#REFORMASIH? – Memperingati 25 tahun Refomasi bersama RajutKejut

Jakarta memiliki komunitas yarn bombing bernama RajutKejut. Dalam kegiatannya mereka mendorong semangat kraftivisme dengan melakukan ‘bom benang’ atau yang dikenal dengan sebutan yarn bombing, lewat karya-karya rajut mereka. Yarn bombing adalah bagian dari seni jalanan dengan merespon ruang publik secara spontan melalui karya berukuran masif yang terbuat dari benang. Proyek yarn bombing diawali pada tahun 2014 di Jakarta oleh lima perempuan, yaitu: Harjuni Rochajati, Yulina Achrini, Vidhyasuri Utami, Elisabet Tata, dan Wahju Hardjanti. Mereka adalah para ibu yang berasal dari kelas menengah, yang tinggal di Jakarta dan sadar akan isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat. Lewat tema karya yang universal serta isu kemanusiaan, mereka berkarya dengan mengajak banyak perajut relawan di seluruh Indonesia secara cair dan terbuka, lintas suku, agama, ras, dan profesi. Mayoritas adalah perempuan. Dengan menggunakan benang dan teknik crochet, mereka membuat karya rajut dan dipamerkan di ruang publik untuk merespon suatu kondisi sosial budaya atau ikut merayakan momen penting dalam berkehidupan di Indonesia.

Karya RajutKejut berwujud sebuah karya yang utuh yang dibuat secara kolektif. Terdiri dari banyak modul rajutan yang berukuran kecil, kemudian disambung dengan cara dijahit menjadi satu, menghasilkan sebuah karya yang berukuran sangat besar untuk ditempatkan di ruang publik terbuka. Komunitas RajutKejut kerap memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi tidak hanya untuk bertukar cerita tetapi juga untuk mengelola perwujudan karya, mulai dari gagasan hingga karya tercipta. Mereka juga menggunakan media sosial dalam aktivitasnya. Media sosial berperan penting bagi komunitas sebagai sumber referensi dan inspirasi, sarana komunikasi, koordinasi, dokumentasi, dan memperluas jaringan. Adanya media sosial juga memungkinkan komunitas ini untuk terhubung dengan kolaborator potensial, mengoordinasikan proyek, mengundang keterlibatan sosial, berbagi pola dan proyek dan menjangkau khalayak yang lebih luas, mengambil bagian dalam percakapan kritis yang membantu memperkaya praktik kraftivisme. Kraftivisme dipahami sebagai aktivisme yang dijalankan melalui/menggunakan kraf (karya yang dihasilkan secara manual oleh tangan).

#Reformasih in Absentia

Indonesia mengenal bulan Mei sebagai bulan Reformasi. Puncaknya adalah pada tanggal 21 Mei sebagai Hari Peringatan Reformasi di Indonesia. Merupakan hari yang menjadi momen pengingat bagi masyarakat Indonesia atas terjadinya peristiwa 1998 dan lengsernya Presiden Soeharto. Merupakan hari yang bersejarah dan menjadi penanda berakhirnya masa orde baru yang berganti ke masa reformasi.

Sejak  tahun 1994, berbagai krisis terjadi di Indonesia. Krisis ekonomi, politik, hukum, hingga sosial yang berkepanjangan melanda Indonesia dan menimbulkan mosi ketidakpuasan masyarakat terhadap rezim Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Bertolak dari ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah dan krisis yang tak kunjung usai di era kepemimpinan Orde Baru, memicu protes besar dari masyarakat. Para mahasiswa mendorong gerakan reformasi untuk membawa perubahan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia. Mereka tidak gentar meski kala itu banyak aktivis yang hilang ketika memperjuangkan reformasi.

Tragedi Mei ’98 terjadi pertama kali di kota Medan pada tanggal 30 April 1998, kemudian disusul dengan kota-kota lainnya seperti Jakarta, Surabaya, Solo dan lain-lain. Diawali dengan aksi unjuk rasa para mahasiswa dan aktivis secara serentak dan sporadis yang menuntut Pemerintah agar segera melakukan reformasi politik, ekonomi, dan hukum. kemudian terjadi banyak kasus penculikan para aktivis, serta tragedi Trisakti yang menewaskan sejumlah mahasiswa. Tidak terelakkan, terjadi kerusuhan, penjarahan, pembakaran rumah, gedung dan pusat perbelanjaan. Tidak sedikit perempuan yang mengalami korban tindak kekerasan seksual, perkosaan, pembunuhan yang sebagian besar dialami oleh perempuan dari etnis Tionghoa lintas kelas sosial. Peristiwa Mei 1998 merupakan puncaknya, menjadi satu momen bersejarah bagi bangsa Indonesia dan menjadi pembelajaran penting bagi bangsa kita.

