Sugesti Bentuk & Keimanan: Desain Grafis, Grafika yang Berkelanjutan, Vernakular

I
“Aroma emosional,” ujar Hartono Karnadi, pengajar dan pakar grafika di DKV ISI Yogyakarta. Aroma emosional beliau sampaikan, secara spontan, dalam pembelajaran Grafika di masa-masa kuliah daring. Sebuah tanggapan yang bagi saya muncul dari akumulasi pengalaman dalam desain grafis grafika bertahun-tahun. Sebuah pencapaian dalam kreativitas. Aroma emosional tertuju pada karakter cetakan yang memukau, bisa karena materialnya, eksplorasi teknik cetaknya, craftsmanshipnya, baunya, tekturnya, dsb yang menyentuh rasa.

Tiga tahun belakangan saya diajak oleh Pak Hartono mengampu kelas Grafika. Saya sangat senang. Mengapa? Pertama, saya mengampu bersama pakar. Kedua, waktu saya kuliah DKV (S1) dua kali saya mengambil mata kuliah pilihan di Studio Seni Grafis (FSRD ITB). Ketiga, saya menekuni desain perbukuan yang cukup identik dengan cetak, termasuk di jaman digital buku cetak masih ada dan buku elektronik mulai bermunculan termasuk audio book. Keempat, waktu sekolah dasar saya diajak ayah mengunjungi sebuah percetakan. Di sana saya menjumpai mesin cetak, deretan huruf yang bisa dibongkar-pasang, orang-orang yang mengenakan pakaian kerja sembari memperhatikan mesin. Semua tadi memikat perhatian saya. Kelima, saat saya SMP ayah saya membuka usaha fotokopi di rumah. Sesekali saya memfotokopi telapak tangan saya. Mesin bisa saya ajak bermain. Keeenam, sebagian dari dosen saya sosok yang dekat dengan desain grafis cetak dan seni grafis, dan kini saya mengajar di lingkungan pendidikan desain grafis yang diwarnai oleh sosok-sosok yang juga akrab dengan cetak.(i) Singkatnya, saya menjadi dekat dengan daya pukau cetak.

II
Saat ini saya kembali menekuni seni grafis (printmaking). Kembali menekuninya untuk berkarya, mengimbangi hari-hari yang bernuansa seni terap. Seolah saya enggan kehilangan kebebasan berimajinasi, masih membutuhkan proses melambat di era desain yang kian cepat, merindukan proses kerja yang ekspresif dan berkotor-kotor. Berbagai hal tersebut membangun sisi asketik kekaryaan. Sepertinya itu tadi perasaan defensif atau inersia saya pada kebiasaan desain yang saya jalani selama ini. Tapi tidak juga, saya juga mendesain bersama yang digital

Sewaktu berkarya grafis beberapa karya ada yang saya terapkan, misal untuk ilustrasi desain sampul buku, namun lebih banyak yang tidak. Rupanya kegiatan berseni grafis cukup menarik perhatian mahasiswa dan selanjutnya mereka mengajak berkarya seni grafis bersama-sama di lingkungan kampus. 

Saya bertanya-tanya, untuk apa berseni grafis di desain komunikasi visual? Pertanyaan ini tidak akan saya jawab saat ini meski dari pertanyaan tersebut menyiratkan ada daya dalam cetak. Tulisan ini mau menyampaikan bagaimana daya grafika bekerja di media-media desain komunikasi visual, bagaimana ia menular, dan di bagian akhir tulisan ini mencoba mengajukan pandangan bagaimana grafika menanggapi persoalan lingkungan. Berikut tentang daya grafika terlebih dahulu. 

Teringatlah saya masa-masa Pandemi Covid-19. Satu dari sekian lembaga yang paling siap, selain lembaga kesehatan, yakni lembaga agama. Saya kemudian berpikir tentang peran lembaga agama yang sedemikian cepat dan terorganisir dalam hal kebencanaan. Kecepatan dalam menangani kebencanaan disertai keyakinan umat terhadap berbagai hal yang diprakarsai oleh lembaga agama, dari mengorganisir nasi bungkus, ibadah daring, ibadah dalam masa-masa transisi atau pembatasan, serta berbagai wujud ekspresi keagamaan lainnya yang melibatkan masyarakat. Lalu saya beralih ke kitab suci. Sepertinya ada sesuatu yang analog antara keyakinan kita pada lembaga agama dengan desain kitab suci yang biasanya dijilid tebal. Pertanyaannya, mengapa kitab suci dijilid tebal? Dari situlah saya memulai menyelami grafika.

