Mendesain dengan Batik: Tawaran Memahami Kedudukan Estetika Desain

Latar Belakang

Batik kini telah menjadi tren di Indonesia, tidak hanya dijumpai pada sehelai kain panjang atau sarung, tapi juga membalut barang-barang komoditas yang semakin hari jumlah dan variannya semakin beragam: tas sekolah, sepatu, sampul buku, helm, jas hujan, gantungan kunci, bolpoint, jersey beberapa klub bola, packaging makanan, bahkan hingga sandal jepit. Badan transportasi umum juga tak luput dari tempelan motif batik seperti pada bus, kereta api; bahkan sudah setahun terakhir kita diperkenalkan maskapai penerbangan baru bernama Batik Air, cv seolah menegaskan bahwa batik telah menjadi material utama yang direpresentasikan karena sekaligus menunjukkan identitas keindonesiaan kita. Lebih lanjut batik kini bukan lagi sebagai sebuah kerajianan tradisional khas Jawa saja tetapi sudah menjadi produk budaya populer yang dibumbui dengan apropriasi, komersialisasi, dan dinegosiasikan kepada selera kebanyakan masyarakat Indonesia.

Beberapa barang komoditas dan alat transportasi yang dibungkus dengan motif batik

Beberapa barang komoditas dan alat transportasi yang dibungkus dengan motif batik

Batik sebetulnya mengacu pada teknik merintangi kain dengan lilin malam sehingga permukaan yang tertutupi malam tersebut tidak terkena pewarnaan dan membentuk motif batik. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa batik terasosiasi dengan kebudayaan Jawa karena istilah batik mengacu pada bahasa Jawa amba yang berarti menggambar dan tik yang berarti titik sehingga membatik berarti menggambar titik dalam jumlah yang banyak (motif) (Surjanto, 2003). Ini diperkuat dengan adanya kata thika’ yang berarti menulis dan menggambar dalam Old Javanese English Dictionary karangan P.J. Zoet Mulder & S.O. Robson. Membatik juga biasa disebut mbatik oleh orang Jawa dengan bahasa Jawa Ngoko atau bahasa Jawa kasar yang merujuk pada aktifitas atau kegiatan membatik (Rens Heringa, 1996:32). Teknik merintangi dengan lilin malam ini sebetulnya juga dikenal di kebudayaan lain seperti di India, Cina, Persia, hingga Peru, tetapi orang Jawa membedakannya dengan menciptakan canting sebagai pena atau tools untuk menggambar. Canting kemudian bisa dipahami sebagai indigenous orang Jawa.

Kartini (kanan) dan saudara perempuannya Roekmini dan Kardinah sedang membatik dengan canting.  Sumber: De Batikkunst (1899) oleh Juynboll dan Rouffaer

Kartini (kanan) dan saudara perempuannya Roekmini dan Kardinah sedang membatik dengan canting.
Sumber: De Batikkunst (1899) oleh Juynboll dan Rouffaer

Maka ketika batik menemukan euphoria-nya di berbagai produk komoditas yang tidak menerapkan lilin malam, hanya dapat dipahami sebagai kreativitas pada tataran motifnya saja dan bukan pada esensi batik itu sendiri. Batik kemudian juga dapat dipahami sebagai kitsch atau bentuk reproduksi batik (=baca motifnya) yang telah begitu massalnya diadaptasikan pada barang-barang komoditas dengan penurunan keotentisitasnya sebagai sebuah teknik. Di zaman digitalisasi dan serba emansipasi ini tidak dapat dihindari bahwa mengekplorasi motif batik menjadi penunjang perancangan seni maupun desain, terutama desain grafis. Motif batik selalu bisa dikaitkan dengan sentimen kebangsaan, identitas budaya Indonesia, atau hanya bagian dari bentuk apropriasi.

Motif batik bisa menjadi inspirasi dalam pengalaman ber-estetika, disaat yang sama juga membuka peluang baru penciptaan gaya desain yang membentuk asosiasi pada ekspresi kelokalan. Inilah yang kemudian dilakukan oleh mahasiswa DKV ISI Yogyakarta, sebagai bagian dari mata kuliah Estetika Desain pada 4-5 Januari 2014 lalu di Sanggar Batik Jenggolo mereka membatik desain tipografi yang mengacu pada ekspresi kelokalan bahasa dalam bentuk tulisan atau diistilahkan dengan tipografi vernakular. Mengapa membatik dipilih untuk membuat tipografi? Dan mengapa pula tipografi vernakular?

