Mengapa Saya Melukis
Tari Betawi

Tari Betawi

Sering kali saya bertemu orang yang berkomentar seraya bertanya: “Oh, Pak Raden bisa melukis?” Setiap itu juga saya jawab bahwa saya cari makan lewat melukis dan menggambar.

Untuk menjawab pertanyaan mendasar mengapa saya melukis, saya sendiri tidak tahu. Hanya yang saya sadari, sedari dulu saya suka mencorat-coret. Bahkan, sejak saya masih kecil. Seingat saya, begitu saya sudah mampu memegang kapur atau arang, maka tembok dan lantai di rumah sudah penuh dengan coretan yang belum boleh disebut gambar. Anehnya, orang tua saya tidak pernah marah kalau saya mengotori lantai dan dinding dengan corat-coret yang tidak karuan itu. Mungkin itulah awal saya sebagai perupa.

 


 

Dalam perjalanan hidup saya, dari masa kecil hingga remaja yang ada hanyalah saya menggambar dan menggambar. Sedangkan melukis secara serius dengan media cat minyak dan kanvas, baru saya pelajari pada waktu saya mendapatkan pelajaran dari dosen saya Ries Mulder pada tahun 1953 di ITB jurusan Seni Rupa, sekarang bernama Fakultas Seni Rupa dan Desain. Mungkin karena minat saya akan segala bentuk seni yang bercerita (naratif) seperti ilustrasi, animasi, pedalangan dan teater, maka hal ini terbawa dalam melukis. Pada umumnya lukisan saya bersifat naratif, selalu menceritakan kejadian, selalu saja ada dongengnya.

Dulu, dosen seni lukis saya menamakan lukisan saya ‘literair’, terlalu asyik dengan bercerita, pada hal unsur-unsur seni rupa seperti: komposisi, bentuk, warna, garis dan ekspresi adalah yang utama, bukan dongengnya. Tapi, sekarang keadaannya lain. Mau apapun boleh. Karena sejak awal saya adalah ilustrator buku anak, sekaligus animator, juga menjadi dalang wayang kulit, seorang pembuat film boneka serta seorang penggemar wayang orang maka tema dari lukisan-lukisan saya selalu menceritakan sesuatu yang saya sukai.

 

WAYANG, KARAWITAN, TARI, DAN ANIMASI

Sementara, ada orang yang menamakan lukisan saya sebagai ilustrasi dalam format besar. Apa salahnya? Asal saja ditekuni dengan rasa cinta.

Bukanlah suatu kebetulan bahwa orang tua saya dari kalangan Pangreh Prodjo (istilah untuk zaman sekarangnya pamong praja) yang sangat mencintai seni. Tentu saja seni Jawa. Maklumlah, seni Indonesia waktu itu belumlah populer. Orang tua saya keduanya penggemar tontonan wayang. Mereka rutin menonton pertunjukan wayang. Bahkan, ibu saya punya kebiasaan nonton wayang orang tiap malam minggu. Bayangkan, ini terjadi di tahun 30-an! Saya masih ingat, sekali waktu rombongan wayang Ngesthi Pandowo dari Semarang yang waktu itu dipimpin oleh Ki Sastrosabdho, pemeran Petruk yang terkenal mengunjungi Surabaya, maka Ki Sastrosabdho menelpon ayah saya: “Nuwun sewu, mangke dalu panjenengan ngersaaken lampahan menopo? (Mohon maaf, nanti malam bapak menginginkan lakon apa?)”. Waktu itu ayah masih menjabat Patih di Surabaya.

Peristiwa 10 November 1945 membawa banyak perubahan. Perang yang berkecamuk di Surabaya memaksa kami sekeluarga mengungsi ke Madiun yang relatif masih aman. Letak kota Madiun yang begitu dekat dengan Solo menyebabkan seni karawitan, tari, dan pedalangan berkiblat ke kota Solo. Dan di Madiun lah saya mulai menekuni bidang-bidang seni ini. Saya pun bergabung dengan perkumpulan Siswo Kusolo, sebuah perkumpulan kesenian untuk siswa dan pelajar.

Sesudah penyerahan kedaulatan di tahun 1949, kami kembali ke Surabaya. Sambil sekolah di V.H.O. (Voorbereidend Hoger Onderwijs)–setaraf SMA yang berbahasa pengantar bahasa Belanda–saya bergabung dengan kelompok perkumpulan tari dan karawitan Siswo Setyo Budoyo. Di saat itulah saya mulai “memasarkan” karya ilustrasi saya ke majalah-majalah. Saya belum melukis; karya saya semua masih hitam-putih. Sampai akhirnya di tahun 1952, saya mendaftarkan diri ke ITB, Jurusan Seni Rupa, Bandung. Baru di sanalah saya berkenalan dengan kegiatan melukis.

