Proses Kreatif Lambang Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Pengantar

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Mahabaik dan Mahaindah, yang atas izin-Nya kita semua dikaruniai kesempatan untuk memajukan dan mengembangkan ISI Yogyakarta. Sebagai pengantar perlu diketahui bahwa, profesi utama saya pelukis dan mantan guru yang menggemari fotografi, keramik, sedikit musik dan desain grafis. Jadi, saya bukan ahlinya desain grafis atau tukang lambang. Saya hanya salah seorang yang kebetulan ketiban sampur untuk mencipta lambang ISI Yogyakarta. Berbekal dari keterlibatan saya bersama Pak Parsuki dalam proses lahirnya lambang ISI Yogyakarta saya ingin menyumbangkan sekelumit kisah yang diharapkan bermanfaat bagi perjalanan ISI Yogyakarta, Fakultas Seni Rupa khususnya.

 

Mengapa Dewi Saraswati?

Sehari setelah peresmian/pelantikan Rektor pertama ISI Yogyakarta, pada malam hari tanggal 24 Juli 1984, di Sasana Ajiyasa diadakan pertemuan Rektor dengan pimpinan STSRI ASRI/FSRD; saya sebagai Ketua Jurusan Seni Lukis dan Drs. Parsuki sebagai Ketua Jurusan Disain Komunikasi, termasuk diundang. Pertemuan ini selain sebagai perkenalan/silahturahmi antara “warga STSRI ASRI” dengan rektor baru, bertujuan untuk menyusun langkah-langkah baru yang diperlukan bagi ISI Yogyakarta. Di akhir acara Pak Parsuki dan saya diberitahu Pak Saptoto, Dekan FSRD untuk membentuk panitia Sayembara Lambang ISI Yogyakarta, karena lambang ini sangat diperlukan (ISI pada awal berdirinya secara yuridis memiliki tiga Fakultas dengan sebutan: (1) Fakultas Kesenian (dh. ASTI dan AMI); (2) Fakultas Seni Rupa dan Disain (dh. STSRI “ASRI”); dan (3) Fakultas Nongelar Kesenian).

Pada keesokan harinya, Rabu 25 Juli, Pak Saptoto memberikan Memo Dinas untuk melaksanakan sayembara itu kepada Pak Parsuki dan saya. Dari lima butir memo itu yang paling memo pada butir tiga dan empat, yaitu: “III. Titikberat daripada peserta sayembara tsb. di utamakan bagi kalangan Dosen Muda dan Mhs. IV. Batas waktu sayembara di harapkan final sudah dapat dikumpulkan hari Selasa 31 Juli ’84.” Sejalan dengan memo dinas tsb. terbentuklah Panitia Sayembara. Pak Parsuki sebagai ketua, saya sebagai sekretaris, dilengkapi dengan Dewan Juri merangkap sebagai anggota terdiri dari: Drs. Parsuki (ketua) dan anggota2nya: Drs. Aming Prayitno, Drs. Sudarisman (FSRD); T. Adimurti, Dip.M dan Y. Sumandiyo Hadi, SST (Fakultas Kesenian).

Drs. Subroto Sm. di meja kerja saat menjabat Ketua Jurusan Seni Lukis (1984) (dok: Subroto, Sm.)

Drs. Subroto Sm. di meja kerja saat menjabat Ketua Jurusan Seni Lukis (1984)
(dok: Subroto, Sm.)

Sampai dengan 31 Juli, menurut penilaian Dewan Juri terhadap 29 desain dari 27 orang peserta yang masuk, dinyatakan tidak ada desain yang dianggap memenuhi syarat. Selanjutnya, dekan menginstruksikan agar diadakan sayembara susulan dan harus selesai 4 Agustus. Pada tahap susulan, dewan juri menilai 12 desain dari 12 peserta yang masuk, juga tidak ada desain yang diterima/memenuhi syarat. Berdasarkan hasil sayembara ini Dewan Juri mengusulkan dibentuk Tim Khusus Pencipta lambang ISI yang terdiri dari Drs. Parsuki, Drs. Aming Prayitno, Drs. Subroto Sm, dan Drs. Sudarisman.

