Drawa, Maskot Asian Games 2018: Tantangan tidak ringan bagi desainer/ilustrator Indonesia

Pemerintah, melalui Panitia Penyelenggara Asian Games (selanjutnya disingkat AG) 2018 Jakarta/Palembang, telah menetapkan cenderawasih—satwa khas Papua—sebagai maskot perhelatan olahraga tersebut pada Desember 2015 yang lalu. Maskot yang terpilih menuai respon yang marak—hingga kemudian bersama Bekraf, diselenggarakanlah perancangan ulang. Tulisan ini adalah catatan penulis terhadap maskot tersebut.

Penetapan cenderawasih sebagai maskot penulis yakini telah melalui pertimbangan berbagai aspek, salah satunya adalah upaya untuk mewakili keanekaragaman Indonesia yang tak hanya Jawa dan Sumatera, tempat berlangsungnya AG 2018. Setidaknya, ada 7 macam burung cenderawasih di seluruh dunia. Tiga di antaranya hidup di Papua, yakni jenis The Raggiana Bird of Paradise, Astrapia Ribbon-Tailed, dan Red Bird of Paradise.

 
Drawa-artikel-lamp-1a
 

Jenis terakhir inilah yang banyak digunakan sebagai ikon/maskot/ilustrasi
berbagai produk, antara lain :
– uang kuno, tertulis angka ‘1000’, kemungkinan pecahan Rupiah bertahun 1959;
– pecahan Rp50,00 dan uang logam nilai Rp.200,00 memperingati 25 tahun RI;
– uang kertas pecahan Rp.20.000,00 bertahun 1995/1996;
– logo Raimuna—kegiatan kepramukaan nasional—tahun 2012; serta
– maskot kegiatan Raimuna.
Jenis ini pula yang kemudian ditetapkan sebagai maskot AG 2018 pada Desember 2015 sebelum kemudian diadakan perancangan ulang.

 
Drawa-artikel-lamp-1b
 

Dalam konteks kehadirannya dalam produk rancang visual, satwa jenis unggas termasuk obyek yang cukup sulit untuk dikartunisasi, terutama cendrawasih dan merak. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor familiaritas masyarakat terhadap unggas yang divisualisasikan.

Angkatlah sejumlah karakter yang kehadiran visualisasinya dapat kita merelevansikan dengan sosok/karakter/ciri khas yang kita jumpai lewat interaksi nyata, seperti:
Donald Duck si bebek, Heckle dan Jeckle si gagak, Uncle Goose si angsa, atau Woody si burung pelatuk. Pose kesehariannya di dunia nyata yang dihadirkan lewat suara, tingkah, atau narasi fiktif membantu kita membangun familiaritas. Inilah yang kemudian menjadikannya lebih mudah untuk divisualisasikan dan praktis memudahkan pemahamanan (dalam hal ini adalah kedekatan) dengan sosok unggas tersebut.

 
Drawa-artikel-lamp-2b
 

Sementara, Cenderawasih Merah, yang meski hadir dalam ragam produk di atas, memiliki pola tampilan yang seragam: posisi membentangkan sayap dan ekor. Penampilan ini merujuk pada tampilannya di buku Birds of New Guinea karya John Gould, seorang illustrator Monographs of Trochilidae sekaligus pengagum Charles Darwin yang hidup pada tahun 1804-1881.

 
Drawa-artikel-lamp-2a
 

Akibatnya, cendrawasih jarang bisa dikenali dalam pose kesehariannya, selain pada pose termashyurnya itu. Ironisnya, justru pada ciri yang paling dikenal itulah menjadi bagian tersulit dalam proses pembuatan maskot.

Maskot banyak menggunakan ilustrasi kartunal sebagai pilihan visual, dengan kriteria umum, biasanya: menggemaskan, menampilkan keramahan, dsb. Sebagaimana upaya pembangunan familiaritas seperti tersebut di atas, unggas-terpilih dalam perhelatan AG pun tak cukup hanya sampai tahap dikartunisasi, namun juga dipersonifikasi. Bahkan, bukan tak mungkin visualitas unggas dalam maskot juga mempengaruhi kebutuhan piktogram dari cabang-cabang olah raga yang dipertandingkan.

Di sinilah sejatinya tantangan berawal. Tantangan itu adalah bagaimana melakukan transformasi bentuk anatomi unggas menjadi visual satwa kartunal non-realis yang terpersonifikasi. Selain dalam bentuk 2D, Drawa (nama maskot AG 2018 yang diambil dari ‘cen-derawa-sih’) juga harus bisa tampil dalam 3D, baik untuk keperluan merchandising maupun keperluan aplikasi lain pada berbagai produk dan jenis bahan.

Menampilkan cenderawasih dalam kartun 2D, dengan tuntutan tetap menampilkan ciri khas burung cenderawasih yang kartunal, telah terpersonifikasi, dan dapat langsung dipahami, tidaklah mudah.

Perlu kajian mendalam untuk menampilkan cenderawasih dalam pose-pose yang membuatnyamudah dikenali, tanpa harus melulu terjebak dalam template pose mashyur pembentangan ekor dan sayap.

