Home > Read > News >
Dari DGI Talk #4: Berkaca pada Decenta

DGITalk4-10

 

Sabtu, 20 Februari 2016 lalu, Desain Grafis Indonesia menyelenggarakan DGI Talk di tahun 2016: DGI Talk #4. Dengan menghadirkan Chabib Duta Hapsoro, kurator muda yang kini berkarya di Selasar Sunaro Artspace Bandung, DGI Talk #4 mengangkat tajuk “Decenta: Infrastruktur Seni dan Identitas Keindonesiaan”. Paparan yang dipresentasikan ini merupakan hasil penelitian yang Chabib lakukan sebagai thesisnya di Magister Seni Rupa Institut Teknologi Bandung.

 

DGITalk4-02

DGITalk4-05b

DGITalk4-12

 

Sebagai sebuah biro desain sekaligus ruang eksperimentasi seni, Decenta memegang peranan yang penting dalam perjalanan sejarah baik desain grafis Indonesia maupun seni rupa pada umumnya. Decenta didirikan oleh Adriaan Palar, G. Sidharta, dan A.D. Pirous setelah ketiganya memperoleh proyek penggarapan elemen estetik Gedung Convention Hall tahun 1973 di Jakarta. Untuk eksekusi proyek tersebut, ketiganya mengajak T. Sutanto, Sunaryo dan Priyanto Sunarto.

Sebagai perusahaan berbadan hukum Perseroan Terbatas, Decenta berkembang sebagai sebuah perusahaan desain. Decenta banyak dipercaya oleh institusi negara ataupun partikelir untuk menggarap perancangan dan eksekusi elemen estetik seperti relief, monumen, dan lain-lain. Decenta juga menggarap perancangan interior dan grafis. Terkecuali Adriaan Palar, para anggota Decenta tersebut, adalah seniman sekaligus pengajar di Departemen Seni Rupa ITB.

Novum, sebuah majalah desain grafis yang berbasis di Munchen, Jerman Barat (saat itu) pernah menjadikan Decenta sebagai topik utama. Novum memuat profil Decenta pada edisi 6 Juni tahun 1978. Sebelum membahas Decenta, majalah tersebut menampilkan profil Studio Desain Grafis ITB secara sekilas dan menampilkan beberapa tugas desain mahasiswa yang diasuh oleh A.D. Pirous dan Priyanto Sunarto.

Reinhard Eisele, penulis laporan tersebut, mencatat bahwa Decenta berkiprah dalam bidang desain. Sekalipun membatasi ruang geraknya pada bidang tersebut namun sesekali mereka juga bertindak sebagai kontraktor. Decenta memiliki beragam aktivitas seperti dekorasi interior, grafis, tekstil, perancangan produk serta mural relief, lukisan, patung monumen dan bentuk-bentuk ekspresi lain. Kebanyakan seniman dan desainer profesional yang tergabung dalam Decenta juga bekerja sebagai staf pengajar di Departemen Seni Rupa ITB.

Oleh publik seni rupa Indonesia, Decenta dikenal sebagai kelompok, terutama setelah mereka berpameran cetak saring di beberapa kota di Indonesia. Cetak saring pada awalnya digunakan Decenta dalam kepentingan komersial. Namun, kemudian teknik tersebut digunakan sebagai misi kelompok ini untuk mempromosikan seni grafis. Dalam makalahnya, Chabib pun berfokus pada karya-karya cetak saring para seniman anggota kelompok Decenta, G. Sidharta, A.D. Pirous, Sunaryo, T. Sutanto, Priyanto Sunarto, dan Diddo Kusdinar (seorang lulusan Studio Seni Grafis, ITB angkatan 1968 yang belakangan direkrut oleh Decenta) yang dibuat di studio Decenta. Penelitiannya menampilkan pencapaian-pencapaian kelompok ini pada cetak saring sebagai salah satu teknik dalam seni grafis.

Selain menjabarkan proses penciptaan karya-karya cetak saring anggota Decenta yang menyatukan mereka sebagai sebuah kolektif/kelompok seniman, penelitian Chabib juga merefleksikan bagaimana karakteristik-karakteristik Decenta sebagai sebuah kelompok. Tak hanya itu, presentasi Chabib juga menunjukkan pengaruh upaya Decenta dalam memproduksi dan memediasi karya cetak saring serta dalam infrastruktur seni rupa dan desain di Indonesia.

 

DGITalk4-08

DGITalk4-06

 

Diskusi dalam DGI Talk #4 berangkat dari dua karakteristik Decenta: pencarian keindonesiaan dan eksperimentasi—dan kaitannya dengan praktik dan keberadaan kelompok seni dan desain saat ini. Pencariaan keindonesiaan Decenta yang selalu menerapkan dialog terus-menerus dengan masa lalu tersebut menjadi sebuah diskusi tersendiri yang menarik: bahwa pencarian identitas ini adalah proses yang berjalan dan tak akan pernah usai. Dalam praktiknya, Decenta melakukan pencarian dan pengarsipan elemen-elemen tradisional yang kemudian diolah dalam karya yang melalui proses eksplorasi dan eksperimentasi pula dalam teknisnya. Ritme Decenta yang berkesinambungan antara praktik desain komersial dengan praktik eksperimentasi juga menjadi sebuah refleksi tersendiri bagi praktik desain masa kini: keseimbangan antara eksplorasi alat dan gagasan.

 

DGITalk4-11

DGITalk4-09

DGITalk4-07

DGITalk4-05

DGITalk4-04

DGITalk4-03

 

Makalah presentasi Chabib dapat diunduh di: Cetak Saring Kelompok Decenta 1973-1983: Infrastruktur Seni dan Identitas Keindonesiaan

 


 

DGITalk4-13

DGI Talk #4
Decenta: Infrastruktur Seni dan Identitas Keindonesiaan
Presentasi penelitian oleh Chabib Duta Hapsoro

DGI Talk merupakan program terbaharui Desain Grafis Indonesia yang dimaksudkan untuk membangun budaya berpikir kritis dan terbuka di antara desainer grafis Indonesia. Hal ini diwujudkan melalui forum diskusi yang bersifat rutin dan intens dengan menghadirkan pemateri yang tak lagi membahas desain grafis secara langsung, namun memaparkan telaah dan penelitian serta gagasan dari bidang-bidang lain yang secara tak langsung memberi pengaruh terhadap dan dipengaruhi oleh desain grafis. DGI Talk direncanakan untuk dapat terlaksana setiap dua bulan sekali.

Desain Grafis Indonesia membuka kesempatan bagi desainer, seniman, kurator, pendidik, peneliti, maupun pengamat untuk menyampaikan hasil penelitiannya di DGI Talk mendatang. Kirimkan abstrak penelitian dalam format .docx/.doc/.rtf sebanyak 300-500 kata dengan menyertakan biodata diri dan judul penelitian ke mail@dgi.or.id (subyek email: DGI Talk – Pengajuan)

Foto: Desain Grafis Indonesia/Rizky Ardiansyah

Quoted

“Seorang desainer harus memiliki keberpihakan pada konteks membangun manusia Indonesia. Peka, tanggap, berwawasan, komunikatif adalah modal menjadikan desainnya sebagai alat perubahan”

Arif 'Ayib' Budiman