Pada tanggal 6 Agustus, Tim Khusus melaporkan hasil sayembara kepada Rektor, didampingi Dekan FSRD dan Bapak Widayat. Hasil pertemuan dengan Rektor menghasilkan keputusan: (1) menetapkan desain karya Sdr. Lasiman, Setyo Budiman, dan Bagus Jatmiko terpilih sebagai tiga karya masuk nominasi. (2) Tim Khusus diminta segera menciptakan lambang ISI, mengingat lambang tsb. akan digunakan untuk kepentingan administrasi dan publikasi.

Sebetulnya aneh juga lembaga berdiri belum menyiapkan lambang. Namun hal demikian sering kita jumpai pada beberapa organisasi atau lembaga baru. Yang pasti, walaupun Rektor tidak menyebut tanggal dan bulan, lambang ISI harus segera diciptakan.

Tiga nominator pemenang desain lambang ISI Yogyakarta karya mahasiswa JurusanDisain Komunikasi FSRD ISI Yogyakarta: Sdr. Lasiman, Setyo Budiman, dan Bagus Jatmiko  (dok: Subroto, Sm.)

Tiga nominator pemenang desain lambang ISI Yogyakarta karya mahasiswa JurusanDisain Komunikasi FSRD ISI Yogyakarta: Sdr. Lasiman, Setyo Budiman, dan Bagus Jatmiko
(dok: Subroto, Sm.)

Lambang ASRI dan Lambang STSRI ASRI  (dok: Baskoro SB)

Lambang ASRI dan Lambang STSRI ASRI
(dok: Baskoro SB)

Lambang ASTI dan Lambang AMI (dok: Baskoro SB)

Lambang ASTI dan Lambang AMI
(dok: Baskoro SB)

Akhirnya, dalam sayembara yang kedua ditambahkan persyaratan: makna kesatuan unsur-unsur seni supaya dilukiskan dengan Dewi Saraswati dalam bentuk baru. Hal ini ditetapkan berdasarkan acuan Ensiklopedia Indonesia bahwa Saraswati adalah dewi kesenian dan ilmu pengetahuan dalam agama Hindu di India dan Bali. Sehingga, Dewi Saraswati menjadi pilihan paling tepat dan luwes untuk dijadilan unsur bentuk utama penciptaan lambang ISI sebagi lembaga pendidikan tinggi di mana ilmu dan seni diajarkan.

 

Dewi Saraswati: dari yang Ornamentik ke yang Linier Konstruktif

Dewi Saraswati dalam bentuk baru telah menjadi pilihan/syarat utama untuk lambang ISI. Pertanyaannya, bagaimana melukiskan dewi saraswati dalam bentuk baru, untuk lambang yang dapat menggambarkan tujuan ISI Yogyakarta sebagai institut pendidikan tinggi seni yang pertama dan terkemuka di Indonesia? Soal inilah yang ternyata tidak mudah dipecahkan oleh peserta sayembara dan juga kemudian oleh Tim Khusus yang saya ikut terlibat di dalamnya.

Perlu disampaikan di sini, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada anggota tim yang lain, Pak Aming dan Pak Darisman, bahwa proses pembuatan lambang ISI, mulai 6 – 23 Agustus 1984, dalam kenyataannya saya dan Pak Parsuki yang banyak  mengadakan komunikasi intensif, baik di antara kami berdua atau dengan Pak But. Sehingga kami berdua produktif membuat berbagai desain alternatif. Sebagai catatan, Pak Aming membuat dua lembar desain, dan Pak Darisman menyerahkan tugasnya kepada tiga anggota tim lainnya. Jika dianalisis, berbagai alasannya antara lain: (1) manajemen tim kurang bagus, (2) saya dan Pak Parsuki orang pertama yang menerima “beban mulia” mendapat “memo Dinas” dari pimpinan; (3) kami masing-masing sebagai ketua jurusan sering ketemu dalam forum-forum rapat dengan pimpinan; dan (4) secara jujur saya mengakui seperti kecanduan mendesain pada waktu itu.

 

Konsep Desain 1: mengarah pada gaya Klasik Ornamentik

Sejak tugas sebagai tim khusus diberikan, konsep bentuk lambang yang saya jadikan pegangan adalah: (1) Membumi, (2) Esensial dan unik (3) Tidak berbentuk segilima. Terus terang pada awalnya sulit menghilangkan ingatan akan bentuk lambang ASRI dan STSRI ASRI, yang kebetulan kedua lambang itu sudah menggunakan Dewi Saraswati sebagai bentuk utama. Maka, dalam banyak desain yang saya buat masih terbawa ke lambang ASRI. Bedanya, kini Saraswati bertangan empat dan naik angsa, karena angsa sebagai kendaraan Saraswati dianggap lebih bermakna dibandingkan burung merak.

