Tinjauan Atas Desain Sampul Muka Buku Anak-anak Revolusi Karya Budiman Sudjatmiko

AAR-prolog

 

Tak tertinggal dua sahabatku yang lain, Vande Leonardo maupun Billy Franata, yang bisa menerjemahkan bagaimana fisik buku ini harus ditampilkan. Merekalah yang menghadirkan setangkai mawar merah yang terinjak sepatu lars kekuasaan (ah… betapa mencekamnya saat aku menatap rancangan sampul muka buku ini, sampai-sampai aku harus menyiulkan theme song dari film karya Costa Gavras “Missing”, yang mengisahkan anak-anak revolusi yang hilang pada tahun 1973 di sebuah negeri yang jauh, Chile.

—Kata Pengantar Budiman Sudjatmiko di buku Anak-anak Revolusi)

 


 

PENDAHULUAN

Anak-anak Revolusi adalah autobiografi Budiman Sudjatmiko, aktivis oposisi Orde Baru yang kini menjabat sebagai anggota DPR. Autobiografi ini ditulis dalam format novel, mencatat perjalanan panjang sebuah mimpi dan harapan yang terus dijaga dan diperjuangkan. Selayaknya sebuah karya yang utuh, tiap elemen yang hadir dalam karya akan saling kait-mengait dan menguatkan. Begitu pun dengan desain sampul muka yang terdapat di buku ini. Desain sampul buku tersebut telah menjadi bagian utuh dari karya, seperti halnya pilihan jenis huruf yang digunakan di isi buku, jenis tata letak yang dipilih, finishing cetak dan elemen-elemen lainnya.

Tujuan penulisan ini adalah untuk melakukan tinjauan atas sampul muka buku Anak-anak Revolusi dilihat dari keilmuan desain komunikasi visual. Penulisan ini disusun menggunakan studi literatur dan analisa reflektif, guna menghasilkan gambaran yang utuh atas tinjauan desain yang dilakukan.

 


 

METODE TINJAUAN

Penulisan ini disusun menggunakan pendekatan studi literatur untuk mendapatkan data-data pendukung serta mencari kerangka teori guna menguatkan hasil penulisan. Setelah data didapatkan maka akan dilakukan analisa data reflektif. Analisa reflektif adalah metode analisa data yang berpedoman pada cara berpikir reflektif, yakni kombinasi yang kuat antara berpikir deduktif dan induktif atau dengan mendialogkan data teoritik dan data empirik secara bolak-balik dengan kritis (Stain, 2002: 16).

Dengan metode analisa reflektif, penulis akan mencari makna yang terkandung dari hasil pengumpulan data yang telah dilakukan untuk diperbandingkan antara literatur yang ada dengan keadaan ataupun fenomena yang tertangkap sehingga dapat diperoleh kesimpulan data yang rasional dan ilmiah.

 


 

HASIL DAN BAHASAN

Deskripsi Sampul Muka Buku Anak-anak Revolusi

Buku Anak-anak Revolusi berukuran 14 x 21 cm dengan tebal 494 halaman. Hadir dengan dominasi latar berwarna putih, fokus (focal point) buku ini terletak pada obyek setangkai mawar merah yang tak lagi utuh: sekian kelopaknya telah terlepas, tercecer, dan lengkap dengan tangkai yang telah patah. Lalu, masih dalam obyek yang sama, dengan pendekatan closure (Lidwell; Holden; Butler, 2003: 44), dihadirkan jejak sepatu lars yang tertinggal. Jejak sepatu lars tersebut terlihat jelas telah menginjak sebagian dari setangkai mawar merah.

Sampul muka buku dicetak di atas soft cover dengan finishing cetak berupa laminating doff. Pada tulisan judul buku dan nama penulis dilakukan finishing cetak berupa embossed (timbul) dan spot UV Varnish. Judul buku dan nama penulis tersebut terpampang pada bagian bawah dengan menggunakan jenis huruf (typeface) Trajan. Di pojok kanan atas tercantum logo penerbit, yakni Gramedia Pustaka Utama. Sebagai penyeimbang di bagian sisi kiri atas, diletakkan splash dalam bentuk lingkaran oval berwarna merah bertuliskan “Buku 1”.

