Asal-Usul
Tulisan ini merupakan tawaran dalam mengelola pembelajaran formal desain komunikasi visual (DKV). Tawaran tersebut hasil dari pengalaman dalam memberi lokakarya desain layout dan mengampu kelas pilihan Desain Layout. Lokakarya desain layout yang saya berikan untuk pers mahasiswa. Lokakarya tersebut biasanya diikuti beberapa orang, terutama bagian layouter di media pers mahasiswa dan redaksi. Biasanya tak lebih dari lima orang peserta dengan jumlah pertemuan lima hingga tujuh kali.
Sebelum dibuka mata kuliah pilihan Desain Layout di tempat saya mengajar (DKV ISI Yogyakarta) pernah ada mata kuliah dengan nama Komputer Grafis. Dari namanya memperlihatkan jejak era pembelajarannya. Nama “Komputer Grafis” sudah ada sebelum saya bergabung di Prodi DKV ISI Yogyakarta (2005). Dalam pembelajaran Komputer Grafis ada tiga pilihan software yakni Adobe Photoshop, Quarkxpress yang kemudian menjadi Page Maker lalu Adobe InDesign, dan Adobe Illustrator. Singkatnya, nama “Komputer Grafis” menggambarkan pentingnya mahasiswa mempelajari software saat itu. Jalan beberapa tahun nama kuliah Komputer Grafis diganti menjadi Digital Desain. Di situ ada peralihan dari yang semula berbasis software beralih ke jenis desainnya yakni desain digital.
Membaca Ulang
Waktu berjalan. Saya mengusulkan ada mata kuliah pilihan Desain Layout (dengan aturan bobot sebesar 2 SKS). Argumennya, disamping mempelajari tata letak terutama desain multiple pages juga mempelajari mengoperasikan software InDesign. Metode mempelajari bagaimana mengenali dan mengoperasikan InDesign berbeda dari cara buku-buku tutorial seperti pada umumnya. Metode ini saya terapkan berdasarkan pengalaman saya sewaktu memberi lokakarya desain layout untuk pers mahasiswa. Singkat kata, mata kuliah Desain Layout disetujui untuk digelar terlebih tak sedikit mahasiswa yang memilih tugas akhir perancangan buku.
Berjalan dua tahun ajaran saya pun melakukan evaluasi pembelajaran. Evaluasi tersebut dalam hal durasi pembelajaran. Sebelum mengulas durasi pembelajaran saya ingin mengingat kembali sebuah tulisan tentang pembelajaran DKV. Tulisan tersebut ditulis oleh Arief Adityawan S. dan diunggah di DGI. Berikut kutipan tulisan tersebut.
“Kita juga telah mengetahui bersama bahwa metode pembelajaran, sebagai sebuah aplikasi di lapangan dari sebuah konsep besar, tidak kalah pentingnya dari visi-misi, karakter lembaga, ataupun kurikulum. Kurikulum sebaik apapun akan sia-sia bila metode pembelajaran di muka kelas tidak berjalan baik. Oleh sebab itu jumlah mahasiswa dalam satu kelas menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Karakter pendidikan seni rupa dan desain yang bersifat afektif dan individual, menjadi pembeda dari pendidikan dalam bidang teknik dan eksakta. Sifat pendidikan DKV seperti itulah yang menyebabkan pentingnya kelas kecil dengan pendekatan personal, dimana kemampuan dan kelebihan tiap mahasiswa dapat terpantau dengan baik. Hermawan Tanzil misalnya, sebagai seorang desainer grafis profesional, mengaku hanya bersedia mengajar di program studi DKV yang memiliki kelas tidak lebih dari 30 orang. Bahkan Prijanto S. menyatakan bahwa kelas DKV yang ideal terdiri dari maksimum 15 orang mahasiswa”(1) –Arief Adityawan S. dalam tulisannya berjudul “Beberapa Permasalahan dalam Perkembangan Pendidikan Tinggi DKV di Indonesia” (Adityawan S., DGI: 2007)
Dalam paragraf tersebut ada pemikiran tentang maksimal jumlah mahasiswa dalam satu kelas perkuliahan DKV. Di balik jumlah tersebut ada latar belakangnya yakni karakter pendidikan seni rupa dan desain yang bersifat afektif dan individu. Singkatnya, pentingnya pendekatan personal dalam pembelajaran DKV. Pendekatan personal akan tidak ideal jika jumlah mahasiswa dalam satu kelas tergolong banyak.
