Modal-Madul

Tridi bukan grup band juga bukan salah tulis untuk istilah teknis dalam desain, tapi singkatan dari nama-nama orang ini; Dulwaduk, Dulkiter dan Dulkencot. Tiga sahabat yang namanya mirip tanpa kebetulan. Beda Ibu dan Bapak bahkan tidak ada garis keluarga. Hanya, mereka bertiga adalah sama-sama anggota geng ronda di sebuah kampung di Jogja.

Jam dua belas malam, Dulkencot sudah siap nomor satu di pos seperti biasanya. Kopi anget, gorengan, dan yang wajib, kacang godog, melambai-lambai di atas lantai pos ronda malam itu. Karena sedang tanggal muda suguhannya ditambah dengan martabak manis dua dos. Dalam hati Dulkencot mengucap syukur karena kondisi dompetnya yang kebanyakan dilanda musim kemarau. Bila sedang tongpes1, ingin beli martabak saja dia musti berpikir seribu kali. Bisa-bisa hanya karena martabak yang enaknya cuma setengah jam, dua puluh tiga jam setengah dia musti menahan lapar.

Memang pas menjadi sketsa orang yang tersingkirkan oleh sistem. Saat modernitas berjalan di atas gombalisme dan kepalsuan maka suara nurani harus dikubur. Orang-orang seperti Dulkencot tersisih, tidak diakui, dianggap tidak berharga bahkan seperti tidak ada. Dulkencot adalah seorang yang diliputi rasa skeptik, penasaran, eksperimentalis, pencari kebijaksanaan, dan asketik. Gagasan dan tindakannya kebanyakan jujur meski naif.

Walaupun hanya bekas anak sekolahan yang biasa-biasa saja, Dulkencot justru bersemangat untuk menjadi tambah pintar lewat membaca maupun berguru kepada orang-orang yang dia anggap pantas untuk memberikan nutrisi ke dalam otaknya. Tetapi akung dia tidak memiliki pekerjaan tetap meski mempunyai keahlian menebak wajah artis, apalagi yang sedang kena skandal mesum atau yang baru saja bercerai. Nafkah sehari-hari didapatkannya dari bekerja sebagai juru tata perwajahan nota warung-warung kecil.

Buku-buku dan artikel-artikel berbahasa Inggris dan yang lokal dia lahap. Nekad saja, dengan kemampuan memahami bahasa Inggris seadanya. Sebab, Dulkencot yakin keterbatasan bahasa tidak ada urusannya dengan tingkat intelegensi. Bahasa yang digunakan dalam pergaulan masyarakat hanya simbol yang lahir karena kesepakatan. Kebetulan waktu bahasa Inggris diresmikan sebagai bahasa internasional, Dulkencot belum lahir sehingga tidak ikut tanda tangan pengesahan juga tidak berarti sepakat. Dengan terpaksa Kencot tanya terus ke Google Translate ketika dia ingin memahami naskah-naskah berbahasa Inggris.

Tiba-tiba Dulkiter muncul dan langsung duduk di depan Dulkencot. “Gawat-gawat! Jangan-jangan aku sudah melakukan dosa besar.”

“Astaghfirullah, ada apa, Ter? Kamu habis niduri mahasiswi kos ya?” tanya Dulkencot.

“Hush, lambemu koyo ra tau mangan lingir mejo sekolah2. Aku bukan penyair, gak lihai memilih kata. Rayuanku lemah syahwat untuk menundukkan hati para Hawa. Meski aku pekerja rendahan, dosa-dosaku elit. Catatan gelapku paling cuma nilep3 jam kerja sehingga kerjaan pesanan molor jadinya. Molornya juga tidak terlalu lama. Mentok-mentoknya nurunin kualitas bahan, terus kebanyakan untung yang tidak seberapa jumlahnya. Wong cuma nyetak stempel,” Dulkiter protes dengan memelas.

