidak bisa direplikasi oleh AI yang sifatnya “scalable” atau dapat diproduksi secara massal tanpa batas. Diskursus ini mempertebal kerangka pikir saya menyoall estetika jelek memang sepertinya tidak bisa diduplikasikan oleh AI. Pertanyaan ini membawa saya ke realita bahwa di keseharian setelah mengenerate sebuah gambar dari Grok, ia tampak sempurna, namun janggal.

Kejanggalan Ai dalam membuat gambar yang sempurna pun membuat relitas baru bagi saya, dimana AI dilatih untuk menyesuaikan lensa manusia, akan lebih mudah mereplikasi sebuah gambar yang baik, semudah ditentukan oleh selera pasar, namun membuat gambar yang jelek tetaplah sempurna sungguhlah anomali, jika memang demikian hipotesa sekarang ialah bagaimana AI mampu mencapai standard kecantikan walaupun subjektif tapi banyak peran yang objektif, sebut saja fungsi dan prinspi desain. Namun pada ambang bawah ketika kita membicarakan sesautu yang jelek dan banal apakah ada standarisasinya? Bisa saja rely ke prinsip desain kembali, namun desainer dengan tujuan mana yang membuat kaya dengan tendensi membuat karya yang jelek? Membuat karya agar terlihat jelek dan agar tetap diapresiasi orang menurut saya adalah metode tapi intensinya tetap mencapai kesempurnaan. Dan dalam konteks desain grafis sesuatu yang jelek apakah menjadi  standar baru yang tak mampu diciptakan oleh mesin? Saya revisit tulisan dari Mia Magnus yang terpajang pada simposium desain Forbidden Fruit #1—Ugly by Design: A Good Time for Bad Taste yang diadakan di Krapela, Mei 2025.

“We fear the ugly. So, we can’t actually face things like the migrant kids in detention. We can’t actually be with it in a way that allows us to address it. I think about the ways that we normalize violence and genocide. We see violence and beauty as this interpersonal thing. In reality, a lot of our policies come from whether people think folks are valuable — and that comes from whether or not we think people are beautiful.”

Mia Magnus membuka esainya dengan satu hal yang tidak nyaman: bahwa rasa takut kita pada yang “jelek” bukan sekadar soal selera, tapi soal jarak. Kita menjauh dari apa yang tidak ingin kita akui. Dalam mendesain baik saat di akademi maupun saat bekerja, jarak-jarak ini diterjemahkan menjadi upaya untuk perbaikan, perapian, penyempurnaan pada desain itu sendiri. Tapi di saat yang sama, kita juga sedang menghapus sesuatu: jejak manusianya sendiri.

Pemahaman akan sesuatu yang cantik selalu menjadi garis bentang terukur untuk sebuah ‘taste’ bagi para desainer, konsep cantik pada tulisan Mia mengisyaratkan bahwa sesuatu yang cantik; “it’s about questioning the ways that we are defining beauty, what the criteria are.” 

Sedangkan dalam konteks desain yang jelek, adalah sebuah jarak yang desainer harus hindari, karena nilai akademis yang menotok tentang fungsi desain yang baik. Dan pada angle ‘kritik desain’ jelek adalah bentuk penilaian yang mudah dikeluarkan walau sekecil di dalam hati. 

Yang membuat saya terikat pada pemikiran ini adalah, bagaimana praktik-praktik saya pada mendesain setiap harinya harus mencapai nilai estetik tinggi, namun imbas dari homogenitas selera, desain yang dianggap punya nilai fungsi dan estetika baru adalah yang lebih dihargai, dan sebagai nilai currency ini saya harus lepas dari estetika, dan mulai mengarungi nila-nilai banal pada desain jelek.

Poin kritis ini juga membawa saya kepada satu titik di mana desainer sebagai manusia selalu sintas pada marwah karya desain itu sendiri. Kita menunjukkan bahwa ada tangan yang ragu, ada keputusan yang tidak pasti, ada proses yang tidak linierl pada proses mendesain. Dan yang sebenarnya kita maksud adalah: kita menyukai ketidaksempurnaan yang tidak bisa direplikasi sepenuhnya. Hal-hal kecil yang tidak efisien. Pengaplikasian yang tidak presisi. Yang tidak sepenuhnya “benar”. Tapi apakah di situ manusia sebagai desainer tinggal?

Hari ini, kejelekan tidak lagi dibiarkan sebagai pengalaman. Ia dikonversi menjadi data. AI belajar dari deviasi. Dari kesalahan. Dari apa yang sebelumnya dianggap tidak layak. Dan dari sana, ia membangun sistem baru: apa yang paling sering dianggap bagus.

