Karo Seri Seni (Bersama Seri Seni)

“Persoalannya, jikalau pegrafis tidak berdiri di atas disiplin seni grafis itu sendiri, lantas dari mana kita akan memulai perbincangan seni grafis? 

(Pahlevi, 2023: 139)

I

Dikutuk Disumpahi Eros, sebuah buku kumpulan catatan seni grafis 2009-2023 oleh Syahrizal Pahlevi. Sebuah buku yang membasahi rasa dahaga saya perihal perbincangan keberadaan seni grafis terutama di Indonesia. Saya bersyukur ada buku ini mengingat saya juga menaruh perhatian pada seni cetak. Sepertinya tak banyak buku tentang seni grafis yang membicarakan medium ini dari berbagai medan. Pertama, medan pengalaman sebagai seniman residensi. Kedua, medan aktivis seni grafis baik sebagai inisiator dan pejalan acara seni grafis, lokakarya, hingga perbincangan seni grafis dalam bentuk diskusi maupun tulisan di media. Ketiga, dan ini yang penting, medan pembela seni grafis di tengah kecamuk persepsi yang memandang seni grafis setengah hati. 

Buku ini disunting oleh Alpha Hambally & Hendro Wiyanto, dengan penata letak Bima Iswarta, dan ilustrasi sampul karya Syahrizal Pahlevi. Cetakan pertamanya pada September 2023, diterbitkan oleh Penerbit Gang Kabel, sebuah penerbit buku yang belakangan marak menerbitkan buku-buku tentang seni dan seni rupa. 

Pahlevi membagi catatan-catatannya dalam tiga bagian yaitu Residensi Pameran, Mengantar Pameran, Jalan Seni Grafis, Proyek Seni Grafis, dan Cerita Pendek. Semakin menarik bagi saya karena buku ini dibuka serta ditutup melalui fiksi. Di awal kita disuguhi sajak Chairil Anwar berjudul Tak Sepadan (1943), dan di bagian akhir kita disuguhi cerita pendek Pahlevi berjudul Cangkrangan. Tak hanya itu, di tengah isi buku ini kembali dihadirkan sajak Chairil Anwar berjudul Tak Sepadan tadi. Sepertinya sajak Chairil tersebut begitu menggambarkan keberadaan seni grafis saat ini.

Di beberapa catatannya Pahlevi menyebut ulang hal-hal yang sudah ditulis di bagian awal bukunya. Di beberapa catatannya ia mengutip kisah para seniman lama, menggugat pemikiran seorang pegrafis termasuk mempertanyakan kesepenuhan hati kurator, bahkan para pegrafis yang menempatkan seni ini setengah hati. Intinya, Pahlevi konsisten dengan hal-hal yang ditulisnya. Begitu membara, sebara warna desain sampul bukunya.

Sumber gambar: penerbitgangkabel.com


II

Buku ini memberi saya informasi seputar seni grafis. Sepertinya tak cukup sebagai informasi namun sebuah warta. Bahwa ada sesuatu yang penting untuk kita pikirkan bersama perihal keberadaan seni grafis terutama keberadaan seni grafis di Indonesia. Kadang sesuatu yang penting tadi bisa menjadi genting seperti bagaimana Pahlevi berkali-kali mengingatkan bahwa konvensi teknik itulah yang menyebabkan seni grafis ada. Dalam bahasa Pahlevi, “Konvensi itu dibuat maka seni grafis itu ada.” (halaman 139)

Perihal edisi cetakan yang menyertainya persoalannya bukan dalam hal jumlah cetakan tetapi pada “keterbukaan, transparansi, atau keterusterangan” (halaman 133). Singkatnya, perihal edisi atau seri dalam cetakan seni grafis adalah tentang kejujuran pegrafis. Kejujuran ini juga menyangkut sisi profesionalitas seniman pada publik, etika untuk melindungi hak konsumen seni grafis. Perihal perlindungan ini telah diterapkan di luar negeri salah satunya dalam ketentuan sertifikat kekaryaan atau Undang-Undang Cetakan yang diulas Pahlevi di catatan berjudul Kepastian dalam Seni Grafis (halaman 159-163, dan ditulis di tahun 2018)


III

Saya menikmati catatan-catatan dalam buku ini terutama perbincangan tentang pengaruh seni lukis bagi seni grafis yang dijalani Pahlevi. Berlatar pendidikan formal seni lukis di ISI Yogyakarta Pahlevi merefleksikan bahwa, 

“Berdasarkan pengalaman saya, sejauh yang saya jalani sebagai pegrafis berlatar belakang seni lukis – jurusan yang membuka ruang “kebebasan tanpa syarat” bagi mahasiswanya dalam membuat karya – adanya aturan teknik dalam seni grafis justru menjadi “tuntunan” yang merangsang saya untuk bereksplorasi.” (halaman 132)