Dulkiter menganggap guyonan secara serius. Dulkencot mencoba meladeni sebisanya, “Lho kok malah seneng menjadi pendosa kelas elit. Elit itu kelompok terpilih karena keutamaan kemampuan dan kekuasaannya mampu memberikan dampak vital bagi orang banyak. Orang-orang elit yang menderita cacat akhlak memberikan dampak lebih parah daripada perbuatan orang-orang kepepet yang maling sandal di toko kelontong, nyopet atau ngutil celana dalam tetangga. Kelompok elit itu punya kuasa untuk mempermainkan nasib orang-orang kecil di bawahnya.”

“Gini lho, Cot. Aku ini kan tukang cetak stempel. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa menggunakan teknik cetak film. Konsumenku semakin banyak saja setiap hari. Tapi, Cot setelah tak pikir-pikir, pekerjaanku ini ternyata resiko dosanya besar sekali,” sambung Dulkiter.

Tanpa menunggu pembicaraan Kiter sampai titik, Kencot nyaut dengan suara lebih keras, “Besar bagaimana? Menjadi pemimpin orang banyak jauh lebih berisiko. Sekali mengesahkan undang-undang pesanan yang ternyata giles rakyat, langsung sah juga kredit amal buruk mereka. Kalau tidak minta ampun sebelum nyawa di kerongkongan, ciloko4.”

“Iya juga ya, Cot. Selama ini perasaanku tenang-tenang saja waktu mengeksekusi semua pesenan stempel untuk konsumen. Padahal katanya tanda perbuatan dosa itu jika dilakukan akan membuat perasaan orang yang melakukannya resah gak karuan, Dulkiter mendadak bimbang.

Memang dasarnya labil, korban konspirasi hati, mendadak Kiter berubah sikap, “Ora iso5, pasti ada yang salah dengan kerjaanku ini. Jangan-jangan semua konsumen yang pesan stempel ke tempatku itu penjahat, tukang ngibul. Stempelnya, stempel palsu untuk mengesahkan kebijakan dikantornya yang semestinya tidak pantas untuk disahkan karena hanya menguntungkan secuil orang saja tapi merampas hak orang banyak. Atau paling tidak setengah dari jumlah stempel yang aku produksi itulah, sepertiga, seperempat… ah embohlah6. Pokoknya serem.”

“Pekerjaan itu kan dinilai dari niatnya. Kalau hatimu sudah mantep menjadi tukang stempel sebagai profesi untuk nyambung hidup sehingga kamu bisa menghidupi dirimu sendiri, menafkahi keluargamu, dan beramal untuk tetanggamu dan orang lain yang lebih banyak, itu kan mulia. Tuhan Maha Memahami keterbatasan hamba-hambanya. Perbuatan dosa konsumenmu memanfaatkan stempel palsu hasil karyamu itu di luar kekuasaanmu dan dosanya bukan tanggunganmu. Insya Allah dosamu diampuni karena niatmu lebih berat timbangannya daripada kesalahan yang kamu lakukan,” Dulkencot ceramah seperti kiai haji. Mulutnya memuncratkan air persis di depan muka Kiter.

Semakin panjang ceramah Kencot, Kiter makin merasa bersalah terhadap dirinya sendiri, “Tapi kan aku mestinya bisa berikhtiar untuk meminimalisir dosa itu dengan bertanya dulu ke konsumenku untuk tujuan apa mereka membuat stempel di tempat aku?”

Oalah, Ter. Maling itu di mana-mana lebih lihai duluan dibanding penegak hukum sekalipun apalagi cuma lawan kamu. Kalau tidak begitu mana ada orang kemalingan, kemudian uang yang seharusnya dikelola negara raib dan baru bertahun-tahun kemudian penegak hukum bisa nangkap dan menghukum lengkap maling-malingnya. Sukur ketangkap yang justru bebas hidup enak juga ada. Cari sendiri sana kalau tidak percaya. Maling-maling itu pinter ngeles menyembunyikan maksud buruknya. Inisiatifmu kurang sakti, Dulkencot mulai frustasi dengan sikap Kiter.