III
Saya teringat pada penelitian Natalia Afnita (alumni DKV ISI Yogyakarta). Penelitian tersebut tentang desain kemasan panganan wingko babat Semarang. (ii) Cukup terlihat kemiripan dan perbedaan desain kemasan satu sama lain. Perbedaan terdapat pada nama merek tiap wingko babat. Kemiripan terdapat pada pola desainnya. Mirip-mirip beda, atau beda tapi mirip-mirip ini sepertinya ada tujuannya. Boleh jadi tujuannya untuk memudahkan konsumen dalam mengidentifikasi dan mengingat kemasan wingko babat Semarang, meyakinkan konsumen bahwa ini wingko babat dan bukan makanan lain. Kita mungkin berujar bahwa desain kemasan wingko babat tadi wujud desain vernakular. Vernakular karena terdapat keunikan, ada lokalitasnya. Boleh saja.

Keterangan: Desain kemasan wingko babat Semarang, mirip-mirip beda, beda tapi mirip-mirip. Pola tata letaknya mirip, ukurannya kemasannya mirip, penamaan merek makanannya yang berbeda. Ada seri nama transportasi, ada seri nama lainnya seperti pewayangan (Cakra, senjata Sri kresna), Mangga Dua (nama daerah di Jakarta), Tiga Kelapa Muda (cenderung modern dalam pengertian bentuk menyampaikan isi, bahwa wingko babat terbuat dari kelapa). Nuansa cetaknya identik dengan versi awalnya (Cap Kereta Api), meski dalam perjalannya terdapat kemasan dengan gaya cetak yang berbeda misal bernuansa fotografi (seperti pada merek Tiga Kelapa Muda) sedang lainnya umumnya berbasis gambar untuk ilustrasinya. Sumber: Olah dari penelitian Natalia Afnita (tugas akhir DKV ISI Yogyakarta).

Saya teringat pada pengertian vernakular dalam dunia arsitektur. Disampaikan bahwa desain vernakular itu seperti arsitektur tanpa arsitek. Saya mencoba memahaminya demikian, seorang tetangga mendesain rumahnya tidak jauh berbeda dari desain rumah tetangganya, tapi juga tidak sama persis. Ada semacam “kepantasan” atau “keumuman”, “kepantasan pada umumnya”, hingga nanti muncul desain baru yang mampu menjadi pola acuan “pantas dan umum” berikutnya. Ini juga memperkaya kita dalam memahami estetika desain. Bahwa sewaktu kita melihat desain vernakular kita tidak sebatas melihat bentuk yang unik-unik tetapi mencari konvensi atau norma apa yang menjadi latar pemikirannya, semacam kognisi psikososial yang menggambarkan apa, bagaimana, mengapa bentuk desain vernakular seperti itu (mirip-mirip tapi juga berbeda).(iii)

Dari dua contoh tadi saya berpandangan bahwa boleh jadi kita punya kecenderungan mendesain dengan menerapkan pola vernakular. Desain(er) Canva misal, cukup sering mendesain aset berupa ilustrasi, polanya mirip-mirip. Perbedaan terdapat pada momen seperti template untuk hari bumi, perayaan ulang tahun, dsb. Unik juga melihat gaya desain yang belakangan ngetren yakni twibbon yang pada umumnya mirip satu sama lain, termasuk gaya twibbon lembaga pendidikan seni dan desain yang, boleh jadi, diharapkan berbeda. Saking menularnya, tertular virus, hingga desain-desain media sosial lembaga pendidikan seni dan desain tadi mirip-mirip. Kecenderungan menjadi bagian dalam suatu vernakular menyampaikan sesuatu, meski berbeda darinya juga tak menjadi masalah, dan boleh jadi itu yang dinanti-nantikan oleh masyarakat.