Lanjut Pahlevi di catatan lainnya ia menuliskan, 

“Debar Monotype adalah cara saya membuat monotype yang bebas dengan tetap menjaga “debar perasaan” yang biasanya didamba para pegrafis, yaitu dengan cara mengekspose lapisan-lapisan warna dan bentuk-bentuk yang tak terduga.” (halaman 229)

Kita bisa menjumpai berbagai pemikiran Pahlevi dalam buku ini. Saya merasa mendapat banyak warta, banyak kabar penting, mendasar perihal apa, harus bagaimana, dan seperti apa seni grafis ditempatkan dan dijalankan. Ada kesan heroisme dalam kumpulan catatan ini namun bagi saya hal itu yang boleh jadi dibutuhkan bagi wacana seni grafis dan pegrafis saat ini terutama dalam konteks Indonesia.


IV

Kali pertama saya berjumpa secara tak langsung karya grafis Pahlevi saat saya mendesain katalog pameran seni rupa di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Seingat saya karya grafisnya menampilkan objek kendaraan. Seketika saya terkesan pada karya tersebut. Ada rasa heran juga. Bagaimana ekspresi bidang warna yang begitu ekspresif sperti khas ekspresi bidang warna seni lukis atau ilustrasi bisa diciptakan melalui teknik seni grafis? Manakala saya menyimak CV perupanya saya mendapati informasi bahwa sang perupa tadi berlatar belakang seni lukis. Informasi tadi sedikit mengurangi keheranan saya, sebaliknya pertanyaan teknik yang diterapkan masih menjadi rasa ingin tahu saya. Sejak itu saya mulai mengenali Syahrizal Pahlevi sebagai sosok militan yang sepenuh hidup membela keberadaan seni grafis di tanah air. 

Kadang saya berpikir apakah segala tanya dan gelisah dalam benak Pahlevi mendapati keberadaan seni grafis yang seperti masih jalan di tempat tidak membuatnya lelah. Saya sudahi pikiran saya itu karena yang lebih penting yakni bersama-sama mengapresiasi seni grafis, lebih dalam lagi mengambil peran dalam perjalanan dan keberadaan seni grafis. Apa pun peran itu, dan selama dijalani sepenuh hati, disertai pemikiran yang masuk akal, dan menantang, saya rasa berbagai catatan dalam buku setebal 274 halaman ini pelan-pelan akan berbuah segar dan debar.


V

Betapa debar perasaan itu memang nyata dalam diri seorang pegrafis. Jika debar berhenti selanjutnya yang perlu dicari yakni dari mana dan bagaimana kembali menghidupkannya. Bersama seri seni, atau Karo Seri Seni, kita diajak menyaksikan debar tersebut: berpantang menyerah menjalani seni dan tidak setengah hati tetapi sepenuh hati.

Sebagai penyuka teknik printmaking terutama teknik cukil, dan di saat bersamaan sebagai desainer grafis, buku Dikutuk Disumpahi Eros memberikan perbincangan yang membangun. Saat membacanya saya lupa kalau diri saya sebagai desainer grafis. Selepas membacanya barulah muncul pertanyaan bagaimana saya akan menerapkan teknik ini untuk kebutuhan desain grafis terutama dalam hal konvensi dalam seni cetak ini. Hal pentingnya, saya mendapati segar dan debar sewaktu mendesain bersama seni cetak. Desain berseni cetak.


Catatan:

  • Ditulis pada 14 November 2024 untuk pameran “Kumpul Karokoe” Sleman, Yogyakarta, dan diperbaharui pada Maret 2025 untuk kebutuhan publikasi umum.
  • Penulis juga menerbitkan sebuah buku tentang seni grafis dan hubungannya dengan desain grafis serta cetak (grafika). Ditulis bersama Aan Yuliyanto, buku tersebut berjudul “Titah Tatah – Desain Berseni Cetak”, diterbitkan secara mandiri, Oktober 2024, di Yogyakarta.
  • Apresiasi pada seni cetak dan grafika diperlukan terutama melihat belakangan ini bidang tersebut diwarnai perkembangan cetak risograph dan event art print yang mengakomodir pada pelaku dan pecinta seni cetak, fine art maupun applied art.
Sumber: penerbitgangkabel.com
Sumber: Koskow
Keterangan: PASETAKY #3 – Pasar Seni Cetak Yogyakarta, Bentara Budaya Yogyakarta 10 – 13 Januari 2025, ada karya fine art hingga applied art (merch, dsb). Sumber: bentarabudaya.com
Quoted

“Imajinasi yang liar lebih kuat dari lirik yang sok mau jelas.”

Slamet A. Sjukur