Menghela nafas sejenak menelan ludah, Kencot langsung ngomong lagi, “Alesan lainnya adalah kalau harus pakai acara ‘wawancara’ dengan calon pemesan stempel di kiosmu, dapat dipastikan repot. Mereka akan pilih tukang stempel lain. Kamu akan kehilangan pelanggan, pendapatan menurun, amalmu untuk dirimu, keluarga dan tetangga jadi harus surut juga.”

Mendadak Kencot diam namun ternyata dia menyimpan kekaguman terhadap ruwetnya pikiran Kiter, “Tapi pikiranmu ada benernya juga. Kamu hebat, Ter.”

Dulkiter tidak puas dengan jawaban Kencot,”Maksudmu menafkahi hidup ini dengan harta yang belum jelas ke-halalannya bolah-boleh saja?”

“Ya bukan terus begitu. Tujuan kamu bekerja menjadi tukang stempel kan bukan untuk membantu para penjahat memalsukan keaslian stempel. Dan kamu bukan dektektif, polisi, juga bukan hakim yang punya kewajiban menetapkan baik, buruk , benar, atau salah perbuatan orang. Kekuasaan dan kewajibanmu terbatas sebagai tukang cetak stempel. Moga-moga nanti di pengadilan akhir jaman Malaikat tidak tanya terlalu jauh,” Kencot mulai bernafsu menyantap martabak yang ngawe-awe7 sejak tadi.

“Tapi kan kebenaran, kesalahan, juga baik dan buruk sudah ada sebelum konsep polisi, hakim, hukum, bahkan mendahului norma yang disepakati manusia? Pokoknya aku berbuat baik bukan karena takut sangsi hukum tapi karena aku tidak diciptakan Tuhan untuk mengkhianati kebenaran sejati, melainkan untuk menegakkannya,” Kiter ngeyel.

Jalan pikiran mereka merepotkan. Perasaan yang sudah tenang, nyaman, tentram, dibuatnya malah modal-madul, tidak karuan dan bimbang. Kita ini memang tidak tega menyaksikan kebenaran sebab terlalu lama disihir oleh kepalsuan. Sampai akhirnya meniti jalan sesat dirasa sebagai arah jalan yang benar, juga sebaliknya.

 

NURANI VS NALURI PERUT BAWAH WUDEL

Pemandangan di atas lantai pos ronda tidak menggugah selera lagi. Susunan martabak manis di dalam kardus modal-madul, cuil sana-cuil sini dan gak genep lagi jumlahnya. Satu lagi malah sudah habis, Kencot yang terakhir melahapnya. Kardusnya sudah alih fungsi menjadi tempat pembuangan kulit kacang. Meski di sekolah mereka biasa saja, etika dan moral selalu menjadi penuntun sifat dan  perilaku.

“Semua bentuk kejahatan itukan akarnya perut dan yang ada di bawah wudel. Iklan-iklan itu berarti bejat semua, yang buat pasti orang-orang brengsek! Sebab kalau tidak ngajak orang rakus pasti mancing-mancing syahwat,” Dulkiter membuat masalah baru. Maksudnya biar Dulkencot meladeni.

Tapi malah Dulwaduk jedul8 dari remang malam dan langsung menepuk pundak Dulkiter, “Brengsek bagaimana. Lha mereka itu mencari nafkah agar bisa hidup layak. Sama seperti kamu kok?”

Hampir saja biji kacang godog yang baru saja take off dari mulut itu masuk ke lubang hidung Kiter. Untung saja tidak keselak. Dulkiter cuma menoleh ke belakang sebentar untuk memastikan siapa yang tak diundang langsung nepuk pundaknya. Ternyata orang itu Dulwaduk. Kiter langsung meneruskan pertanyaannya yang belum selesai, “Mosok jual pulsa pake tema-tema mesum. Ngomongnya vulgar lagi. Tulisannya jelas, besar di atas bungkus kartu seluler, ‘Bokep’. Bintang iklanne juga pernah main video bokep. Jan, klop tenan9. Meski yang dimaksudkan oleh pengiklan melalui pokok berita itu bukan ‘Bokep’ yang sebenarnya tapi kependekan dari ‘Bonus Kejutan Perdana’ tapi kan itu mancing-mancing.”