Pola kemiripan juga terdapat di bahasa verbal. Nama-nama atau simbol perguruan tinggi juga mirip, memilih nama-nama dalam kebudayaan Nusantara seperti Hayam Wuruk, Ganesha (ITB), Saraswati (ISI Yogyakarta), Airlangga, atau nama-nama pahlawan seperti Diponegoro, Hasanudin, dsb. Berbagai kemiripan atau kedekatan memudahkan kita dalam mengidentifikasi dan mengenali sesuatu. Uniknya, kemiripan tersebut membutuhkan perbedaan. Ketiganya, yakni kemiripan, perbedaan, serta kemudahan untuk dikenali merupakan wujud dari sintaks, semantik, dan pragmatik. Ketiganya bekerja untuk membangun sugesti bentuk dan meyakinkan pelihatnya. Sependapat dengan Haryatmoko yang menyampaikan bahwa pada dasarnya orang suka pola, warna, dan suara. Lengkapnya, “Otak menyukai pola, suara, dan warna, maka ketiga hal ini perlu digunakan sesering mungkin.” (Haryatmoko, 2020: 109-110)

IV
Mengapa kitab suci sering dijilid tebal? Kitab suci agama Katolik, misalnya, merupakan sebuah kitab yang di dalamnya berisi kumpulan kitab-kitab. Ia menjadi cukup tebal, dan ketebalannya membutuhkan penjilidan yang memadai. Ditinjau dari sisi lain jilidan tebal kitab suci seperti menyampaikan bahwa ada keabadian di dalamnya, ada teks yang dari waktu ke waktu tidak mengalami perubahan, menyampaikan kebenaran dan sabda dari Tuhan. 

Desain kitab suci tak begitu mengalami perubahan, setidaknya itu yang saya jumpai dan alami langsung. Konsistensinya menyimbolkan adanya pesan tentang keabadian ajaran (dan kebenaran, keselamatan). Desain kitab suci yang sering berganti-ganti sepertinya kurang pas. Lain hal dengan desain majalah populer yang justru sering berganti-ganti. 

Desain majalah populer secara berkala berubah gaya. Desain majalah populer terhubung dengan banyak hal seperti gaya hidup, pesohor, iklan, brand, hobi, kejadian yang sedang aktual, serta berbagai hal lain yang memenuhi kebutuhan psikologis dan sosiologis pembaca. Kedekatan dengan dinamika hidup sehari-hari ini menjadi cara bagaimana desain majalah populer meyakinkan kepada pembacanya bahwa majalah senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Desain majalah populer cukup gesit berubah desainnya seturut jaman, karena jika tidak demikian ia terkesan ketinggalan jaman.(iv) Sebaliknya dengan desain kitab suci, zaman berubah tapi desain kitab suci konsisten atau tak banyak mengalami perubahan. Keduanya berusaha mensugesti serta merogoh keimanan atau keteryakinan pembacanya.

Keterangan: Desain yang cenderung tetap, tebal, hard cover, dengan desain yang cenderung berubah-ubah, lebih tipis, sering dijilid kawat (staples). Pengaruh material, penjilidan dalam mensugesti bentuk dan memancarkan keimanan pengguna medianya. Sumber: Internet.

Apa yang saya maksud tentang sugesti bentuk dan keimanan yakni sebuah media, dalam konteks tulisan ini media tersebut media cetak, membangun imaji konseptual. Tak cukup sebatas imaji, atau gambar, namun konseptual. Aspek konseptual menjelaskan bahwa sebuah imaji atau gambar, atau desain, memiliki sesuatu di dalamnya dan dari dasar membangun keteryakinan kita pada media tersebut. Saya agak kesulitan menjelaskan secara mudah pengertian barusan, namun kira-kira seperti itu maksudnya.

V
Selanjutnya tentang eksistensi dan substansi dalam media-media cetak. Apa maksud eksistensi dengan substansi? Saya memilih kata eksistensi untuk berbagai hal yang bisa dibayangkan dan berhubungan dengan pengalaman, atau bisa membayangkan pengalaman tersebut (cenderung dekat ke subjektif). 

Kata substansi saya pilih untuk menunjukkan yang bukan pengalaman atau yang sifatnya abstrak atau konseptual (cenderung dekat ke objektif). Sebagai contoh, teks proklamasi dan berbagai pengalaman meraih kemerdekaan. Berbagai pengalaman tersebut bisa tentang pengalaman perang gerilya, pengalaman berbagai perjuangan, pengalaman perlawanan, pengalaman dijajah, kisah-kisah perjuangan, upacara tujuhbelasan, momen mengheningkan cipta, menyanyikan lagu-lagu perjuangan, menatap poster para pahlawan, dsb. 

