Lahirnya Komik di Sekolah Toekang Reklame FSR ISI Yogyakarta*

als de woorden
niet genoeg zeggen,
dan trekken aan het woord
“Jika kata-kata tak cukup berarti, maka gambarlah yang berbicara.”

Profil pribadi di Blackberry beberapa mahasiswa Disain Komunikasi Visual (DKV) ISI Yogyakarta, beberapa membuat trenyuh, bahkan tak kurang membuat…

– Cupid (nama samaran): hantu tugas komik menemani kamarku

– Radit (nama samaran): ngantuk……dikomik azzaa

– Septi (nama samaran): galau… tugas komik ohhh

– Mohan (nama samaran): iso modiyaaar aku dikomiki terus…..

Tugas-tugas dalam Mata kuliah komik tampaknya menjadi sesuatu yang bikin merinding namun sekaligus disayangi. Bagaimana tidak, selain wajib ditempuh setiap mahasiswa DKV, deadline ketat tugas komik menjadi momok waktu mahasiswa. Sejak ditetapkan sebagai mata kuliah pilihan wajib (MKPL) berbobot 3 (tiga) SKS pada tahun 1997, mata kuliah ini telah melahirkan “disainer komik” di belantara komik Indonesia.

 

GAMBAR YANG MENYADARKAN

Wacana atas kemunculan mata kuliah ini di Program Studi DKV semula muncul dari kegelisahan para dosen sebagai respon aktivitas corat-coret para mahasiswa dkv. Tahun 1992 – 1995 merupakan masa-masa suram Prodi Disain Komunikasi Visual.

Sejak prodi bergabung di bawah naungan Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) ISI Yogyakarta (sebelumnya bernama Jurusan Seni Reklame, STSRI “ASRI” dimana pengelolaan langsung di bawah Dirjen Kebudayaan), setidaknya membawa pengaruh terhadap kinerja dosen, kondisi studio, fasilitas kemahasiswaan, seretnya pengadaan bahan dan alat praktikum.

Situasi yang tidak kondusif tersebut memicu rasa tidak puas mahasiswa sehingga munculah demo di ruang publik kampus dkv ISI yang memblow up kondisi tersebut. Melalui media kertas gambar “Padalarang” dan tinta bak: “OI” (Oost Indie) bergambar “Naga” yang kesohor di masanya, mahasiswa menumpahkan kekesalannya, umpatan, serapah, hasutan, lewat gambar kartun maupun karikatur, baik menggunakan teks maupun tanpa teks. Dinding dan lorong di setiap sudut ruang kelas dihiasi wajah para dosen dengan gaya yang khas, tanpa tedeng aling-aling mengkritik lesu darah kinerja prodi.

Aksi tersebut “membuat murka” dan “kebakaran jenggot” para dosen, akan tetapi satu jawaban positip atas aksi tersebut ialah: “Ini hebat! Ruarr biassaa!! Kegiatan itu menyadarkan bahwa reaksi dan ekspresi mereka membukakan mata bahwa roh atau spirit dalam dkv tak lain kekuatan gambar. “Jika kata-kata tak cukup berarti, maka gambarlah yang berbicara.” Lantas, satu kesimpulan atas kajian tersebut, yaitu kekuatan gambar, mendasari sistem rekrutmen calon mahasiswa baru.

Mengapa demikian? Uji kompetensi dan kemampuan skill manual menggambar tangan, secara intuitif dan naluriah melalui sistem seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) telah menghasilkan mahasiswa pilihan mumpuni menggambar. Aksi tersebut membuktikan kemampuan mereka untuk mengobarkan semangat perlawanan melalui gambar.

