FX Harsono: Desainer Grafis itu Harus Punya Idealisme (Bag. 2—habis)

Sebelumnya, kami telah memuat bagian pertama dari percakapan kami dengan seniman yang oleh karena Peristiwa Desember Hitam dan Gerakan Seni Rupa Baru, menjadi salah satu ikon seni rupa kontemporer Indonesia: FX Harsono. Di studionya di Bintaro, kami berbincang dengan penerima Prince Claus Award dan Joseph Batelier Award ini tentang kesenimanan dan pengkaryaannya yang selalu lekat dengan kondisi sosial dan politik di Indonesia. Menurutnya, “Sosial politik itulah wajah Indonesia.

Selain seniman, FX Harsono juga pernah berkiprah dalam kancah desain grafis Indonesia. Ketika profesi desain grafis di tanah air mulai muncul pada dekade 1980-an, FX Harsono juga turut berperan dengan menjadi salah satu pendiri IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia). IPGI—yang kini bernama ADGI—merupakan pelopor dimasyarakatkannya profesi desainer grafis di Indonesia. Dalam bagian kedua ini, kami bercakap-cakap dengan FX Harsono mengenai pandangannya terhadap desain grafis sebagai praktik, sebagai profesi, serta perannya di skema kebudayaan Indonesia secara luas.

 


 

BAGIAN II
DESAINER ITU HARUS PUNYA IDEALISME

 

Sebelumnya, kita telah berbicara soal kesenian. Sekarang, kami ingin berbincang tentang desain grafis. Dulu Anda menjadi salah satu pendiri IPGI, bersama dengan Pak Hanny [Kardinata] dan kawan-kawan. Apa yang membuat Anda bergabung waktu itu? Hal apa yang Anda anggap penting sehingga Anda turut mendirikan IPGI itu?

Pada awalnya saya terjun ke dunia desain grafis itu sebenarnya karena kondisi ekonomi yang membuat saya untuk tidak bisa menggantungkan [diri] pada karya seni saya. Pada tahun 1975 siapa yang mau beli instalasi kayak begini? Lukisan yang aneh saja orang enggak mau beli. Kemudian saya berpikir: kalau begitu ya saya harus menghidupi seni saya. Bagaimana caranya? Saya bekerja melalui kemampuan yang bisa saya lakukan: membuat karya-karya lukisan, desain grafis. Di situlah saya kemudian menjadi desainer grafis.

Ketika saya menjadi desainer grafis, saya berpikirnya kira-kira sama dengan ketika menjadi seorang seniman. Apa yang kira-kira diperlukan oleh para desainer grafis pada saat sekarang ini? Yaitu kebersamaan untuk mewujudkan satu komunitas desainer grafis yang kuat di dalam menghadapi persoalan-persoalan di dalam desain grafis ini.

Persoalan dalam desain grafis ini pada waktu itu yang saya pikirkan adalah, satu: berhubungan dengan klien, dan yang kedua: bagaimana para desainer grafis ini bersatu dan memikirkan perkembangan desain grafis ke depan.

Nah, perkembangan desain grafis ke depan ini ‘kan banyak sekali. Mulai dari pemikiran yang sifatnya konseptual, teknis, pendidikan, dan sebagainya. Itu yang kemudian dipikirkan. Caranya bagaimana? Ya caranya kita harus bersatu, berkumpul, memikirkan secara bersama-sama. Bagaimana keadaan desain grafis di Indonesia ke depannya supaya menjadi bagian dari—kalau sekarang disebutnya sebagai—ekonomi kreatif, tapi, pada waktu itu kita belum memiliki pemikiran soal ‘ekonomi kreatif’. Akan tetapi, paling tidak menjadi penting di dalam pembangunan seni atau kebudayaan atau ekonomi di Indonesia secara umum.

 

Bagaimana dengan hari-hari Anda di GGI [Gugus Grafis Indonesia]? Bisa ceritakan pada kami?