“Itu simbol kalau masyarakat kita memang libidonya tinggi. Jangan salahkan yang buat iklan. Mereka cuma seperti tukang potret. Yang pikirannya kotor itu masyarakat yang membaca. Pemasar-pemasar itu cuma memanfaatkan saja panggilan hati masyarakat kita,” sambil mengunyah sisa martabak dari dalam kardus kedua Dulwaduk meladeni Dulkiter yang sengaja membuat masalah.

Dulwaduk adalah seorang pengusaha sekaligus pemasar fundamentalis. Pikirannya hanya berisi dua formulasi, yaitu berusaha minimal namun harus memberikan manfaat secepat-cepatnya sehingga menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya. Pagi hingga sore hari digunakannya untuk membesarkan bisnis kacang rebus yang telah dijalaninya selama lima tahun sejak rampung kuliah. Hingga kini dagangannya nangkring di banyak angkringan yang sebagian besar milik teman-teman lamanya.

Sampai sekarang Dulwaduk masih ngider keliling stasiun, warung makan, sampai warung kopi. Selain itu Waduk juga menjalin konsinyasi kacang goreng dengan para juragan-juragan rumah makan di kota. Benar-benar hebat etos kerjanya, staminanya seperti kuda balap. Waktu malamnya diisi dengan memberikan kursus bahasa Inggris di bimbingan belajar yang tidak terkenal.

Dulkiter langsung nyaut, “Cari makan boleh tapi caranya musti bener. Iklan itu kan kanal dari segala sumber sesuatu yang berlebihan di atas bumi ini, sama dengan setan. Cara kerja setan itu menjauhkan manusia dari cara berpikir dan bertindak benar ke arah yang salah. Salah itu artinya ya gak logis, etis, dan estetis. Yang semestinya tidak perlu dibeli menjadi harus dibeli. Yang semestinya sudah cukup, menjadi selalu kurang. Yang sudah tentram dibuat gelisah dan ketakutan tanpa dasar yang jelas. Atau yang kenyataannya masih penuh dengan permasalahan rumit, digambarkan di dalam iklan seperti tanpa masalah. Kalau kita lihat dari sisi niat yang ada dalam kepala para perancang pariwara-pariwara, pasti hanya ada satu tekad yaitu untuk menjual barang, nimbun keuntungan setinggi-tingginya.”

Tanpa menghela nafas panjang Dulkiter langsung melanjutkan luapan kebenciannya kepada iklan, “Menjual kok terus terusan, memangnya tidak pernah laku. Kalau sudah begitu namanya bukan menjual lagi tapi serakah, mengada-ngadakan kebutuhan-kebutuhan yang tidak penting menjadi harus dipenuhi. Aku tidak anti dengan pariwara. Tapi aku anti kalau iklan itu hanya untuk jualan. Tidak perlu macem-macem bunyi dan gambarnya. Kalau produknya cuma punya rasa manis, ya sudah katakan saja manis. Tidak perlu-lah memasang cewek-cewek montok segala. Banyak yang minat nambah istri terus soalnya. Sukur-sukur pengiklan tidak hanya memanfaatkan pariwara hanya untuk jualan, tapi juga bisa memberi penyadaran kepada masyarakat tentang kenyataan yang penting untuk dipahami. Aku ini heran kenapa duit miliaran habis hanya untuk berbohong dan yang dibohongi menikmati. Terlalu. Benar-benar kegoblokan berjamaah.”