Oleh sebab itu sewaktu kita (rakyat Indonesia) menjumpai naskah teks proklamasi kita bisa merasakan geloranya, merasakan nilainya meski naskah teks proklamasi tersebut hanya berupa selembar kertas dan tulisan tangan, atau selembar kertas yang memuat ketikan. Dalam kalimat lain kertas teks proklamasi tersebut memiliki eksistensi.

Bagi warga negara lain boleh jadi berbeda, mereka mungkin menilainya sebagai suatu substansi yakni kemerdekaan, apalagi bagi penjajah mungkin akan semakin berbeda pemaknaannya. Sama halnya sewaktu saya, sebagai warga negara Indonesia menjumpai teks kemerdekaan negara lain saya bisa memahami substansi kemerdekaan namun belum tentu pengalaman eksistensinya sama dengan warga negara tersebut sewaktu menjumpai teks kemerdekaan mereka sendiri. Menonton film tentang perjuangan meraih kemerdekaan negara lain bisa mendekatkan kita ke sisi eksistensi medium kemerdekaan negara tersebut.

Keterangan: Merasakan eksistensi dan memahami substansi. Naskah teks proklamasi berupa tulisan tangan pada selembar kertas, lalu diketik. Sumber: Internet.

Contoh lain stiker komunitas. Mereka yang menjadi bagian dalam komunitas akan berbeda keberimanannya sewaktu menjumpai stiker komunitasnya dibanding mereka yang bukan bagian dalam komunitas. Atau kembali ke contoh awal, desain kitab suci. Mereka yang beragama Katolik akan merasakan penghayatan yang berbeda sewaktu menjumpai sebuah buku kitab suci Injil dibanding mereka yang beragama lain meski semuanya bisa mencapai substansi yang sama tentang kitab suci. Semakin dekat ke sisi eksistensi semakin kuat keberimanannya, semakin dekat ke sisi substansi tidak berarti keberimanannya berkurang karena kita memiliki kemampuan berempati.(v)

VI
Saat ini grafika ditantang persoalan limbah. Bagaimana desainer grafika menyikapi diri? Grafika, seperti umumnya proses desain, mengenal tahap pra produksi, produksi, dan pasca produksi. Dalam grafika tahapnya bisa dinamai pracetak, cetak, dan pasca cetak. Tahap ini juga disampaikan oleh Hartono Karnadi disertai contoh di setiap tahapnya. Guna menyikapi persoalan limbah dan lingkungan tahap grafika tadi bisa kita pertajam dengan menanam perspektif lingkungan.

Keterangan: Tabel Tahap Grafika hasil olah ulang dari pembelajaran grafika bersama/oleh Hartono Karnadi. Sumber: Koskow (2023 semester genap).
Keterangan: Desain buku Conjunglyph, dicetak hitam putih, kertas sampul menggunakan material karton. Cukup ramah dari aspek materialnya. Hitam putih menjadi terasa maksimal karena buku ini tentang bentuk. Sumber gambar: thinkingroominc.com dan Koskow ©2019 Thinking*Room
Keterangan: Ilustrasi desain sampul buku Meledek Pesona Metropolitan menerapkan teknik manual, menggunakan cat sisa. Buku dicetak massal. Pembuatan sampul berada di tahap pra produksi atau pra cetak. Sumber: Internet.
Keterangan: Ilustrasi desain sampul buku Bercocok Tanam menerapkan teknik stempel manual, bidang latar menggunakan pewarna dari kunyit, material kertas sampul menggunakan kertas bekas. Tahap finishing buku dikerjakan secara manual dan melibatkan alat pengganda cetak (stempel) untuk nama penulis pada sampul depan. Buku dicetak massal. Sumber: Arsip Koskow.

Boleh jadi kita masih asing dengan desain grafis cetak ramah lingkungan. Kita terlanjur akrab (vernakular) dengan desain-desain produk cetak massal mesinal. Jumlahnya yang baru seberapa menjadikan desain-desain grafis cetak ramah lingkungan kurang luas memancar, terbatas di lingkungan tertentu. Keimanan desain kita lebih dipancari daya desain grafis mesin terutama dalam hal konsistensi presisi, teknologi terbaru, dan kemilau hasilnya (citra). Sebaliknya, aroma emosional desain grafis ramah lingkungan cenderung redup, dan karena melibatkan handmade ia menjadi kurang begitu konsisten presisi, serta tak jarang menjadi lebih mahal harganya atau berbanding terbalik dengan hitungan ekonomis mesin yang makin banyak makin murah sedang pelibatan kerja manual memiliki batas.