Pada waktu itu saya berpikirnya pada awalnya sederhana: kalau saya bekerja di suatu perusahaan maka perusahaan itu mengontrol saya, mengontrol hidup saya. Itu satu. Yang kedua, kalau saya bekerja di suatu perusahaan advertising pada waktu itu, saya tidak mempunyai kebebasan untuk berkreasi karena semua sudah ditentukan. Ada alurnyalah: kamu harus begini, kamu tidak boleh begini, dan sebagainya—meskipun itu tidak dinyatakan secara tertulis, tapi paling tidak itu ada sebetulnya. Sehingga, kemudian saya keluar dari advertising agency dan saya mulai mencoba membuat sendiri studio desain grafis.

Tujuan saya adalah saya mempunyai kebebasan waktu, saya bisa menentukan waktu saya sendiri, saya bisa berkembang lebih maksimal—daripada di advertising agency—,dan kemudian saya juga punya kebebasan untuk berkreasi.

 

Apa yang kemudian melandasi keputusan Anda untuk kembali mendedikasikan diri sebagai seniman?

Sebetulnya sejak awal saya mempunyai keinginan atau cita-cita bahwa saya kepingin menjadi seniman, menjadi full-time artist. Akan tetapi, pada waktu itu kondisi saya belum memungkinkan. Saya tidak bisa hidup dari karya seni saya, sementara itu kita harus realistis bahwa kita harus hidup—menghidupi keluarga dan sebagainya—sehingga, okelah, kita berada dalam dunia desain grafis itu. Tetapi, ketika saya melihat bahwa: oh, ternyata saya mampu menjual karya saya. Artinya, ada orang berminat membeli karya saya; dengan perubahan zaman dan kebudayaan orang ada yang melihat bahwa: karya ini bisa loh dikoleksi. Ada kemajuanlah pada masyarakat waktu itu. Ada kemajuan pemikiran pada kolektor, sehingga kemudian saya berpikir, “Kalau begitu ini sekarang saatnya saya untuk lebih fokus ke kesenian.”

 

Tahun berapa itu?

Boleh dibilang tahun 2005-lah. Ketika saya mulai mengajar di UPH [Universitas Pelita Harapan], itu saya sudah mulai mengurangi, karena sejak tahun 2000 itu sudah ada orang yang mulai membeli karya saya. Karya itu baru berada on paper, ya, di atas kertas gitu. Wah, ternyata ada orang yang mau membeli karya saya. Oke, kalau begitu, kemudian saya terus membuat karya, sampai pada satu perkembangan pemikiran saya:

Ternyata apa yang selama ini saya lakukan dalam dunia desain grafis dan di seni rupa ini sebetulnya tidak jauh berbeda; bahwa saya membuat karya-karya yang sifatnya reproduksi.

Basisnya adalah reproduksi, itu satu. Yang kedua, saya membuat karya yang tidak seluruhnya dibuat oleh tangan saya sendiri. Dan ini ada hubungannya di dalam desain grafis: setelah kita membuat layout dan sebagainya, ada fotografer, dibantu ini, waktu itu masih ada paste-up artist, kemudian dikirim ke separasi, lalu jadi—dicetak, dan lain sebagainya.

Proses reproduksi ini ‘kan sebetulnya juga bukan proses yang berada di tangan saya semua. Sama seperti ketika saya membuat karya seni: tidak berada di tangan saya semua. Jadi, apa susahnya?

Saya membuat karya-karya saya, kemudian saya menyadari bahwa reproduksi ini menjadi hal yang penting.

Bahwa pemikiran… Siapa itu namanya?

 

Walter Benjamin?

Iya, Walter Benjamin yang mengatakan bahwa reproduksi itu adalah bagian dari seni rupa dan reproduksi ini sendiri bisa membantu, dan reproduksi itu menciptakan pemikiran-pemikiran baru, dan sebagainya. Langsung saya memakai pemikiran reproduksi itu untuk membuat karya. Yang tadinya itu saya membuat karya dua dimensi on paper, kemudian saya membuat karya dua dimensi on canvas, dengan teknik print—masih dengan teknik print.

