Pameran Rancangan Grafis: Lahir karena Digasak Mesin

Gedung Lingkar Mitra Budaya Jakarta sejak tanggal 24 September sampai 30 September ini sempat menongolkan wajah lain. Jika biasanya kehadirannya mirip sebuah galeri yang menyimpan berpuluh lukisan atau patung, kali ini wajahnya lebih dekat dengan sebuah toko serba ada. Di satu sisi memajangkan berbagai buku, di sisi lain berserakan dos-dos yang menonjolkan aneka warna kemasan. Sementara di bagian lain nampak tergantung puluhan macam kartu ucapan selamat, juga kartu undangan, dan kartu nama. Bahkan, yang membuatnya lebih unik, di sana juga tertempel sejumlah uang kertas yang dikeluarkan sekitar tahun 60 an lampau. Bukan cuma uang kertasnya, tetapi juga disain, atau gambar aslinya sebelum uang tersebut dicetak. Dan sebagainya.

Pemandangan demikian memang belum pernah terjadi dalam sejarah seni rupa Indonesia. Pemandangan yang begitu komplit menyentuh segala sisi sektor kehidupan kita. Pemandangan yang sebenarnya sudah kita kenali, tetapi belum sempat benar-benar disimaki. Panorama tersebut bisa dilihat dalam pameran rancangan grafis pertama yang diselenggarakan oleh IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia) yang baru dibentuk bulan April yang lalu.

Terlampau Akrab
Pameran semacam memang bukan yang pertama terjadi di Jakarta. Bulan Juni yang lalu 3 perancang grafis telah pula memamerkan karya-karyanya. Tetapi begitu tokh jauh dari lengkap. Karena biar bagaimanapun perancang grafis juga tertangkap oleh spesialisasi. Ada yang ahli atau spesialis membuat logo atau lambang, ada pula yang kretifitasnya merasuk ke soal tipografi atau penciptaan huruf-huruf. Atau yang sengaja mengkonsentrasikan aktifitasnya ke soal animasi dan kartun atau ilustrasi-ilustrasi umum. Karena itulah pameran IPGI yang menampilkan 43 nama itu boleh dianggap sebuah pemandangan lengkap.

Di sana muncul karya Sadjirun, seorang perancang mata uang RI kawakan. Karya asli S. Prinka yang sering menghiasi majalah berita Tempo. Ilustrasi asli cover buku Kusni Kasdut karya Dwi Koendoro. Gambar Guruh Sukarnoputra karya Hanny Kardinata yang dipakai untuk cover pagelarannya baru-baru ini. Juga karikatur Pramono dan GM. Sudarta serta kop-kop rubrik karya Harsono atau poster garapan Cahyono Abdi. Bahkan di situ terpajang pula disain-disain perangko.

Menatap karya-karya asli, artinya belum tereproduksi dalam bentuk di mana karya itu disasarkan, tentulah sangat menarik. Apalagi di sana ada beberapa yang menyertakan proses pembuatannya. Bagaimana sebuah sampul kaset yang bagus bisa terjadi. Bagaimana sebuah kotak obat yang memikat bisa terbentuk. Dan bagaimana film kartun untuk iklan terbuat dengan menarik. Itulah. Dan semuanya tergolong rancangan grafis. Seni yang disiapkan untuk dipasarkan ke hadapan orang banyak, dengan beban memesankan sesuatu kepada khalayak. Entah itu pesan yang sifatnya promotif, himbauan, slogan atau agitatif. Satu karya seni yang hampir-hampir tak diindahkan orang nilainya, justru karena terlampau akrab keterlibatannya. Karena sudah tak ada jarak pandang.

Namun yang patut dipertanyakan, mengapa justru pada abad modern ini istilah ‘rancangan grafis’ atau ‘perancang grafis’ muncul? Dan bukan pada masa-masa sebelumnya?

Cetakan Rakam

Pada abad 19 orang membagi 4 cara dalam mengolah seni grafis. Yang pertama cetak rakam, kemudian cetak timbul, cetak bidang dan terakhir cetak sablon. Empat cara itu adalah hasil pengelompokan tehnis kerja etsa, litografi, woodcut, linografi, serigrafi, sablon dan sebagainya.