Semangat Dulwaduk sebagai pemasar fundamentalis mendadak terbakar, “Kalau iklan dihapuskan kacang godog aku tidak laku, tidak akan mengglobal. Aku tidak setuju denganmu. Angkringan dan warung-warung yang aku titipi kacang goreng juga bakal kehilangan sebagian pendapatan. Itu artinya mengurangi keuntungan. Bonus untuk karyawan mereka bisa dikurangi. Jatah belanja istri karyawan mereka pasti tidak ada lagi. Lumayan kalau akibatnya cuma segitu. Lha, kalau aku berhenti pasang pamflet fotokopian trus kacang-kacang aku yang aku titipkan ke penjual gorengan samping perempatan sana tidak laku sementara harga kedelai tidak terjangkau, kamu sanggup menyantuni keluarganya? Soalnya kacang buatan aku jadi sumber penghasilan terbesar mereka. Sapi depan rumah aku juga paham kalau ingin mencari kebenaran jangan mencarinya di tayangan pariwara. Di sana isinya cuma dramatisasi, ingat bukan penipuan. Temukan kebenaran dan pendidikan di sekolah atau madrasah sana.”

Makanan besar sudah ludes termasuk gorengan dan martabak. Tinggal kacang godog hampir dingin masih tersedia. Godaan untuk memamah biak berlalu sudah. Pasangan serasi kacang itu cangkem<sup>8. Alasan satu-satunya untuk tetap melek malam itu adalah jagongan10. Soalnya para maling juga sudah males beroperasi karena ngemis lebih menjanjikan ketimbang harus menjadi pencuri yang resikonya membahayakan jiwa dan raga.

Dulkiter kemudian berubah menjadi simpatik, “Pedagang kelas kacang godog seperti kamu dan kawan-kawanmu itu gak masalah nempel iklan jualan sepanjang tembok yang ada di kota ini. Bahkan seandainya kamu ngemis ke pejabat dan orang-orang kaya yang hartanya tidak jelas asal-usulnya itu, kalau dipaksa memaklumi masih wajar-wajar saja. Soalnya di dalam duit mereka itu ada hakmu dan kawan-kawanmu yang dicuri. Si Robin Hood menggunakan cara-cara maskulin untuk mengembalikan haknya yang telah dirampas. Dia menuntut kembali haknya dari para pencuri menggunakan panah dan pedang. Resiko perjuangannya besar, bisa mati di tangan tukang pukul. KPK sekarang pake akal jalur formal untuk mangambil kembali harta Negara dari kuncian brangkas maling-malingnya. Itu cara orang-orang pinter. Tapi yang ini memanfaatkan rasa kasian, yaitu ngemis. Ikhtiar pengembalian hak untuk kaum lemah dari sisi manapun; akal, mental, fisik, juga spiritual. Paling sengsara cuma kepanasan dan ngisep kebul knalpot bis. Kesannya lebih feminin. Kabarnya pengemis di Jogja pendapatannya Rp 200.000,-/ hari. Super sekali, kan? Lha kamu, pendapatanmu berapa dari jualan kacang? Padahal sama-sama kepanasan dan kena kebul karena kamu masih naik motor. Belum lagi modalmu jauh lebih besar dari mereka yang ngemis. Kuliahmu dulu pakai duitkan bayarnya? Bikin iklan itu pake otak kan? Kadang memang gak pake moral sih ya?”

Sambil mengunyah biji kacang, Kiter melanjutkan omongannya yang belum rampung. Sebelumnya dia menarik resleting jaketnya karena udara malam makin lama tambah dingin, “Ini yang jauh lebih super, Duk. Kamu tahu rakyat di negeri kita ini macem-macem nasibnya. Yang paling banyak adalah mereka tidak sekolahan. Tanya sendiri sana ke BPS. Mayoritas orang-orang Indonesia lulusan SD. Sekolah semakin mahal, tidak semua wilayah ada pendidik yang serius. Biar pasti lihat saja mahasiswa-mahasiswa jaman sekarang sejelek-jeleknya tongkrongan masih motor, yang naik mobil banyak. Yang bersepeda biasanya juga sepeda mahal harganya hampir sama dengan mobil bekas. Bisa dihitung jari ada orang miskin tapi bisa kuliah, pasti anaknya jenius sehingga ada dermawan yang membiayainya.”