 

Tata Letak dan Komposisi

Tata Letak dan Komposisi

 

Seperti yang tercantum dalam info penerbitan, sampul muka ini didesain oleh Andhika Pradana. Desain tata letak (layout) terasa berupaya mengimplementasikan rule of third (Lidwell; Holden; Butler: 2003: 208), walau relatif tak ketat dalam penerapannya. Prancang berusaha membagi beban visual ke bidang kiri dan kanan, dengan area kiri yang condong lebih berat. Area kiri yang lebih berat diberikan porsi ruang lebih lebar dibanding area sebelah kanan. Tata letak yang disajikan juga terlihat jelas berusaha membangun komposisi dalam bingkai segitiga, dengan obyek yang berada di dalam garis semu sisi segitiga yang sama panjang maupun tidak (sisi dasar).

 

Kiasan Retorik

Menilik kata pengantar yang dituliskan, sepertinya ide, konsep, dan hasil tampilan yang tersaji telah memenuhi harapan serta keinginan Budiman. Bahkan, Budiman memberikan apresiasi tampilan sampul muka dengan mengkaitkan karya Costa Gavras, Missing (1982). Missing adalah sebuah film yang bercerita tentang penculikan dan pembunuhan dengan adegan yang mengerikan dan penuh kekerasan. Film itu sendiri meraih penghargaan di ajang Oscar untuk kategori Best Screenplay Adaptation dan mendapatkan Palme d’Or di Cannes Film Festival.

Merujuk kepada Basic Figures of Speech yang disampaikan Lupton, tampilan pada sampul muka buku Anak-anak Revolusi memilih untuk melakukan pendekatan metafora (Lupton, 2011: 83). Pendekatan metafora itu sendiri berarti melakukan perbandingan secara langsung dengan menggunakan perbandingan obyek yang analogis. Jejak lars sepatu merupakan metafora dari kekuasan yang represif; kekuasaan yang berjalan dengan pola menekan, mengekang, menahan, juga menindas. Sedang mawar merah adalah bentuk metafora dari keindahan impian, romantisme, rasa cinta atas harapan, serta rasa hormat terhadap keinginan.

Sosok Budiman Sudjatmiko tidak dapat dilepaskan dengan aktivitas perlawanan terhadap Orde Baru. Peristiwa Kudatuli (akronim dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) 1996 tak bisa dipisahkan dari sosok Budiman. Peristiwa tersebut berlangsung dalam bentuk pengambilalihan secara paksa kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jl. Diponegoro yang saat itu dikuasai oleh pendukung Megawati Sukarnoputri. Pengambilalihan tersebut dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi (Ketua Umum versi Kongres PDI di Medan) serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI. Terdapat mata rantai yang hilang dalam peristiwa tersebut, karena yang lebih banyak diketahui adalah rilis pemerintah Orde Baru. Mereka merilis sebuah cerita dengan menempatkan sosok Budiman dengan Partai Rakyat Demokrat yang dipimpinnya sebagai dalang dari kerusuhan tersebut. Pertanyaan besar masih mengemuka, mencari mata rantai kejadian yang sesungguhnya terjadi, dari sisi pelaku utama, yakni sosok Budiman sendiri. Cerita yang berkembang hanyalah bentuk cerita mulut ke mulut, berbicara tentang aparat kekuasaan yang bergerak masif mencari para pelaku, sambil melakukan penculikan serta penyiksaan. Namun, belum pernah ada dokumen resmi yang secara gamblang dan runut menceritakan secara detail apa yang sesungguhnya terjadi. Para pembaca memiliki ekspektasi besar untuk mengetahui detail peristiwa tersebut. Ekspektasi itulah yang berusaha divisualisasikan dalam desain sampul muka buku Anak-anak Revolusi. Pemilihan metafora sebagai sebuah jembatan (bahasa) visual dengan obyek mawar merah dan jejak sepatu lars adalah pilihan yang tepat. Visual tersebut secara utuh dapat menangkap keseluruhan pesan yang menaungi isi buku. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Joel Friedlander, “Book covers work best when they combine simple yet powerful elements together in a unified whole that tells, at a glance, what the reader can expect from the book.” (Friedlander, 2012).

