Visuality Beyond Representation

00-02

Memasuki tahun 2012, Surya Palace Jaya (SPJ) berkolaborasi bersama i-view (komunitas riset visual DKV Binus University) mengajak kita untuk mengeksplorasi visual melampaui peran umumnya sebagai sebuah representasi. Kekuatan visual untuk merepresentasikan berbagai hal telah lama dijadikan landasan dalam desain grafis, namun dalam masa serba instan seperti sekarang ini (dengan koleksi template digital dan CTP), menganggap desain grafis hanya sebagai representasi visual saja akan membawa desain dan kualitas material ke dalam sebuah bahaya besar. Sederhananya, untuk sekedar ‘merepresentasikan’ suatu hal, misalnya bisnis, dengan “visual yang indah dan cetakan yang fancy dapat dikerjakan dengan mudah melalui proses digital—membuat seluruh proses kreatif dan kolaboratif nan panjang dan penuh dengan perjuangan dari entitas individu yang terlibat (desainer, kritikus desain, penyedia material, atau bahkan pelukis) menjadi ‘peninggalan masa lampau’.

SPJ dan i-view yang memiliki perhatian yang sama terhadap keadaan ini mengajak Yasser Rizky untuk mengolah pendekatan eksperimental antara visual dan materialitas kertas untuk merespon. Tujuannya adalah untuk menemukan kembali daya hidup visual dalam interaksinya dengan material (kertas dan tinta) dan untuk melampaui cara pandang terhadap desain yang dibatasi sebagai representasi saja. Permasalahan yang melatarbelakangi pembuatan kalender ini merupakan persoalan besar. Kalender ini merupakan satu langkah kecil untuk memulai.

Karenanya, semangat untuk melepaskan dunia desain keseharian kita yang cenderung “merepresentasi melalui template” hanya dapat dilakukan bersama para insan kreatif. Eksperimen ini mengajak kita untuk menghidupkan kembali dunia desain kita melalui penyatuan kembali visual dan material; visual yang melampaui representasi.

 


 

Mendefinisi ‘visual sebagai representasi’ berarti menyangkal ‘muasal dasar’ dari representasi itu sendiri. Dengan kata lain, ‘visual sebagai representasi’ merupakan penolakan besar-besaran terhadap segala kemungkinan visual sebelum ia menjadi sebuah representasi itu sendiri. Pada kenyataannya, representasi hanya salah satu mode untuk menyajikan visual, yang menyembunyikan banyak kemungkinan mode lainnya.

 

01-01

01-02

01-03

 

Bagaimana hal-hal yang arbiter seperti titik, garis, bentuk, pola, dan bayangan dikomposisikan bersama dalam dua atau tiga dimensi menjadi sesuatu yang familiar dan disebut sebagai representasi? Representasi hanya sebuah peristiwa yang timbul dari apa yang dalam Estetika disebut ‘mimesis’. Dalam mimesis, suatu citra hadir menyerupai benda-benda, bahkan gambar, di luar citra itu sendiri.

 

02-01

02-02

02-03

 

Untuk mengukur kualitas mimesis, kita hanya perlu menilai seberapa persis ia dengan obyek referensinya. Namun, kita tentu paham bahwa karya seni yang hebat tak hanya karya-karya yang realistis dan naturalis saja. Karya-karya ekspresionis dan bahkan abstrak-formalis juga dapat menjadi karya seni yang hebat. Karenanya, menjadi sebuah ketidakmungkinan untuk mengartikan visual hanya sebatas representasi saja.

Oleh sebab itu, misi kami ialah menyelami kembali sifat dasar visual itu sendiri dengan melampaui peran umumnya sebagai ‘alat’ representasi atau berekspresi. Hal ini dimulai dengan mempertanyakan relasi terdekatnya dengan material terhadap persepsi dan perabaan kita dalam interaksi yang terjadi.

 

03-01

03-03

03-04

03-05

03-06

03-021

 

Apa itu visual? Apakah ia semata-mata ekspresi istimewa nan absurd dari para pembuatnya? Namun, bagaimana seseorang dapat ‘membuat’ visual jika mereka tidak menciptakannya? Apakah visual sudah ada sejak dari sananya; menunggu untuk dikuak oleh mata yang dapat melihat? Matahari, tanah, batu, kuda, kerbau, dan semuanya itu dapat dilihat oleh mata. Bagaimana manusia dapat memberikan klaim atas visual yang telah ada dari sananya sejak sebelum dilihat oleh mata pikiran mereka itu? Ada sesuatu yang ‘ilahiah’ dan penuh misteri dari visual sebab ia bukanlah ciptaan manusia. Maka, untuk berinteraksi dengan visual berarti berinteraksi dengan suatu entitas yang melampaui keistimewaan manusia. Visual melampaui sekedar ekspresi pembuatnya.

 

04-01

04-02

04-03

04-04

 

Namun, lagi, apakah visual itu? Sudahkah kita sepenuhnya memahami visual sedemikian rupa hingga kita dapat mendeklarasi penghormatan terhadapnya hanya sebagai keistimewaan semata? Tidakkah kita harus berpikir yang sebaliknya? Apakah misteri dari visual yang diam-diam memanggil kita untuk dapat menyelaminya? Keteraturan garis-garis, ketegasan suatu bentuk, dan kecerahan warna dalam keterjalinannya dengan kerapuhan dan kekuatan materialkah, kertas serta tinta, dalam strukturnya yang memiliki satu sama lain yang memanggil kita? Bagaimana kita melihat kembali asal ‘tampakan’ ini dengan kebahagiaan, ketakjuban, dan kekaguman?

 

05-01

05-02

05-03

05-04

 

Tentunya, bukan sekedar keistimewaan jika visual memang telah ada di sana, namun terlupakan. Visual ada dan menunggu untuk ditemukan oleh mereka yang ingin menyelaraskan diri dengan ‘kerahmatan’-nya. ‘Rahmat’-nya hadir melampaui sekedar form (formalisme), sebab seni tidak dimulai dari kehampaan untuk diisi oleh suatu form surgawi, melainkan diciptakan dari antara penampakan benda-benda. Keber-ada-an visual hadir lebih dari sekedar bagaimana sesuatu dapat tampak atau ditangkap pikiran dan segala kemungkinan terhadapnya.

 

06-01

06-02

 


i-view merupakan tim peneliti visual dari School of Design Universitas Bina Nusantara yang terdiri dari Karna Mustaqim, D. Rio Adiwijaya, Irwan Harnoko, dan Ferdinand Indrajaya.

Quoted

The fate of a designer is not determined by the public system, but by the way he sees his own life

Surianto Rustan