MataWaktu, sebuah yayasan yang bergerak di bidang riset visual dan mengemban misi pengarsipan, penelitian serta publikasi (terkait seni visual, khususnya fotografi) merefleksikan seperempat abad Gerakan Reformasi, menyelenggarakan Pameran dan Pengembangan Jejaring Bersama di Tabir MataWaktu. Yayasan ini menggalang jejaring dengan adanya kontribusi dari masyarakat terkait arsip dan dokumentasi tentang Peristiwa Mei 1998. Bentuknya dapat berupa foto, audio, atau video, baik berupa fisik maupun digital. Kontribusi diperoleh dari beragam sudut pandang, tidak hanya jurnalis dan mahasiswa yang berada di tengah demonstrasi, namun juga dari tatapan para penyintas, massa atau petahana.

Pameran yang dibuka pada tanggal 17 Mei 2023 oleh Goenawan Mohamad ini berjudul 25 TAHUN #REFORMAS!H IN ABSENTIA, merupakan terminal dan sarana independen untuk memanggil kembali nurani serta ingatan masyarakat akan hakikat misi Gerakan Reformasi yang sejatinya tak pernah usai. #REFORMAS!H IN ABSENTIA yang berlangsung hingga 17 Juni 2023, mengajak masyarakat untuk melihat, merefleksikan dan mempertanyakan kembali, apakah reformasi yang telah berjalan selama 25 tahun sudah mencapai harapan. MataWaktu memandang korupsi, kolusi dan nepotisme –dimana pada 1998 ketiga isu ini turut mendorong munculnya Gerakan Reformasi– sampai hari ini masih terus terjadi di Indonesia. Penegakan hukum masih terasa berat sebelah, dan kebebasan pendapat masih belum terjamin. Harapannya, pameran ini mampu menjadi satu dari banyak titik yang mendorong munculnya berbagai inisiatif yang mengingatkan bahwa reformasi belum selesai dan masih perlu diupayakan. Melalui semangat repositori, MataWaktu mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk membuat karya bertema reformasi dan menyebarkannya melalui media sosial disertai tagar #Reformasih, atau apa pun, sehingga peringatan 25 tahun reformasi tidak hanya menjadi sekedar bunyi yang terhimpit modernisasi dan kecerdasan buatan yang akhir-akhir ini marak di tengah masyarakat. 

Karya #REFORMASIH? RajutKejut

Sebagai bentuk keprihatinan atas kondisi bangsa pasca reformasi, Komunitas RajutKejut turut berpartisipasi dalam
peringatan 25 tahun kejadian tersebut. Diinisiasi oleh MataWaktu dan diikuti oleh komunitas lainnya, RajutKejut pun membuat karya. Karya rajut hasil kerja gotong-royong para perajut dari seluruh Indonesia, kemudian ditampilkan
di Tabir MataWaktu dan berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Napak Reformasi yang diselenggarakan oleh Komnas Perempuan.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) adalah lembaga negara yang independen untuk penegakan hak asasi manusia perempuan Indonesia.  Lahir dari tuntutan masyarakat sipil, terutama kaum perempuan, kepada pemerintah untuk mewujudkan tanggung jawab negara dalam menanggapi dan menangani persoalan kekerasan terhadap perempuan.  Tuntutan tersebut berakar pada tragedi kekerasan seksual yang terutama dialami oleh perempuan Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998 di berbagai kota besar di Indonesia.

Komnas Perempuan mengagas Napak Reformasi sebagai bagian dari proses merawat ingatan publik atas peristiwa pelanggaran HAM, melalui kunjungan pada situs-situs yang dapat menjadi jembatan ingatan pada peristiwa Mei 1998. Selain itu, Napak Reformasi dimaksudkan untuk memberikan pengakuan dan penghargaan pada berbagai upaya merawat ingatan kolektif tentang pelanggaran HAM oleh berbagai komunitas korban, organisasi HAM, maupun masyarakat sipil.

Pada hari Sabtu, 20 Mei 2023, Napak Reformasi diselenggarakan bersama komunitas sejarah Ngopi Jakarta, Komunitas RajutKejut dan diikuti oleh masyarakat umum. Agenda Napak Reformasi ini mengunjungi kantor Komnas Perempuan sebagai bagian dari situs sejarah, Kantor Perhimpunan INTI (Indonesia Tionghoa), mengunjungi Prasasti Jarum Mei serta beberapa artefak kenangan di Klender, dan berakhir di TPU Pondok Ranggon Jakarta Timur. Taman Pemakaman Umum (TPU) ini merupakan tempat peristirahatan terakhir para korban Tragedi Mei 1998 yang dimakamkan secara massal. Napak tilas ini dilakukan sebagai upaya pembelajaran penting bagi bangsa Indonesia, merawat ingatan kolektif yang memungkinkan bagi publik untuk memahami peristiwa di masa lalu, menjadi bagian dalam upaya pemenuhan hak-hak korban, dan memastikan agar peristiwa serupa tidak berulang.

