Wawancara: Agra Satria
Agra Satria

Agra Satria

Agra Satria adalah seorang perupa kelahiran Jakarta. Setelah beberapa tahun tinggal di Bandung, pada pertengahan 2007 Agra kembali ke Jakarta dan menjadi bagian dari tim desain LeBoYe. Di sanalah ia mengembangkan karakteristik uniknya; tidak hanya sebagai desainer, melainkan juga sebagai seorang ilustrator dan image-maker. Kepekaannya terhadap detail menjadi prioritasnya dalam berkarya.

Lulusan Desain Grafis dari Institut Teknologi Bandung ini telah menerima beragam penghargaan, salah satunya IGDA (Indonesian Graphic Design Award) pada 2010 atas karyanya, ‘A to Z Archipelago Book’. Karya-karyanya yang lain juga pernah difitur dalam ‘EXE-21st Century: The Power of Graphic’. Bersama sang istri, Yasmina Yesy, Agra mendirikan label perhiasaan G.H.O.S.T, serta berpartisipasi di beragam pameran seni. Pada 2013, Agra melanjutkan studinya di Domus Academy di Milan, Italia.

 

Isles of Charm and Delight

Isles of Charm and Delight

 

Bagaimana Anda menjelaskan keberkaryaan Anda?

Keberkaryaan saya mencakup desain grafis, perancangan identitas visual, ilustrasi, desain aksesoris, hingga instalasi. Sebagian besar karya saya terinspirasi dari banyak hal yang telah saya temui dalam hidup, baik dalam bentuk visual, audio, atau bahkan pengalaman-pengalaman indera penciuman. Saya menyebut karya-karya saya sebagai sebuah simbiosis yang dari suatu yang tua dan baru, karenanya saya suka untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan yang berbeda untuk menggambarkan gagasan-gagasan saya.

 

Karya mana yang menjadi favorit Anda dan mengapa?

Pameran pertama saya. Pameran tersebut merupakan hasil kolaborasi bersama istri saya, Yasmina Yustiviani, yang juga lulusan Institut Teknologi Bandung jurusan Desain Tekstil. Kami bekerja bersama atas nama GHOST (sebuah label aksesoris yang kami rintis 7 tahun lalu) untuk berpameran di Bandung New Emergence II di Selasar Sunaryo pada 2007.

Yang menjadi pemikiran awalnya adalah kami menginginkan pameran pertama kami menjadi sebuah momen yang amat penting, di mana kami mampu menyuarakan isu-isu yang sedang terjadi saat itu lewat medium seni. Kami ingin keluar dari cara pandang l’art pour l’art. Kami teringat apa yang Theodor Adorno katakan dalam teori estetikanya: seni modern mempunyai tanggung jawab dalam menanggapi lingkungan sosial dan harus mengandung kapasitas kritik di dalamnya. Karena itu, kami memutuskan bahwa karya seni kami harus mampu menyentuh kesadaran masyarakat akan pentingnya isu lingkungan hidup, terutama untuk melestarikan dunia tempat kita tinggal ini. Bumi kita pernah menjadi sebuah surga dengan satwa-satwa yang bebas berkeliaran dan tanaman-tanaman langka tumbuh di tanahnya. Selama lebih dari dua juta tahun, satwa dan tetumbuhan itu dimusnahkan dan digantikan oleh kekuasaan manusia yang eksploitatif. Penyebab dari kepunahan massal ini telah menjadi perdebatan selama bertahun-tahun; sebagian pihak menyalahkan manusia dan cara-cara ‘karnivora’-nya sebagai penyebab kehancuran Bumi.

Populasi dunia telah berlipat ganda dari tiga miliar menjadi enam miliar hanya dalam kurun waktu 4 dekade, yakni dari 1960 hingga 2000. Bukan tak mungkin bahwa dalam 4 dekade mendatang, populasi manusia akan meningkat sebanyak tiga miliar lagi. Planet ini menghadapi masa depan yang suram. Umat manusia menyapu bersih ekosistem dan spesies yang tersisa; samudera dikuras ikannya, hutan ditebang dengan serampangan, lahan-lahan pertanian tertanduskan, dan masih banyak lagi kenyataan-kenyataan mengerikan lainnya. Ditambah lagi dengan kemusnahan banyak spesies di berbagai penjuru dunia dari beragam bentuk dan ukuran, misalnya saja badak bercula yang dibunuh secara ilegal di Afrika untuk diambil tanduknya yang dijual dengan amat mahal oleh karena khasiatnya. Kekejaman terhadap ibu bumi menjadi sebuah fenomena global. Perselisihan mendasar antar spesies yang menerus memburuk telah membawa kita pada resiko yang serius. Suatu hari nanti, Bumi akan menjadi planet usang yang bahkan tak lagi mampu menyokong hidup organisme terkecil sekali pun.