Ada sejumlah rumusan/cara/trik dalam mengartunisasi gambar realis. Ketika membuat gambar kartun, prosesnya biasanya dilakukan secara transformatif. Pertama, obyek digambar secara realis. Kemudian, obyek gambar dikenakan distorsi-distorsi tertentu untuk menciptakan karakter uniknya sendiri. Distorsi bisa dilakukan dengan melebih-lebihkan bagian dari strukturnya yang menarik, menonjolkan suatu bagian tertentu, memperlebar atau memperkecil suatu bagian, dan setersunya. Tentunya, semuanya itu harus dalam parameter artistik terukur, salah satunya capaian citra-karakter yang ingin ditampilkan.

Karenanya, diperlukan upaya dan fokus ekstra bagi para desainer/ilustrator kita, namun untuk mengartunisasi dengan tepat jenis unggas seperti cenderawasih ini. Belum lagi tuntutan agar maskot tersebut tidak tampil jadul. Artinya, tampilan resminya harus bisa tampil secara modern. Merak pada logo NBC juga tampil dalam posisi yang standar, yaitu memamerkan bentangan ekornya. Tetapi, karena merak di sini hadir sebagai logo, transformasinya cukup dalam bentuk grafis (warna flat atau gradasi) tanpa kebutuhan pembangunan karakternya sebagai seekor merak.

Tentunya tantangan ini tak hanya dihadapi oleh perancang maskot cenderawasih pada AG 2018. Bila dicermati, sejak awal tahun 1982 hingga 2018 yang akan datang ternyata semua maskot AG menggunakan hewan. Artinya, tuntutan transformasi-kartunisasi-personifikasi juga turut membayanginya. Meski kecepatan, kekuatan, kelincahan, keperkasaan, serta kualitas-kualitas ‘baik’ lain hewan tersebut relatif mudah untuk dicerminkan pada tingkah laku manusia (person), bukan berarti pengaplikasiannya menjadi maskot menempuh jalan mudah.
Lihatlah daftar maskot-maskot Asian Games sejak perhelatannya yang pertama di India tahun 1982 hingga yang terbaru pada 2018 di Indonesia sebagai berikut:

– 1982 New Delhi: gajah Asia bernama Appu
– 1986 Seoul: harimau bernama Hodori
– 1990 Beijing: panda bernama Panpan
– 1994 Hiroshima: dua ekor merparti bernama Poppo dan Coccu
– 1998 Bangkok: gajah Thailand bernama Chaiyo
– 2002 Busan: burung camar bernama Duria
– 2006 Doha: oryx, hewan langka sejenis antelop berukuran sedang, bernama Oryx
– 2010 Guangzhou: lima domba bernama A Xiang, A He, A Ru, A Yi, dan Le Yangyang
– 2014 Incheon: singa laut bernama Barame, Chumuro, dan Vichuan.
– 2018 Jakarta/Palembang,: cenderawasih merah bernama Drawa.

Termasuk Drawa yang memperoleh respon negatif di sana-saini, dari sembilan maskot tersebut di atas juga menghadapi kendala familiaritas. Poppo dan Coccu si merpati, misalnya, sempat ditafsirkan sebagai bebek. Duria si merpati juga susah dikenali sebagai burung camar. Sebuah media massa di Singapura misalnya, menyebut Drawa sebagai ayam jantan alih-alih cenderawasih.

 
Drawa-artikel-lamp-2c
 

Karenanya, perubahan cenderawasih merah menjadi Drawa harus tepat dan mengena. Bila tidak, hasilnya bisa saja keliru menjadi manusia berkepala burung karena kegagalan transformasi maupun personifikasi. Drawa sebagai wujud personifikasi-kartunal cendrawasih, wajib menarik dan komunikatif, sehingga mampu merebut hati insan olahraga maupun masyarakat pada umumnya. Lebih penting lagi, Drawa harus hadir dengan cerdas membangun familiaritas audiens terhadap sosok cenderawasih yang sebenarnya, misalnya dikenali lewat pose atraktif dan angle yang tepat.

Menciptakan maskot Drawa menjadi satu tantangan yang menarik sekaligus tidak ringan bagi desainer/ilustrator Indonesia. Belum lagi, di kemudian hari, ketika maskot AG 2018 sudah ditetapkan, mungkin saja pihak penyelenggara tetap masih perlu upaya ekstra untuk memperkenalkan dan mempromosikannya secara luas, agar masyarakat tahu mengenal karakter serta narasi dari sosok cenderawasih yang hadir lewat Drawa.

Akhirnya, yang menjadi permasalahan krusial bukanlah satwa atau obyek apa yang dipilih. Masalah pokok yang harus dicarikan solusinya adalah bagaimana cara mentransformasi obyek/satwa tersebut dalam bentuk visual tanpa kehilangan identitas asli satwa—dalam hal ini cenderawasih—agar mudah dikenali dan memenuhi kriteria maskot seperti yang diuraikan di atas.

Pilihan cenderawasih burung khas Papua sebagai maskot AG 2018 penulis yakini harus kita dukung dan bukan halangan untuk menjadikan Drawa sebagai maskot yang menggemaskan dan modern, serta mudah diaplikasikan dan daya keterlihatan (visibility) yang kuat sebagai kreasi dan hasil karya asli anak bangsa!

Mari kita berperan aktif sesuai profesi-baik kita demi kemajuan bangsa Indonesia!

(***)

Quoted

Ketika dari mata tak turun ke hati, desain pun gagal total

Bambang Widodo