Pada Mei 2007 setelah merampungkan tesis, Pak Han mengirimkan email kepada saya untuk pertama kali, untuk memperkenalkan diri dan menyapa dalam sebuah uraian panjang mengenai situs DGI, latar belakang pembuatannya, maksud dan tujuan, dan banyak lagi—korespondensi ini cukup panjang, dan kami berbalas surel dalam percakapan seolah sudah kenal lama. Saya mendapatkan kepribadiannya dari email itu: lembut, ramah, penuh kehati-hatian, tetapi tegas, jujur, dan terbuka. Dari email itu, saya ditarik untuk masuk ke dalam kehidupannya. Berkenalan dengan Pak Han berarti menjadi sahabatnya, karena ia piawai merawat relasi, seperti merawat ingatan.
Pak Han telah menghitung harinya dengan efisien dan efektif selama 73 tahun di dunia fana ini. Meskipun kiprah cemerlangnya sebagai perancang grafis dan direktur kreatif diakhiri dengan pensiun dini di awal tahun 2000-an, ia tetap ‘bekerja,’ sebagai penjaga sejarah desain grafis Indonesia. Ini bukan sebuah ‘overstatement,’ tetapi kegiatan berkarya aktif yang membekas begitu dalam pada setiap pelaku desain grafis—baik pekerja, pebisnis, maupun pembuat dan penerap kebijakan—melalui DGI (Desain Grafis Indonesia), sebuah gerakan yang ia inisiasi dan jalankan secara sukarela sejak awal 2000-an (DGI resmi meluncur di 13 Maret 2007). Ia memulai DGI bukan untuk menuangkan kegemarannya terhadap sejarah, melainkan untuk menyadarkan pemangku kepentingan di bidang desain grafis bahwa bidang ini memiliki nilai objektif yang berdampak secara ekonomi, budaya, dan politis melalui catatan masa lalu—dengan membuka ruang serta mengajak kita semua, para pelakunya, untuk terlibat! Ini yang istimewa dari Pak Han, dia tidak mau menjalankan upaya ini sendiri. Ia tidak membuat DGI tentang dirinya.

Hingga akhir, ia meninggalkan warisan terpenting: sebuah memoar yang mengajarkan bahwa menulis tentang diri tidak harus hanya tentang diri, tetapi juga tentang perjumpaan dengan orang-orang lain yang berdampak pada hidup. Ini pelajaran terakhir yang terpenting yang ia wariskan: bagaimana kita dapat merendah sampai akhir, sehingga ilmu, pengalaman, dan kerohanian yang mengisi penuh kehidupan dapat dicurahkan, disaksikan, dinikmati, dipelajari, dikembangkan, dan diterapkan.

Mungkin banyak dari kita yang tidak mengenal dan tidak mengetahui sosok Pak Han serta tokoh-tokoh di masa lalu yang bersumbangsih dalam kelahiran desain grafis di Indonesia. Sayangnya, ketidaktahuan ini adalah wajar, mengingat penghargaan terhadap sejarah di negeri ini sering kali hanya menjadi pelajaran hafalan tahun kejadian. Menjaga sejarah makin mendesak ketika para politisi saat ini piawai menyajikan ‘kebenaran-kebenaran semu.’
Kita berhutang budi atas inisiatif Pak Han mengajak kita dalam perjalanan menyelami sejarah desain grafis untuk dicatat, diteliti, dan dibagikan kembali kepada para pelaku. Untuk ‘melunasi’ hutang budi ini kita bisa meneruskan warisan Pak Han, dengan terus bekerja sama menggali sejarah desain grafis agar dapat dimaknai secara baru di hari ini.
Ia sadar pikirannya perlahan hilang, terbawa angin progres dan keterbatasan fisik yang makin tergerus oleh waktu. Keadaan kita sama. Bila tak merawat ingatan seperti Pak Han, maka pekerjaan menjaga sejarah ini akan hilang terbawa hembusan angin yang tak bersimpati pada masa lalu. Waktu adalah musuh sekaligus kawan. Musuh membatasi kita dan kita tidak dapat mengejar maupun menariknya kembali. Tetapi untungnya waktu yang tersedia hari ini dan esok, memberi kita kesempatan untuk menggali dan memaknai secara baru catatan sejarah dan ingatan kolektif yang telah dikumpulkan oleh Pak Han. Apa yang Pak Han mulai, mari kita selesaikan. Bersama.