Pertama, dengan membatik mahasiswa dapat membiasakan diri untuk mengolah rasa sekaligus raga mereka dalam memahami esensi batik yang terletak pada tekniknya mencanting dengan lilin malam. Pengalaman mereka mendesain dengan batik juga memperdalam sensitifitas mereka pada: penciptaan bentuk kata atau kalimat dalam kerangka tipografi, dekorasi ornamennya, penata-letakkan, keseimbangan, penekanan atau center of attention, keberaturan, kesatuan, hingga konsistensi.

Kedua, tipografi menjadi kerangka desainer dalam mengolah ide-ide kelokalan, dalam hal ini bahasa keseharian atau vernakular yang diwujudkan atau dituangkan dalam bentuk huruf. Maka titik berat tipografi vernakular bukan hanya pada dekorasi motif, seperti halnya batik sebagai sebuah pakaian atau kerajinan lainnya, tetapi juga pada bentuk tulisan baik berupa kata, kalimat, bahkan umpatan. Semua memiliki ceritanya sendiri-sendiri, dan berikut ini adalah ceritanya.

*kitsch = Gaya reproduksi massal atas seni maupun desain dengan pemiskinan kualitas pertandaan dari yang asli

 

Cerita Membatik

Menjelaskan estetika kepada mahasiswa DKV ISI yang kebanyakan berada di tingkat akhir ini tidaklah semudah memberikan teori saja. Beberapa mahasiswa mengaku dan menganggap penting mata kuliah Estetika Desain karena diharapkan dapat membantu memahami penciptaan atau pengkajian pada Final Project atau Tugas Akhir (TA) mereka nantinya. Sehingga meskipun ini adalah mata kuliah pilihan, jumlah pesertanya mencapai 50 mahasiswa yang hampir seluruhnya memiliki rasa penasaran pada: apa sih sebetulnya estetika itu?

Mahasiswa awalnya beranggapan estetika itu adalah sebuah keindahan [!], dan jika mengacu pada estetika desain maka ia menjadi bagaimana penciptaan desain yang indah. Sebagai bagian dari tim dosen pengampu, sedari awal kami mencoba untuk menjelaskan bahwa estetika tidak melulu tentang keindahan dan bahkan lebih jauh setiap orang memiliki bentuk estetikanya sendiri. Meskipun terkesan abstrak tetapi tetap bisa dijelaskan melalui konsep experiencing atau keberpengalamannya. Pengalaman merupakan sebuah aktivitas merasakan yang kemudian dapat digeneralisasi kegiatan pada keindahannya itu sendiri. Maka dengan pengalaman kedudukan estetika ada pada rasa ketika mendesain, berkarya atau mencipta. Ini adalah perkara olah rasa.

Membatik dianggap bisa menjadi media untuk memenuhi olah rasa tersebut kepada mahasiswa. Perlu dijelaskan juga bahwa membatik tidak hanya digeneralisir pada satu disiplin ilmu saja (kriya batik misalnya) tetapi variabel visual batik juga memuat hal-hal yang dibutuhkan dalam desain. Bisa dibilang membatik dan mendesain sebetulnya perkara yang sama; sama-sama menggambarkan bentuk, garis, titik, adanya repitisi, komposisi, warna yang diikuti dengan menerapkan dasar-dasar layout sehingga tercipta perancangan visual. Dengan kerangka membuat tipografi vernacular, mahasiswa diberi peluang untuk berkespresi dengan teknik canting yang tentu saja berbeda dari kebiasaan mereka dengan komputer, spidol, pen stylus illustrator, dan sebagainya.

Awalnya mahasiswa membuat pola desain tipografi di kain berukuran 50 x 50 cm dengan pensil yang sekaligus menjadi awal untuk mereka-reka bentuk motif sebelum dicantingkan. Tidak ada keharusan menggunakan motif batik yang sudah umum seperti motif Parang, Kawung, ataupun Semen; meski diberi masukan untuk memberi isen atau hiasan di dalam bentuk motif seperti halnya batik namun prakteknya mereka justru lebih liar dalam mengekplorasi ragam hias di bentuk atau motif utama mereka. Banyak diantaranya bahkan menuliskan sejumlah kata dan kalimat dengan spontan dan menghias secara langsung ketika sudah membatikkan dengan canting.

