Ketahanan dalam Keragaman (3)

[Bagian terakhir dari tiga bagian. Sambungan dari Ketahanan dalam Keragaman (2)]

 

Saudaraku, sepagi ini aku menuju puncak, merambah bebukitan hijau.

Makin tinggi bukit kudaki, makin kaya keragaman hayati. Makin ragam hayati, makin kuat ekosistem.

Dari lereng bukit, kusaksikan hamparan hijau dedaunan. Alam hijau terkembang karena tumbuh dalam cinta; hasil perjumpaan kerjasama aneka sumberdaya: bibit hayati, sinar mentari, kesuburan bumi, dan semilir angin.

Di hamparan dedaunan hijau, masih tampak bebutiran embun. Meski terperangkap di daun lusuh, butir embun tetap bening, tak tercemar lingkungan yang kotor.

Tatkala sinar mentari menerpa kabut, alam membiaskan cahya perak berkilau. Saat gelap berganti terang dengan pelayanan sang surya, embun pun mengakhiri tugasnya, bergegas memuai membasahi terik langit dengan uap.

Alam tahu kapan harus datang dan pergi. Bisa saling berbagi meski tak bisa saling merasakan. Teguh mengemban misi suci, tak mudah goyah karena keadaan. Makin tinggi posisi, makin memberi ruang hidup bagi keragaman.

Embun dan mentari datang tanpa permisi, pergi tanpa pamit. Embun memberi pendinginan, mentari memberi kehangatan. Silih berganti berbagi tugas pelayanan tanpa pamrih, tanpa kecuali.

Jika alam yang tak bisa saling merasakan bisa saling berbagi dan melayani, mengapa manusia yang bisa saling merasakan tak bisa saling memberi dan mengasihi?

—Yudi Latif, Guru Alam, 2017

 

Berwawasan sistemis (dalam keterberhubungan)
Pada ceramah yang disampaikannya pada 2008 di Center for Ecoliteracy and Teachers College Columbia University, Fritjof Capra menguraikan pemikirannya bahwa untuk bisa memahami dengan benar, agar bisa melek ekologis (ekoliterasi), kita perlu belajar selalu berpikir dalam hubungan (sistemis), dalam interkoneksi, dalam pola-pola, atau dalam konteks.

Metode berpikir sistemis (systems thinking) ini muncul dari serangkaian dialog interdisipliner di antara para ahli biologi, psikolog, dan ahli ekologi, pada 1920-an dan ’30-an. Di semua bidang ini, para ilmuwan menyadari bahwa sistem-sistem kehidupan—organisme, ekosistem, atau pun sistem sosial—merupakan suatu keutuhan terpadu yang tidak dapat direduksi menjadi bagian-per-bagian yang lebih kecil. Sifat ”sistemis” adalah keseluruhan, yang tidak dimiliki oleh bagian-per-bagiannya. Jadi, berpandangan sistemis melibatkan pergeseran perspektif berpikir dari bagian-per-bagian kepada berpikir secara utuh. Para pemikir sistemis awal menciptakan ungkapan seperti ‘the whole is more than the sum of its parts’.

Apa sesungguhnya arti semua ini? Dalam pengertian bagaimana ‘keseluruhan itu bermakna lebih dari jumlah bagian-bagiannya’? Jawabannya adalah: hubungan (relationships). Semua sifat penting dari sistem kehidupan bergantung pada pertalian antar komponen-komponennya. Berpikir sistemis berarti berpikir dalam hubungan. Memahami kehidupan membutuhkan pergeseran cara berpikir, dari yang berfokus pada ‘objek’ kepada yang berfokus pada ‘keterhubungan’.

Memahami keterhubungan tidaklah mudah, karena merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kegiatan ilmiah tradisional dalam budaya Barat. Dalam sains, kita telah diberitahu, bahwa segala sesuatu itu perlu diukur dan ditimbang. Tapi keterhubungan tidak bisa diukur dan ditimbang; keterhubungan perlu dipetakan. Jadi ada pergeseran lain: dari pengukuran kepada pemetaan (from measuring to mapping).