Kemudian saya melihat bahwa kalau teknik print ini tekniknya adalah digital, bisa juga dengan mechanical, kenapa saya tidak membuat reproduksi yang sifatnya manual?

Ya sudah, saya buat karya reproduksi yang manual. Semua saya kerjakan dengan komputer karena memang sejak tahun 1987 atau 1988 ketika komputer mulai masuk di desain grafis, saya sudah mulai bekerja dengan komputer; dan saya sudah akrab dengan komputer, hanya saja pada waktu itu saya belum memiliki alasan yang jelas mengapa komputer perlu saya terapkan dalam dunia seni rupa?

Nah, ketika saya mulai menemukan pemikiran Walter Benjamin tentang reproduksi itu saya sadar bahwa komputer ini salah satu alat yang sangat penting dalam penciptaan sifatnya reproduktif itu. Ya kemudian saya bekerja di situ, saya bisa menggunakan Photoshop, Illustrator, dan sebagainya. Saya pakai, saya kerjakan di situ. Kemudian, saya membuat karya-karya yang sifatnya reproduksi dan manual tadi, dan ternyata membuat sambutan yang luar biasa dari pasar.

Saya terus terang, tidak mengatakan bahwa pasar itu jelek. Kalau selama ini saya tidak diterima oleh pasar bukan karena saya anti terhadap pasar, [tapi] karena memang pasar tidak menyerap karya saya; orang tidak mau membeli karya-karya semacam ini pada waktu itu.

Ketika saya membuat karya-karya lukisan atau dua dimensi on canvas dengan pemikiran reproduksi yang manual ini, kemudian orang menganggap bahwa: oh, ini bisa kita koleksi. Ya, silakan saja. Kemudian, beberapa orang mengatakan bahwa, “Pak Harsono sekarang mulai melukis, ya?” Enggak, saya enggak melukis. Ini cuma reproduksi yang sifatnya manual saja. “Loh, kok Pak Harsono berani ngomong kayak begitu?” Ya, ini memang kenyataannya begitu. Ini adalah ide saya. Dan kemudian saya memakai artisan dan sebagainya, saya tidak peduli, karena ini memang reproduksi kok. Nah, sementara, seniman-seniman yang lain mereka memakai proyektor itu untuk membantu ekspresi mereka. Masih pada ekspresi mereka, tapi saya enggak. Saya tekan habis. Di sini, ini hanya reproduksi.

 

FXHarsono-05

 

Tadi Anda juga sempat mengajar di UPH. Apa yang kemudian mendorong Bapak untuk menjadi pengajar di institusi pendidikan Desain Grafis alih-alih Seni Rupa?

Saya awalnya mengajar di IKJ [Institut Kesenian Jakarta] dari tahun 1985 sampai 1997. Itu saya mengajar di IKJ, kira-kira menghabiskan 12 tahun, ya.

 

Di jurusan apa?

DKV. [Di Desain] Produk saya disuruh ngajar Seni Lukis, saya enggak mau. Karena kalau saya mengajar Seni Lukis, pasti saya akan membawa ideologi saya dan pasti tidak akan cocok. Pasti akan ribut, karena sistem pendidikan di sana itu masih konvensional. Lukis on canvas. Saya udah enggak bikin begituanlah.

Sehingga, mungkin Desain Grafis lebih cocok buat saya. Dan saya juga menjadi seorang desainer grafis, mengapa saya tidak membagikan pengetahuan saya pada mereka? Kemudian, saya mengajarlah.

Ketika saya mengajar di UPH, saya merasa bahwa dosen-dosen UPH untuk mengajar DKV ini mereka jauh lebih hebat dari saya. Lebih muda pemikirannya dari saya. Lebih fresh dari saya. Namun, saya memiliki kemampuan yang tidak mereka miliki, yaitu teori. Saya pun mengajarkan Estetika; dan saya menganggap ini penting. Dan saya mengatakan pada Pak Yongky Almarhum yang waktu itu menjadi Ketua Jurusan bahwa:

Teori menjadi pengetahuan yang mengantar mahasiswa untuk bisa memahami perkembangan kebudayaan. Itu sangat penting di dalam pendidikan.

