Karikatur Diri Kita

Mungkin bisa dibilang bahwa Sanento Yuliman, T. Sutanto, Haryadi S, Keulman, dan beberapa kartunis lain yang mengisi Mingguan Indonesia edisi Bandung di tahun enampuluhan adalah pelopor-pelopor penampil karikatur pers sebagai karya seni grafis yang utuh. Lengkap dengan nilai artistik karya seni yang mendukung kritik yang tajam.

Memang, bukan hanya mingguan itu saja yang banyak memuat karikatur dalam menampilkan opininya. Pada tahun-tahun sebelum dan sesudahnya, berbagai surat kabar juga banyak menampilkan karikatur. Tetapi sepanjang yang kita lihat, hampir tak ada karikatur yang didukung oleh penguasaan tekhnis yang baik. Bahkan ada kecenderungan anggapan bahwa karikatur adalah gambar yang sengaja “dirusak.” Sehingga banyak ide yang sebetulnya bagus hapus begitu saja lantaran penyajiannya yang kurang memadai.

Nilai sebuah karikatur disamping nilai seni dan humornya yang paling utama tentu saja adalah kadar kritiknya. Tetapi kitapun perlu menyadari bahwa genre pers hidup dalam masyarakat kita yang tak lepas dari pandangan maupun sikap hidup orang timur itu sendiri. Kita menyadari pula, mungkin ini hanya ada pada orang timur, bahwa semua orang, termasuk kita, akanlah tidak begitu suka apabila dikritik. Dan orang yang kita kritik berhak untuk tidak mau melihat surat kabar kita. Akibatnya apabila kritik kita terlalu menusuk, hasilnya adalah komunikasi yang terputus.

Hal tersebut mungkin yang bisa menjadi jawaban apabila orang banyak mempersalahkan bahwa kehidupan karikatur di Indonesia belum dewasa, terutama sekarang ini.

Tetapi sebenarnya bagi kita, tujuan karikatur tidaklah untuk mengubah pendapat atau kebijaksanaan seseorang. Yang penting dengan karikatur kita bisa menciptakan dialog dalam masyarakat tentang masalah yang kita lontarkan. Syukurlah kalau yang kita kritik bersedia ikut berdialog.

Kalau kita mempertanyakan, bagaimana sebaiknya karikatur yang cocok untuk bangsa kita, jawabnya adalah karikatur yang membikin tersenyum. Senyum bagi yang dikritik, senyum bagi si pengritik dan senyum bagi masyarakat yang merasa terwakili untuk bicara. Tentu saja untuk ini rahasianya adalah jangan terlalu bisa membuat naik pitam mereka yang sedang di atas!

Idealnya bagi karikatur yang baik seharusnyalah kadar kritik yang tajam, lucu dan dalam penyajian gambar yang baik. Apabila hal yang pertama tidak memungkinkan, paling tidak kita masih bisa menikmati humornya serta karikatur sebagai karya seni grafis tersendiri. Dan ini paling tepat untuk negara kita!

 


Sumber: Brosur Pameran Pertama Ikatan Perancang Grafis Indonesia “Grafis ‘80”, 24 September-10 Oktober 1980 di Wisma Seni Lingkar Mitra Budaya.

Quoted

“Seorang desainer harus memiliki keberpihakan pada konteks membangun manusia Indonesia. Peka, tanggap, berwawasan, komunikatif adalah modal menjadikan desainnya sebagai alat perubahan”

Arif 'Ayib' Budiman