Tulisan saya mencoba memperluas tentang pembelajaran DKV. Perluasan tersebut dalam hal durasi pembelajaran. Durasi ini maksudnya jarak waktu antar pertemuan dalam satu mata kuliah. Umum diterapkan bahwa perkuliahan berlangsung satu kali dalam setiap pekan. Beberapa mata kuliah dengan bobot SKS tinggi bisa dua kali pertemuan dalam satu pekan.
Jika dalam satu semester terdiri dari 16 pertemuan maka jumlah pekannya yakni 16 pekan (empat bulan). Dari 16 pertemuan tersebut biasanya terdapat ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Begitu yang umum kita kenali dan jalankan. Intinya, durasi pembelajaran berdasarkan kebiasaan dan bobot SKS. Hal yang ajukan yakni melihatnya dari konstruksi pembelajaran.
Tinjauan
Dua tahun ajaran menggelar mata kuliah Desain Layout, ditambah pengalaman memberi lokakarya desain layout bagi pers mahasiswa, ditambah membuka kelas liburan desain layout memberi saya suatu model penerapan durasi pembelajaran. Saya berpendapat pembelajaran mata kuliah seperti desain layout ideal jika diselenggarakan dua kali dalam setiap pekannya. Mengapa?
Pembelajaran desain layout tak sebatas mengajarkan keterampilan mengoperasikan software. Jika fokusnya pada keterampilan mengoperasikan software maka nama mata kuliahnya bisa menggunakan nama software tersebut, atau seperti pada yang pernah berlangsung yakni “Komputer Grafis”. Meski dalam pembelajaran desain layout juga melibatkan kemampuan dalam mengoperasikan software akan tetapi kedudukan software dalam konteks di sini sebagai alat dan bukan sebagai tujuan pembelajaran.
Jika kita membaca buku-buku tentang InDesign maka isi buku-buku tersebut tentang pengenalan dan cara mengoperasikan software tersebut. Kita diajak mempelajarinya sejak awal yakni mulai dari mengenali apa itu software InDesign, apa saja toolsnya, apa fungsinya, dan hingga di bagian selanjutnya barulah kita diajak mencoba membuat sesuatu berdasarkan menu atau tools yang ada. Demikian dengan buku-buku lainnya seperti mengenal Adobe Illustrator, mengenal Adobe Photoshop, mengenal Canva, Corel Draw, dsb.
Lantas, bagaimana sebaiknya mahasiswa kelas Desain Layout mengenali software yang akan digunakannya, dalam hal ini Adobe InDesign? Cara yang saya ajarkan yakni mempelajarinya dari layout manual terlebih dahulu dan setelah itu diterapkan ke digital menggunakan software InDesign. Cara ini ada dasar pemikirannya, bahwa setiap mahasiswa akan menghasilkan pengetahuan tentang InDesign lewat cara masing-masing. Layout manual setiap mahasiswa belum tentu sama satu sama lain yang dari situ setiap mahasiswa akan menghasilkan pengetahuan software InDesign yang bisa sama bisa pula berbeda atau beragam tergantung keragaman layout manual yang telah dirancang. Cara ini menerapkan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa.


Keterangan: (Kiri) Layout manual dengan teknik kolase tulisan dan gambar untuk satu halaman (single page). (Kanan) Digitalisasi layout manual teknik kolase tulisan dan gambar. Digitalisasi diterapkan pada tulisan. Karya Mutiara Alya Zhafira (angkatan 2022). Sumber: Kelas Pilihan Desain Layout DKV ISI Yogyakarta Semester Genap 2024-2025.


Keterangan: (Kiri) Layout manual dengan teknik kolase tulisan dan gambar untuk satu halaman (single page). (Kanan) Digitalisasi layout manual teknik kolase tulisan dan gambar. Digitalisasi diterapkan pada tulisan. Karya Sherina BR. Bangun (angkatan 2022). Sumber: Kelas Pilihan Desain Layout DKV ISI Yogyakarta Semester Genap 2024-2025.
Mempelajari software InDesign, atau software serupa lainnya seperti Affinity Publisher, disamping membutuhkan pengenalan juga membutuhkan pembiasaan. Pembiasaan inilah yang membutuhkan durasi pembelajaran yang lebih rapat. Beberapa mahasiswa yang saya tanya pendapatnya tentang durasi pembelajaran Desain Layout pada umumnya menjawab dua kali dalam satu pekan akan lebih ideal dibanding satu kali dalam satu pekan. Argumennya, agar tidak mudah lupa.