Pak Yongky ternyata setuju, sehingga kemudian di UPH itu ada teori-teori yang banyak sekali tentang kebudayaan. Sejarah kebudayaan, sejarah seni rupa, sejarah desain, cross-culture, estetika. Banyak sekali itu. Mahasiswa itu memperoleh bekal yang cukup. Ketika mereka keluar, mereka melihat perkembangan [kebudayaan] itu dan mereka masuk ke situ, mereka klik gitu loh, antara apa yang mereka dapatkan selama ini—yang mereka anggap bahwa itu percuma dan tidak penting. Begitu mereka melihat: oh, iya, ya. Itu ya. Mereka mulai terbuka lagi. Dan ketika mau melanjutkan kembali untuk lebih jauh memahami itu, tidak sulit buat mereka.

Ini keuntungan dari UPH. Mengapa beberapa anak-anak UPH kemudian menjadi seniman dan seniman yang cukup potensial di dunia seni rupa: Yaya Sung Kharisma, [Natasha Gabriella] Tontey, kemudian ada lagi Ika [Putranto]. Yang paling baru itu Ivan dari jurusan Desain Produk, dan yang paling barusan ini adalah Cempaka [Surakusumah]. Banyak sekali yang masuk ke sana [dunia seni rupa]. Ini kenapa ya kok bisa? Kemudian saya coba melihat: oh iya, ya, kayaknya mereka… ketika kita ngomongin banyak hal di luar desain grafis, mereka segera bisa nyambung gitu loh.

 

Awalnya tadi kami ingin bertanya mengenai desain grafis dan bagaimana pelakunya dapat merespon kultur yang ada di sekitarnya. Kerap kali ketika kami mengundang Anda untuk bicara dalam kegiatan desain grafis, Anda sering berkata bahwa Anda bukan lagi desainer dan menolak ajakan tersebut. Dalam sebuah wawancara di Jakarta Post seusai pameran Anda di Dia.Lo.Gue, Anda menyatakan bahwa banyak seniman muda yang berkarya hanya untuk kebutuhan pasar semata, alih-alih mengeksplorasi peran karya mereka di masyarakat.

Apakah Anda melihat bahwa desain grafis itu sebagai peranakan seni rupa yang hanya menyenangkan pasar sehingga tidak bisa menjadi refleksi atas kondisi sosial-politik masyarakatnya?

Sementara ini, atau kebanyakan, iya. Di Seni Murni atau Seni Rupa pun kebanyakan begitu.

Ini menjadi persoalan yang cukup dominan di dalam seni kita saat sekarang ini. Nah ini sebetulnya yang harus berubah. Harus diubah. Okelah, tidak apa-apa gitu seniman menjadi bagian dari pasar, karena pasar suka atau bisa mengonsumsi. Tidak masalah. Begitu juga dengan para desainer kita yang mewakili atau mendapatkan order atau pekerjaan yang bertujuan dengan promosi. Tidak apa-apa.

Tetapi, ada satu idealisme yang sebetulnya mereka harus pegang.

Idealisme yang harus mereka pegang bahwa: oke, saya tidak bisa masuk ke ranah sebelah sana, tapi paling tidak saya bisa masuk ke sebelah sini. Kalau orang meminta saya untuk melakukan ini, maka orang itu akan saya tawari untuk bagaimana berada dalam ranah yang ini, tetapi, tetap bisa mencerminkan pemikiran produk atau pesan-pesan yang berhubungan dengan produk itu. Bisa saja seperti itu. Akan tetapi, tidak lantas kita menjadi…. Ya kita harus beranilah. Harus punya bargaining position. Kita berani mengajukan tawaran: bagaimana kalau begini, karena ini, ini, ini, ini. Kita punya landasan seperti itu.

Beberapa desainer grafis melakukan itu dan berhasil, salah satunya adalah Iwank. Irwan Ahmett. Dia seorang desainer grafis, latar belakang [pendidikan]nya adalah DKV dari IKJ. Sekarang dia menjadi seniman yang cukup handal, bahkan menurut saya, seniman muda yang bagus sekali di Indonesia saat sekarang ini.