Mengetahui kenyataan mengerikan itu, kami terdorong untuk membuat ‘Lullaby of A Long Lost Paradise’, sebuah instalasi grafis dan tekstil yang menampilkan ilustrasi sureal akan kemurkaan Bumi terhadap penghancuran global. Sepanjang prosesnya, kami banyak dipengaruhi oleh salah satu mahakarya Salvador Dali, ‘The Persistence of Memory’. Dalam lukisan tersebut, Dali menggambarkan lanskap sureal yang menampilkan jam tangan kantung yang perlahan meleleh di atas sebuah batu dan ranting pohon—sebuah simbolisasi akan waktu yang mengalir dan kekal, dengan laut purbakala sebagai latar belakangnya. Di sisi pohon, terdapat sebuah jubah oranye yang diselimuti semut sebagai representasi akan menghilangnya waktu atau kematian. Metafora ini sedikit banyak berhubungan dengan persoalan yang ingin kami narasikan: bumi yang dihadapkan pada kematiannya dan manusia-manusia yang mengerikan mempercepat kematiannya itu. Ya, kita satu-satunya spesies yang punya kemampuan sedemikian rupa untuk menghancurkan rumah kita sendiri.

Selama prosesnya, kami mencoba untuk mengoptimalkan segala macam keahlian kami semaksimal mungkin. Yasmina bertanggung jawab dalam mengolah garmen, sementara saya membangun latar belakang grafis berputar yang dibuat dengan plexiglas yang dipotong laser. Bersama, kami belajar begitu banyak hal dari instalasi awal ini. Saya pribadi melihat bahwa karya kami itu sebenarnya begitu naif sekaligus intens, yang dipengaruhi oleh usia kami yang masih muda dan masih mencari jati diri saat itu.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

agra-tijili3

agra-tijili4

Tijili Identity

Tijili Identity

 

Lima tahun yang akan datang, apa yang sedang Anda lakukan?

Menjalankan sebuah studio kreatif multidisiplin yang tak hanya mengerjakan desain grafis, perancangan identitas, produk, dan instalasi, melainkan juga pakaian pria.

 

Apa ingatan terdalam Anda?

Sewaktu saya masih anak-anak, saya dan keluarga tinggal di sebuah rumah sekitar Jatinegara, Jakarta Timur. Keluarga kami bukan keluarga berada, tapi kami selalu meluangkan waktu untuk kebersamaan setiap akhir pekan. Saya masih ingat ketika ayah menggendong saya di pundaknya ketika kami mengunjungi taman hiburan seperti Taman Mini Indonesia Indah atau Dunia Fantasi. Pada saat itu, saya dan saudara perempuan saya tidak pernah punya mainan, tapi itu tak pernah kami permasalahkan karena kami selalu bersama. Salah satu aktivitas masa kecil yang paling saya sukai adalah bersama ayah saya. Ia selalu memperkenalkan saya pada banyak hal, terutama seni. Terkadang, di hari Minggu ia akan membawa kami ke museum, galeri, atau Pasar Seni Ancol untuk melihat pameran lukisan. Begitu kami tiba di rumah, saya selalu senang melihatnya melakukan kegiatan yang paling ia sukai: melukis obyek favoritnya, yakni penari Bali. Barangkali dari lukisan-lukisannya itu, saya diwarisi kepekaan akan seni dan desain.

 

Apa pandangan Anda mengenai seni rupa Indonesia saat ini? Menurut Anda, ke manakah arahnya?

Menurut saya, seni rupa Indonesia telah berkembang dengan sangat pesat sepanjang 10 tahun terakhir. Banyak insan muda yang tertarik pada bidang kreatif, seperti seni, desain grafis, fotografi, dan film. Yang lebih menariknya lagi adalah insan muda ini memiliki lebih banyak kesempatan dan peluang untuk menyalurkan minat mereka itu; misalnya saja Instameet, sebuah kegiatan tahunan yang diadakan bagi para pengguna Instagram di Indonesia untuk memburu foto di berbagai lokasi berbeda yang selalu menarik lebih banyak orang di mana pun kegiatan itu dilaksanakan.

Saya juga melihat banyaknya kelompok-kelompok kreatif yang berhasil menyelenggarakan beragam kegiatan seperti pop-up market yang memuncak di tengah meledaknya pengusaha muda. Tentu saja, saya yakin bahwa ini mengindikasikan prospek yang sangat baik bagi industri kreatif Indonesia untuk tumbuh subur dalam 5-10 tahun ke depan.

 

Apakah yang disebut sebagai ‘Industri Kreatif’ ini penting bagi seniman seperti Anda? Mengapa?