Konsep membumi saya terapkan dengan mengacu pada motif-motif batik atau wayang kulit. Namun, dalam pelaksanaannya saya terjebak pada bentuk-bentuk ornamentik dan masih terkesan kuat mirip lambang ASRI, masih ada bentuk segi-limanya, dan bahkan bentuknya tidak esensial dan kurang unik sebagaimana yang saya inginkan.

Tiga rancangan awal lambang ISI Yogyakarta, bergaya klasik karya Drs. Aming Prayitno, Drs. Subroto Sm dan Drs. Parsuki  (dok: Subroto, Sm.)

Tiga rancangan awal lambang ISI Yogyakarta, bergaya klasik karya Drs. Aming Prayitno, Drs. Subroto Sm dan Drs. Parsuki
(dok: Subroto, Sm.)

Ketika waktu terasa semakin cepat berjalan, pada tanggal 10 Agustus 1984, saya dan Pak Parsuki diundang Rektor untuk menunjukkan beberapa desain yang sudah dibuat. Dari hasil pertemuan itu, menurut beliau belum ada desain terpilih. Kemudian beliau memberi contoh dengan menggambar sebuah desain lambang ISI berbasis bentuk lingkaran dengan pensil pada kertas folio bergaris. Digambarkan dewi saraswati naik angsa, keempat tangan dalam struktur menutup, di belakang ada tiga kelopak bunga teratai yang ujung-ujungnya meruncing berbasis bentuk lingkaran, mirip bentuk bawang. Sambil menggambar, Pak But menyarakan kepada kami berdua untuk mengembangkan desain lambang yang berbasis lingkaran dan konstruktif. Tujuannya, agar lambang terkesan momumental dan mudah pengerjannya untuk berbagai aplikasinya.

Lambang ISI Yogyakarta sebagai masukan kepada Tim perancang hasil goresan Pak But Muchtar. (dok: Subroto, Sm.)

Lambang ISI Yogyakarta sebagai masukan kepada Tim perancang hasil goresan Pak But Muchtar.
(dok: Subroto, Sm.)

 

Konsep Desain 2: Simpel, Simetris, dan Konstruktif

Berdasarkan prinsip desain dan contoh yang diciptakan Pak But, saya dan Pak Parsuki mengembangkan desain-desain baru yang simpel, simetris dan konstruktif. Kami berdua semakin produktif mendesain. Semua desain alternatif yang kami ciptakan memiliki kerangka bentuk lingkaran dan segi-empat. Adapun unsur-unsur lambang yang harus digambarkan adalah: Pancasila, Tridharma PT, Saraswati bertangan empat dengan benda-benda bawaannya, angsa, dan bunga teratai.

Dalam pengalaman saya, kadang melelahkan/menjemukan ketika saya harus memasukkan atau menggabungkan bentuk-bentuk yang memiliki makna-makna tertentu. Namun, di saat yang lain ketika masing-masing motif atau bagian bentuk, yang “sarat pesan/makna” itu dapat saling berintegrasi secara harmonis, rasanya saya didorong terus untuk menemukan bentuk yang lebih indah, karena rasanya selalu ada yang kurang. Tujuan akhir yang saya inginkan adalah kesatuan bentuk dan isinya yang simpel dan unik.

Tiga contoh dapat saya kemukakan, yang pada waktu itu membuat saya keasyikan atau penasaran mendesain. Pertama, misalnya ketika mengembangkan bentuk tangan-tangan Saraswati; mana yang lebih indah dan bermakna, yang arah membuka atau menutup? Kedua, bagaimana agar karakter membumi yang terinspirasi dari motif Grudha (garuda) itu terkesan inovatif tidak semata-mata mirip Garuda Pancasila atau motif batik yang asli? Ketiga, bagaimana melalui garis dapat digambarkan berbagai bentuk bermakna itu agar terasa mengalir dan menyatu secara utuh, dinamis, dan luwes.

