Home > Read > News >
Pameran ‘Friedrich Silaban, Arsitek 1912–1984’

Siapa
Friedrich Silaban (1912-1984) adalah arsitek kenamaan Indonesia yang aktif berkarya sejak masa akhir penjajahan Belanda hingga pada akhir dekade 1970. Karya-karya puncaknya kebanyakan dihasilkan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno yang meliputi bangunanbangunan institusi kenegaraan dan berbagai monumen publik di Jakarta dan di berbagai kota besar di Indonesia.

Karya F. Silaban yang paling dikenal adalah Masjid Istiqlal, masjid nasional Indonesia. Rancangan Masjid Istiqlal karya F. Silaban dipilih melalui sebuah sayembara nasional pada tahun 1954-1955. Pembangunan Masjid Istiqlal memakan waktu dan upaya yang tidak sedikit, pembangunannya baru dimulai pada tahun 1961 dan baru diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada tahun 1978. F. Silaban berperan sangat sentral dalam pembangunan Masjid Istiqlal dimulai dari gagasan awalnya hingga eksekusi akhir hingga ke berbagai penyelesaian konstruksinya.

Selain Masjid Istiqlal, F. SIlaban juga merancang gedung Bank Indonesia di Jalan Thamrin, Gedung Pola di Jalan Perintis Kemerdekaan, BNI 46 Jalan Lada di Kota Tua, Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan berbagai bangunan lain. Banyak juga karyanya yang tidak selesai maupun tidak terbangun, seperti Tugu Nasional, Kementerian Luar Negeri di Jalan Medan Merdeka Timur, Teater Nasional di Jalan Medan Merdeka Barat, Kejaksaan Agung di Blok M, Markas Besar Angkatan Udara di Pancoran, dan lain sebagainya.

Latar
Pameran ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan dalam mempelajari, melestarikan, menyiarkan pengetahuan yang terkandung dalam catatan kehidupan dan karir arsitek Friedrich Silaban. Upaya ini telah dirintis sejak tahun 2007 melalui serangkaian acara yang digagas oleh komunitas/ jejaring modern Asian Architecture Network (mAAN). Melalui inisiatif tersebut, Setiadi Sopandi yang hingga kini bertindak sebagai kurator Arsip F. Silaban, dengan dibantu oleh berbagai pihak, mengupayakan langkah-langkah untuk mempelajari sekaligus melestarikan arsip peninggalan Friedrich Silaban dengan mencatat dan menuliskannya ke dalam berbagai bentuk publikasi, menyusun katalog, hingga mengalihmediakan gambar-gambar dan dokumen F. Silaban ke dalam format digital.

Berbagai upaya ini mendapatkan momentum puncaknya pada tahun 2017 ketika secara berturutan diluncurkan serangkaian produk dari kerja pengarsipan, penelitian, dan publikasi. Pada bulan April 2017, koleksi arsip digital F. Silaban secara resmi diluncurkan oleh situs arsitekturindonesia.org, sebuah insiatif nirlaba yang bertujuan untuk membuka akses (open source) informasi bersejarah Indonesia – khususnya arsitektur – kepada khalayak luas agar dapat diapresiasi dan dipelajari sebagaimana mestinya. Untuk pertama kalinya berbagai informasi yang selama ini terpendam mengenai sosok dan karya F. Silaban akhirnya dapat diakses oleh publik secara cuma-cuma.

Produk penting kedua adalah diluncurkannya buku riwayat hidup “Friedrich Silaban” (Gramedia Pustaka Utama, 2017) karya Setiadi Sopandi yang diluncurkan pada Agustus 2017. Buku ini merangkai kisah hidup dan rentang karya arsitek F. Silaban dan menempatkannya dalam konteks sejarah dan wacana arsitektur di Indonesia.

Pameran
Untuk melengkapi rangkaian ini, Pusat Arsitektur Indonesia bekerjasama dengan kurator Setiadi Sopandi dan Avianti Armand meluncurkan pameran bertajuk “Friedrich Silaban, Arsitek 1912-1984” untuk membawa sosok penting dalam sejarah nasional (dan arsitektur) Indonesia ke dalam wacana kebudayaan di Indonesia saat ini. Isi pameran ini didasarkan pada buku biografi tersebut dengan menampilkan narasi lima (5) babak kehidupan F. Silaban yang suasananya dibangun melalui dokumen, arsip, dan benda-benda yang dekat dengan kehidupan pribadi dan profesional F. Silaban.