Pelajaran melukis awalnya terasa membosankan: penuh teori dan dasar-dasar melukis. Juga temanya selalu alam benda (still life). Padahal saya menyukai gerak, sehingga saya lebih memfokuskan diri kepada ilustrasi, terutama ilustrasi untuk bacaan anak. Dan di Bandung inilah saya menjadi ilustrator tetap majalah Puspa Wanita.

Kalau ditanyakan pada saya siapakah idola saya, pasti saya jawab Walt Disney, Hans Christian Andersen, dan Ki Nartosabdho. Walt Disney memberikan banyak kebahagiaan di waktu kecil, Andersen pendongeng yang luar biasa, sedangkan Ki Nartosabdho adalah dalang yang hebat. Ada dua hal yang memberikan kejutan dalam hidup saya. Pertama: waktu saya belajar mendalang dengan serius pada guru dalang dari Solo. Ki Slamet namanya. Saya terperangah ketika saya tahu bahwa dengan menggerakkan wayang secara benar maka wayang jadi hidup, seolah diberi bernyawa. Kejutan kedua: waktu pelajaran animasi di Paris. Dengan penuh keheranan saya menyaksikan gambar-gambar saya yang diperlakukan secara khusus menjadi hidup ketika disorotkan ke layar. Untuk diketahui saya pernah mendapat beasiswa Cooperation Technique tahun 1961-1964 dari pemerintah Perancis. Di Paris saya belajar di dua studio: yaitu Les Cinéastes Associés dan Les Films Martin-Boschet.  Selama di Paris saya sempat mendalang di KBRI pada perayaan 17 Agustus 1961. Juga di tempat-tempat lainnya, di antaranya gedung UNESCO dan Musée Guimet sebuah museum seni untuk Seni Asia Timur Jauh. Saya sempat mengajar memainkan gamelan kepada mahasiswa Indonesia dan anak-anak Perancis di kediaman R.M. Yodjana, seorang maestro tari dari Yogya yang bermukim di Paris.

Sepulangnya di Bandung di tahun 1964 saya sempat bekerja kembali di T.A.C. (Teaching Aids Centre), tempat pembuatan alat peraga untuk SD. Juga mengajar sebagai dosen untuk mata pelajaran ilustrasi di ITB Jurusan Seni Rupa. Waktu itu saya pakai juga untuk menulis buku untuk anak-anak yang ilustrasinya juga dari saya, terbitan PT. Djambatan. Disamping itu juga melayani pesanan film-film animasi pendek dari PENRA (Penerangan Rakyat), Kementrian Penerangan. Dan proyek terakhir saya ialah film seri boneka Si Unyil, bekerja sama dengan Kurnain Suhardiman, produksi PFN, ditayangkan di TVRI sejak tahun 1981 hingga awal 1992.

Entah karena apa sejak menangani Si Unyil saya dijuluki pendongeng oleh anak-anak. Mungkin karena dalam film Si Unyil, tokoh boneka Pak Raden sering mendongeng. Tapi, yang terang selama saya bergabung dengan KPBA (Kelompok Pencinta Bacaan Anak) yang di ketuai oleh DR. Murti Bunanta, S.S.-MA saya banyak mendongeng yang selalu saya lakukan sambil menggambar. Seperti yang saya lakukan waktu saya mendongeng di International Festival for Storytelling di Seattle, Amerika pada tahun 2002. Ini juga saya lakukan di anjungan Jawa Tengah TMII, atas anjuran dari Panitia Pekan Wayang (tahunnya saya lupa) saya mendongeng tentang wayang kepada anak-anak SD, judulnya “Petruk jadi Raja“. Cerita tersebut sudah dibukukan dan diterbitkan oleh KPBA.

Masih ada dua naskah lagi untuk memperkenalkan wayang kepada anak yaitu SUTI (atau: Kebakaran di Gedung Wayang Orang) dan TRIMO (atau: Bayang-bayang di Balik Layar). Buku yang pertama berisi perkenalan kepada wayang orang, sedangkan buku yang kedua perkenalan kepada wayang kulit. Saya sengaja membuat ilustrasinya hanya dengan warna hitam putih. Kedua-duanya sudah selesai naskah dan draft ilustrasinya. Semoga nanti ada yang berminat menerbitkannya.

 

Drs. Suyadi
Jakarta, Juni 2012

PS: Saya melukis dengan iringan rekaman Langendriyan, sebuah sendrasuara karya Sri Mangkunagoro IV.

 


 

Adegan Goro-Goro

Adegan Goro-Goro

Srikandi Mustokoweni

Srikandi Mustokoweni

Di Balik Kelir

Di Balik Kelir

Adegan Taman Soka

Adegan Taman Soka

Tari Tayub

Tari Tayub

Malam Dangdutan

Malam Dangdutan

Sketsa 1

Sketsa 1

Sketsa 2

Sketsa 2

Quoted

Ketika dari mata tak turun ke hati, desain pun gagal total

Bambang Widodo