Capra menunjukkan bahwasanya memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang lebih kecil (kenaikan harga minyak misalnya) hanya akan membawa para pembuat kebijakan terperosok ke dalam masalah, karena dengan demikian tidak dapat melihat hubungannya dengan isu-isu yang jauh lebih besar: Harga pangan melonjak, mengimbangi nilai pasar minyak sebagai sumber bahan bakar potensial, sementara kelaparan dan kemiskinan meningkat di seluruh dunia. Atau, saat umat manusia bersama-sama menciptakan lingkungan yang semakin memanas, daerah penghasil makanan beriklim sedang berubah menjadi padang pasir, mengakibatkan kenaikan harga pangan, maka kemiskinan dan kelaparan pun meningkat. Dalam hal ini, Capra ingin menunjukkan bagaimana makanan, kesehatan, dan lingkungan saling terkait erat dengan fakta kehidupan baru di dunia dewasa ini.

Nah, saat Anda memetakan keterhubungan, Anda akan menjumpai bentuk yang berulang-ulang. Inilah yang kita sebut dengan pola (pattern). Jaringan (networks), siklus (cycles), putaran arus-balik (feedback loops), adalah contoh pola-pola organisasi yang menjadi ciri khas kehidupan. Berpikir sistemis melibatkan pergeseran fokus dari kepada isi (contents) menjadi kepada pola (patterns).

Capra juga menekankan bahwa memetakan keterhubungan dan memelajari pola bukanlah pendekatan kuantitatif melainkan kualitatif. Berpikir sistemis menyiratkan pergeseran dari kuantitas ke kualitas. Pola bukan deretan bilangan tapi gambaran visual.

Studi tentang sistem keterhubungan ini tidak hanya menyangkut hubungan antar-komponennya, tetapi juga antara sistem itu secara keseluruhan dengan sistem-sistem yang lebih besar di sekelilingnya. Hubungan antara suatu sistem dan lingkungannya adalah apa yang kita maksud dengan konteks. Berpikir sistemis selalu merupakan cara berpikir yang kontekstual. Ini menyiratkan adanya pergeseran dari pengetahuan objektif kepada pengetahuan kontekstual.

Pada akhirnya kita perlu memahami bahwa kehidupan itu lebih dari sekadar bentuk, lebih dari sekadar konfigurasi berbagai komponennya yang statis. Sementara wujudnya bertahan, ada aliran zat terus-menerus melalui sistem kehidupan; terjadi perkembangan, dan ada evolusi. Pemahaman tentang struktur kehidupan terkait erat dengan pemahaman tentang proses metabolisme dan proses perkembangan. Jadi, berwawasan sistemis mencakup pergeseran pada fokus perhatian: dari struktur ke proses. Systems thinking means a shift of perception from material objects and structures to the nonmaterial processes and patterns of organization that represent the very essence of life.

4. Planet kita, masyarakat kita dan kita sendiri adalah debu bintang. —Cosmos: A Spacetime Odissey. National Geographic Channel.
Sumber gambar: Emaze.

Leluhur kita memuja Matahari.
Mereka sama sekali tak bodoh.
Masuk akal untuk memuja Matahari dan bintang-bintang karena kita anak-anak mereka.

Silikon di batu, oksigen di udara, karbon di DNA kita, besi di pencakar langit kita, perak di perhiasan kita, semua terbuat di dalam bintang miliaran tahun lalu.

Planet kita, masyarakat kita dan kita sendiri adalah debu bintang.

Cosmos: A Spacetime Odissey, National Geographic Channel

———
Referensi

Cosmos: A Spacetime Odissey. National Geographic Channel.

Fritjof Capra. The New Facts of Life. EcoLiteracy, ecoliteracy.org

***

 

Tulisan lainnya di sini.

Quoted

“Cheating the system is very gratifying”

Nigel Sielegar