 

MATA KULIAH ILUSTRASI

Mata kuliah ilustrasi secara tidak langsung merupakan kelanjutan dari mata kuliah menggambar, sekaligus embrio mata kuliah komik di Prodi DKV. Sejak masih bernama Jurusan Reklame Dekorasi Ilustrasi dan Grafik (REDIG) di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) hingga Jurusan Seni Reklame di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia “ASRI” (STSRI “ASRI”), ilustrasi menjadi mata kuliah yang dinanti setiap mahasiswa. Mata kuliah ini menjadi semacam ajang kompetisi, ekspresi dan aksi unjuk gigi untuk menunjukkan kemampuan dan ketrampilan olah tangan para mahasiswa.

Di awal tahun 1985/1986 mata kuliah ilustrasi diajarkan oleh R. Sutopo dan diasisteni oleh Asnar Zacky. Di kemudian hari, saat R. Sutopo tugas ke Jepang dan Asnar Zacky studi lanjut di ITB, untuk sementara mata kuliah ilustrasi diasuh oleh Sun Ardi, salah seorang dosen senior dari Jurusan Seni Grafis, FSRD ISI Yogyakarta. Sepulang R. Sutopo dari Jepang, selanjutnya bersama M. Umar Hadi menggantikan posisi Sun Ardi mengajar ilustrasi.

 

MATA KULIAH KOMIK

Komik pertama kali muncul sebagai nama mata kuliah atas masukan Asnar Zacky, yaitu dalam sebuah kesempatan obrolan semasa masih wira-wiri Bandung-Jogja di tahun 1994. Salah satu alasan yang dikemukakan yaitu guna menampung ide-ide kreatif yang tidak tertampung di mata kuliah ilustrasi, yang semula komik-komik strip baru jadi salah satu bentuk tugas dalam mata kuliah ilustrasi, selain tentunya juga melihat dinamika jagat komik yang kembali menghangat, terlebih dengan mulai masuknya manga Jepun. Ide itu sambung bergayut, dimana di saat isu mata kuliah muatan lokal (KURLOK) harus dimiliki sebuah program studi, maka komik diusulkan sebagai Mata Kuliah Pilihan Bebas (MKPLB). Tahun 1997 kurikulum nasional (KURNAS) ditetapkan sebagai salah satu kebijakan nasional pendidikan di perguruan tinggi, maka mata kuliah komik pada akhirnya dijadikan MKPL Wajib bagi seluruh mahasiswa di prodi Disain Komunikasi Visual hingga saat ini.

Dalam perkembangnya, seperti telah menggejala sebelumnya, komik menjadi salah satu andalan mata kuliah di prodi ini. Melalui mata kuliah ini dalam rentang waktunya telah melahirkan beberapa komikus bertaraf internasional, nasional, daerah, antara lain: Beng Rahardian, Apriyadi, Indiria Maharsi, Wisnoe Lee, Joko Santoso (Jos), Terra Bajraghosa, Erwan Hersi (Iwank), Herpriyanto, Rahmat Tri Basuki (Gepeng), Angel Melanie, Hasbi, Fajar Eka, Aditya Permana, Fithry Dyinoputri (Upit), Syarifah, Edi Jatmiko, Fajar Eka, Bagus, Endah Pamulatsih, lsb, juga yang sempat mencicip kuliah di DIV ISI Yogyakarta yaitu Donny Kurniawan, Hendry Prasetya, Matto. Komik setidaknya menjadi panglima di prodi DKV ISI Yogyakarta. Puluhan judul, topik, cerita, teknik dan gaya telah lahir dari tangan piawai mahasiswa. Komik, selama beberapa periode, menjadi salah satu topik pilihan yang diangkat para mahasiswa untuk menyelesaikan studi tugas akhir. Beberapa judul diantaranya yaitu ialah (Pengkajian) Tinjauan Komik Indonesia Tahun 1990-2004, Ade Irawan, 2005; Kajian tentang Visualisasi Onomatope pada Komik Laga Indonesia,Terra Bajraghosa, 2005; Komik Independen Indonesia (Sebuah Fenomenologi Komik Independen Indonesia Terbitan Jakarta, Bandung dan Yogyakarta), Bambang Tri Rahadian, 2001; Telaah tentang Komik Gong, Hesti Rahayu, 1997; (Perancangan) Perancangan Komik Gaya Melayu untuk Meningkatkan Nilai-nilai Sastra Lisan Melayu (Koba Panglima Awang), Junaidi Syam, 2003; Perancangan Komik Kornchonk Chaos, Erwan Hersi Susanto, 2007; Perancangan Komik “Capung”, Yulia Qomariah, 2007; Perancangan Komik “Impen-impenen”, Dewi Masruroh, 2008; Perancangan Komik tentang Seorang Homoseksual dan Permasalahannya Sebagai Anggota Masyarakat, Ari Hidayati, 2009; Perancangan Tugas Akhir Komik tentang Pemanasan Global untuk Anak-anak Menggunakan Karakter Prajurit Cilik Keraton Jogja, Dimas Wahyu Wibowo, 2010; Perancangan Komik Legenda Pesanggrahan Tamansari Keraton Yogyakarta, Adam Purbany, 2010; Perancangan Komik Bertema Proses Desain Kemasan, Fithry Dyoniputri, 2010; Perancangan Tugas Akhir Adaptasi Grafis Buku Eneagram Karangan Renee Baron & Elizabeth Wagele dalam Bentuk Komik, Ilma Yusrina, 2011; Perancangan Komik Backpacking di Yogyakarta, Syarifah Fitriana, 2012; Perancangan Komik Catatan Perjalanan Wawancara Band-band dari Kampus Seni (ISI Yogyakarta, IKJ, ITB), Gandhi Eka Rizki N., 2012; Perancangan Komik Berjudul “Reka-reka Reklame”, Edi Jatmiko, 2012; dlsb.