Diawali dengan membuat pola atau motif desain dengan pensil sebelum akhirnya menggoreskannya dengan canting berisi lilin malam. Sumber: foto oleh Cito

Diawali dengan membuat pola atau motif desain dengan pensil sebelum akhirnya menggoreskannya dengan canting berisi lilin malam. Sumber: Cito

Pengalaman pertama membatik memang selalu seru, terutama memegangi canting berisi malam yang meleleh dan menggoreskannya ke permukaan kain, termasuk ketika beberapa kali malamnya menetes di kain bahkan tangan juga merasakan panas ketika tanpa sengaja terciprat oleh malam. Belum lagi ketika mewarnai menggunakan pewarna alam dari kulit Tingi memaksa mereka untuk mencelupnya minimal tiga kali sebelum akhirnya di fiksasi atau proses menguci dan membangkitkan warna akhir dengan Kapur maupun Tunjung. Ini berlaku untuk satu warna dan beberapa yang menghendaki dua warna harus menutup bagian-bagian motif yang tidak terwarna lagi dengan malam dan dan mencelupnya dengan fiksator warna yang berbeda. Membatik dalam hal ini membutuhkan kesabaran, konsentrasi, ketelatenan, dan seluruhnya melibatkan persepsi indera kita masing-masing. Dengan demikian inilah pengalaman praktik yang melibatkan rasa, pikiran, dan jiwa dengan tujuan akhir perancangan desain yang memiliki impresi keindahan setidaknya bagi desainernya; ini yang setidak-tidaknya ingin dicapai untuk memahami kedudukan estetika yang sangat bergantung pada pribadi penciptanya.

Mewarnai atau proses pencelupan dengan bahan alami dari kulit Tingi menjadi cerita tersendiri karena para mahasiswa ini harus melakukannya minimal tiga kali dan dengan fiksasi Tunjung dan Kapur yang menghasilkan warna yang berbeda: merah tua dan coklat tua. Sumber: Cito

Mewarnai atau proses pencelupan dengan bahan alami dari kulit Tingi menjadi cerita tersendiri karena para mahasiswa ini harus melakukannya minimal tiga kali dan dengan fiksasi Tunjung dan Kapur yang menghasilkan warna yang berbeda: merah tua dan coklat tua. Sumber: Cito

 

Pilihan pada Tipografi Vernakular

Ketika menawarkan membatik kepada para mahasiswa bukan seperti memberi tugas kuliah namun memberi alternatif praktik (yang diharapkan bisa) menggugah rasa yang menyenangkan sehingga tidak ada tekanan ketika melakukannya. Ini juga menjadi pertimbangan ketika memilih praktik apa yang bisa menjadikan mereka lebih memahami dan merasakan estetika. Jika batik dan motifnya sudah semakin nge-tren, maka kami mencoba membuat kerangka lain yang masih dekat dengan Desain Komunikasi Visual yaitu dengan tipografi. Tipografi menjadi perangkat komunikasi bahasa verbal yang direkam dalam bentuk visual dengan kualitas ketetapan objektif (objective accuracy) serta kualitas ekspresif yang tinggi (Muchyar, 2005). Huruf dalam tipografi memiliki perpaduan nilai fungsional dan nilai estetik dengan struktur yang terangkai menjadi bahasa tulis berupa kata atau kalimat yang merupakan representasi fisik dari struktur pemikiran di otak kita yang tidak terlihat secara kasat mata (Sihombing, 2001).

Karena tidak ingin terjebak pada ekspresi huruf yang rigid atau kaku pilihannya adalah pada bentuk vernaksular atau yang berarti berhubungan dengan keseharian atau adanya kedekatan (Woodward, 2013). Mahasiswa yang notabene sebagai desainer kemudian membuat asosiasi diri dengan memori pribadi, asal-usul, dan berkaitan dengan yang spacial atau natural. Dengan membatik tipografi vernacular tidak hanya mengalami sendiri esensi teknik batik tapi sekaligus mengkepresikan kedalaman ide yang ingin dikreasikan atau disampaikan.

e-560x306

Hasil membatik tipografi vernakular. Sumber: Cito

 

Awigarda atau biasa dipanggil Ada dengan karyanya berjudul “Mboh” mengaku ada kebimbangan pada apa yang akan ia batikkan sehingga yang terlintas adalah kata dalam bahasa Jawa Mboh yang berarti tidak tahu atau terserah. Untuk mendramatisir Ada membingkai tulisan tersebut dalam bentuk tengkorak dengan berbagai dekorasi yang ruwet. Berbeda dengan Puthut membuat “Segara Amarta” akronim dari “Semangat Gotong Royong Ambangun Ngayogyakarta” yang berarti “Semangat Bergotong-royong untuk Membangun Yogyakarta”. “Manah” karya Priscill ingin menunjukkan bahwa kemenangan terbesar adalah ketika bisa mengendalikan manah atau hati-nya masing-masing.

