Setelah Melulus (dari) Kampus

“Semestinya, desainer mensyukur diri mengingat bidang ini lintas ilmu, lintas disiplin, lintas ruang, ragam pendekatan.”

Akhir-akhir ini, beberapa mahasiswa, malam-malam singgah ke rumahku. Namun, dari sekian mahasiswa itu yang kini jadi galauku tak lain mereka yang baru saja melulus diri dari kampus. Hampir sama, di antara mereka semua bertanya: setelah ini (aku) ke mana? Apakah ada informasi untuk saya?

Dalam pandanganku, pertanyaan-pertanyaan yang demikian tak selalu hadir kala melulus diri. Pertanyaan-pertanyaan itu kuyakin muncul malam-malam kala sepi masa depan. Yang hadir di sana antara bekal diri yang dimiliki dengan kecemasan esok hari: apakah aku mampu menjalani hidup sebagai desainer esok nanti. Mungkin, hanya dinding kamar itu yang kerap mendengarnya, mungkin doa-doa ayah ibu yang menemani dari kejauhan. Mungkin, si dosen itu saja yang tahu bahwa menjadi desainer saat ini tidaklah mudah. Ia tak mudah manakala saat ini dan untuk sekian waktu ke depan akan menyusul barisan para desainer pencari kerja dari berbagai penjuru kota dan pinggiran, pencari penghidupan, sedangkan lapangan itu kian sesak diperebutkan. Maka, yang mesti dikerjakan tak lain mereposisi (ke)diri(an) sebagai seorang desainer.

Semestinya, desainer mensyukur diri mengingat bidang ini lintas ilmu, lintas disiplin, lintas ruang, ragam pendekatan. Hal ini dapat dipahami secara demikian: jika desain adalah tentang pemecahan persoalan, maka selama solusinya dimungkinkan merupakan desain, apapun masalah atau persoalan itu desain (senantiasa) dapat hadir di sana.Maka, yang perlu dikerjakan yaitu memperluas cara memandang keilmuan yang selama ini dimiliki dan dipelajari.

Galau mahasiswa yang barusan melulus diri tadi sedikit banyak mengasal dari kampus: kegagalan pendidikan (formal) dalam menawarkan pandangan apa dan bagaimana menjadi desainer dari waktu ke waktu. Bukan pada soal banyaknya mata kuliah yang diberikan, bukan pula pada soal bobot sks yang dibebankan, juga bukan pada soal daftar kepustaan yang mesti dibaca-baca, namun pada soal bagaimana memperluas diri sebagai insan desainer yang mampu bersikap tenang.

Menurutku, pertanyaan “setelah ini (aku) mau ke mana” merupakan sebuah pertanyaan yang secara psikologis mengada pada level kecemasan. Jika benar demikian, maka pertanyaan galau itu bukan sebatas pertanyaan seorang desainer, namun sebuah pertanyaan yang menjelaskan kecemasan (untuk tak mengatakan sebagai kegagalan) sebagai manusia. Maka dari itu, soal menjadi manusia inilah yang (kerap) luput dari cakupan sks, kurikulum, mata kuliah-mata kuliah praktik maupun teori. Maka, yang ditanam di kampus dalam sekian semester akan berbuah pada kemudian hari. Apakah galau mahasiswa menjadi galau kurikulum pendidikan desain kita? Kita periksa saja satu persatu.

Jika soal menjadi manusia beserta kesiapan menghadapi kecemasan-kecemasan tak menjadi persoalan utama pendidikan, selama itu pula tiap malam mahasiswa akan senantiasa meratap pada dinding kamarnya, sedang doa-doa ayah ibu memanjatkan selalu bahwa: “semoga anakku mampu dan berhasil dalam hidupnya sebagai manusia.”

Ini bukan fiksi. Ini juga bukan aforisma. Tulisan ini hanya sederhana saja, maunya mengingatkan kembali bahwa menjadi manusia lebih luas dimensinya sebatas menjadi seorang desainer. Namun, lewat menjadi desainer dalam cakrawala menjadi manusia, sosok yang dalam dirinya memiliki kompleksitas dan keragaman, niscaya cemas-cemas itu pelan-pelan tangkas teratasi. Meski, dalam beberapa hal senantiasa menyisa galau. Salam.

Quoted

“Keberhasilan merancang logo banyak dikaitkan sebagai misteri, intuisi, bakat alami, “hoki” bahkan wangsit hingga fengshui. Tetapi saya pribadi percaya campur tangan Tuhan dalam pekerjaan tangan kita sebagai desainer adalah misteri yang layak menjadi renungan.”

Henricus Kusbiantoro