Namun, ini bukan penciptaan. Ini agregasi. Paradoksnya: semakin banyak kejelekan yang dikumpulkan, semakin presisi mesin dalam menghasilkan “keindahan”. Dan ntah mengapa konsep keindahan ini sangatlah membosankan dan tidak ada ruang menarik lagi pada sebuah kerja desain yang bagus. Saya menghadapi tantangan baru ketika sesuatu bisa selalu sempurna, ia berhenti menjadi pencapaian. Ia menjadi default. Tidak ada lagi resistensi. Tidak ada lagi kegagalan yang harus dinegosiasikan. Semua bisa langsung benar baik pada praktik merancang maupun berpikir.

Dan karena itu, kesempurnaan kehilangan konteksnya. Ia tidak lagi punya cerita.

Untuk memahami lebih objektif tentang kesempurnaan mekanis yang janggal imbas automasi AI. Saya menggunakan kerangka pemikiran Hal Foster pada konteks Design and Crime untuk membedah bagaimana obsesi terhadap kesempurnaan teknis, seperti yang kini dicapai melalui kecerdasan buatan justru menciptakan kondisi yang disebut “total design” atau yang ia sebut Gesamtkunstwerk, yang ia kritik karena mematikan otonomi subjek manusia dengan menghapus segala celah kesalahan dan ruang gerak (Spielraum) yang esensial bagi kelangsungan budaya. Hal Foster adalah seorang kritikus seni, akademisi, dan penulis. Ia dikenal karena pemikiran kritisnya terhadap perkembangan desain, arsitektur, dan seni dalam masyarakat konsumerisme modern.

Dalam bukunya yang berjudul “Design and Crime and Other Diatribes” Hal Foster memberikan landasan kritis terhadap fenomena kesempurnaan ini melalui kritiknya terhadap “total design“, sebuah kondisi di mana lingkungan hidup manusia dirancang secara menyeluruh hingga tidak menyisakan celah bagi kesalahan atau perubahan. Foster menghidupkan kembali alegori “si orang kaya yang malang” untuk menunjukkan bahwa sebuah desain yang telah mencapai kesempurnaan absolut justru membuat subjeknya menjadi “selesai” atau mati, karena kehilangan tanda-tanda pertumbuhan dan hasrat kebendaan yang manusiawi . Dalam kerangka ini, apa yang kita sebut sebagai “estetika jelek” atau desain yang tidak presisi sebenarnya adalah upaya untuk merebut kembali “running-room” (Spielraum) sebuah ruang gerak dan distingsi yang memungkinkan budaya tetap hidup di tengah kepungan logika mesin yang seragam dan narsistik.

Segendang dengan pemikiran Foster, saya juga mengambil manifesto seni dari pelukis Indonesia yaitu Nashar (1928-1994) dengan gagasan “Tiga Non” yang merupakan konsep estetika revolusioner di era lalu. Gagasan ini lahir dari kegelisahan Nashar terhadap teknik melukis yang dianggapnya terlalu mekanis, akademis, dan kehilangan “ruh”. Baginya, melukis bukan sekadar memindahkan objek ke kanvas, melainkan sebuah proses penemuan jati diri secara spontan.

Gagasan Tiga Non Nashar merupakan sebuah manifestasi spiritual dalam seni lukis yang merangkum Non-Konsep, Non-Teknik, dan Non-Estetika ke dalam satu kesatuan sikap kreatif demi mencapai kejujuran ekspresi yang murni. Dalam praktiknya, Nashar menanggalkan rencana atau tema yang kaku sebelum mulai berkarya (Non-Konsep), membebaskan diri dari keterikatan aturan akademis atau keterampilan tangan yang mekanis (Non-Teknik), serta menolak standar keindahan konvensional yang hanya mengejar estetika visual semata (Non-Estetika). Baginya, ketiga prinsip ini berfungsi untuk meruntuhkan tembok penghalang antara batin seniman dan kanvas, sehingga proses melukis menjadi sebuah peristiwa spontan di mana “ruh” sang seniman hadir tanpa intervensi logika atau pretensi intelektual.

Gagasan ini mengembalikan wacana desainer dengan obsesi kecantikan itu sendiri, padahal nilai cantik maupun jarak jelek itu sendiri bisa jadi lanskap baru yang bisa dimainkan. Memang, cantik dan jelekan bersifat subjektif. Ia terkait taste, pengalaman, dan referensi masing-masing individu.

Tapi jika kita tarik ke ranah vernakular grafis Indonesia, kejelekan menjadi sesuatu yang lebih struktural. Lensa desain vernakular didefinisikan sebagai desain yang berfokus pada kebiasaan, praktik adat, bentuk-bentuk yang sudah ada, keterampilan, dan tradisi yang membentuk kerangka kerja pembuatan desain dalam konteks tertentu. Istilah ini merujuk pada sesuatu yang mudah dikenali, ada di mana-mana (ubikuitas), dan terkait erat dengan identitas kelompok atau individu, sehingga menjadi komponen sentral dari budaya kehidupan sehari-hari. 