 

Kritik Atas Visual Sampul Muka Buku Anak-anak Revolusi

Narasi ini tidak akan membahas pilihan metafora serta elemen-elemen visual di dalamnya, karena pilihan tersebut telah tepat pada fungsinya. Namun, terdapat beberapa hal yang masih dapat dieksplorasi serta dioptimalkan terkait elemen-elemen visual tersebut, terkait hal tersebut maka dapat dibagi menjadi tiga bahasan utama:

1. Tipografi
2. Eksekusi visual
3. Gaya visual

 

1. Tipografi

 

Jenis huruf Trajan dan penerapannya

Jenis huruf Trajan dan penerapannya

Trajan adalah jenis huruf yang dipilih untuk menuliskan judul buku dan nama penulis buku Anak-anak Revolusi. Trajan dalam tipografi masuk dalam kategori jenis huruf old style serif, yang berarti jenis huruf dengan kait bergaya klasik, dirancang oleh Carol Twombly untuk Adobe pada tahun 1989 (Meggs, 2006: 498). Seluruh huruf yang dimiliki Trajan adalah uppercase (kerap diterjemahkan menjadi “huruf besar” dalam bahasa Indonesia) atau disebut juga berjenis huruf all-capitals (Lupton, 2004: 52). Bila membutuhkan versi lowercase-nya biasanya akan memilih menggunakan Trajan Pro yang berjenis small-capitals, jenis huruf ini mempertahankan bentuk uppercase yang dimiliki Trajan.

Trajan kerap disebut sebagai jenis huruf untuk judul film (movie font), karena teramat seringnya digunakan sebagai jenis huruf pada judul film. Film-film box-office yang telah menjadi pengguna Trajan antara lain film Titanic, Geisha, Last Samurai, I Am Legend, Home of the Brave, film animasi Ice Age hingga serial televisi The West Wing. Biasanya, pemanfaatan jenis huruf Trajan di poster film tersebut disertai foto kepala (wajah penuh) pemeran utamanya dalam ukuran besar, tata letak seadanya, dan cenderung aman.

Karena Trajan adalah jenis huruf yang memiliki bentuk-bentuk kurva yang elegan, stroke yang ramping namun tegas, dan secara keseluruhan memiliki penampilan yang cantik, menjadi wajar mengapa Trajan menjadi jenis huruf pilihan banyak orang. Lepas dari keindahan Trajan, pemakaian jenis huruf dapat sedemikian masifnya karena Trajan adalah jenis huruf yang turut disertakan di dalam perangkat lunak keluaran Adobe’s Creative Suite, hingga hampir pasti seluruh desainer memiliki jenis huruf tersebut (Carpenter, 2011).

Secara mudah, memilih Trajan untuk sampul muka buku Anak-anak Revolusi tidaklah salah, karena seperti yang disebut oleh Friedlander (2011), “You might recognize Trajan, and that’s because it’s been used for more movie posters than any other font. It works quite well on books, too. This classic font is appropriate for histories, bukus, and historical fiction, among others.”, Anak-anak Revolusi merupakan buku berjenis buku dengan pendekatan sejarah.

Namun, bila kita menelusuri sejarah penciptaan jenis huruf Trajan, maka kita akan menjumpai obyek inspirasi yang mengilhami proses kreatifnya. Inspirasi jenis huruf Trajan diperoleh dari prasasti yang terdapat pada tiang (kolom) Trajan yang berangka tahun 114 Masehi. Roma sangat bangga dengan prestasi kekaisaran mereka lewat penaklukan demi penaklukan yang mereka lakukan, untuk itu mereka membangun monumen-monumen arsitektural dengan kolom-kolom berupa prasasti yang bertuliskan perayaan para pemimpin militer serta kemenangan demi kemenangan mereka (Meggs, 2006: 26).

Dengan sejarah inspirasi yang dimiliki tidak semestinya buku Anak-anak Revolusi menggunakan jenis huruf Trajan karena bertolak belakang dengan kisah yang dibangun. Kisah “Trajan” bicara tentang sebuah perayaan kemenangan para penguasa yang berlumur darah dan air mata. “Trajan” berbicara tentang perayaan bagi para pemimpin militer, sementara Anak-anak Revolusi bicara tentang memperjuangkan mimpi yang berliku karena harus berhadapan dengan para penguasa. Peran militer yang dirayakan oleh “Trajan” malah menjadi bagian alat represif penguasa yang harus dihadapi oleh para anak-anak revolusi.