Bertemu para ibu dari korban Tragedi Mei 1998 di perkampungan di Klender Jakarta Timur, yang merupakan satu dari beberapa situs yang dikunjungi dalam kegiatan Napak Reformasi (foto: RajutKejut)


Komunitas RajutKejut turut serta dalam Napak Reformasi dengan mengusung karya rajut yang menyerupai spanduk bertuliskan #REFORMASIH?. Melalui karya ini RajutKejut mengajak setiap orang untuk merefleksikan pencapaian dari perjalanan 25 tahun reformasi untuk perbaikan di masa mendatang. Harapannya, karya dapat menjadi pengingat akan perjuangan para mahasiswa yang gugur, seraya terus menginspirasi kita semua untuk menjadi pribadi yang tangguh dan pantang menyerah. Semoga upaya ini mampu memperluas cara dan gerak sehingga manusia Indonesia yang tidak mengalami momentum reformasi 25 tahun lalu, ikut paham, memiliki semangat yang sama, kemudian bergerak, bergulir, meluas, dan berlanjut sampai ke adik, anak, bahkan cucu. Selain itu juga sebagai pengingat kepada generasi muda bangsa untuk mencegah terulangnya kekerasan.

Kantor Komnas Perempuan sebagai situs yang pertama dikunjungi dalam Napak Reformasi (foto: RajutKejut)
Kantor Perhimpunan INTI di Kemayoran Jakarta Pusat sebagai situs kedua yang dikunjungi dalam Napak Reformasi (foto: RajutKejut)
TPU Pondok Ranggon Jakarta Timur, tempat para korban Tragedi Mei 1998 dimakamkan secara massal,
merupakan situs keempat yang dikunjungi dalam Napak Reformasi (foto: RajutKejut)
Karya #REFORMASIH? mampir ke MataWaktu selaku inisiator dari kegiatan ini (foto: RajutKejut)


Konsep karya menyerupai bunga papan yang umumnya digunakan masyarakat untuk menyampaikan ucapan, baik suka cita maupun duka cita. Karya bertuliskan kata #REFORMASIH? sesuai tagar yang dibuat oleh MataWaktu. Kata ini merupakan kombinasi dari kata REFORMASI + MASIH? yang dimaksudkan untuk mempertanyakan, “apakah reformasi masih ada?”. Seperti pada umumnya bentuk karya RajutKejut yang terbentuk dari modul-modul rajutan yang disusun, demikian pula halnya dengan karya ini. Karya #REFORMASI? terbuat dari susunan modul rajutan berbentuk bunga aneka jenis dan warna –melambangkan keberagaman suku, ras dan agama–yang semuanya memiliki wangi dan indahnya masing-masing. Tulisan #REFORMASI didominasi oleh warna merah, merepresentasikan semangat dan perjuangan. Latar belakang berwarna kuning dan putih menampilkan nuansa cerah dan bersinar. Huruf H dibuat berbeda, menggunakan warna bernuansa ungu ditampilkan sebagai aksen untuk mempertegas isu yang diangkat. Pada ‘tanda tanya’ kembali menggunakan warna merah dan kuning-putih namun dengan pengaplikasian terbalik, sehingga nampak menonjol. Karya ini berdimensi 1.130 cm x 140 cm. Terbentuk dari susunan modul berupa bunga dengan ukuran diameter sekitar 10 cm. Kata #REFORMASIH? ditampilkan menyerupai piksel melalui bunga-bunga yang disusun 113 baris arah horizontal dan 14 baris arah vertikal. Huruf-huruf ini tidak dirangkai menjadi satu melainkan satuan sehingga mudah untuk dibawa, digotong beramai-ramai. Ini membuka kesempatan bagi para peserta napak tilas untuk memilih huruf yang dikehendaki dan berinteraksi dengan karya. Umumnya peserta memilih huruf yang merupakan inisial dari namanya, bila beruntung. Kemudian mereka pun berfoto bersama karya. Hal ini dapat dipahami mengingat karya-karya RajutKejut senantiasa mengajak masyarakat untuk bergotong-royong dengan suka cita, disamping kerap mempertimbangkan faktor kemudahan dalam penyajiannya.

Modul berbentuk bunga dirangkai satu per satu pada panil huruf secara bergotong-royong (foto: RajutKejut)

Peserta dapat memilih huruf yang dikehendaki untuk direspon bersama-sama (foto: RajutKejut)


Tidak ayal, karya #REFORMASIH? yang dibawa saat Napak Reformasi menjadi obyek yang menarik dan seru untuk berfoto bersama. Karya ini pun turut mencairkan suasana, dimana para peserta dari lintas usia dan generasi yang awalnya belum saling mengenal diajak untuk mengusung karya bersama-sama sehingga terbangun rasa kebersamaan di antara mereka. Bersama karya ini, para peserta berfoto dan beberapa menyebarkannya di media sosial seraya menyertakan tagar #Reformasih akun mereka. Karya #REFORMASIH? oleh RajutKejut yang disajikan lewat keterlibatan publik, memperlihatkan berjalannya praktik kraftivisme. Harapannya akan tersebar semangat reformasi dan terus mengalir di tengah masyarakat, terutama di kalangan generasi muda Indonesia.

Referensi:

• MataWaktu (https://go.matawaktu.org/reformasih)
• Komnas Perempuan (https://komnasperempuan.go.id)
• RajutKejut (https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/1959)

Quoted

“Imajinasi yang liar lebih kuat dari lirik yang sok mau jelas.”

Slamet A. Sjukur