Tentu saja. Industri kreatif ini seperti sebuah ladang besar yang gembur. Jika ia subur, maka ia akan menjadi lahan yang tepat bagi tanaman untuk bertumbuh. Semakin berkembangnya industri kreatif, semakin besar kesadaran masyarakat akan pentingnya desain yang baik. Ini sangat penting karena menentukan tingkat apresiasi khayalak terhadap seni dan desain.

 

Kami mencampur aduk istilah-istilah: ‘desain’, ‘kerajinan’, dan ‘seni’ dalam wawancara ini. Haruskah kita tetap mempertahankan istilah-istilah tersebut atau sebenarnya pemisahan-pemisahan itu sudah tak lagi relevan?

Bagi saya, 3 istilah itu sudah tak dapat lagi dipisahkan sekarang. Sejak kita hidup dalam era perspektif dan studi budaya yang multidimensional, setiap karya seni adalah hasil dari masyarakat yang hybrid. Pluralisme telah berperan di sana sejak era para empu. Kita ambil saja contohnya: (1) Frank Lloyd Wright. Ia merancang suatu bentuk arsitektur yang elemen-elemennya berasal dari Zen Buddhisme Jepang dan lukisan Ukiyo-e yang bercampur dengan pengaruh dari Eropa seperti Art Nouveau dan gerakan Arts & Crafts; (2) Komponis Perancis, Claude Debussy, menggabungkan corak gamelan Jawa dalam beberapa karyanya; (3) Sutradara Italia, Pier Paolo Pasolini, mengangkat ideologi Marxisme hampir di setiap film garapannya, dan ia juga seorang pelukis dan penulis sandiwara. Dari contoh-contoh tersebut, dapat kita lihat betapa cair dan hybrid-nya seni. Semestinya tak ada lagi pemisahan dalam seni karena elemen-elemen tersebut saling melengkapi satu sama lain, seperti Yin dan Yang.

 

Metaphysics: Deep Slumber

Metaphysics: Deep Slumber

Metaphysics: Brave Heart

Metaphysics: Brave Heart

Metaphysics: Black Moutain

Metaphysics: Black Moutain

 

Kenapa Domus Academy?

Bertahun-tahun saya berkeinginan untuk pergi ke Italia, terutama Milan yang dianggap sebagai Mekah-nya dunia desain. Syukurnya, 2013 lalu saya berhasil meraih beasiswa ‘Master of Visual Brand Design’ di Domus. Menyadari bahwa itu merupakan kesempatan yang amat bagus untuk memperdalam ilmu saya mengenai visual branding, saya mengambil beasiswa tersebut tanpa ragu. Untungnya, istri saya juga memperoleh kesempatan yang sama seperti saya. Ia memenangkan sebuah kompetisi desain busana dan memperoleh beasiswa untuk kelas musim panas di institusi yang sama.

 

Hal penting apa yang sekiranya dapat Anda sampaikan dari studi Anda di Domus Academy atau melanjutkan studi pascasarjana?

Berdasarkan pengalaman saya, Domus Academy sangat berbeda dari institusi lainnya. Di sana, kami belajar bahwa studi pascasarjana tidak harus konvensional; bahkan kami tak punya text book. Kelas-kelasnya dirancang untuk mempersiapkan siswa bekerja di dunia nyata. Sepanjang tahun, kami ditugasi beberapa proyek dari klien yang nyata, seolah-olah mengerjakan pekerjaan kantor yang sesungguhnya. Saya cukup beruntung untuk bekerja bersama Forevermark-nya DeBeers, Park Hyatt Milano, dan Interni Magazine. Presentasi final setiap proyek tersebut disampaikan dan dievaluasi oleh para klien.

Pada awalnya saya dihadapkan pada beberapa kesulitan untuk bekerja dengan kawan-kawan yang berasal dari segala penjuru dunia. Kadang kala, bahasa menjadi kendala utama. Di lain waktu, saya juga harus bisa berkompromi dengan cara pandang yang saling bertolak belakang. Pengalaman semacam itulah yang menjadi esensi utama yang memperkaya saya sedemikian rupa. Mata dan hati saya dibukakan pada perspektif baru terhadap segala macam hal yang saya pandang dengan keliru sebelumnya.

 

los-luchadores2

los-luchadores1

Los Luchadores

Los Luchadores

 

Anda adalah seorang desainer grafis sebelumnya. Pelajaran apa yang Anda serap dari latar belakang profesional tersebut?

Bekerja dengan latar belakang profesional membuat saya memahami alur yang ada dalam industri kreatif, terutama desain grafis, yang juga membantu saya untuk membangun jaringan profesional.

 

Sebagai seorang image maker, apakah Anda merasa bertanggung jawab atas apa yang Anda hasilkan?