Meninjau sedikit mengenai cetak rakam. Cetak ini menempuh cara mengukirkan suatu bentuk ke atas sebuah bidang datar. Setelah ukiran dianggap selesai baru tinta cetak dilumurkan di atasnya. Kemudian kertas lunak atau barang apapun yang datar dan tak keras dicapkan di situ. Hasilnya gampang dibayangkan. Tinta cetak yang masuk dalam ukiran, diserap oleh kertas yang dicapkan. Gambar terbentuk. Untuk jenis ini, etsa bisa diambil sebagai contohnya.

Cetak timbul lebih sederhana. Bidang datar ditatah, hingga subyek yang mau ditampilkan (gambar atau tulisan) nongol. Baru kertas atau sebangsanya ditindaskan, setelah tentu saja bidang tertatah itu dibubuhi tinta terlebih dulu. Contoh paling simpel: stempel.

Cetak bidang sedikit lebih rumit, karena ia menuntut pengetahuan kimia yang agak mendalam. Sebagai contoh adalah litografi. Orang mencetak atau menulis di atas batu. Kemudian batu diproses dengan zat-zat kimia hingga terkikis seperlunya, sesuai dengan yang dicoretkan seniman di atas batu tersebut. Usai itu baru kertas dicetakkannya.

Jenis yang terakhir adalah cetak sablon. Cetak ini telah dilakukan orang sejak ratusan tahun yang lalu dengan cara mengerat-ngerat kertas untuk cetakan. Tehnik yang sederhana ini memang membawa akibat kecil: tidak diakui sebagai kerja seni. Tetapi pendapat itu berubah pada pertengahan abad 20. Pada tahun 1930 an diketemukan sarangan (saring). Dan pada masa sesudah Perang Dunia II cetak sablon ini sangat populer dan banyak dikerjakan orang.

Direbut mesin
Empat dasar kerja di atas lantas membuahi ide para ahli untuk terus membiakkan seni grafis. Bukan hanya segi estetiknya saja yang berusaha diangkat, tetapi juga segi tehnis atau pelaksanaannya. Sementara yang namanya etsa, litografi dan sejenisnya masih bertahan dan masih dikerjakan orang (sebagai seni murni) dengan tehnik yang boleh dikatakan tradisional, tehnologi cetak melesat terus ke depan. Cetak timbul melahirkan mesin handpress, atau cetak tindas. Dan tehnik-tehnik lain mengilhami kelahiran mesin-mesin semisal offset, anak tehnologi grafis mutakhir yang sekarang banyak dipakai. Yang luncur dan lancar. Yang menyebabkan seorang seniman tak lagi terlibat secara langsung dalam proses terjadinya hasil final sebuah karya grafis. Namun hanya terlibat dalam penyusunan, pengorganisasian segala sesuatu elemen grafis.

Jika dahulu Henri Touluse Lautrec mencipta poster-posternya dengan sekaligus mengerjakan acuan grafisnya, seniman rancang grafis sekarang tidak. Paul Bruhwiler atau Pellegrini dari Swiss menerima total bahwa ia hanya mendisain posternya. Sementara kualitas berikutnya diserahkan kepada percetakan di Zurich. Begitu juga ketika Thomas Rowlandson menyebarkan karikaturnya pertama kali, tehnik reproduksinya (dengan etsa) dikerjakan sendiri pada awal abad 19.

Dan itu berbeda dengan GM Sudarta yang menyerahkan pencetakan karikaturnya pada sebuah mesin offset. Sudarta hanya mencipta gambarnya saja.

Di sinilah lantas terlahir istilah “perancang grafis”, atau “graphic designer”. Dengan serta merta ia terpisah dari sebutan “pelaksana grafis”. Sebab pelaksanaannya telah direbut oleh mesin-mesin.

Dan yang masuk dalam kotak kategori akhirnya bukan cuma poster, karikatur atau berbagai macam bentuk yang berhubungan dengan penerbitan atau percetakan, namun lebih meluas lagi. Sesuatu yang membutuhkan kecekatan dan kreatifitas dalam pengorganisasian elemen seni rupa, seperti iklan, kemasan, film atau televisi dan lain-lain juga perlu penanganan rancang grafis. Dan nampak, akhirnya semua sektor kehidupan tersentuh. Kehidupan memang perlu keindahan. Rancangan grafis dari awalnya memang menawarkan keindahan.

Sumber: Harian Kompas, Senin, 29 September 1980, halaman VI.

Quoted

“Imajinasi yang liar lebih kuat dari lirik yang sok mau jelas.”

Slamet A. Sjukur