 

Kerja Kreatif, Ada Batasnya

Kapan kita harus memutuskan desain kita selesai? Sebagaimana dinyatakan George Santayana, bahwa proses kreatif adalah kegiatan yang sadar tujuan. Jadi, jika tujuan desain dianggap tercapai, kerja mendesain selesai. Itulah kira-kira pedomannya. Namun, dalam pelaksanaannya tidak semudah itu. Demikian pula yang saya dan Pak Parsuki alami.

Pada tanggal 25 Agustus 1984, kami berdua menemui Rektor untuk menunjukkan beberapa desain. Yang menarik dalam pertemuan itu adalah, karena saya sering cerewet, seingat saya Pak But lebih kurang menyatakan: “Sudahlah Tok, kerja mendesain ada batasnya. Kalau mau dicari terus, pasti ada kekurangannya.”

Akhirnya, Pak But memilih dan menetapkan sebuah desain yang kini menjadi lambang ISI Yogyakarta, dengan membubuhkan tulisan ”Disetujui untuk dipergunakan sebagai lambang ISI Yogyakarta” tertanggal 25 Agustus 1984 dan tandatangan menggunakan tinta berwarna biru pada fotocopy desain lambang ISI Yogyakarta. Beliau meminta kami berdua segera menyiapkan stempel, kop surat, rumusan lambang, dan gambar konstruksinya.

Rancangan awal lambang ISI Yogyakarta setelah mendapat masukan dari Pak But. Atas karya Drs. Parsuki , kiri dan kanan bawah karya Drs. Subroto Sm. (dok: Subroto, Sm.)

Rancangan awal lambang ISI Yogyakarta setelah mendapat masukan dari Pak But. Atas karya Drs. Parsuki , kiri dan kanan bawah karya Drs. Subroto Sm.
(dok: Subroto, Sm.)

Rancangan lambang ISI Yogyakarta yang telah disetujui dan mendapat acc Rektor ISI Yogyakarta, Drs. But Muchtar.  (dok: Subroto, Sm.)

Rancangan lambang ISI Yogyakarta yang telah disetujui dan mendapat acc Rektor ISI Yogyakarta, Drs. But Muchtar.
(dok: Subroto, Sm.)

Lambang ISI Yogyakarta terpilih karya Drs. Subroto, Sm. dan Drs. Parsuki.  (dok: Subroto, Sm.)

Lambang ISI Yogyakarta terpilih karya Drs. Subroto, Sm. dan Drs. Parsuki.
(dok: Subroto, Sm.)

Parsuki dan Subroto, Sm, Osaka Jepang foto diambil tanggal 13 Maret 1976.  (dok: Subroto, Sm)

Parsuki dan Subroto, Sm, Osaka Jepang foto diambil tanggal 13 Maret 1976.
(dok: Subroto, Sm)

Gambar teknik lambang terpilih (dok: Subroto, Sm.)

Gambar teknik lambang terpilih
(dok: Subroto, Sm.)

Grid Standard Manual (GSM), lambang ISI Yogyakarta (dok: Subroto, Sm.)

Grid Standard Manual (GSM), lambang ISI Yogyakarta
(dok: Subroto, Sm.)

 

Tinjauan Kritis dan Harapan

Sejak lambang ISI Yogyakarta ditetapkan, selanjutnya dibuat berbagai bentuk aplikasi/reproduksinya untuk keperluan publikasi dan administrasi. Pada akhir kerja panitia, saya menyerahkan berkas-berkas/dokumen tentang desain lambang ISI Yogyakarta kepada Purek II, Bapak Soedarso Sp., MA. Dalam Buku Petunjuk Akademik ISI Yogyakarta 1985, telah dicantumkan Lambang ISI Yogyakarta beserta penjelasan arti lambang hasil penyempurnaan Pak Darso. Sebelum itu, dalam merumuskan isi makna lambang, panitia mengacu pada beberapa sumber pustaka dan masukan dari Bapak KKS Kadi, BA, mantan Sekretaris Direktur STSRI ASRI yang juga sebagai Ketua Parisada Hindu Dharma DIY.