Ada pula yang mengajukan argumen dua kali dalam setiap pekan untuk sesi bertanya baik pertanyaan yang berhubungan dengan pengetahuan teknis maupun non teknis, disamping berjumpa dengan teman untuk bercakap desain yang dikerjakan (semacam momen konsultasi bahkan validasi), termasuk bagi mereka yang merasa lebih produktif jika mengerjakan di kampus.
Ada pula yang berpendapat bahwa durasi dua kali dalam satu pekan bisa untuk mengurangi kelupaan akibat distraksi, disamping menjaga mood perkuliahan. Ini seperti dalam lokakarya yang pernah saya berikan yang berlangsung selama lima hingga tujuh hari berturut-turut dengan hasil sesuai rencana pembelajaran.
Pembiasaan dalam pembelajaran menggambarkan berlangsungnya proses menghafal. Semakin panjang jarak durasi pembelajaran semakin mudah lupa, demikian sebaliknya. Jika dalam mata kuliah desain layout sebatas mengenali software maka pengenalan dan pembiasaan menjadi capaiannya. Akan tetapi, dalam term desain layout juga berlangsung proses belajar bermakna. Dijelaskan oleh Suparno (1997: 54) bahwa, “Belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomen baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Ini terjadi melalui belajar konsep, dan perubahan konsep yang telah ada, yang akan mengakibatkan pertumbuhan dan perubahan struktur konsep yang telah dipunyai si pelajar.”
Dalam pembelajaran Desain Layout juga terdapat proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi misalkan tertuju pada kemudahan mengenali dan memperluas penggunaan bahasa graphic user interface (GUI) karena GUI kian akrab dengan kita melalui perangkat digital yang kita gunakan sehari-hari (mobile phone, laptop). Dikatakan berlangsung proses akomodasi misal mengenali keunggulan atau kekhasan software InDesign yang membedakan dari software lainnya. Contoh terdekat, bagi yang terbiasa menggunakan software Adobe maka bagi yang terbiasa dengan Photoshop atau Illustrator sedikit banyak mudah akrab dengan tools di InDesign (proses asimilasi). Bagi yang tidak, maka akan menjadi pengetahuan baru (proses akomodasi).
Contoh lain, bagi yang terbiasa mendesain single page, misal poster, akan menjumpai hal baru sewaktu mendesain layout multiple pages. Peran prinsip hirarki dan kesatuan akan lebih terasa penting dalam desain multiple pages. Proses asimilasi dan akomodasi inilah yang membutuhkan durasi pembelajaran yang rapat, dalam konteks ini dua kali dalam setiap pekannya. Selanjutnya kita coba susun tabel durasi pembelajaran. Dari tabel tersebut terdapat momen waktu kosong. Momen waktu kosong inilah yang saat ini penting untuk ada.
Tabel 1. Durasi Pekan dan Jumlah Pertemuan
| Satu Semester | |||
| Durasi Pertemuan | Jumlah Pekan | Semester | Pengelolaan Waktu |
| 1 kali/minggu | Butuh 16 pekan untuk menyelesaikan semua materi pembelajaran | Satu semester penuh | Tidak ada sisa waktu dalam satu semester, semua berjalan sama |
| 2 kali/minggu | Butuh 8 pekan untuk menyelesaikan semua materi pembelajaran | Setengah semester | Ada sisa waktu setengah semester dalam satu semesternya, bisa mencari mata kuliah lain yang serupa sebagai pengisi estafet waktu setengah semester lainnya, atau memang tidak perlu dan untuk itu tersedia waktu kosong |
| Keterangan: Durasi pekan ini belum tentu berjalan ideal terutama untuk kelas atau pembelajaran yang membutuhkan (1) riset mendalam, (2) dinamika kelompok, (3) studi lapangan dsb terutama kelas teori. Ada kelas praktek yang sepertinya kurang ideal menerapkan durasi ini (dua kali dalam sepekan) seperti Tipografi Desain atau Tipografi Terapan, Ilustrasi Desain, dsb yang lebih banyak melibatkan waktu untuk mempertimbangkan, konsultasi, serta waktu untuk proses mengerjakan-menyelesaikan karya. Kebijakan dalam mengelola serta menyusun ragam durasi itulah yang akan memperlihatkan kurikulum pembelajaran yang ideal dan kontekstual dengan tiap program studi mengingat kondisi dan warna tiap program studi bisa berbeda-beda antara satu kampus dengan lainnya. | |||
Ajakan
Pembelajaran Desain Layout tidak sebatas mengenalkan pengetahuan keterampilan teknis mengoperasikan software. Pengetahuan ini tetap penting, dan jauh lebih utama yakni bagaimana cara mencari dan memproduksinya. Letak mata kuliah (pilihan) biasanya digelar setelah mahasiswa DKV lulus menjalani pembelajaran sekian semester terutama mata kuliah dasar seperti Desain Elementer, Menggambar, Tipografi. Apa tujuannya? Tujuannya agar mahasiswa bisa “menghubungkan fenomen baru ke dalam struktur pengetahuan mereka.”