Terima kasih, Pak Han. Selamat jalan. Beristirahatlah dalam kekekalan. Kita teruskan merawat kebun sejarah desain grafis Indonesia.
Kelompok Kerja Desain Grafis Indonesia
Ismiaji Cahyono
Arief Adityawan
Vincent Hadi Wijaya
Januar Rianto
Andriew Budiman
Aulia Akbar
Listya Amelia
Hanny Sumarna Kardinata
7 Januari 1953-26 Juli 2026
Riwayat Hanny Kardinata
Desainer grafis senior Indonesia kelahiran 7 Januari 1953 yang menyelesaikan studi di STSRI Asri—kini ISI (Institut Seni Indonesia). Pada 1980, bersama kawan-kawannya, Hanny Kardinata mendirikan IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia)—kini ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) yang memelopori dimasyarakatkannya profesi desainer grafis di Indonesia. Pada awal kemunculan profesi desain grafis di Indonesia tersebut, Hanny Kardinata turut berperan dalam ‘Pameran Rancangan Grafis Hanny, Gauri, Didit‘ pada 1980 dan beberapa pameran lain bersama IPGI dan JAGDA (Japan Graphic Designer Association).
Setelah mengawali kariernya di Matari Advertising pada 1975, Hanny Kardinata mendirikan studio Citra Indonesia di tahun 1980. Sepanjang kariernya, Hanny Kardinata telah dianugerahi berbagai penghargaan, antara lain: Certificate of Distinction dari Art Direction Magazine (Amerika Serikat) pada 1987 dan 1992, pemenang pertama kompetisi poster Kantor Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi Dalam Negeri (UP3DN) pada 1987, sertifikat Paul Ibou di 1992, serta Anugerah Samartharupa dari DKV Universitas Bina Nusantara pada 2008 atas dedikasinya bagi desain grafis dan pendidikan.
Atas kegemarannya mencatat dan mengoleksi, Hanny Kardinata mendirikan lembaga pengarsipan Desain Grafis Indonesia (DGI) pada 2007. Berawal dari sebuah situs untuk berbagi mengenai desain grafis Indonesia dan perkembangannya untuk membangun pemahaman di antara para pelakunya, kini DGI berkembang menjadi sebuah lembaga kolaboratif sekaligus salah satu referensi terdepan bagi segenap komunitas desain grafis di Indonesia. Untuk pertama kali juga, desain grafis Indonesia memiliki forum komunikasi yang komprehensif untuk berwacana, dan lewat media sosial Facebook dipelihara oleh Hanny Kardinata sebagai panggung bersuara, berdialog para pelakunya. Beragam inisiatif lain lahir dari lembaga DGI, salah satu yang penting adalah Indonesian Graphic Design Award (IGDA) yang dicetuskan oleh Hanny Kardinata bersama kawan-kawan pemerhati grafis lainnya. IGDA adalah ajang dan acara penghargaan desain grafis pertama di Indonesia.
DGI sendiri merupakan cikal-bakal dari Museum Desain Grafis Indonesia yang dimaksudkan untuk menyimpan dan merawat arsip desain grafis Indonesia secara komprehensif hingga mendukung pembelajaran dan pengembangan desain grafis Indonesia. Sebagai langkah awal menuju Museum Desain Grafis Indonesia, Hanny Kardinata memublikasikan buku berisi catatan, koleksi, dan arsip perjalanan desain grafis Indonesia yang pertama di tanah air: Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia (DGI Press, 2015). Akibat buku ini perhatian dan ketertarikan terhadap sejarah dan arsip desain grafis Indonesia mulai tumbuh, baik di Indonesia maupun luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, dan Hong Kong, khususnya Museum M+ yang mengoleksi arsip karya desain grafis dari Indonesia.
Dari kegemaran mengoleksi dan mencatat, dan kini menulis, Hanny Kardinata tengah menyiapkan seri buku yang menyarikan nilai-nilai kehidupan dari serumpun tokoh inspiratif yang ia jumpai dalam hidupnya.
Baca:
Limitations and distractions are hidden blessings