Tentu saja. Saya percaya bahwa setiap orang punya caranya sendiri dalam memproses dan mengekspresikan gagasan-gagasan mereka. Sejauh ini, saya menaruh perhatian penuh pada proses kreatif yang saya jalani juga pada tiap karya yang saya ciptakan. Di tiap proyek yang saya buat, sebelum mengeksekusi visual apapun, saya selalu melakukan riset singkat untuk mengumpulkan seluruh informasi krusial untuk mengembangkan dan menguatkan konsep saya. Dengan menjalankan proses semacam ini, saya dapat dengan mudah menentukan permasalahan utama yang harus dipecahkan. Proses seperti itu juga membantu saya untuk memerika kesalahan-kesalahan yang timbul tatkala arahan kreatif saya mulai keliru.

 

playing.cards.SM.display_900

Khatulistiwa Playing Cards

Khatulistiwa Playing Cards

 

Perlukah konsep menjadi landasan dalam proses kreatif?

Konsep adalah inti dari segala karya. Tanpanya, suatu karya hanya akan menjadi tak lebih dari sekedar botol kristal kosong yang indah di luar namun hampa di dalam. Saya selalu percaya bahwa storytelling adalah cara terbaik untuk menyampaikan pesan kita pada audiens.

 

Akankah Anda kembali menjadi seorang desainer?

Ya. Saya ingin mengeksplorasi setiap kemampuan yang saya punya.

 

Mimpi teraneh yang pernah Anda alami?

Saya ingat suatu waktu pernah bermimpi berjalan sendirian di dalam hutan dan tersandung sebuah pohon ek tua raksasa. Seekor burung kecil nampak hinggap pada salah satu dahannya. Bulunya memancarkan warna-warna paling indah yang belum pernah saya lihat sebelumnya: bukan hijau juga bukan biru. Burung itu berkicau dengan suara terindah yang pernah saya dengar. Terpesona akan keindahannya, sesuatu dalam diri saya mendorong saya untuk menangkap makhluk ini. Diam-diam, saya mengendap dari balik bayangan dan berhasil menangkapnya dengan sigap. Kemudian, seketika itu juga, ia mencengkeram tiga ekor ular berwarna mencolok: merah, hitam, dan yang memiliki tiga warna berbeda di kulitnya. Ular-ular itu memiliki kulit paling berkilau hingga memancarkan pendar yang janggal. Tergoda akan pikatnya, serta merta saya melepaskan burung yang memberontak di tangan saya lalu mencoba menangkap ulang-ular itu. Cukup aneh saya tak takut membiarkan ular-ular jinak itu merayap di tangan saya. Tak satu pun dari mereka yang menggigit saya. Saya begitu terpukau. Saya amatinya lekat-lekat sampai dering alarm membangunkan saya dari keindahan itu.

Yang jelas, saya tak dapat menginterpretasikan metafora-metafora yang ada dalam mimpi itu. Namun, saya seperti dapat menghubungkannya dengan satu lukisan Ratu Elizabeth I yang begitu enigmatis. Baru-baru ini, National Portrait Gallery mengumumkan bahwa berdasarkan pada hasil pindai sinar inframerah, Sang Ratu dalam lukisan tersebut ternyata tengah memegang seekor ular hitam yang melingkar di tangan kanannya—yang secara misterius baru terungkap setelah berabad-abad. Tak ada yang dapat menjelaskan makna kemunculan peliharaan kerajaan yang aneh itu; namun yang pasti, ular telah menjadi satu simbol mitologi tertua yang merepresentasikan dualisme: yang baik dan yang jahat. Ia menjadi lambang kebijakan, kesuburan, dan perwalian, namun di sisi lain juga dianggap sebagai pertanda akan hal-hal buruk dan dosa asal.

Sementara itu, dalam kepercayaan Hindu kuno, dipercayai adanya suatu energi jasmani yang melilit setiap manusia—dikenal dengan nama Kundalini—yang dipercaya sebagai sesosok ular pulas yang menunggu untuk dibangunkan. Hal ini mengacu pada pembinaan akal budi di balik kesadaran dan kematangan spiritual yang menuntun pada suatu tingkat kesadaran yang berbeda. Dibingungkan oleh mitos dan andai-andai, makna yang sebenarnya dari mimpi saya masih menjadi misteri. Saya sendiri menganggap bahwa mimpi tersebut semacam pesan dari semesta akan suatu pertanda baik.

 


 

A-Z-BOOK-Rear-5

A-Z-BOOK-Rear-3

A-Z-BOOK-Rear-2

A-Z of Archipelago

A-Z of Archipelago

 


 

_MG_7673_700

_MG_7628_700

Pilgrimage: Didi Budiharjo Fashion Journey

Pilgrimage: Didi Budiharjo Fashion Journey

 


 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

A Peculiar Love Affair

A Peculiar Love Affair

Quoted

Ketika dari mata tak turun ke hati, desain pun gagal total

Bambang Widodo