Perttu Polonen, futurolog muda asal Finlandia, di bukunya berjudul Future Skills (terjemahan, Kelompok Pustaka Alvabet, Tangerang Selatan: 2023) berpendapat bahwa, “Teknologi adalah alat, dalam hal ini alat yang netral. Pada dasarnya teknologi bukan sesuatu yang baik atau buruk. Penggunaannya dimaksudkan untuk menegaskan moralitasnya.” (hal. 20) Itu pula yang membedakan kita dari mesin, bahwa kita bisa menyesal, mesin tidak. Kita memiliki iman, mesin tidak. Namun, mesin bisa mencetak secara meyakinkan, sedang kita lebih rapuh dibanding mesin dalam hal kekuatan mencetak. 

Sepertinya tak setara membandingkan diri kita dengan mesin. Lagi pula mesin merupakan alat. Oleh karena itu yang bisa dicoba yakni menyempurnakan alat menjadi lebih ramah lingkungan, misal cetak risograph, mengganti peran alat, misal penjilidan dengan cara manual, mengantisipasi dampak produksi, misal merancang bahan sisa cetak atau sisa pakai dan dirancang sejak tahap awal (pra produksi). Ketiganya menjadi wujud menempatkan dimensi etis dalam desain grafis grafika. 

VII
Saya kembali mengingat-ingat seperti apa wujud desain vernakular. Selanjutnya, mencari tahu bagaimana cara kerjanya. Meski masih prematur catatan atas ingatan tersebut bolehlah didalami dan dikembangkan lebih lanjut tentang bagaimana suatu desain mampu menjadi vernakular. Pertama, ada yang memulainya. Kedua, cukup mudah untuk diadopsi. Ketiga, menjawab kebutuhan mendasar. Keempat, polanya cukup jelas. Kelima, tren bukan menjadi tujuan utama. 

Saat ini kita diminta menyelesaikan persoalan lingkungan. Kita perlu mengusahakan munculnya berbagai pemikiran serta inspirasi yang meyakinkan dan memberi sugesti bentuk desain grafis ramah lingkungan. Tugas berikutnya menjadikannya vernakular.

Bantul, Yogyakarta, Oktober 2023

Catatan Akhir:
(i) Para pengajar tersebut AD. Pirous, T. Sutanto, Priyanto Sunarto yang identik dengan Studio Decenta, Bandung. Ketiganya juga berkarya grafis sewaktu mengajar di Desain Grafis FSRD ITB. Di lingkungan FSRD ISI Yogyakarta saya berjumpa dengan Asnar Zacky yang sangat semangat berkisah tentang sablon, dan tentu saja Hartono Karnadi sebagai pengajar dan pakar Grafika.
(ii) Penelitian Natalia Afnita tersebut merupakan penelitian lapangan. Banyak kisah yang bisa kita dapati dalam penelitian ini seperti asal-usul panganan wingko babat Semarang, muasal namanya (Cap Kereta Api), kontestasinya yang ditandai beragam penamaan merek.
(iii) Kutipan dalam bahan ajar Estetika Desain DKV ISI Yogyakarta (Koskow, Juli-Oktober 2023).
(iv) Kutipan dalam bahan ajar Grafika DKV ISI Yogyakarta (Koskow, Februari-April 2023).
(v) Kutipan diolah dari paper kuliah tamu tentang grafika di DKV UPN Surabaya pada Oktober 2023 (Koskow, Agustus-Oktober 2023).

Pustaka:
Haryatmoko. Jalan Baru Kepemimpinan & Pendidikan – Jawaban atas Tantangan Disrupsi-Inovatif. Gramedia Pustaka Utama. Cetakan keempat: November 2020.
Polonen, Pertu. Future Skills. Kelompok Pustaka Alvabet. Tangerang Selatan: 2023.

Quoted

Ketika dari mata tak turun ke hati, desain pun gagal total

Bambang Widodo