Pameran dibuka melalui fragmen 1 yang bertajuk “Menjadi Silaban”. Fragmen ini menampilkan Silaban dalam sebuah sosok, figur yang ditempa melalui pendidikan, keluarga, serta pengalaman yang kaya. Fragmen ini mengisahkan jalan hidup F. Silaban yang melalui tiga zaman: masa akhir kolonial, masa awal kemerdekaan, hingga masa Orde Baru. Fragmen 2 “Soekarno dan Silaban” menampilkan kedekatan dan hubungan profesional diantara kedua tokoh besar Indonesia dan peran mereka dalam memberikan wajah baru bagi Ibukota Jakarta. Fragmen 3 “Monumen” menampilkan gambar-gambar dari proyek-proyek institusional kenegaraan yang ditugaskan kepada Silaban pada kurun waktu 1958-1965. Fragmen 4 “Istiqlal” menampilkan peran dan berbagai upaya F. Silaban dalam perjalanan mewujudkan masjid nasional selama lebih dari dua dekade. Fragmen 5 “Akhir” merupakan penggambaran suasana kehidupan dan profesional F. Silaban selepas revolusi kepemimpinan nasional pada tahun 1965-1966 yang diawali dengan berbagai kesukaran.

Pameran ini menegaskan banyaknya persinggungan antara berbagai tempat, peristiwa, dan wacana (kebudayaan dan arsitektur) di Indonesia dengan sosok F. Silaban yang mungkin selama ini kita tidak terlalu sadari. Terutama melalui beberapa peristiwa dan gejolak sosial politik yang terjadi belakangan ini, kita bisa memperoleh cerminan dari sebuah gagasan dan upaya besar dalam membentuk wajah dan identitas Indonesia yang merambah – tidak hanya urusan politik – namun juga pembangunan kebudayaan nasional kita melalui seni rupa, rancang bangun, serta tata kota.

Pameran ini menampilkan 243 obyek yang terdiri dari gambar-gambar asli dari belasan karya arsitektur, foto-foto asli, berbagai dokumen dan obyek asli dari arsip F. Silaban, Bogor.

Tautan
Pusat Dokumentasi Arsitektur pda.or.id
Arsitektur Indonesia arsitekturindonesia.org
FFFAAARRR www.FFFAAARRR.com
SUNVisual sunvisual.com

Setiadi Sopandi, Kurator
Sopandi adalah arsitek praktisi, peneliti dan pengajar di Universitas Pelita Harapan, Karawaci Tangerang. Bersama tim kurator, dia mengkurasi partisipasi Indonesia yang pertama kali dalam Pameran Arsitektur Internasional ke 14 di Venice, 2014 dengan tema “Craftsmanship: Material Consciousness”, dan mengkurasi pameran arsitektur Tropicality: Revisited” di Deutsches Architekturmuseum, Frankfurt, 2015. Bersama Avianti Armand, dia mengikuti program Asian Cultural Council Fellow 2016 melakukan penelitian dan survey pada museum-museum arsitektural dan kearsipan di Amerika Serikat. Beberapa disain Sopandi telah dipublikasikan internasional dan menjadi monograf. Dia mempublikasi “Sejarah Arsitektur: Sebuah Pengantar” (2013), sebuah pengantar sejarah arsitektur untuk mahasiswa dan arsitek. Bersama Nadia Purwestri, Febriyanti Suryaningsih, dan Avianti Armand, Setiadi mendirikan dan menjadi anggota dewan kurator arsitekturindonesia.org – sebuah situs nirlaba yang bertujuan mengumpulkan dan memberikan akses luas bagi arsip-arsip terkait kehidupan rancang bangun di Indonesia. Pada tahun 2017 dia mempublikasi biografi “Friedrich Silaban” – dapat dikatakan arsitek ternama, penting dan berpengaruh di Indonesia selama tahun 1950 – 1960. Setiadi aktif terlibat pada inisiatif dokumentasi, penelitian dan pelestarian warisan arsitektur modern berskala regional/internasional. Pada tahun 2017, ia menjadi guest-editor dan kontributor bagi Docomomo Journal nomor 57 yang mengangkat tema mengenai topik sejarah dan pelestarian arsitektur modern di Asia Tenggara.