Ketika dia berhadapan dengan klien dia… Saya pernah menjadi kliennya, sebagai KSI [Koalisi Seni Indonesia]. Dia membuat logo. Dia menjelaskan semua itu dengan latar belakang yang sangat baik sekali. Dia tidak hanya bicara mengenai apa itu KSI, tetapi bagaimana KSI itu diposisikan; di dalam konteks kebudayaan sekarang ini seharusnya berada di mana. Saya pikir, luar biasa, Iwank! Pada waktu itu ‘kan kita ada pitching, ada 3 orang. Yang dua orang tidak bicara banyak, mereka hanya kasih ini, ini, alternatif ini. Itu saja. Nah, Iwank mengatakan bahwa, “Saya mengajukan ini karena saya punya landasan ini, saya mencoba meletakkan KSI dalam konteks kebudayaan kayak begini, sehingga ini yang paling tepat.”

Ini… Buset, nih. Saya lihat ini… Para desainer grafis kalau bisa ngomong kayak begini dengan kliennya, klien itu enggak akan bisa nolak. Pasti dia tidak punya pemikiran sehebat orang ini. Atau paling tidak, dia punya posisi bahwa, “Gue hebat, loh. Gue tahu loh persoalan lu. Gue tahu produk lu ini ada di mana di dalam masyarakat kita.”

 

Makanya menjadi penting bagi desainer grafis untuk peka terhadap masyarakatnya?

Iya. Dia harus tahu, produk ini kalau saya letakkan di dalam kondisi seperti ini dalam masyarakat ini, di mana sih sebetulnya. Dia tahu. Oh, masyarakat kita itu sekarang seperti ini.

Banyak sekali desainer grafis yang enggak tahu sebenarnya masyarakat kita ini kayak gimana? Kebudayaan di dalam masyarakat kita ini sebetulnya ada di mana? Dia gak tahu, sehingga ini yang menyebabkan [kondisi], “Oh, iya, iya, Pak. Iya, saya bikin, deh.” Sudah selesai. Begitu saja.

 

Dalam desain grafis sendiri, beberapa waktu lalu sempat mulai populer tema-tema seperti “Do Good Design”, lalu mulai mengangkat soal social responsible design, atau design-authorship. Bagaimana Anda melihat desain grafis agar dapat menjadi sebuah ruang yang dialogis antara si desainer dengan masyarakatnya maupun dengan si kliennya?

Seluruh arah atau permintaan dari desain grafis ini bisa masuk ke ranah itu, ya, karena ada yang tidak menghendaki itu. Akan tetapi, tetap ada ruang di mana si seniman ini tetap bisa ngomong, tetap bisa bicara. Potensi ini, ruang ini, kan masih harus terus digali kan. Dan ruang ini kan tidak berhenti. Ruang ini selalu bergerak dalam waktu.

Nah, sekarang, si desainer ini mampu gak untuk memperluas ruang ini dalam waktu yang lebih panjang—ke depan? Bagaimana menjadikan seorang seniman ini paham dan mampu? Mereka harus punya sangu yang cukup baik untuk [melihat bahwa]: oh iya, ruang kita ini cuma segini, tapi kita alternatif bahwa ruang ini bisa kita masuki, ke depan kita masih bisa ngomong kayak begini, dan kita melihat perkembangan di luar seperti ini. Itu bisa. Dia bisa melihat itu.

Tapi, itu membutuhkan suatu pengetahuan, dan pengetahuan itu adalah pengetahuan yang sangat konseptual; dan pastilah dia harus paham bahwa: aku punya gak sih suatu kesadaran ideologis? Tidak sekedar terombang-ambing dengan keadaan itu, tapi dia tahu bahwa: oh, posisi saya di sini. Posisi saya di sini, saya punya kesadaran ideologis seperti ini—meski dia tak menyebutnya sebagai “ideologi”—tapi dia sadar posisinya, mau ke arah mana. Orang yang mau minta [jasa] saya, mau gak saya ajak ke sana?