 

2. Eksekusi Visual

Pilihan pendekatan closure pada visualisasi sepatu lars amatlah tepat, tanpa harus melakukan ekspos bentuk yang nyata sepatu lars malah justru menimbulkan persepsi represi yang kuat saat melihatnya. Closure sendiri merupakan salah satu prinsip yang mengacu kepada prinsip persepsi Gestalt (Lidwell; Holden; Butler, 2003: 44), prinsip ini memungkinkan desainer untuk mereduksi kemungkinan benturan kompleksitas yang mungkin terjadi antara dua obyek utama, yakni jejak sepatu lars dan bunga mawar. Sepatu lars tidak perlu divisualisasikan secara mendetail. Cukup bentuk-bentuk abstrak dengan layer dan bermain dalam intensitas warna, telah memberikan ruang bagi mereka yang melihat untuk menyempurnakan atau mengisi bagian-bagian yang hilang dari bentuk tersebut di dalam persepsi pikiran.

Kemungkinan benturan kompleksitas antar elemen juga turut direduksi dengan memanfaatkan prinsip red effect (Lidwell; Holden; Butler, 2003: 202). Warna merah memiliki peran yang signifikan di dalam komunikasi, baik untuk laki-laki dan perempuan. Warna merah pada bunga mawar sampul muka Anak-anak Revolusi sesungguhnya daya henti pertama yang sanggup menciptakan interaksi awal saat buku tersebut harus bersanding dengan ratusan buku lain di jejeran rak toko buku.

Namun, kritik terbesar yang dapat dialamatkan pada sampul muka buku ini adalah eksekusi visual yang dipilih yang tidak memiliki karakter. Apa mungkin karena tidak memilih salah satu genre visual? Atau, karena tidak maksimal dalam melakukan eksekusi visual? Banyak pilihan visualisasi yang dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil yang optimal, dari ilustrasi berbasis tradisional, digital ataupun fotografi. Pengerjaan mendetail dibutuhkan dalam ekseskusi ini, tujuannya sudah tentu yakni visual yang tak hanya baik, namun juga bagus dan indah.

Beberapa area masih dapat dimaksimalkan untuk mendapatkan detail visualisasi yang tercipta pada jejak sepatu lars yang menginjak bunga, seperti teknik permainan gelap terang dalam membangun bayangan dan struktur-struktur bentuk yang merujuk ke bentuk natural (karena jenis/gaya tampilan tersebut sepertinya yang coba diimplementasikan). Tampilan yang ada saat ini tak cukup memperlihatkan beratnya beban yang tercipta akibat beban injakan kaki lewat sepatu lars. Yang terlihat adalah bunga mawar yang masih dapat terbilang utuh dan “tertempel” oleh remah tanah hasil tersentuh bagian bawah sepatu lars. Sepatu hanya terlihat menyentuh saja, hingga bunga mawar masih tampak utuh. Hal ini sedikit banyak disebabkan oleh kualitas eksekusi yang belum optimal, termasuk di dalamnya pemilihan digital brush, juga teknik-teknik lukis di media digital yang diterapkan oleh si desainer. Hal lain yang masih dapat dicermati adalah tangkai bunga mawar bukankah semestinya memiliki duri—yang alpa dari di sampul ini? Padahal, hadirnya “duri” akan semakin menguatkan cerita yang ingin disampaikan secara visual.

 

3. Gaya Visual

Konstruktivisme

Agustus 2013 adalah titik awal informasi terkait buku Anak-anak Revolusi dirilis secara informal. Media yang digunakan pun hanyalah Twitter pribadi yang dimiliki Budiman, kemudian tweets singkat berupa teaser kehadiran buku tersebut hadir sesekali berperan sebagai media promosi yang sederhana namun efektif, karena langsung menuju ke para pengikutnya.

Semenjak awal informasi berupa teaser tersebut beredar, saya segera membayangkan tampilan visual sampul muka Anak-anak Revolusi akan bergaya konstruktivisme, sebuah aliran seni yang berkembang luas di Rusia pada awal abad ke-20 (Meggs, 2006: 287), atau pendekatan gaya visual bergaya poster-poster propaganda yang didominasi oleh warna merah dan akromatik (hitam, abu-abu, putih). Pendekatan visual tersebut erat dengan gaya visual sosialis, sebuah ‘isme’ yang menaungi isi buku dan menjadi cara pandang yang dianut oleh Budiman Sudjatmiko.