Avianti Armand, Kurator
Avianti adalah arsitek praktisi, kurator, aktivis, juga seorang penulis serta penyair. Rumah tinggalnya, “Rumah Kampung” mendapat penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia di tahun 2008. Selain menjalankan praktek professional sebagai arsitek, Avianti adalah aktivis yang mengkoordinasi arsitek-arsitek di Jakarta untuk membantu pemerintah daerah Jakarta dalam perencanaan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak. Selain itu ia juga aktif memutarkan film di ruang terbuka secara gratis sebagai kampanye untuk keragaman Indonesia. Dia telah mempublikasi beberapa monograf disain dan koleksi esai “Arsitektur Yang Lain” (2012). Dia menerima Khatulistiwa Literary Award (2011) untuk buku puisinya berjudul “Perempuan Yang Dihapus Namanya”, dan baru saja mempublikasi kumpulan puisinya “Buku Tentang Ruang”. Dia mengkurasi beberapa pameran antara lain: “Ruang Tinggal Dalam Kota” (“Dwelling Space in The City”, 2010), “Pameran Nasional Arsitek Muda Indonesia” (“National Exhibition of Indonesian Young Architects”, 2010), dan “Andramatin: A Sequel” (2012). Pada tahun 2013, dia memimpin tim kurasi untuk Paviliun Indonesia pada acara 14th International Architecture Exhibition di Venice, juga pameran “Tropicality: Revisited” di the Deutsches Architekturmuseum, Frankfurt, 2015. Bersama Setiadi Sopandi dia mengikuti program Asian Cultural Council Fellow 2016 melakukan penelitian dan survey pada museum-museum arsitektural dan kearsipan di Amerika Serikat. Bersama Nadia Purwestri, Febriyanti Suryaningsih, dan Setiadi Sopandi, Avianti mendirikan dan menjadi anggota dewan kurator arsitekturindonesia.org – sebuah situs nirlaba yang bertujuan mengumpulkan dan memberikan akses luas bagi arsip-arsip terkait kehidupan rancang bangun di Indonesia. Pada tahun 2017, Avianti meraih dukungan program residensi di London dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk menyelesaikan buku terbarunya, “Museum Masa Kecil”.

Nadia Purwestri, Produser
Nadia Puwestri, seorang kurator, peneliti juga direktur eksekutif Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia. Berasama tim kurator dia telah mengkurasi beberapa pameran, antara lain “Tegang Bentang” (2007), “Fortscape; A New Horizon” (2010) dan “Forts in Indonesia” (2013) di Tropenmuseum – Amsterdam. Dia juga telah mempublikasikan beberapa buku yakni “White House of Weltevreden” (2005), “Warisan De Javasche Bank” (2010), dan “Atlas Arsitektur Tradisional Indonesia Seri 2 (2015) dan Seri 3” (Atlas of Traditional Architecture in Indonesia (2016). Memproduksi beberapa film dokumenter seperti “Tegang Bentang” (2007), dan Fortscape A New Horizon (2010). Bersama dengan Febriyanti Suryaningsih, diundang untuk mempresentasikan makalah mengenai “Documenting Living Monuments in Indonesia: Methodology for Sustainable Utility” dalam kegiatan the XXIV International CIPA Symposium 2013 di Strasbourg Perancis, dan pada ICAM 17 Conference, Montreal and New York 2014, untuk mempresentasikan “Constructing an Indonesian Architecture Documentation”. Dia menerima hibah untuk mengikuti kursus Urban Heritage Strategies di IHS, Erasmus University – The Netherlands (2014). Bersama Febriyanti Suryaningsih, Avianti Armand, dan Setiadi Sopandi, Nadia mendirikan dan menjadi anggota dewan kurator arsitekturindonesia.org – sebuah situs nirlaba yang bertujuan mengumpulkan dan memberikan akses luas bagi arsip-arsip terkait kehidupan rancang bangun di Indonesia.

Febriyanti Suryaningsih, Produser
Febriyanti, seorang kurator, peneliti juga direktur eksekutif Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia. Berasama tim kurator dia telah mengkurasi beberapa pameran, antara lain “Tegang Bentang” (2007), “Fortscape; A New Horizon” (2010) dan “Forts in Indonesia” (2013) di Tropenmuseum – Amsterdam. Dia juga telah mempublikasikan beberapa buku yakni “White House of Weltevreden” (2005), “Konservasi Bank Indonesia Kota” (2010), dan “Pengantar Panduan Konservasi Bangunan Bersejarah Masa Kolonial” (2010) Memproduksi beberapa film dokumenter seperti “Tegang Bentang” (2007), dan Fortscape A New Horizon (2010). Bersama dengan Nadia Purwestri, diundang untuk mempresentasikan makalah mengenai “Documenting Living Monuments in Indonesia: Methodology for Sustainable Utility” dalam kegiatan the XXIV International CIPA Symposium 2013 di Strasbourg Perancis, dan pada ICAM 17 Conference, Montreal and New York 2014, untuk mempresentasikan “Constructing an Indonesian Architecture Documentation”. Bersama Nadia Purwestri, Avianti Armand, dan Setiadi Sopandi, Febriyanti mendirikan dan menjadi anggota dewan kurator arsitekturindonesia.org – sebuah situs nirlaba yang bertujuan mengumpulkan dan memberikan akses luas bagi arsip-arsip terkait kehidupan rancang bangun di Indonesia.

Quoted

“Imajinasi yang liar lebih kuat dari lirik yang sok mau jelas.”

Slamet A. Sjukur