Selain kata dan kalimat yang memiliki hubungan personal, desain batik lainnya juga menunjukkan kecanggihan dekorasi tipografi sehingga menonjolkan bentuk ornamennya. Ragam hias pada huruf ini untuk menunjukkan typeface yang otentik dan hanya ditemui di karya itu saja. I Nengah Jefry misalnya membuat tulisan “Deskomvis” dengan ragam hias berupa ornament yang sophisticated. Rani, Aida dan, Reza Ali juga tak kalah heboh untuk menghias dengan teknik ciprat dan jumput sehingga huruf-huruf yang terangkai menjadi lebih dramatis. Teman-teman mahasiswa lainnya juga tidak kalah canggih dengan merespon tetesan lilin malam yang tidak kehendaki di sana-sini, atau sebagai bentuk “human error”. dan mengubahnya menjadi sesuatu yang alamih dengan dekorasi tambahan sehingga justru mempertegas nilai artistik desain batik tipografi itu sendiri.

 

Kesimpulan

Bahwa batik sekarang ini sudah menjadi tren, meskipun yang dieksplorasi kebanyakan adalah motifnya dan bukan pada tekniknya, (tetap) merupakan peluang desainer untuk mengapropriasinya menjadi gaya desain mereka. Kegiatan membatik bagi mahasiswa DKV ISI – Yogyakarta ini menjadi proses yang menggiring mereka pada pengetahuan yang esensial tentang batik terutama pada tekniknya. Dengan memahami teknik membatik. ketika pada akhirnya menggunakan batik sebagai materi penciptaan karya desain mereka dapat menyadari logika pengelolaan bentuk estetikanya dan tidak hanya terbatas pada copy-paste dari satu motif ke motif batik lainnya. Hal tersebut dapat diperluas dengan mengembangkan motif batik pada bentuk atau gaya desain yang baru tanpa menghilangkan ciri atau hal-hal yang mengasosiasikan diri dengan batik.

28

Hasil membatik tipografi vernacular dari mata kuliah Estetika Desain ini dipamerkan di studio Diskom mulai tanggal 12 Januari 2014 bersamaan dengan pameran mata kuliah Tipografi Dasar. Sumber: Susiyo "Sekar" Guntur

Hasil membatik tipografi vernacular dari mata kuliah Estetika Desain ini dipamerkan di studio Diskom mulai tanggal 12 Januari 2014 bersamaan dengan pameran mata kuliah Tipografi Dasar. Sumber: Susiyo “Sekar” Guntur

Lebih dari itu dengan membatik membuka peluang partisipasi yang luas pada subyek untuk mengalami sendiri ruang estetikanya, makna atas fungsi desain ciptaannya, dan tentu saja keindahan itu sendiri. Maka kemudian daripada menciptakan teori tentang apa itu arti estetika desain, tawaran mendesain dengan batik menjadi metode untuk menggunakan ide-ide, kesederhanaan, kerumitan dan segala pemikiran yang terintas untuk kemudian diwujudkan menjadi karya desain yang emosional karena melibatkan pengalaman personal desainernya terhadap teknik dan isi karyanya. Tipografi dan ekspresi vernacular pada bahasa kelokalan dan keseharian menjadi kerangka yang digunakan untuk mempermudah pencapaian hasil akhir sebagai representasi dari bentuk visual language.

 


Bibliografi

Heringa, Rens. 1996. The Historical Background of Batik on Java dalam Fabric of Enchantment: Batik from the North Coast of Java, from the the Inger McCabe Elliot Collection. Los Angeles: The Los Angeles County Museum of Art

Muchyar, “Serba-serbi Mimpi Tipografi”, Majalah Conceptâ vol. 1 (Mei, 2005).

Sihombing, Danton. 2001. Tipografi dalam Desain Grafis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Soerjanto, Toeti. 1997. The History of Traditional Batik, an outlinefor the Third Asean Youth Painter Workshop and Exibition. Yogyakarta: Institut for Research and Development of Handicraft and Batik Industries.

 

Website

Molly Woodward http://blog.vernaculartypography.com/

 


 

DOKUMENTASI

111-560x371

211-560x371

 

 

311-560x371

47-560x371

52-560x371

62-560x371

82-560x371

112-560x371

121-560x371

131-560x371

141-560x371

151-560x371

161-560x371

171-560x371

181-560x371

261-560x381

251-560x371

241-560x371

221-560x371

212-560x371

201-560x371

191-560x371

Quoted

“Keberhasilan merancang logo banyak dikaitkan sebagai misteri, intuisi, bakat alami, “hoki” bahkan wangsit hingga fengshui. Tetapi saya pribadi percaya campur tangan Tuhan dalam pekerjaan tangan kita sebagai desainer adalah misteri yang layak menjadi renungan.”

Henricus Kusbiantoro