Gaya desain Konstruktivisme erat dengan bentuk geometris yang dipenuhi bentuk statis horizontal dan vertikal serta saling terkait menyatu bagai dalam irama gerak sebuah mesin. Selain itu, juga erat dengan pendekatan foto montase, dan tentu saja—seperti yang disebutkan di awal—didominasi oleh warna merah dan akromatik. Konstruktivisme menebarkan optimisme. Konstruktivisme juga tidak mempercayai ide yang abstrak, karena itu mereka menjembatani antara seni dengan ide yang konkrit dan jelas. Dan, tentu saja berusaha menunjukkan keterpihakan mereka terhadap kaum Proletar.

Bila mengaitkan semangat Konstruktivisme dengan buku Anak-anak Revolusi, setidaknya terdapat 3 hal yang sejalan, yakni optimisme dalam mengejar harapan dan impian, upaya untuk menjembatani segala yang abstrak dengan segala hal yang lebih konkrit, dan keterpihakan terhadap kaum proletar. Sedang bentuk dan warna yang merepresentasikan Konstruktivisme dapat dijadikan elemen-elemen yang membangun gaya desain terkait.

Walau tidak langsung merujuk ke dalam bentuk metafora sepatu lars dan bunga mawar, namun beberapa gaya desain Konstruktivisme berikut dapat dijadikan acuan referensi visual dalam pembuatan desain sampul buku Anak-anak Revolusi.

Cover for Artists' Brigade (El Lissitzky), 'Arkhitektura' cover design (El Lissitzky), Poster for the Russian Exhibition (El Lissitzky), International Women Worker's Day (Valentina Kulagina), Red Field (Valentina Kulagina), Urals to the Front (Pyotr Karachentsov), You Are Now a Free Woman, Help Build Socialism! (Strakhov Braslavskij), For the Proletarian Park (Gitsevich) Cover for Artists’ Brigade (El Lissitzky), ‘Arkhitektura’ cover design (El Lissitzky), Poster for the Russian Exhibition (El Lissitzky), International Women Worker’s Day (Valentina Kulagina), Red Field (Valentina Kulagina), Urals to the Front (Pyotr Karachentsov), You Are Now a Free Woman, Help Build Socialism! (Strakhov Braslavskij), For the Proletarian Park (Gitsevich).

Cover for Artists’ Brigade (El Lissitzky), ‘Arkhitektura’ cover design (El Lissitzky), Poster for the Russian Exhibition (El Lissitzky), International Women Worker’s Day (Valentina Kulagina), Red Field (Valentina Kulagina), Urals to the Front (Pyotr Karachentsov), You Are Now a Free Woman, Help Build Socialism! (Strakhov Braslavskij), For the Proletarian Park (Gitsevich)
Cover for Artists’ Brigade (El Lissitzky), ‘Arkhitektura’ cover design (El Lissitzky), Poster for the Russian Exhibition (El Lissitzky), International Women Worker’s Day (Valentina Kulagina), Red Field (Valentina Kulagina), Urals to the Front (Pyotr Karachentsov), You Are Now a Free Woman, Help Build Socialism! (Strakhov Braslavskij), For the Proletarian Park (Gitsevich).

 

Cukil Kayu

Käthe Kollwitz seorang artis kelahiran Jerman, berkarya lewat media gambar, cetak, patung dan poster. Karya figuratif yang lahir dari tangannya sangat kuat dalam emosi, ekspresif dalam memvisualkan kondisi manusia, seperti kondisi menyedihkan dari para pekerja miskin, penderitaan perempuan dan anak-anak, terutama yang disebabkan oleh perang (Meggs, 2006: 265).

Dua karya di atas merupakan bagian dari satu paket karya Kollwitz yang berjudul Perang (Krieg), menceritakan kekejaman perang lengkap dengan segenap penderitaannya dengan pendekatan figuratif. Karya tersebut menggunakan teknik woodcut (cukilan kayu), sebuah teknik cetak yang menggunakan media cetak papan kayu yang digambar. Gambar tersebut dibentuk melalui cukilan. Sebagai informasi, pada teknik woodcut bagian pada papan kayu yang hasilnya akan berwarna akan tetap didiamkan (tidak dicukil), sedang bagian yang tidak ingin berwarna akan dicukil, dipahat, ataupun ditatah hingga menjadi ruang kosong yang tidak akan terkena cat/pewarna. Ruang kosong tersebut yang nantinya akan menjadi area yang sewarna dengan media cetak yang digunakan. Lalu, setelah cetakan tersebut diberi cat/pewarna kemudian ditempelkan (dicetak) ke bidang/media yang ingin dicetak.