Tumben Waduk dan Kiter rukun untuk masalah ini. Dulwaduk mendukung pendapat Kiter, “Jadi ustadz yang bener itu berat, musti sekolah dulu yang telaten. Malahan, kalau gagal bisa jadi tukang nyumet11 bom atau hobi ngerusak usaha orang lain yang dianggap maksiat. Atau sewaktu-waktu pinternya kebablasan justru malah tidak sholat. Yang paling parah itu cuma menjadi ustadz yang nanggung ilmunya. Santrinya menjadi soleh hanya pas ada pengajian.

Buru-buru Kiter pasang tanda bahwa dirinya sesungguhnya masih berseberangan dan ingin perang argumentasi dengan Waduk, “Ustadz sekarang males masuk dusun. Dakwah spektakuer jadi, kalau dimuat di tivi. Mereka lebih nyaman tinggal di kota-kota besar. Berdakwah di sana kalau si ustadz memiliki tampang yang aneh atau ganteng dan cantik bisa jadi akan dikontrak milyaran oleh stasiun-stasiun televisi. Nilai honor mereka secara pasti, kamu tanya sendiri saja. Tawaran iklan pasti akan nyusul. Kepada siapa lagi kita berharap mendapatkan informasi penambah wawasan, penjernih nurani dan nalar untuk memahami betapa panjang perjalanan hidup ini, betapa ruwetnya masalah yang ditanggung bumi ini dan seterusnya? Kepada stasiun televisi berita? Berapa jumlahnya? Siapa yang terhibur, dan siapa yang mau nyimak siaran yang seriusnya kayak gitu? Memaksa orang-orang susah untuk mencerna logika rumit panjang lebar dengan cara membaca suratkabar? Gak usah ngomong internet ya, karena di ujung 2012 sepertiga wilayah di negeri ini belum dialiri listrik, katanya DEN (Dewan Energi Nasional). Informasi di internet-pun juga banyak yang berkualitas sampah. Sebab semua orang bisa dengan mudah memuat kabar apapun.”

Suasana pos ronda mendadak hening. Muka orang-orang itu tegang semua, seperti orang mau beranak. Dulwaduk tetap diam mikir-mikir gagasan untuk nyerang balik Kiter. Sementara Dulkencot melampiaskan kesemrawutan pikiran dan ketegangan batinnya dengan cara menata kulit kacang hingga mengkerucut seperti miniatur gunung.

“Idemu itu hanya untuk pengusaha-pengusaha yang berduit besar saja. Sementara untuk perusahaan-perusahaan besar mereka sudah memiliki anggaran untuk kegiatan sosial jadi idemu itu cuma pemborosan,” sambung Dulwaduk sambil ngejok12 kopi yang habis setengah.

Ide-ku itu untuk pengusaha yang masih manusia. Tidak perlu nunggu menjadi kaya-raya punya kantor cabang di banyak negara,” Tegas Kiter.

Dulkiter menjelaskan bahwa cara hidup yang hanya mencari untung lewat macam-macam bentuk hubungan dengan orang lain yang tujuannya hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar tanpa mewariskan pemikiran atau warisan materiil yang lahir dari gagasannya sendiri sehingga bisa dimanfaatkan untuk membantu hidup orang lain, derajatnya sama dengan kewan. Orang-orang yang memiliki kemampuan mengolah akal budi, menciptakan instrumen infrastrruktur dan suprastruktur kemudian membentuk nilai-nilai luhur yang nanti akan diwariskan kepada generasi sesudahnya sebagai sejarah sekaligus menjadi pegangan hidup, mereka adalah orang-orang yang pantas disebut sebagai manusia.