Berbagai pengetahuan dalam pembelajaran dasar bisa diterapkan ke pembelajaran baru yang dari situ akan menghasilkan pengetahuan baru. Prosesnya bisa melalui asimilasi maupun akomodasi. Projek desain layout yang dikerjakan sebaiknya menerapkan kompleksitas yang berbeda yang dari situ akan terlihat perkembangan hasil pembelajarannya sebagai wujud cara menghubungkan pengetahuan sebelumnya menjadi pengetahuan yang lebih baru. Singkatnya, struktur pengetahuannya diperkuat.




Keterangan: Karya desain layout tahapan lanjut, menerapkan keragaman teks dan ilustrasi yang dirancang sendiri, mengakomodir rencana mahasiswa dalam menentukan media sebagai proyek akhir pembelajaran. Karya di atas karya Mutiara Alya Zhafira (angkatan 2022), seorang mahasiswi yang menaruh perhatian pada desain majalah sejak SMP disamping juga seorang pembaca novel. Sumber: Kelas Pilihan Desain Layout DKV ISI Yogyakarta Semester Genap 2024-2025.




Keterangan: Karya desain layout tahapan lanjut, menerapkan keragaman teks dan ilustrasi yang dirancang sendiri, mengakomodir rencana mahasiswa dalam menentukan media sebagai proyek akhir pembelajaran. Kompleksitas desain layout multiple pages berbeda antar mahasiswa sesuai minatnya. Karya di atas karya Chintya Ramayariani (angkatan 2021), seorang mahasiswi yang menaruh perhatian pada desain ensiklopedia. Sumber: Kelas Pilihan Desain Layout DKV ISI Yogyakarta Semester Genap 2024-2025.
Tawaran durasi pembelajaran dua kali dalam satu pekannya belum tentu tepat bagi pembelajaran mata kuliah lain yang berbasis eksplorasi dan studi mandiri. Jika format durasi perkuliahan bisa ditata berimbang antara durasi pembelajaran dua kali dalam setiap pekan dengan durasi pembelajaran satu kali dalam setiap pekan, harapannya akan terdapat waktu kosong akibat dampak dari pembelajaran durasi dua pertemuan dalam satu pekan. Waktu kosong ini penting terutama bagi zaman yang kian disesaki informasi. Bagi pengajar, waktu kosong ini bermanfaat sebagai waktu berkualitas akibat gempuran kerja-kerja administrasi.
Pemikiran durasi pembelajaran ini belum tentu merupakan hal baru. Besar kemungkinan durasi tersebut sudah diterapkan di kampus lain. Hal barunya yakni melihatnya dari aspek konstruksi pembelajaran, dan bukan sebatas dari kebiasaan dan besaran SKS.
Kembali pada karakter pendidikan seni rupa dan desain, perhatian tidak saja tertuju pada jumlah mahasiswa tetapi kondisi pengajar juga perlu diperhatikan. Seperti tulis Arief Adityawan S., “Kurikulum sebaik apapun akan sia-sia bila metode pembelajaran di muka kelas tidak berjalan baik.” Kebiasaan lama belum final. Zaman baru butuh pengelolaan yang berbeda. Ada hal-hal penting yang tetap dipertahankan dan diperluas, ada hal-hal baru yang perlu diakomodasi.
Catatan:
Bacaan:
Sumber Karya:
Desain bisa bicara, memberikan inspirasi dan momen yang istimewa. Ia sangat cerdas, tidak terduga bahkan bisa jelek atau norak, apapun bentuknya yang terpenting tidak membosankan!