Di Indonesia terdapat beberapa aktivis kebudayaan yang menggunakan pendekatan cukil kayu dalam menghasilkan karya, contohnya Taring Padi. Taring Padi mengumumkan kehadirannya di kancah politik-budaya Yogyakarta. Taring Padi mendeklarasikan Mukadimahnya dan mengumumkan “Lima Iblis Budaya” di kantor LBH Yogyakarta pada 21 Desember 1998 (http://taringpadi.com). Taring Padi memiliki filosofi: seni bukan barang elit yang hanya bisa dinikmati di ruang-ruang galeri. Seni adalah karya yang membumi dan melibatkan rakyat (Majalah Tempo, September 2013: 115). Suara dari ketertindasan adalah tema yang kerap diusung oleh Taring Padi, mereka menggunakan media baliho, poster cukil kayu, dan mural.

Contoh karya dari Taring Padi. (Sumber gambar http://taringpadi.com).

Contoh karya dari Taring Padi. (Sumber gambar http://taringpadi.com).

Hasil karya Kollwitz dan Taring Padi yang menggunakan teknik cukil kayu identik dengan kaum proletar, kaum bawah, kaum yang terpinggirkan, juga lekat dengan kaum pekerja. Teknik cukil kayu dianggap sebagai representasi dari kerja tangan para buruh/kuli, juga dianggap sebagai bentuk kesederhanaan yang merepresentasikan proses cetak dengan tahap dan proses yang tidak rumit, serta relatif sangat murah di dalam biaya produksi karya. Representasi tersebut akhirnya menjadi pilihan yang diambil oleh para seniman-seniman yang menyuarakan ketertindasan.

Pilihan visualisasi desain dengan menggunakan teknik cukil ini semestinya bisa menjadi alternatif gaya visual yang diusung oleh desain sampul muka buku Anak-anak Revolusi, karena semangat yang menaungi buku tersebut erat dengan representasi yang diusung oleh teknik cukil yang ada, yakni bicara tentang kaum proletar, bicara tentang kesederhanaan, serta perlawanan atas ketertindasan.

 

Selebaran Fotokopi dan Cetak Stensil Murah

Teringat akan satu momen waktu di masa lalu, sekitar tahun 1996-1998, saat-saat membaca lembaran demi lembaran selebaran yang saat itu terkategorikan sebagai selebaran subversif. Lembaran itu sangat sederhana, tercetak lewat mesin fotokopi di kertas putih yang tak tebal. Kerap kali lembaran yang didapat itu adalah hasil fotokopi yang kesekian, hingga huruf-huruf yang terkopi di sana menjadi telah memudar dan tak jelas keterbacaannya. Kertasnya pun kadang telah lusuh dan kusam. Kadang yang didapat adalah cetakan stensilan yang tintanya mem-blaur di sana sini, tercetak di atas kertas buram ataupun HVS kusam.

Saat itu, hanya untuk memegang selembaran itu dibutuhkan keberanian. Membacanya harus sambil sembunyi-sembunyi. Tak ada yang berani membacanya di tempat umum. Bila ada yang ingin menggandakan, biasanya diberikan wejangan panjang berisi pesan penuh kehati-hatian. Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) adalah gerakan mahasiswa untuk memperjuangkan demokrasi di Indonesia yang merupakan onderbouw dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) Budiman Sudjatmiko. SMID merupakan salah satu organisasi yang paling gencar menyebarkan selebaran tersebut. Selebaran tersebut biasanya berisi berita aksi mahasiswa ataupun buruh, isu-isu terkait demokrasi, politik, dan sosial-ekonomi yang semakin memburuk.

