Desain Grafis Indonesia Periode ’70 an: Komentar-komentar

Joop Ave, pengguna dan pemerhati rancangan grafis

Menilai perkembangan bidang perancangan grafis di Indonesia tidaklah mudah, karena terlalu banyak aspek yang harus dipahami, mengingat bahwa bidang ini bukan suatu kegiatan yang berdiri sendiri.

Observasi ini, timbul dari minat dan kecintaan saya pada bidang ini, serta pengalaman-pengalaman pribadi didalam menyelesaikan usaha-penerbitan beberapa buku tentang kegiatan seni dan budaya di Indonesia.

Perkenalan dan hubungan kerja dengan banyak perancang grafis yang cukup lama, memberikan banyak pengalaman dan pengetahuan tentang dunia mereka dan hasil-hasil karya mereka.

Berdasarkan pengalaman ini, ada beberapa hal yang dapat dicatat, yaitu:
1. Kreativitas dapat dikatakan “lumayan”. Hambatan utama perkembangan kreativitas, adalah kurangnya pengetahuan bahan, serta kurangnya bahan itu sendiri dl Indonesia.
2. Sering kita jumpai karya yang berbau “textbook”.
3. Keberanian didalam melontarkan ide-ide, kurang, mungkin karena terlalu ikut sertanya pemesan atau pemberi proyek, didalam hal-hal yang estetis.
4. Keberanian didalam mempergunakan warna, juga kurang, warna yang dipilih itu-itu juga. Ini menghasilkan karya-karya yang terlihat “Amateurism”

Memang, hal-hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari kekurangan atau keterbatasan didalam masyarakat itu sendiri secara umum. Misalnya kecenderungan, nilai-nilai orientasi, bahan dan teknik cetak, faktor pemesan dan pemberi order, juga faktor anggaran yang pasti memainkan peranan penting.

Kekurangan atau keterbatasan ini, hendaklah menjadi dorongan, untuk lebih giat bereksperimen dan kreatif, serta lebih memupuk keberanian mencipta dan mengajukan pendapat. Dengan berdirinya IPGI, yang merupakan suatu wadah komunikasi antar perancang, dialog-dialog yang terjadi didalamnya harus dapat meningkatkan kreativitas maupun mutu. Saya menganggap, pameran ini adalah suatu langkah pertama yang penting, dan saya yakin, dunia perancang grafis mempunvai masa depan yang cerah.

 

Dhanni Dachlan, peragawati/foto model.

“Saya sering menemui bungkus rokok ‘made in Indonesia’ yang sama sekali tidak menarik – dari bungkusnya. Mengapa bila beberapa merk rokok luar negeri bisa memberikan kreasi lain dalam membuat bungkusaya, misalnya bulat. Demikian juga halnya dengan perangko-perangko Indonesia, mengapa selalu begitu saja bentuknya? Saya tidak melihat suatu kreasi ‘lain’ yang baru, segar, menarik, lain daripada yang biasa. Barangkali belum waktunya?”

 

Nani Sakri, peragawati/foto model.
(Pernah studi di jurusan Seni Grafis ITB, tabun 67-71).

Rancangan Grafis adalah seni terpakai, tapi di Indonesia orang masih belum begitu mengenal grafis ini. Dan rancangan grafis di Indonesia belum berkembang, bisa dilihat huruf dari judul film-film (titling) kita, ilustrasi-ilustrasi di majalah-majalah dan lain-lainnya, pokoknya masih kurang deh!”

 


Sumber: Brosur Pameran Pertama Ikatan Perancang Grafis Indonesia “Grafis ‘80”, 24 September-10 Oktober 1980 di Wisma Seni Lingkar Mitra Budaya.

Quoted

Ketika dari mata tak turun ke hati, desain pun gagal total

Bambang Widodo