Home > Read > News >
Liputan: NUSAKARYA, Nusantara Berkarya

 

Nusantara. Kebhinnekannya disatukan dengan tujuan, bahasa, dan semangat yang sama. Semangat kesatuan inilah yang coba dituangkan dalam berbagai konsep seni yang dapat mengekspresikan Nusantara dalam wujud kekinian. Dari empat peminatan yang berbeda, mahasiswa DKV peminatan Desain Grafis, Animasi, Sinematografi, dan Interactive Media Design Universitas Multimedia Nusantara bersatu dan berkolaborasi menampilkan hasil karya terbaiknya dalam pameran seni bersama: Nusakarya.

 

Ada yang menarik di Mall @ Alam Sutera pada tanggal 20-24 Januari 2016 lalu. Sebuah koridor di lantai satu sisi barat menjebak para pengunjung untuk terdiam sejenak dan mengamati setiap karya yang terpampang di beberapa papan pajang. Lebih dari 70 karya terbaik hasil kurasi dari angkatan 2014-2015 Desain Komunikasi Visual Universitas Multimedia Nusantara (DKV UMN) dipamerkan dalam unjuk karya bertajuk “Nusakarya”.

Nusakarya, seperti dipaparkan Zamzami Almakki, Pembina Galeri DKV UMN pada Jumat (22/1) lalu, merupakan kependekan dari Nusantara Berkarya. “Nusa”—atau lengkapnya Nusantara—diambil dari kata terakhir Universitas Multimedia Nusantara; sedangkan “unity” berarti kesatuan atau keutuhan dimana karya mahasiswa yang dipamerkan dalam pameran Nusakarya ini walaupun memiliki perbedaan namun tetap memiliki kesatuan.

Sebagai pameran perdana mahasiswa DKV UMN yang diselenggarakan di luar kampus, Nusakarya menyodorkan pengunjung pameran—baik masyarakat seni dan desain maupun pengunjung mal pada umumnya—beragam karya, seperti foto, traditional painting, digital painting, font design, ilustrasi, board game, kaligrafi, bricolage, paper craft, animasi, serta film. Nusakarya menjadi atraksi tersendiri dengan penggunaan medium yang beragam, seperti ampas kopi, komposisi trimata, dan sebagainya. Karya-karya ini merupakan karya-karya terbaik dari tugas mahasiswa yang dihimpun dan dikurasi oleh tim Galeri DKV UMN. Setiap karya dalam Nusakarya menyatukan buah cipta mahasiswa yang berasal dari 4 peminatan, yakni Desain Grafis, Animasi, Sinematografi, dan Interactive Media Design, dengan dampingan Rezki Gautama Tanrere,
Dosen Fotografi UMN, yang juga berperan sebagai kurator.

Dengan diadakan di luar lingkungan kampus, Zamzami Almakki berharap pameran semacam ini bisa mendapatkan apresiasi yang baik oleh masyarakat. “Besar harapan kami supaya Nusakarya dapat menjadi ajang bagi mahasiswa untuk berkompetisi secara sehat dalam menghasilkan karya-karya terbaik. Selain itu, melalui pameran di luar kampus ini, kami juga mengharapkan mendapat aspirasi dan masukan dari masyarakat sehingga nantinya mahasiswa bisa berkarya lebih baik lagi,” imbuhnya.

Di samping itu, pameran ini juga menjadi sebuah wadah refleksi pencapaian kualitas karya bagi peserta pameran. Kurator karya Fotografi, Ardiles Akyuwen, melihat karya-karya mahasiswa pada pameran ini mengalami peningkatan dibanding tahun yang lalu, hingga selayaknya mendapat lebih banyak lagi kesempatan untuk berpameran di dalam dan luar kampus. “Banggalah hati kami karena karya fotografi mahasiswa DKV/Desain Grafis UMN semakin aduhai,” ujarnya.

Dengan mengangkat tema “Pollutiography”, fotografi fesyen nan glamor dipadupadankan dengan dengan eksplorasi properti dan wardrobe sebagai bentuk kritik bahwa polusi udara, air, tanah, suara, dan cahaya yang dilakukan oleh manusia akan kembali pada manusia.

Begitu pula dengan film-film animasi yang ditayangkan. Krizia Angelina sebagai kurator Animasi mengamati bahwa dalam waktu kurang dari satu dekade, karya film animasi yang diciptakan oleh mahasiswa UMN telah dapat berkembang menjadi lebih kompleks lewat penyampaian cerita yang lebih dinamis.

Tak hanya itu, dengan hadirnya karya media interaktif seperti permainan digital yang memiliki jalan cerita, ruang, dan waktu yang virtual, pengunjung ditawarkan pada perspektif baru akan dimensi ruang, waktu, dan makna pada sebuah karya desain. Karya game board, misalnya, dinilai Agatha Maisie Tjandra selaku kurator Interactive Multimedia Design dianggap dapat memengaruhi makna perasaan hati pribadi pemainnya.

Selain eksplorasi medium dan format, dengan mengeksplorasi berbagai artefak budaya Nusantara sebagai bagian dalam berkarya, pameran Nusakarya pun menjadi salah satu cara mahasiswa DKV UMN untuk semakin mencintai dan mengenal jati diri sebagai bangsa Indonesia.

 

(***)

Liputan & dokumentasi:
Leonardo Widya, S.Sn, M.Ds/DKV Universitas Multimedia Nusantara

 


 

Nusakarya-SuasanaPameran_3

Nusakarya-Brocolage_1

Nusakarya-Brocolage_3

Nusakarya-IMG_20160120_154438

Nusakarya-IMG_20160120_154417

Nusakarya-IMG_20160120_154347

Nusakarya-IMG_20160120_154340

Nusakarya-FontDesign_minuscule

Nusakarya-FontDesign_hampura

Nusakarya-FontDesign_ 2

Nusakarya-SuasanaPameran_2

Nusakarya-SuasanaPameran_1

 

Quoted

Sekolah membuat desainer menjadi pintar, bekerja membuat desainer menjadi paham, pengalaman panjang membuat desainer menjadi arif

Danton Sihombing