Mencari kedekatan antara graphicdesign.edu dan graphicdesign.com

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari materi seminar yang saya berikan pada acara Dies Natalis Universitas Tarumanegara tanggal 11 September 2007. Saat itu saya sampaikan kepada panitia seminar, bosan rasanya harus mengulas kisah klasik tentang sisi siap pakai mahasiswa dalam industri. Namun, kali ini rasanya ada sedikit titik pencerahan ketika Adgi mulai digairahkan lagi.

Saya sampaikan di awal pembicaraan seminar bahwa peran desainer grafis saat ini bukan lagi hanya mengandalkan tingkat kemahiran dalam skill saja, tetapi desainer grafis harus berupaya untuk merentangkan domain desain grafis selebar-lebarnya. Desainer grafis yang memiliki daya saing adalah mereka yang mampu bekerja dengan kelompok interdisiplin untuk membangun strategi komunikasi dan memberikan nilai tambah kepada proses itu sendiri.

Saat ini pihak perguruan tinggi sering dicap tidak mampu melahirkan sumber daya manusia siap pakai, itulah keluhan dari para praktisi desain atau periklanan. Memang, ini terjadi di segala disiplin dan bukan hanya di Indonesia saja. Namun, issue inipun sedikit berkembang, apakah menjadi tanggung jawab sebuah biro desain atau biro iklan untuk membimbing dan mendidik para lulusan untuk memiliki nilai tambah bagi client?

Jika melihat dari sisi bisnis, ‘nurturing’ para lulusan ini menjadi sebuah cost bukannya sebuah investasi bagi perusahaan. Mengapa? Lihat saja, begitu para desainer pemula sudah merasa pandai, maka loncatlah mereka ke biro yang lain, maka ‘yield’ merekapun naik dengan perpindahan tersebut. Namun, sebagian orang berpendapat ini sudah menjadi bagian perhitungan dari resiko usaha, termasuk juga di antaranya aku-mengaku karya dimana dulu dia bekerja. Ah, rasanya tidak benar ini!

Kehadiran Adgi saat ini dibutuhkan untuk memberikan wawasan profesional, baik dari profesional kepada profesional maupun dari profesional kepada mahasiswa. Mengingat pertumbuhan jumlah biro desain semakin meningkat dan jumlah lulusanpun ikut melonjak, walau tingkat kualitas dan kompetensi desainer grafis yang memiliki nilai tambah masih terbilang sedikit di negeri kita ini. Sungguh, pergerakannya agak lamban, orang-orang yang memiliki nilai tambah di medan industri masih yang itu-itu juga.

Adgi telah berupaya sebisa mungkin untuk menelurkan program-program yang bermanfaat. Salah satunya yang bernama ‘Zoom In’, sampai tulisan ini diturunkan telah dilaksanakan selama dua kali. Program ini dikhususkan bagi para praktisi profesional berupa sebuah presentasi bedah kasus dari berbagai biro desain. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan kampus, Adgi sedang menggodok program yang bernama ‘Designer EDGE (Educate, Develop, Grow, Empower). Tujuan program ini memberikan pengetahuan industri bagi para mahasiswa dan juga para pengajar, mulai dari studi kasus, entrepreneurship, methodologi desain/branding/advertising dalam industri, teknologi dan produksi hingga permasalahan HaKI. Diharapkan program ini mampu memberikan kedekatan antara dunia pendidikan dengan industri.

Seperti sebuah ungkapan “If we share the same pain, why don’t we share the same cure?”. Keberhasilan untuk mempermulus jalannya para lulusan untuk menjadi siap pakai dalam industri melibatkan peran para mahasiwa untuk berjuang ‘meminta’ lebih apa yang mereka dapat dari kampus, para pendidik untuk berkolaborasi dengan Adgi, para praktisi untuk memberikan supply ilmu pengetahuan dan juga birokrasi akademis yang harus membantu roda ini bergulir lebih cepat.

Kebersamaan dan attitude yang positif merupakan kunci untuk membangun integrasi ini menjadi prima dan jangan menunggu terlalu lama sebelum tembok antara pendidikan dan industri semakin tinggi dan menebal, kita semua juga nanti yang akan merugi.

Danton Sihombing, MFA.
– Managing Director Inkara Design
– Ketua Umum Adgi 2007-2010.

Quoted

If your creativity is not your passion, there won’t be passion in your creativity.
Be passionate… and never sell yourself cheap

Lans Brahmantyo