Dulkencot bangun dari pertapaannya kemudian ikut urun komentar, “Tapi semuanya akan berat kalau para pembuat pariwara masih berada dibawah kelek orang-orang pemasaran. Pemasar-pemasar itu terlalu membanggakan gagasannya padahal mereka cuma bisa jualan. Kulak kerupuk seribu rupiah dikasih bungkus ditempeli label, diberikan merek, ditulisi ‘Krupuk Iklan Tulen, Renyah’ sehingga terkesan sajian spesial terus dijual ke pembeli dua kali lipat harga pokok produksi. Padahal tanpa bungkus sampai cap renyah itu, kerupuk yang harga aslinya cuma seribu rupiah tetap saja renyah, kalau rasa ikannya bisa jadi memang mengada-ada. Wong cuma ditaburi bubuk bumbu rekayasa kimia. Mereka itu tidak mewariskan gagasan dan penemuan materiil baru kecuali hanya menjual kembali apa saja yang sudah ada, yang sudah pernah dijual laris oleh pemasar lain yang juga bermental sama. Sori, Duk jualan itu bukan pekerjaan hina. Tapi kalau isi kepalanya cuma mau mendapatkan laba, itu yang bermasalah. Selain perut, kita ini punya perasaan dan pikiran yang juga membutuhkan nutrisi.”

Mampus si Waduk dihantam dua musuh sekaligus. Si Kiter tambah percaya diri gembosi asumsi-asumsi Waduk karena mendapat tambahan amunisi dari Kencot, “Apakah menurutmu penyakit modernitas yaitu konsumtif, manipulatif, intoleransi, dan lain lain itu pantas diwariskan, Duk? Kulit para wanita di dunia ini sudah semulus ciduk13 kamar mandi karena keseringan operasi plastik cuma karena terobsesi bintang iklan sabun yang kulitnya kimpling14. Belum lagi perempuan yang nekad melakukuan pemontokkan bokong dan payudara secara ngawur hingga malah mengakibatkan kematianMereka adalah korban gempuran informasi yang begitu kuat membunuh akal sehat. Banyak lagi peristiwa aneh lainnya. Cangkemku meh mumpluk15.

Meneguk ludah sekejap, Dulkiter buru-buru menambahkan, “Aku membayangkan dominasi iklan-iklan yang isinya pesan-pesan komersial diganti dengan informasi-informasi yang menyadarkan masyarakat tentang kenyataan hidup ini. Bentukknya dapat berupa gambaran tentang macam-macam permasalahan kehidupan dengan berbagai konsekwensinya. Atau isi iklannya dapat berwujud motivasi bahkan solusi untuk masyarakat agar bisa keluar dari benang kusut masalah yang pasti tak akan terurai begitu saja sampai kiamat, tanpa usaha serius. Televisi, internet, sampai jalanan akan menjadi galleri karya seni yang bernilai tinggi. Indah sekali.”

Mata Dulkencot semakin sayu. Jelas dia ngantuk sekali. Tapi masih menyisakan sedikit energi untuk urun rembug menjadi gong jagongan malam itu, “Duk, kalau kamu ingin mengiklankan kacang godog-mu gak usah pake model cewek seksi yang ternyata laki-laki itu. Cukup pake mas Kasdi si tukang ojek yang biasa mangkal di ujung jalan. Bilang saja ‘Kacang Godog Gurih dan Hangat’, tidak perlu ditambahi kalimat besar ‘Teman Hangat di Malam Hari.’ Teman paling hangat untuk pak Kasdi bukan kacangmu, tapi istrinya.”

 


1 kantong kempes (kempis)
2 mulutmu seperti tidak pernah mengenyam meja sekolah
3 mencuri
4 celaka
5 tidak bisa
6 entahlah
7 melambai-lambai
8 muncul
9 nah, pas betul
10 mengobrol
11 menyalakan
12 menuang
13 gayung
14 mengkilap
15 mulutku sampai hampir berbusa

Quoted

Designers need to think about others for the sake of improving the human existence. What we have received is a gracious blessing. Without it, we are nothing. Which is why we need to give it back.

Yongky Safanayong