Majalah Tempo pada Mei 2013 merilis edisi khusus dengan memberikan bonus berupa buku kecil yang berisi kumpulan puisi Wiji Thukul. Wiji Thukul adalah seorang penyair dan aktivis yang masuk di dalam daftar orang hilang semenjak tahun 2000. Buku kecil tersebut sangatlah sederhana, bersampul coklat dengan judul tercetak merah dan hitam. Di sudut kanan bawah tervisualkan sepatu lars serdadu dengan ujung sepatu berbentuk mulut buaya, lengkap dengan deretan gigi tajamnya. Buku tipis itu terjilid hanya dengan staples, sedang bagian dalamnya tercetak offset satu warna, berusaha menghadirkan nuansa kusam dan pudar fotokopi. Buku sederhana itu berhasil menghadirkan memori atas selebaran propaganda masa lalu.

Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam pelarian, “Para Jendral Marah-marah. Edisi khusus Majalah Tempo, Mei 2013.

Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam pelarian, “Para Jendral Marah-marah. Edisi khusus Majalah Tempo, Mei 2013.

Dalam desain, pendekatan seperti di atas kerap disebut dengan rekonstruksi (Lupton, 2011: 160). Cara yang dapat ditempuh untuk melakukan desain rekonstruksi tersebut yakni dengan melakukan pengumpulan artefak visual yang terkait, melakukan analisa dan replika, observasi, kemudian terakhir eksekusi visual. Buku Anak-anak Revolusi dapat menggunakan pendekatan serupa untuk menghadirkan visual masa lalu sebagai satu kesatuan karya, bukan berarti dalam bentuk yang sama persi, namun yang dapat serupa adalah proses pengembangan desainnya lewat langkah kreatif yang sama.

 


 

SIMPULAN

Sampul muka sebuah buku memiliki peran yang sangat penting di dalam sebuah produksi buku. Sampul muka buku harus mampu merepresentasikan keseluruhan isi buku, memberikan gambaran utuh atas naskah yang terdapat di dalamnya hingga dapat menjawab ekspektasi dari pembacanya. Selain itu, sampul juga berperan sebagai identifikasi yang unik, bukan hanya sebagai pengingat namun juga karena harus bersaing pada saat terpajang di toko buku, bersaing meraih perhatian dengan puluhan bahkan ratusan buku lainnya.

Buku Anak-anak Revolusi karya Budiman Sudjatmiko memiliki isi naskah yang hebat, memiliki pilihan metafora untuk sampul muka buku yang tepat, namun saat eksekusi visual masih ditemui kekurangan di sana-sini yang semestinya dapat dioptimalkan agar buku Anak-anak Revolusi dapat hadir lebih utuh, lengkap di segala aspek dan lini untuk menjadi sebuah buku yang sempurna.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Lupton, Ellen (2011).Graphic Design Thinking: Beyond Brainstorming.New York: Pricenton Architectural Press.
Lupton, Ellen and Jennifer Cole Phillips (2008).Graphic Design the New Basic.New York: Pricenton Architectural Press.
Lupton, Ellen (2004).Thinking with Type.Graphic Design the New Basic.New York: Pricenton Architectural Press.
Meggs, Philip B. and Alston W. Purvis (2006).Meggs’ History of Graphic Design (4th ed.).New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
Lidwell, William; Kritina Holden, and Jill Butler (2010).Universal Principles of design: a cross-disciplinary reference.Massachusetts: Rockport Publishers, Inc.
Friedlander, Joel (2012).Book Cover Design and the Problem of Symbolism.http://www.thebookdesigner.com/2012/01/book-cover-design-and-the-problem-of-symbolism/, diakses pada 3 Desember 2013.
Carpenter, Mathew (2011).10 Iconic Fonts and Why You Should Never Use Them.http://www.webdesignerdepot.com/2011/02/10-iconic-fonts-and-why-you-should-never-use-them/, diakses pada 28 November 2013.
Friedlander, Joel (2011).5 Great Fonts for Book Covers.http://www.thebookdesigner.com/2011/08/5-great-fonts-for-book-covers/, diakses pada 28 November 2013.
IMDB.com.Missing (1982).http://www.imdb.com/title/tt0084335/, diakses pada29 November 2013.
Taring Padi.2010.Tentang Taring Padi.http://taringpadi.com/about/?lang=in/, diakses pada 29 November 29 2013.

 


Tulisan terbit perdana di situs pribadi widhyatmoko.wordpress.com dengan judul yang sama pada 6 Desember 2013. Diterbitkan dan disunting atas izin penulis.

Quoted

When you do what you like, you won’t get sick of it too long, if ever.

Jerry Aurum