Bukan sekedar mau, tapi bagaimana saya mengajak orang, menyadarkan orang ini memahami bahwa ke sana itu adalah benar. Nah, itu yang penting buat seorang desainer grafis menurut saya.

Nah, itu ke depannya sangat perlu karena sekarang perkembangan teknologi dan informasi kan sangat luar biasa. Perusahaan bisa saja, “Ah, ngapain saya kerja sama desainer grafis? Wong saya bisa bikin sendiri. Seluruh aplikasi bisa saya dapat di komputer.” Selesai, kan? Tapi, kan dia tidak mempunyai kesadaran, tidak mempunyai partner untuk diajak ngomong dan membicarakan bagaimana posisi produk dia di dalam perkembangan kebudayaan yang sekarang, pasar yang sekarang, dan sebagainya.

Pasar ini ‘kan tidak terlepas dari kebudayaan. Seringkali orang memahami pasar sebagai bagian dari persoalan ekonomi saja. Enggak. Apakah pasar yang terdiri dari manusia-manusia itu kemudian tidak terkontaminasi dengan perkembangan kebudayaan? Pastilah, karena mereka sendiri juga menjadi pelaku kebudayaan, ‘kan?

 

Ini pertanyaan tambahan yang membuat kami cukup penasaran juga. Kalau di KSI itu ‘kan ada salah satu agenda mengenai Hibah Abadi Kesenian. Anda sendiri melihat ini seperti apa? Mengapa itu menjadi penting untuk diadvokasi?

Itu memang belum terealisisasi, ya, tapi kita berpikir ke sana. Kenapa itu penting? Supaya jangan sampai kegiatan ini bergantung dari dana, funding dari luar. Sekarang mulai banyak sekali institusi yang berpikir bagaimana kita ini tidak bergantung dari dana dari luar? Sekarang saja, contohnya, lembaga-lembaga dana dari luar itu akan sangat bergantung dengan kondisi ekonominya. Lembaga-lembaga dana dari Eropa banyak sekali yang dipotong. Dari Belanda, banyak sekali yang dipotong. [menyebut nama lembaga pendanaan], contohnya. [Menyebut nama lembaga pendanaan] tidak lagi menjadi lembaga dana tahun depan. Yang ada hanyalah beberapa saja yang kemudian mereka sangat mengurangi dana mereka. Nah, lembaga kesenian pada dasarnya bukan lembaga profit.

Mereka masih harus menggantungkan dana dari luar dirinya sendiri. Ini yang harus diantisipasi.

Bagaimana ya caranya supaya mempunyai dana abadi? Sebetulnya, menurut saya, di komunitas desain grafis ini menjadi jauh lebih memungkinkan, karena mereka berhubungan dengan korporasi-korporasi besar di industri. Kita tidak. Seni Murni tidak. Kita paling-paling berhubungan dengan kolektor dan kolektor selalu berpikirnya, “Kalau gue kasih kayak begini, gue dapat apa?” Mereka berpikir seperti itu, kan? Memang nyebelin.

Ya, begitulah, keadaan kita, meski kita enggak tahu kita akan dapat dana abadi.

 

Masih dalam proses penelitian, bukan?

Iya, kita [KSI] juga masih baru dua atau tiga tahun. Saya agak lupa.

 

***

 

FXHarsono-02

FXHarsono-01

FXHarsono-03

FXHarsono-04

FXHarsono-07

FXHarsono-08

 

Baca juga: FX Harsono: Sosial-Politik itu Wajah Indonesia (Bag. 1)

FX Harsono | Koalisi Seni Indonesia | Ikatan Perancang Grafis Indonesia | Desember Hitam | Gerakan Seni Rupa Baru

 


 

Naskah dan wawancara: Desain Grafis Indonesia/Ellena Ekarahendy
Foto dokumentasi: Desain Grafis Indonesia/Ismiaji Cahyono

 

Quoted

Ketika dari mata tak turun ke hati, desain pun gagal total

Bambang Widodo