Untuk mendapat lensa yang lebih objektif pada ranah vernakular grafis Indonesia saya mewawancarai Claudia Novreica—seorang penulis, pengarsip, dan desainer yang menggagas kolektif Grafis Nusantara, sebuah badan pengarsipan label desain grafis di Indonesia—memberikan landasan kuat bahwa “desain jelek” dalam konteks vernakular adalah bukti otentik kehadiran manusia yang gagal direplikasi oleh AI. Claudia mencatat bahwa AI memiliki keterbatasan dalam menciptakan keburukan yang tulus karena algoritmanya selalu cenderung menyempurnakan hasil akhir, di mana “AI tendensinya tuh selalu buat make everything polish gitu”. Ketidakhadiran “roh” dalam desain AI ini sangat terasa ketika ia membandingkan artefak asli dengan desain bootleg yang mencoba tampil vintage; desain tersebut langsung terasa palsu karena kehilangan cacat-cacat manusiawi seperti kesalahan registrasi cetak atau garis yang miring yang justru membuatnya terasa hidup.

Lebih jauh lagi, melalui praktik pengarsipannya di Grafis Nusantara, Claudia menunjukkan bahwa desain yang sering dianggap “jelek” atau “katro” sebenarnya menyimpan proses berpikir dan usaha estetika yang sangat sadar dari para pelakunya. Ia mencontohkan pengalamannya saat berinteraksi dengan pembuat label kerupuk yang secara spontan memasukkan gambar Mickey Mouse untuk membuat desainnya “masuk akal” bagi publik, yang menunjukkan adanya upaya sengaja untuk membuat sesuatu yang dianggap bagus atau menyenangkan secara visual (pleasing) oleh komunitasnya. Fenomena ini memperkuat argumen bahwa kejelekan vernakular adalah ruang perlawanan terhadap keseragaman mesin, karena pada akhirnya “orang kayaknya akan tetap merindukan like the imperfection of design… that’s what makes us human. Di akhir wawancara Claudia menutup dengan statement, dimana desain yang tidak sempurna ini menjadi pengingat penting akan kapasitas manusia untuk merayakan keberadaan kita yang tidak presisi di tengah obsesi terhadap kesempurnaan teknis. “Pada akhirnya, manusia akan selalu merindukan ketidaksempurnaan dalam desain sebagai sebuah bentuk katarsis, ajakan untuk kita (desainer) berhenti sejenak dan menyadari bahwa dalam ketidakpresisian itulah letak kemanusiaan kita yang sesungguhnya.”

Bagian vernakular justru membuka posisi “jelek” bukan sebagai deviasi, tapi sebagai bahasa. Dalam konteks desain grafis Indonesia, yang sering kita label sebagai jelek sebenarnya adalah bentuk yang belum atau tidak pernah melewati proses penyaringan institusional. Ia lahir bukan dari taste global, tapi dari kebutuhan lokal. Spanduk warung dengan warna tabrak, outline berlapis, drop shadow berlebihan, tipografi campur aduk, semua itu bukan keputusan estetika dalam pengertian akademis, tapi keputusan praktis, cepat, dan sangat kontekstual.

Di titik ini, “jelek” berubah fungsi. Ia bukan kegagalan, tapi sinyal. Ia menunjukkan kedekatan dengan realitas sehari-hari. Terbaca. Langsung. Tanpa jarak.

Desain vernakular bekerja dengan logika yang berbeda dari desain institusional. Ia tidak mengejar konsistensi visual, tapi keberfungsian komunikasi dalam kondisi yang tidak ideal: keterbatasan alat, waktu, bahkan literasi visual. Maka, layering berlebihan bukan kesalahan, tapi strategi agar pesan tetap muncul di tengah kebisingan visual jalanan. Warna yang “salah” justru dipilih karena paling terlihat di bawah matahari siang. Typeface yang “tidak cocok” adalah hasil dari apa yang tersedia, bukan apa yang benar.

Di sini, kejelekan menjadi bentuk adaptasi. Mungkin, pada akhirnya, “jelek” bukan lagi kategori estetika. Ia adalah posisi. Posisi untuk tidak tunduk pada penyempurnaan yang tidak perlu.
Posisi untuk tetap menyimpan jejak manusia dalam karya. Posisi untuk menerima bahwa tidak semua hal harus diselesaikan.

Karena di dunia yang semakin sempurna secara teknis,yang menjadi langka bukan obsesi  keindahan, tapi ketidaksempurnaan yang jujur.


Featured Image didesain oleh Rouzell Waworuntu Saad dari Koleksi: Rahmat Jaka | Grafis Nusantara

Quoted

To me, good design is what we call right design. Good comes after right. We have to do both good and right design. We can’t choose one or the other.

Ismiaji Cahyono