Terdapat temuan-temuan lucu dan menarik, ketika lambang ISI Yogyakarta diaplikasikan. Menurut hemat saya lambang ISI Yk ini tampaknya simpel, tetapi boleh juga dibilang rumit. Apalagi jika dikerjakan secara manual. Namun, di era digital ini pun, masih dijumpai penggambaran lambang ISI yang kadang-kadang menyimpang. Hal demikian adalah wajar dan manusiawi. Sepanjang yang memesan dan yang mereproduksi lambang tidak mengerti aturan bakunya, kesalahan-kesalahan kecil hingga besar pasti muncul. Bagi yang memahami dan menyadari fungsi lambang, apalagi pemiliknya, hendaklah kesalahan-kesalahan itu dihindari atau dieliminasi. Namun dalam kenyataannya, tidak jarang aplikasi lambang itu produk resmi dari dan untuk ISI Yogyakarta sendiri terdapat kesalahan yang beragam. Lihat beberapa contoh berikut: kesalahan “kecil” yang sering dijumpai adalah letak/arah lambang terbalik. Angsa yang seharusnya menghadap ke kanan, tetapi menghadap ke kiri. Kejanggalan berikut adalah, bentuk lambang didistorsi secara manual maupun digital, angsanya kurus (condensed) atau terlalu tambun (expanded). Kesalahan fatal terjadi ketika pemesan dan pembuat reproduksi lambang bertindak ceroboh, yaitu lambang ISI Yogyakarta dibuat seenaknya sendiri.

Diketahui, memang lambang ISI Yogyakarta sejauh ini belum memiliki standar aturan dan pedoman pemanfaatan/aplikasinya secara lengkap. Oleh karenanya perlu disempurnakan oleh sebuah tim ahli yang melibatkan Prodi Disain Komunikasi Visual FSR. Menurut hemat saya, jika lembaga menghendaki, melalui forum senat guru besar, lambang ISI Yogyakarta masih bisa diperbaharui, sepanjang tidak mengurangi filosofi, identitas atau karakter dasarnya.

Akhirnya, mohon maaf atas lebih-kurangnya semua hal yang saya sampaikan ini; dan saya siap diluruskan oleh pelaku sejarah lainnya. Sebagai catatan, sebelum saya menyusun naskah ini telah mengonfirmasi beberapa hal penting terkait proses desain dengan Pak Parsuki, Pak Aming Prayitno, dan Pak Sudarisman. Semoga dipicu dari tulisan saya ini, kesadaran dan kepekaan kita, sivitas akademika ISI Yogyakarta, tidak surut tetapi, kian tajam dalam menata dan meraih ISI Yogyakarta sebagai center of excellence pendidikan tinggi seni di Indonesia, khususnya melalui upaya penerbitan buku Sejarah Fakultas Seni Rupa atau secara khusus buku Sejarah Lambang ISI Yogyakarta. Semoga!


Subroto Sm. (Somomartono), Drs, M.Hum.

Lahir di Klaten, Jawa Tengah, 23 Maret 1946. Lulus Sarjana Muda Jurusan Seni Lukis ASRI tahun 1965 dan lulus S1 STSRI ASRI di jurusan yang sama tahun 1975. Tahun 1975-1977, belajar Keramik (research student) di Tokyo Gakugei University, Jepang dengan beasiswa Monbusho (Kemendikbud Jepang). Tahun 1999 mendapatkan gelar Magister Humaniora di UGM Yogyakarta. Sejak 1969-2012, mengajar di STSRI ASRI/FSR, pernah menjadi dosen luar biasa di FSMR (1996-2011), dan di Pascasarjana (2000-2012) di lingkungan ISI Yogyakarta, dalam bidang studi Seni Lukis/Keramik/Fotografi. Berpartisipasi dalam berbagai pameran seni rupa di dalam dan luar negeri (Jepang, Jerman, Singapura, negara-negara Asean, Portugal) sejak 1969 hingga sekarang. Berumah tinggal di Jalan Suryodiningratan 68, Yogyakarta 55141. Telpon: 0274377373; Email: subrotosm@yahoo.com


Dipublikasikan perdana di Jurnal PS Disain Komunikasi Visual FSR ISI Yogyakarta edisi 1 nomor  pada tanggal 1 Januari 2011 dengan nomor ISSN 2087-9709. Diterbitkan ulang untuk tujuan pendidikan dan dengan izin redaksi.

Quoted

The fate of a designer is not determined by the public system, but by the way he sees his own life

Surianto Rustan