Barangkali tidak terlalu berlebihan, dikesempatan ini, mewakili Prodi Disain Komunikasi Visual, menyampaikan salut kepada Asnar Zacky yang telah mempelopori dan menjadi motor para komikers di prodi DKV ISI Yogyakarta. Melalui pengalamannya sebagai ilustrator, karikaturis dan komikus profesional, telah diaplikasikan perjalanan spiritualnya, menjadi rumusan metode perancangan komik.

Melalui tahap penulisan theme, storyline, studi visual yang dilanjutkan ke dalam studi karakter dan berlajut ke visualisasi karya komik, selalu diwanti-wanti harus selalu menjadi pedoman dalam proses perancangan untuk mewujudkan karyanya. Asuh dan bimbingannya telah melahirkan komikus muda seperti Indira Maharsi dan Terra Bajraghosa (keduanya kini menjadi pengajar di Prodi Disain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta) maupun generasi mahasiswa yang lebih muda.

Tak salah dan tak perlu disangsikan lagi, kini duapuluh tahun telah berlalu, beberapa pelaku aksi demo yang menggemparkan kampus “ASRI” Gampingan tahun 1992an kini telah menjadi sosok paling penting dalam ajang kegiatan Forum Komik nasional 2012 ini. Semangat tetap menyala dan menyalak, mengajak seluruh insan komikus menghiasi belantara komik Indonesia di tempat yang sama di gedung yang kini telah beralih nama menjadi Jogja National Museum.

Selamat berfestival, de javu!

Yogyakarta,
15 Desember 2012, bertepatan dengan memorandum pendirian Akademi Seni Rupa Indonesia ASRI


 Baskoro Suryo Banindro, alumni DKV Angkatan 1984, Kaprodi Disain Komunikasi Visual periode 1996 – 2004, pelaku tiga jaman: STSRI “ASRI”- FSRD-FSR ISI Yogyakarta


* Tulisan ini pernah dimuat di suplemen pameran Festival Komik Nasional, DKV ISI Yogyakarta, di Jogja National Museum, 27-30 Desember 2012.

Quoted

“Seorang desainer harus memiliki keberpihakan pada konteks membangun manusia Indonesia. Peka, tanggap, berwawasan, komunikatif adalah modal menjadikan desainnya sebagai alat perubahan”

Arif 'Ayib' Budiman